MEMBACA BINTANG

rig
Sekitar satu jam perjalanan dari jakarta. Pesawat memang terbang dengan kecepatan mengagumkan. Sebentar saja aku sudah tiba di bandara sultan mahmud badaruddin dua. Bandara palembang. Dari sini nanti delapan jam lagi perjalanan harus dinikmati. Mengikuti kelok-kelok jalanan yang sudah seperti meander saja. Terguncang-guncang di kerikil berdebu. Berhenti sebentar di pinggir jalan tempat banyak pedagang duren yang murah2, lalu kembali melanjutkan perjalanan setelah perut kekenyangan.

Aku hampir muntah setelah sampai batasnya. Tubuhku ternyata kuat menahan guncangan sekitar tujuh jam saja. Setelah tujuh jam yang mendebarkan maka sedikit saja tremor akan memicu isi perutku melonjak keluar.

Sudah dua tahun lebih berapa bulan aku bekerja disini. Dunia pemboran minyak. Pekerjaan dengan pola yang tidak umum, mengingat kita harus -tanpa banyak tawar- meloncat-loncat mengikuti sebaran hidrokarbon. Yang namanya minyak bumi itu semau-maunya dia saja. Hampir tidak pernah ada pemboran di tengah kota atau dekat mall, selalu saja di tengah gurun, di tengah laut, atau di belantara lebat terasing. Dan aku sekarang menuju kesana…..perjalanan masih panjang, dan aku terduduk mengenaskan di bangku belakang.

Meskipun kepala terasa benar2 berdenyut, dan mata sudah kunang2 gelap kalau dipaksakan melihat, tapi aku tetap menyempatkan diri untuk menulis sebaris cerita buatmu. Itulah sahabat sejati, ya begini ini. Kalau bukan kubagikan kepada kalian, kan kepada siapa lagi? Jadi aku sambil berbaring-baring saja tak apalah, ya? Yang penting pelan2 tetap aku ceritakan.

***

Mulanya memang pada saat awal2 kuliah dulu itu. Kita semua hidup dengan tujuan2, kan? Entah itu panjang kedepan, atau berapa depa saja, tapi tetap ada kita punya tujuan. Sebelum lulus kuliah itu, tujuanku cuma dua. Yang pertama adalah lulus segera, yang kedua adalah kerja segera.

Aku sekarang sudah lulus kuliah, rupanya. Seperti sebuah mu’jizat. Bagiku banyak hal dlm hidup ini, hal2 yang berhasil aku lalui itu, sebenarnya kemurahan Tuhan saja. Seperti bisa-bisanya aku masuk universitas negri wakstu SPMB dulu, atau semisal bisa juga ternyata aku lulus cepat dgn penelitian yang porak poranda dan pembimbing yang brutal?? Sudah pasti bukan kepandaianku memang, tapi itulah seni takdir, Tuhan memutuskan apa saja yang Dia ingin putuskan, yang jelas singkat kata aku lulus.

Setelah lulus, ini seperti mu’jizat lagi. aku langsung diterima bekerja. Nantilah dulu kita debatkan mengenai apakah sebaiknya membangun usaha sendiri ataukah kerja dan menjadi anak buah orang lain? Yang jelas aku berhasil mencapai tujuanku tadi. Yang aku ceritakan ke kalian2 di atas tadi. Benarlah sudah: aku lulus, aku bekerja.

Sampai disini aku mengalami semacam perasaan gembira yang akut, muncul tiba2 dan dengan dosis yg tak bisa ditoleransi. Aku mengalami semacam euphoria, rekan-rekan yang budiman.

Dari situlah aku mulai hidup dalam ritme pekerjaan yang tidak umum ini. Pekerjaan terjadwal empat belas hari kerja dan empat belas hari libur. Pergi ke banyak tempat. Terapung di tengah laut, di pinggir delta, di tengah hutan dan menyeberang benua.

Tapi seperti kebanyakan manusia yang gamang, aku menjadi hilang arah. Entah apa tujuanku waktu itu. Rutinitas yang aku tidak tahu gerbang destinasinya dimana.

Bagiku waktu itu, kerja adalah semacam barter, menukar sekitar seliter dua liter keringat kita dengan sejumlah uang yang nanti tertulis di saldo tabungan mandiri. Sudah, sebatas itu saja, tidak ada itu semisal makna luhur dibalik banting tulangnya aku itu.

Kerja gajian kerja gajian kerja gajian. Sudah. Hidupku terlalu pragmatis. Perputaran logikanya sebatas perut saja.

Aku muak. Suntuk aku dengan rutinitas yang terlalu klise. Samaaaaaa persis setiap harinya, minggunya, bulannya. Lalu kuputuskan aku harus pulang. Pulang dulu ke kampung halaman barang satu dua minggu untuk mereset lagi otak dan batin, bahwa selain kerja dan menghitung hari, masih banyak lagi hal-hal lain yang bernilai dalam hidup ini.

Dan di suatu malam hening yang biasa. Aku, bapakku, dan ibuku duduk di teras luar rumah. Hari hujan setengah2. Lalu ada bunyi entah jangkrik entah kodok. Aku rindu suasana seperti begitu, waktu2 dimana kita merasakan begitu banyak karunia tumpah ruah. Ada teh hangat di meja kecil samping bangku tempatku duduk. Ada laron terbang memutar pelan di atas pelapon yang ada lampu neon sebelas watt-nya itu. Ada jaket yang kutarik ujung2nya karna resluitingnya sudah tidak lagi fungsi. Semua tiba2 menjadi indah, dan sebentar kemudian Bapak memecah keheningan dengan melontar “kamu kapan mau menikah, mas??”

