Sekarang

Dulu, aku pernah baca sebuah sisipan dalam satu majalah. Entah apa nama majalahnya aku lupa. Tapi kan kadang dalam sebuah edisi tertentu, majalah-majalah apapun sering menyisipkan sejumlah artikel dengan desain halaman sendiri, dengan ukuran kertas sendiri, dengan rancangan yang beda sendiri dengan keseluruhan halaman lainnya. Gampangnya seperti majalah kecil dalam sebuah majalah besar.

Waktu itu majalah yang aku baca menuliskan sebuah sisipan mengenai mesin waktu. Edisi iptek. Aku masih kelas 1 smp kalau tidak salah ingat. Isi bahasannya bagaimana persisnya juga aku lupa. Tapi yang jelas ketika itu sangatlah menarik. Satu-satunya tulisan science yang aku baca berulang-ulang, sangat memukau, tapi aku tidak begitu paham. Bisakah manusia kembali ke masa lalu???

Sampai sekarang pun aku percaya tak ada orang yang bisa. Siapapun dia. Hanya memang para ahli sering betul berdebat tentang kemungkinan melakukan hal itu secara teoritis.

Aku sering iseng, memlototi selembar kertas yang aku robek dari buku tulis. Seplotot-plototnya aku tatap itu kertas, hanya untuk memastikan bahwa aku sedang berada di suatu masa yang bernama “sekarang”. Kertas itu ada!!

Setelah puas aku tatap, maka kertas itu aku sulut dengan korek dan terbakar habis jadi abu. Lalu aku seperti tidak yakin. Sedetik lalu kertas itu aku masih plototi dengan tajam, lalu kemudian hilang tak ada bekas –selain abu tentu-. Kemana kertas itu sekarang? Terlebih lagi aku berfikir kemana kejadian sedetik yang lalu??? Tidak bisa diulang, berlalu dan terkunci dalam gembok paling “secure”, hanya hidup dalam memori kita.

Dan memori biasanya tidak menyakitkan. Karna ingatan adalah sebuah rekam video. Bukan kejadian nyata. Harusnya sensasinya lebih ringan dari aslinya. Kalau kenangan menyakiti kita hari ini, mungkin ada yang salah dengan cara kita menilai sejarah. Aku merasa bahwa “past” selama ini relatif lebih menyenangkan dibandingkan “presents”.

Aku ingat bagaimana dulu sekali aku pernah setengah mati menghemat biaya hidup semasa kuliah. Awal-awal kuliah yang getir. Sampai akhir-akhir masa kuliah yang penuh perjuangan. Aku ingat juga dulu semasa sekolah SMA hari-hari diisi penuh dengan kesuntukan persiapan menjelang SPMB. Masa-masa bertengkar dengan orang tua karna perbedaan visi. Masa-masa stress menjelang pernikahan. Masa-masa deg-degan menanti pengumuman kelulusan tes di sebuah perusahaan. Masa-masa terasing di hutan kalimantan dalam proyek eksplorasi batubara. Semua menjadi indah setelah dikenang.

Sampai sekarang masa lalu selalu menyulut sensasi ketenangan yang aneh. Setiap hari-hari sulit yang aku lalui, kadang-kadang aku berfikir bahwa enak sekali dulu waktu SMA. Hidup dikelilingi puluhan teman-teman yang baik dan jujur. Kebersamaan yang erat dan menenangkan. Atau saat sedang dilanda kebosanan karna menghadapi rutinitas yang menjemukan, aku kembali mengingat masa lalu, kenikmatan hidup penuh dengan petualangan, naik turun gunung dan terasing di hutan rimba. Semua menyisakan goresan yang indah untuk ditelusuri lagi. Ironis memang. Padahal dulu sewaktu menjalaninya terasa betapa getirnya. Susahnya. Tapi setelah dikenang jadi tidak seberapa getir, sebagian jadi menyenangkan.

Begitulah kita. Hidup kita adalah terjebak dalam dua kutub, kita tertarik-tarik dalam memori masa lalu dan angan-angan masa depan.

