sinusoidal

Dari tadi sebenarnya sudah waktunya tidur. Biasanya aku melakukan ritual tidur seperti gerak refleks. Waktu yang sama, dengan urut-urutan yang sama berulang-ulang. Sama seperti kau naik motor, kan? Kita lupa kapan kita mencolok kunci ke lobangnya, kapan menjegal standarnya, lalu starter kita pencet dengan jempol kanan, lalu gigi satu masuk, kita jalan dengan lepas stang satu tangan, tangan kanan memutar gas lalu tangan kiri meraba saku celana jeans sebelah kiri jangan-jangan handphone tinggal di laci meja.

Tapi tidak malam ini. Biasanya urutannya sesimpel merebahkan kepala di bantal lalu bangun pagi. Urutan pertama merebahkan kepala di bantal itu pun aku tebak sekenanya saja, saking refleksnya aku tidak hapal juntrungannya bagaimana-bagaimana tapi tiba-tiba sudah pagi, dan aku sudah selesai tidurnya.

Lha bagaimana bisa tidur? kipas angin itu dari tadi berputar-putar dengan suara yang konstan, seperti penggeret yang berbunyi berat tapi sopan, agak-agak mistis. Kacau balau semua jadinya. Ini sudah duabelas malam, waktu yang ampun-ampunan larutnya kalau buatku, sedang kipas itu masih berputar kiri berputar kanan. Aku seperti terhipnotis. Lalu tiba-tiba teringat gerak ritmis kiri kanan kiri kanan itu seperti halnya ritmis naik turun naik turun grafik sinus.

Cuma itulah yang membekas sedikit bergengsi dari pelajaran matematika SMA dulu. Bahwa sinusoidal itu grafik mirip dengan jalan bergelombang.

Sebentar aku bangun dari tidur, dan menuliskan ini di selembar kertas.

Naik:
Aku lulus kuliah cepat, tes kerja di gedung itb, menyisihkan sekitar berapa ratus orang, lalu masuk kerja di tempat yang padahal aku tidak bisa tapi disana dituntut bisa ngomong bisa nulis inggris.

turun:
Rutinitas mulai menampakkan wajah aslinya, seperti dementor di film harry potter yang aku tonton di vcd bajakan. Menyedot kebahagiaan sampai akar-akarnya, dan menyediakan sebentuk pemikiran pesimis yang tolol bahwa kita ini ditimpakan hidup yang jemu, kabur, hitam-putih bagai filem tua.

Naik:
aku bertemu dengan rekan-rekan baru yang luar biasa hebat. Manusia pilih tanding yang menggentarkan sekalian orang dengan tatapan matanya dengan retorikanya. Kredibel. Memesona. Aku terpukau

Turun:
Aku sadar bahwa butuh waktu untuk mengkonversi teman jadi sahabat. Lalu sobat lama yang sekian jumlahnya itu rupanya kini sudah pergi ke tempat-tempat yang jauh. Yang berbeda garis bujur sekian derajat. Susah menggapainya. Sms tak tahu harus bercerita apa, kirim email terlampau banyak yang mau dikata. Jadi sudahlah, biarlah nama tinggal nama.

Naik:
Waktu dulu sebelum SPMB yang lembar jawabannya bulat-bulat dihitamkan pakai pensil itu, ke masjid rajin nian aku. Bersimpuh dengan duduk yang paling sopan, meminta dengan tutur kata yang paling memohon. Sujud dengan nikmat sampai lupa waktu, dan menangisi banyak hal dengan sesenggukan.

Aku menangisi pagi-pagi dingin yang berembun basah di jendela kamar. Menangisi siang sejuk yang anginnya semilir sepoi menggoyang goyang daun pisang seperti gelambir sapi. Menangisi suasana sore yang dibalik gubuk tua diatas sawah hijau sana itu ada matahari bulat berwarna orange kemerahan agak tua. Lalu menagisi pula burung yang Cuma titik-titik hitam saja di awan-awan jauh. Lalu menangisi pula malam hening yang kadang-kadang ada gerimis sedikit, ada jangkrik berderik sedikit. Dunia terlalu indah, dan indah membuat haru.

turun:
Setelah kuliah aku terjun bebas. Melakoni setiap rutinitas transendental sebagai mirip senam kesegaran jasmani saja. Kepalaku penuh dengan kumpulan kata-kata. Agama jadi mirip logika premis-premis saja. Senang rasanya bermain debat, mengaji memenuhi kepala, tapi hatiku tak!

Tapi kadang-kadang pas ditengah-tengah aku sering bingung juga. Ini pertengahan setelah turun atau setelah naik? Karna aku kadang-kadang Cuma siap menikmati sensasi melambung. Turun agak mengerikan buatku

Padahal, naik turun itu berulang saja begitu terus.

Sekarang ini, aku sudah merebahkan lagi kepalaku di bantal. Sambil menimang-nimang, bagaimana biar hidup itu tidak membuat kita stagnan di level yang sama. Harus ada semacam lompatan yang melenting jauh, biar semisal jatuhnya kita tidak segaris yang sama dengan hari-hari kemaren, lebih tinggi sedikit saja tak apa, biar kata naik turun tapi trendnya menanjak.

Alaaaaaaaaaaah…. Ini kata-kata semakin tidak efisien saja. Jangan-jangan memang harus dipaksakan untuk melawan fikiran kita sendiri, malas kita sendiri, takut kita sendiri. Atau sepertinya aku sudah harus tidur sekarang.

Selamat malam, slamat tidur…………………….
…………………………………….
…………………………………….
…………………………………….

Wahai Yang mengheningkan malam ini, kami ini benar-benar memohon padaMu, untuk tolong selamatkan kami Tuhan, dari setiap jenak kehidupan yang menanjak terlampau ramai, jangan sampai kami mabuk dengan gegap gempitanya. Ingatkan kami untuk tidak meratapi nasib di setiap episode menurun yang sunyi mencekam.

Ingatkan kami untuk makan seperlunya saja di setiap waktu menanjak yang berlimpah ruah, lalu sambutlah tangan kami yang sempoyongan seperti pesakitan di setiap turunan yang paceklik.

Kami ingin benar, dengan hati yang naik turun ini, Engkau bermurah untuk mengguyuri kami dengan rasa puas atas segala yang tertulis di hari-hari kami.

Pegang tangan kami Tuhan…di setiap tanjakan ………di setiap turunan ………di setiap yang ramai………di setiap sepi-sepi menusuk ………di setiap cinta bersemi berbunga………di setiap benci menyelubung………di pagi……di siang……di sore……di larut malam hari hidup kami, sampai kami mati nanti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s