Blaaaaarrr……. Kilat menyambar di kejauhan, lalu sekitar berapa detik kemudian baru bunyinya sampai. Begitulah juga aku. Sibuk berkelana kemana-mana fikiranku, lalu bibir bapak terlihat seperti gerak lambat. “ngomong apa ya bapak tadi?” fikirku…….dan masih juga semua terputar lambat sampai jeda berapa detik hingga otak sederhanaku ini akhirnya bisa memprosesnya.

Luar biasa. Begitulah orangtua. Bisa menilai tanpa perlu banyak kata. Mungkin seperti yang orang bijak fatwakan “wahai para orang tua, jika anak kalian jatuh cinta, maka nikahkanlah!! Atau mereka akan jadi penyair”. Dan bapakku mungkin saja menangkap gelagat itu. Waktu2 semua obrolanku jadi terasa lebih filosofis, atau setiap patah kata yang jumpalitan dari mulutku tiba2 terasa seperti syair pujangga melayu. Ini alamat yang sudah terlalu nyata.

Ini, coba kalian lihat jari tanganku, kuku jariku ini, sepuluh-sepuluhnya masih berwarna orange aneh. Inai…pacar…kalian tahu kan itu? Begitulah pengantin baru di sumatra sana diperlakukan, dibubuhi tanda di kuku jarinya, mungkin biar setiap kali kau mengetik di laptopmu maka inspirasi yang akan muncul adalah seputar dirimu dan pernikahanmu karna warna orange menari-nari terus diatas tuts keyboard.

Aaah…..itulah ya, ternyata baru sadar bahwa aku sudah berusia, tubuh kita menua dengan cepat, tapi kedewasaanku seperti tumbuh dengan lamban. Setelah sempat seperti kapal yang berlayar tanpa panduan arah, sekarang mungkin sudah saatnya aku membaca lagi bintang2.

Aku jadi ingin tergelak sendiri, padahal dulu semenjak baru saja aku tamat SMA dan memutuskan untuk bimbel di jogja, akulah yang paling getol dengan visi menikah. Kuambil sebuah kotak kardus kecil, dan kuberi label “sumbangan amal untuk pernikahan” kubolongi bagian atasnya dan komplitlah sudah kotak itu menjadi semacam tabungan. Rekan satu kontrakan semua tergelak berguling-guling.

Masa2 yg luar biasa. Setiap hari aku dan rekan2 menyusuri selokan mataram yang membelah jogja. Duduk2 di pematang sawah yang hijaunya masih hijau muda. Lebih memilih berjalan dibawah terik sengat mentari jogja siang2 ketimbang naik bus, demi menghemat receh dan mencemplungkannya kedalam kotak yang tadi kubuat. Setiap hari belajar sampai larut malam nian.

Letih….tapi tak pernah rasanya aku seriang itu. Rencana2 memacu hidupku berderap cepat dan energik. Lulus SPMB, dan menikah sambil kuliah, itulah target yang kutulis besar2 di buku agenda.

Meskipun pada akhirnya gagal aku masuk universitas tertua di indonesia itu, kampus terbesar di jogja itu, tapi Tuhan kirimkan aku belajar di tempat yang lain lagi. Cerita yang lain lagi. Dan tentu saja tidak mungkin aku menikah sambil kuliah, karna satu dan lain hal, maka takdir sekali lagi berjalan dengan seni yang paling rapih. Tak bisa ditiru dalam rencana-rencana kita ini.

***

Kita harus punya tujuan kan, kawan? Entah itu untuk berapa masa kedepan sana, atau tujuan yang dekat2 saja. Tapi aku sempatlah juga berasa seperti orang yang telat kuliah, aku termasuk yang gelagapan lalu kasak-kusuk tanya bangku kiri kanan.

Masih banyak yang harus aku pelajari dan catat. Entah bagian yang mana baiknya aku potong2 dan ceritakan ke kalian. Tapi sebentar lagi aku sepertinya sampai di lokasi pemboran. Warna hijau pohon2 akasia dari tadi sudah seperti receptionist hotel. Berbaris rapi dan tersenyum sangat formil. Pasti sudah sampai, firasatku mengatakan begitu.

Mobil ranger memutar di jalan berdebu yang barusaja digiling-giling buldozer. Aku turun sempoyongan memanggul tas ransel besar. Biasanya yang akan aku lakukan adalah langsung menuju kamar dan membulati kalender. Ini hari pertama, masih berapa hari lagi aku disini. Tapi bagiku sekarang ini seperti mu’jizat. Kerja bagiku kini agak lebih dari sekedar barter keringat. Aku senang dengan sensasi waktu merasa begitu banyak karunia jatuh berkeping-keping dari langit. Lalu aku tertawa pelan karna sukses juga aku menahan muntah dari tadi. Lalu kutarik nafas menikmati hawa segar udara hutan dan asap mesin diesel yang bercampur. Lalu melihat orang mengangkat pipa2 besi, melihat mesin2 besar bergemuruh dan jalan berguncang-guncang, menara pemboran tinggi menjulang menutupi bulan sabit yang redup dibalik awan yang diseret-seret angin. Aku tersenyum dengan lengkungan paling simetris, karna aku tahu sekarang sudah ada yang menungguku dirumah kontrakan kecil jakarta timur sana. Bekerja sekarang sudah sedikit punya arti.

Begitulah seni takdir, Tuhan memutuskan apa saja yang Dia ingin putuskan.

Sudah dulu ya, kupanggul dulu tas besar ini ke kamar. Kepalaku masih sedikit pusing, maka tolong maafkan ceritaku yang berputar-putar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s