Perfect Morning

Pagi ini, matahari bersinar dengan proporsi yang pas. Burung-burung berkicau dengan tinggi nada yang tidak senyaring biasanya, jadi…….. hawa hangat yang menyusup dari balik korden di jendela yang terbuka itu berpadu kompak dengan suara burung yang merdu dan mendamaikan. Boleh dikata ini pagi yang sempurna. Perfect.

Duduk membelakangi jendela, seorang lelaki kharismatik. Pria yang tidak lagi single dan tentunya menyandang predikat sebagai seorang suami nan romantis. Adalah aku. Sedang membaca berita seperti khas para bapak-bapak lakukan di pagi hari, dan dengan sabar menantikan sebuah menu kuliner, sarapan yang akan menjadi puncak dari kesempurnaan pagi ini. Kentang goreng.

Menghargai istri, kata Nabi, adalah kewajiban seorang suami. Dan beramal dengan cara yang paling gampang, untuk kita ini para laki-laki, adalah memuliakan istri. Nah……. Berkaitan dengan itu maka proses panjang menunggu kentang goreng muncul dari dapur adalah juga suatu perwujudan dari memuliakan istri. Menahan-nahan rasa lapar untuk nantinya pas kentang goreng keluar dari dapur akan aku makan dengan style pendekar kungfu membabat musuhnya. Cepat, tepat sasaran, beruntun, dan penuh tenaga. Tapi….. tapi ya, ini terlepas dari menghargai istri dan macam2 tetek bengek, memang pada kenyataannya kentang goreng buatan istriku itu enak, aku serius dalam hal ini sodara-sodara.

Limabelas menit berlalu…..lagu di handphone nokia sudah kembali ke playlist awal, belum ada tanda-tanda kentang akan tiba, duapuluh menit, kentang tidak juga kelihatan batang hidungnya, tigapuluh menit……… masih tidak ada firasat di hatiku, ada apa ini???

Lalu aku ke dapur sambil mematikan music player di handphoneku, melepaskan earphone di telinga dan berjingkat-jingkat. Mungkin istriku butuh semacam dukungan moriil, bahwa fakta “suaminya menanti dengan sabar dan penuh perhatian akan kentang goreng” mungkin akan bisa membakar semangatnya dan menaikkan speed menggoreng.

Tibalah aku di pintu dapur dan dengan kharismatik aku bertanya penuh retorika “mana kentang gorengnya dek???”

Sambil manyun istriku menjawab “ga jadi aja goreng kentang, tadi mas dipanggil-panggil ga denger, males ad goreng kentang jadinya”.

Tiba-tiba matahari jadi panas menyengat, burung-burung mencicit tidak karuan, tidak harmonis. Lalu aku melirik ke earphone putih di tangan, ahhhh………….. mana bisa suami berwibawa dan memesona ini dengar dek, kan dari tadi telingaku disumpal earphone.

Pagi nan perfect berubah, prakiraan cuaca mengatakan hari ini cerah berawan.

****
Tapi mosi ketidak puasan istriku terhadap suaminya yang secara gegabah dinilai sebagai tidak peka, segera berakhir ternyata, rekan-rekan. Buktinya aku tidak seberapa lapar lagi sekarang. Gagal makan kentang goreng, ternyata terganti dengan sayur kangkung tumis beruap-uap, dan goreng tempe sambal yang renyahnya pas. Garing diluar, lembut didalam, seperti iklan wafer.

Aku memakannya dengan lahap dan menerima menu sarapan itu apa adanya. Persis seperti ucapan orang-orang yang mengatakan “aku mencintaimu apa adanya”, atau “bagiku kamu sudah sempurna”.

Sebenarnya, aku, seingatku belum pernah mengatakan hal itu pada pasanganku. Kita-kita ini, para pria, menurutku haruslah menjaga, agar jangan sampai kata-kata penuh romansa itu menjadi terlalu picis, dengan mengumbarnya kelewat batas.