Kalau masa lalu, dulunya pernah juga jadi “sekarang”, maka kenapa dia harus menjadi indah hanya pada “masa depan?”

Hari ini aku menghadapi sekian rentet masalah, anda menghadapi juga sekian rentet lagi yang mungkin lebih banyak dibanding yang lain. Tapi hari ini kan besok menjadi masa lalu????

Hari ini kita tidak bahagia, lalu malam berganti dan hari menjadi besok, besok kita tidak juga bahagia, yang kita lakukan besok adalah mengutuki hari dan mengenang kemarin, bahwa kemarin ternyata tidak sepelik yang kita pikirkan, bahwa kemarin adalah masa paling indah yang tidak terulang, lalu kita berandai-andai agar besok hari kita sudah mulai bisa menikmati hidup kita.

Padahal kita hidup adalah hari ini. Bukan kemaren bukan besok.

Tapi kita kan hobinya berandai-andai, kapan kita bahagia?? “ahhh… bisa tidak ya kita kembali ke masa lalu???” sebentar……………. Aku cari dulu bundel majalah iptek jaman dulu itu, nanti aku kabari lagi.

Sembari menunggu majalahnya ketemu bagaimana kalau kita bahagianya sekarang saja?

Iklan

ONOMATOPE

Aku tidak pernah bisa memainkan alat musik. Sedari dulu alat musik seperti tidak pernah mau mengakrabkan diri denganku meski aku selalu beramah tamah dengan bunyi. Tapi kami tidak pernah bisa menyatu.

Dimasa SMA pernah sekali aku meminta ibu membelikan sebuah gitar. Sebuah permintaan yang selintas saja, aku tahu tidak mungkin beliau membelikanku gitar. Tapi rupanya ibu bercerita pada nenek, dan nenek mengirimi aku uang. Maka siang hari yang panas di minggu itu aku dan Bapak menyusuri jalan Soeprapto yang pendek, lalu lintas terpadat di kotaku, dan membawa pulang sebuah gitar yamaha coklat tua.

Aku memetik gitar pada sore hari, memetiknya lagi malam hari. Mengakrabinya dengan sebuah keberanian yang murni, otodidak yang soliter. Gitar itu berbunyi dengan bunyi yang tidak harmonis, aku tahu itu. Ribuan kali memetiknya tidak lantas menjelmakan aku sebagai manusia yang menipu diri sendiri, aku mengenali petikanku sebagai suara aneh yang sumbang sama seperti waktu pertama kali aku memetiknya dulu.

Aku tidak menyalahkan setelannya, tidak senarnya, tidak resonansi lubangnya. Tapi seperti kesadaran yang utuh aku memaknainya sebagai legowo. Aku tidak bisa bersahabat dengan alat musik, tidak sekarang mungkin, meski aku selalu beramah tamah dengan bunyi.

Sampai akhir aku kuliah, gitar tua itu tidak lagi terdengar bunyinya, aku tidak memetiknya lagi, tidak juga mempermasalahkan adik-adikku yang menggeletakkannya di sebarang tempat, sampai berdebu. Diganti-ganti senarnya oleh mereka dan disetelnya dengan cekatan, aku diamkan dan aku dengarkan.
******

Dibesarkan di keluarga empat bersaudara membuatku susah membedakan “timbre”. Kami semua laki-laki, hanya ibu seorang perempuan. Aku jadi bersikap, memandang, bertindak, dan merenung dalam tempo yang terlalu pria.

Sebuah ritme yang menyenangkan memang, untuk selalu cepat dan tuju sasaran. Untuk menjadi se-rasional apapun yang aku inginkan. Untuk menjadi kokoh dan tidak gampang lapuk. Sampai suatu ketika sebuah babak baru dalam kehidupan hadir.

Ini “chorus”.
Sebuah reff dalam susunan bait-bait lagu. Aku ternyata sepenuhnya sadar bahwa bernyanyi dalam panggung ini tidak bisa selamanya sendiri, maka aku pinta dia untuk menemaniku.

