SIMPANG

persimpangan

 

Di persimpangan. Tiba-tiba aku terbangun. Begitulah keberuntungan bekerja. Datang dengan cara tak diduga, tiba diwaktu tak diduga.

Aku tertidur, tadi itu. Baru saja aku pulang dari bandara. Mengantar istriku ke kampung halaman mengurus satu dua hal. Bus damri yang ber AC itu dengan pandai menyanyikan sebuah serenade pengantar tidur. Aku luluh dengan rayuannya dan terbaring pulas sampai perempatan tadi.

Tersentak Aku bangun. Baru tadi itu aku mengalami berapa macam sensasi berurutan: bangun tidur, kaget, berdiri panik, lalu lari sekencang-kencangnya.

Dan sore yang hiruk pikuk itu memainkan peranannya dengan sangat baik. Belum lagi aku tiba dirumah tapi rasanya sudah ada yang kosong.

Kalian salah, jika mengira kutulis ini setiba aku di rumah dan menyalakan laptop di ruang tamu. Tidak. Kutulis ini dalam benakku sepanjang menyusur jalan pinang ranti tadi.

Motor-motor berjalan pelan. Azan maghrib merambat di udara. Dan langkahku cepat-cepat patah-patah, seperti modus stakato nyanyian mars pejuang-pejuang itu. Dengan situasi macam itu, tak bisalah aku melawan niatan menulis yang mendesak-desak.

Lalu kuturuti saja. Tiba-tiba aku serasa ingin mengajakmu menghitung-hitung. Berapa banyak persimpangan sudah kita lewati dari mula kita lahir dulu? Setiap fase hidup memberikan persimpangannya sendiri-sendiri.

Kita besar dan meninggi dengan beringas. Terus meronta-ronta melawan petuah Bapak Ibu kita. Kita melanglang ke tempat-tempat yang jauh. Lalu berlabuh di rumah kecil yang seorang perempuan kita pasrahkan memegang kunci pintunya. Lalu untuk berapa fase kemudian kita menunggu lahirnya bayi mungil, lalu kita pula yang giliran berperan jadi Bapak-bapak penuh nasehat atau ibu-ibu cerewet nantinya. Lalu kita menunggu ajal saja sesudahnya.

Setiap persimpangan, buatku selalu menyodorkan tantangan. Seperti menjawab essay fisika. Membahasakan essay untuk menjadi enak dibaca saja sudah setengah mati. Apatah lagi membumikan fisika??? Aku selalu menjadi pembelajar yang telat. Kadang-kadang juga pembelajar yang kalut. Takut aku kadang-kadang untuk berada di simpang.

Padahal bumi berputar itu niscaya. Daun hijau merangas menua lalu mati itu niscaya. Anak-anak tumbuh besar dan beranak pinak juga niscaya. Mau lari kemana???

Betapapun gentarnya kita menghadapi setiap fase hidup toh pilihan kita ya hadapi saja atau sirna ditelan sejarah.

Cobalah, sebagai misal. Seperti sukarno dengan retorika halilintar itu apa tidak pernah dia itu mengalami semacam nervous? Semacam gemeletar kakinya, atau sedikit berdiri bulu kuduknya kapan dia mau berbicara? Atau chriss john sang legenda itu apa tidak pernah dia berasa mau mati saja kapan menatap musuh beringas macam babi hutan di pojok ring sebelah sana???

Kurasa, mungkin ya, orang-orang besar itu pernah juga gemetaran kakinya, atau jedat-jedut jantungnya. Atau berkeringat dingin sebulir-bulir jagung. Tapi dibalik pucat pasi mereka, atau ciut nyalinya itu, mereka selalu saja bisa tampil natural. Terlihat tenang dan selalu tajam. Mereka bisa jadi takut memang, bisa jadi gemetaran memang, tapi mereka tidak pernah lari.

Dan orang-orang biasa macam kita-kita ini yang setiap hari merutuk nasib atau meratapi ketololan kita sendiri, untuk takut menghadapi masa depan, untuk mengkhawatiri kerja dan penghasilan, untuk skripsi yang bertumpuk-tumpuk, untuk ini untuk itu untuk apapun saja.

Dan tiba-tiba aku sudah di pengkolan jalan, gang kecil ke rumahku ada di sebelah kanannya. Aku menyeberang setengah berlari menghindari motor bebek berlampu redup dan mobil kijang hitam metalik. Lalu mengambil handphone dari saku celana dan mengetikkan sms buat istriku, sepertinya sebentar lagi dia sampai.

Untuknya, rasanya berani aku menyusur persimpangan mana saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s