Mencintai itu –aku agak2 filosofis pagi ini- seperti yang seorang teman pernah katakan, adalah belajar menciptakan kecocokan-kecocokan dengan pasangan kita. Ah….. luar biasa temanku satu itu, katanya, kecocokan itu adalah suatu hal yang kita upayakan untuk ada, selain ditemukan, kecocokan itu adalah diciptakan.

Dan aku rasa ya sodara-sodara, dalam perjalanan panjang mendaki menurun menciptakan kecocokan itu, kita sebagai -taroklah laki-laki penuh integritas- tidak bisa berhenti pada level “aku mencintaimu apa adanya”.

Menerima pasangan kita sebagaimana dia, adalah tangga paling pertama, tapi ratusan anak tangga di depan itu mungkin bernama “belajar jadi lebih baik”. Dan itu benar-benar ada semacam seninya.

Begini ceritanya, jadi suatu kali aku sedang berfikir sangat kontemplatif dan merasa bahwa sebagai seorang suami, maka tugaskulah mengantarkan keluarga ini menuju pencapaian yang lebih baik secara pola pikir, secara mental spiritual. Sambil bengong-bengong aku agak-agak berpidato pada diri sendiri bahwa niatan sungguh mulia ini adalah harus dimulai dari saat ini juga. Maka celingak-celinguklah aku, sang suami bervisi besar ini, apa ya yang bisa dilakukan kira-kira????

Istriku sedang menonton TV dengan khusyuknya, terpampang di layar sebuah acara gossip terkenal. AHAAAAAAA gosip….. ini dia starting poin-nya rekan-rekan. Kita ini, sebagai pria, pastilah tahu bahwa menonton terlalu banyak gosip akan menimbulkan efek negatif pada pola pikir, pada paradigma kehidupan, terlebih lagi tidak baik membincangkan kehidupan rumah tangga selebritis. Maka dengan cekatan dan tanpa basa basi aku rubah channellnya, click…….. iklan…………..click……… sinetron ga jelas……….click……….kriminalitas……………click………….berita.

NAAAAH…. Ini saja, berita, ayoooo rekan-rekan, dukunglah aku dalam membudayakan menonton berita, memupuk kepekaan sosial, membuat kita luas wawasan dan paham eskalasi politik internasional, waspada terhadap kejahatan di sekitar kita dan lain-lain dan lain-lain. Bukan begitu, dek???? Eh….. mana istriku tadi ya??

*ada yang manyun di kamar sambil ngomel dan mengajukan gugatan bahwa sang suami romantis sekarang sudah mirip bapak-bapak karna malam-malam nontonnya berita*

*******
“mencintai apa adanya” ternyata memang anak tangga paling pertama, kawan. Dan dalam hal ini berlaku juga aturan itu untuk pasangan kita, para wanita yang ternyata juga harus sabar menghadapi makhluk bernama laki-laki.

Perjalanan panjang beratus anak tangga kedepan itu mungkin bernama “belajar jadi lebih baik”. Maka aku selalu mencatat juga gugatan kasasi istriku.
satu: para pria jangan malas membantu istri kalau mereka lagi masak di dapur.
Dua: kalau istri anda lagi ngepel, anda sebagai laki-laki jangan sekali-sekali menari-nari dan menginjakkan kaki anda ke ubin basah!!
Tiga: kalau anda, para pria sedang asyik mengutak atik laptop atau handphone, dan istri atau pasangan anda sedang berbicara dengan tema yang meskipun tidak menarik sama sekali, hentikan dulu kerjaan anda dan dengarkan dia berbicara sambil menatapnya. Itulah antara lain tips-tips untuk membuat hari anda menjadi perfect.