Seorang perempuan.
Bertahun-tahun aku seperti merasa asing dengan “genre” satu ini. Selama ini dunia seperti terlalu “nge-pop” atau “jazzy” tiba-tiba dia mengenalkan aku dengan “klasik”.

Setiap hari aku belajar mengikuti irama yang baru. Menikmati kenyataan psikologis bahwa manusia punya wajah yang bernama feminin. Aku baru sadar itu, dan belajar sedikit-sedikit bahwa bahasa wanita sedikit lebih abstrak, gaya bertuturnya sedikit lebih bias, bersikapnya sedikit lebih manja, dan “ya”-nya bisa jadi “tidak”, dan “tidak”nya terkadang “ya”.

Dia menyukai seni, sama sepertiku juga. Kami sama-sama tidak bisa memainkan alat musik, tapi dia bernyanyi dengan lebih baik.

Semasa kuliah dia anggota sebuah kelompok paduan suara. Menyanyi baginya adalah suatu seni yang profesional. Tinggi rendah nada adalah sesuatu yang bisa dibaca buatnya. Maka ketika suatu kali aku melihatnya dalam balutan seragam coklat kehitaman nan anggun. Bernyanyi dibalik dirigen yang memegang tongkat kecil seperti penyihir, dan mebuka-katupkan mulutnya sambil tangannya memegang partitur nada-nada, saat itu aku tahu kami berbeda.

Enam tahun sejak gitar coklat tua yamaha itu dibelikan bapak dengan uang dari nenek yang dititipkan pada ibu, aku tidak juga pandai bermusik.

Sampai sekarang aku masih mengidamkan untuk suatu nanti bisa memainkan alat musik. Di ruang tengah keluarga atau mungkin di kebun belakang, di kelilingi anak cucu yang sedang bermain berlari-larian dan menantu yang sedang mengipas-ngipasi ayam bakar, aku memainkan sebuah alat musik yang “klasik”, entah piano atau biola, sukur-sukur harpa. Karna diwaktu kita tua mungkin cuma kebahagiaan kecil-kecil begitu yang kita bisa derma.

Dan kalau lebih mungkin lagi nanti, aku memainkannya dengan sebuah partitur. Loncat-loncat oktaf yang teratur. Istriku menyanyi di sebelahku atau bisa juga kami bernyanyi bersama.

Tapi hari itu masih nanti, kupikir. Sekarang kami masih mencocokkan suara. Dan aku mulai kagum pada wanita yang fragile sekaligus pejal. Labil tapi tidak tergoyahkan. Terkadang berputar tapi mampu juga fokus dan luar biasa straight. Itulah perempuan.

Kalau aku memainkan segalanya dengan spontan dan improvisasi, maka tidak ada yang lebih baik untuk mendampingiku selain keteraturan dan kemampuan membaca not balok, sepertimu, dek.

Meski aku masih belum juga bisa memainkan alat musik, tapi aku selalu beramah tamah dengan bunyi. Maka aku dengar dan kubahasakan apa saja yang orang lain tidak dengar, seperti sebuah onomatope.

Aku istimewa kan, dek??

wikipedia:
Onomatope (dari Bahasa Yunani ονοματοποιία) adalah kata atau sekelompok kata yang menirukan bunyi-bunyi dari sumber yang digambarkannya. Konsep ini berupa sintesis dari kata Yunani όνομα (onoma = nama) dan ποιέω (poieō, = “saya buat” atau “saya lakukan”) sehingga artinya adalah “pembuatan nama” atau “menamai sebagaimana bunyinya”. Bunyi-bunyi ini mecakup antara lain suara hewan, suara-suara lain, tetapi juga suara-suara manusia yang bukan merupakan kata, seperti suara orang tertawa.

JELAGA

Aku ingin menulis sajak buatMu, tapi kata-kataku jelaga.
Apalagi yang bisa disusun-susunkan untukMu “Cahaya”? bila huruf rupanya sudah hitam keling.

Aku setengah lari.
Dari awalan yang buram dan rabun.
Aku susun sebait larik.
Yang meski menyajak kurasa tak,
meski jelaga kusurut tak.