Dan urutan mata rantai menerima pasangan kita, lantas membuat mereka jadi lebih baik lagi hari ke harinya, tidak bisa aku bahasakan dengan indah dan rapih, dengan perumpamaan yang lebih cesssss begitu, selain dari meminjam bahasa di sebuah tulisan
”biar kuncupnya mekar jadi bunga”

Tiba-tiba istriku menyela lamunanku sambil melontarkan pertanyaan paling retoris sedunia. Aku masih mengunyah dan istriku berkata “gimana mas, masakannya???”

Anda, anda-anda yang membaca ini dan kebetulan bergender laki-laki, apa yang akan anda lakukan????

“hmmm…. Enak dek, tempe sambelnya maknyus” jawabku dengan jujur dan dari nurani yang terdalam.

“terus…. Kangkungnya????” cecar istriku dengan lihai sekali.

“hmmmmm”…… *ingat suami-suami, ingat, mekarkan kuncupnya jadi bunga!!* maka aku menjawab pelan “hmmm…. Kasih garem dikiiiiiiit lagi dek, ntar maknyus”

Lalu istriku tersenyum ….. tiba-tiba teori-teori yang kubaca di buku psikologi susah diterapkan, senyum model begitu itu apa artinya ya?????

Ah… tapi tetap saja ini perfect morning.

sinusoidal

Dari tadi sebenarnya sudah waktunya tidur. Biasanya aku melakukan ritual tidur seperti gerak refleks. Waktu yang sama, dengan urut-urutan yang sama berulang-ulang. Sama seperti kau naik motor, kan? Kita lupa kapan kita mencolok kunci ke lobangnya, kapan menjegal standarnya, lalu starter kita pencet dengan jempol kanan, lalu gigi satu masuk, kita jalan dengan lepas stang satu tangan, tangan kanan memutar gas lalu tangan kiri meraba saku celana jeans sebelah kiri jangan-jangan handphone tinggal di laci meja.

Tapi tidak malam ini. Biasanya urutannya sesimpel merebahkan kepala di bantal lalu bangun pagi. Urutan pertama merebahkan kepala di bantal itu pun aku tebak sekenanya saja, saking refleksnya aku tidak hapal juntrungannya bagaimana-bagaimana tapi tiba-tiba sudah pagi, dan aku sudah selesai tidurnya.

Lha bagaimana bisa tidur? kipas angin itu dari tadi berputar-putar dengan suara yang konstan, seperti penggeret yang berbunyi berat tapi sopan, agak-agak mistis. Kacau balau semua jadinya. Ini sudah duabelas malam, waktu yang ampun-ampunan larutnya kalau buatku, sedang kipas itu masih berputar kiri berputar kanan. Aku seperti terhipnotis. Lalu tiba-tiba teringat gerak ritmis kiri kanan kiri kanan itu seperti halnya ritmis naik turun naik turun grafik sinus.

Cuma itulah yang membekas sedikit bergengsi dari pelajaran matematika SMA dulu. Bahwa sinusoidal itu grafik mirip dengan jalan bergelombang.

Sebentar aku bangun dari tidur, dan menuliskan ini di selembar kertas.

Naik:
Aku lulus kuliah cepat, tes kerja di gedung itb, menyisihkan sekitar berapa ratus orang, lalu masuk kerja di tempat yang padahal aku tidak bisa tapi disana dituntut bisa ngomong bisa nulis inggris.

turun:
Rutinitas mulai menampakkan wajah aslinya, seperti dementor di film harry potter yang aku tonton di vcd bajakan. Menyedot kebahagiaan sampai akar-akarnya, dan menyediakan sebentuk pemikiran pesimis yang tolol bahwa kita ini ditimpakan hidup yang jemu, kabur, hitam-putih bagai filem tua.

Naik:
aku bertemu dengan rekan-rekan baru yang luar biasa hebat. Manusia pilih tanding yang menggentarkan sekalian orang dengan tatapan matanya dengan retorikanya. Kredibel. Memesona. Aku terpukau

Turun:
Aku sadar bahwa butuh waktu untuk mengkonversi teman jadi sahabat. Lalu sobat lama yang sekian jumlahnya itu rupanya kini sudah pergi ke tempat-tempat yang jauh. Yang berbeda garis bujur sekian derajat. Susah menggapainya. Sms tak tahu harus bercerita apa, kirim email terlampau banyak yang mau dikata. Jadi sudahlah, biarlah nama tinggal nama.

Naik:
Waktu dulu sebelum SPMB yang lembar jawabannya bulat-bulat dihitamkan pakai pensil itu, ke masjid rajin nian aku. Bersimpuh dengan duduk yang paling sopan, meminta dengan tutur kata yang paling memohon. Sujud dengan nikmat sampai lupa waktu, dan menangisi banyak hal dengan sesenggukan.

Aku menangisi pagi-pagi dingin yang berembun basah di jendela kamar. Menangisi siang sejuk yang anginnya semilir sepoi menggoyang goyang daun pisang seperti gelambir sapi. Menangisi suasana sore yang dibalik gubuk tua diatas sawah hijau sana itu ada matahari bulat berwarna orange kemerahan agak tua. Lalu menagisi pula burung yang Cuma titik-titik hitam saja di awan-awan jauh. Lalu menangisi pula malam hening yang kadang-kadang ada gerimis sedikit, ada jangkrik berderik sedikit. Dunia terlalu indah, dan indah membuat haru.

turun:
Setelah kuliah aku terjun bebas. Melakoni setiap rutinitas transendental sebagai mirip senam kesegaran jasmani saja. Kepalaku penuh dengan kumpulan kata-kata. Agama jadi mirip logika premis-premis saja. Senang rasanya bermain debat, mengaji memenuhi kepala, tapi hatiku tak!

Tapi kadang-kadang pas ditengah-tengah aku sering bingung juga. Ini pertengahan setelah turun atau setelah naik? Karna aku kadang-kadang Cuma siap menikmati sensasi melambung. Turun agak mengerikan buatku

Padahal, naik turun itu berulang saja begitu terus.

Sekarang ini, aku sudah merebahkan lagi kepalaku di bantal. Sambil menimang-nimang, bagaimana biar hidup itu tidak membuat kita stagnan di level yang sama. Harus ada semacam lompatan yang melenting jauh, biar semisal jatuhnya kita tidak segaris yang sama dengan hari-hari kemaren, lebih tinggi sedikit saja tak apa, biar kata naik turun tapi trendnya menanjak.

Alaaaaaaaaaaah…. Ini kata-kata semakin tidak efisien saja. Jangan-jangan memang harus dipaksakan untuk melawan fikiran kita sendiri, malas kita sendiri, takut kita sendiri. Atau sepertinya aku sudah harus tidur sekarang.

Selamat malam, slamat tidur…………………….
…………………………………….
…………………………………….
…………………………………….

Wahai Yang mengheningkan malam ini, kami ini benar-benar memohon padaMu, untuk tolong selamatkan kami Tuhan, dari setiap jenak kehidupan yang menanjak terlampau ramai, jangan sampai kami mabuk dengan gegap gempitanya. Ingatkan kami untuk tidak meratapi nasib di setiap episode menurun yang sunyi mencekam.

Ingatkan kami untuk makan seperlunya saja di setiap waktu menanjak yang berlimpah ruah, lalu sambutlah tangan kami yang sempoyongan seperti pesakitan di setiap turunan yang paceklik.

Kami ingin benar, dengan hati yang naik turun ini, Engkau bermurah untuk mengguyuri kami dengan rasa puas atas segala yang tertulis di hari-hari kami.

Pegang tangan kami Tuhan…di setiap tanjakan ………di setiap turunan ………di setiap yang ramai………di setiap sepi-sepi menusuk ………di setiap cinta bersemi berbunga………di setiap benci menyelubung………di pagi……di siang……di sore……di larut malam hari hidup kami, sampai kami mati nanti.