Aku ingin menulis sajak buatMu, meski layak kukira tak.

Aku jelaga Engkau Cahaya.
Dan aku masih berjalan memohon-mohon: tunjukkan ufuk.

Amiin.

TAKDIR SATE

Sejak menikah, aku menjadi sangat hemat. Setiap hari memakan masakan rumah. Aku jadi tahu sedikit sekarang, bahwa jauh benar bedanya pengeluaran antara memasak sendiri dan membeli di luar.

Mulanya agak tidak terbiasa, tapi setelah berapa kali dijalani, aku mulai kembali berasa di “rumah”. Empat tahun aku kuliah, dua tahun bekerja, hampir tidak lagi pernah makan, mengecap, mencium aroma masakan rumah. Lidahku jadi sedikit terbiasa dengan jajanan luaran. Tidak yang mahal-mahal tentu, tapi ya khas makanan pinggir jalan saja, goreng2, tumis-tumis.

Tapi entah kenapa malam ini istriku tidak seperti biasanya. Modus operandiyang biasa adalah istriku memasak dua kali, sekali pagi untuk sarapan, dan sekali lagi untuk siang dan malamnya. Kalau kami sedang bosan nasi, biasanya mie jadi menu favorit, selingan yang murah meriah, tapi malam ini istriku mengidamkan sate padang.

Aku, yang juga sudah lapar mengiyakan saja, kuganti pakaian, mengenakan jaket coklat kudel, lalu menstarter motor. Istriku menunggu di rumah. Demi sate padang maka aku keluyuran malam hari.

Sebenarnya tidak sampai tiga menit saja jarak dari kontrakan ke jalan raya depan sana, itu kalau aku tempuh dengan gaya kalem, tapi malam itu lebih dari tiga menit perjalananku. Di depan gang tak ada satupun penjual sate, motor kemudian kugas lagi, roda berputar lagi dan aku dibawa sekitar berapa meter lagi. Pelan-pelan aku susuri pinggiran jalan besar. Gorengan tahu pedas, soto ayam, pecel ayam, mi ayam, tapi tak ada sate.

Kupikir, kepalangan sudah di jalan besar ya baik diteruskan saja, hitung-hitung jalan-jalan malam. Maka aku terus lagi berhenti di beberapa lampu merah, melewati berapa persimpangan, tapi tak ada sate padang. Sekali aku berhenti dan bersorak girang, ternyata sate madura. Ah……. Belum rezeki, kata orang.

Sampai bosan aku memutari jalan, pelan-pelan celingak-celinguk, berhenti di banyak gerobak dan menggeleng lagi setiap salah tebak, ahhh….. malah bubur ayam ini, bukan sate padang. herannya, semakin jauh aku menelusur jalan raya semakin aku tertantang, tiba-tiba aku jadi sangat mengidamkan sate padang. Jadilah malam itu sebuah pengembaraan suci dengan tema sate padang. Sampai belokan terakhir yang aku kira cukup jauh aku menemukan lagi sate.

Sate madura lagi!!! Aaahhh….. kenapa madura????? Ada apa dengan sate padang??? Beginilah cara kerja kehidupan, sesuatu yang biasa kita temui tiba-tiba jadi langka kalau kita memimpikannya setengah mati.

Lama-lama aku kesal juga, sudahlah sate madura-pun tak apa. Motor kuparkir, ibu-ibu penjual sate itu kupikir tinggal menunggu pulang saja. Satenya sudah hampir habis, boleh jadi aku pembeli pamungkas.

“dek…… sate madura ajalah, ga ada lagi sate padangnya” aku mengirimkan sms

Istriku mengiyakan. Aku memesan dua porsi. Ibu itu langsung beranjak. Sebentar kemudian aku menambahkan “pakai lontong ya bu”.

“lontongnya habis” jawab ibu-ibu tadi.

Kelangkaan sate!!!!! ini belum terlalu malam, sate padang tak tampak dimana-mana, dan sate madura di pengkolan ujung jalan terjauh yang aku jajal malam ini ternyata tak berlontong!!!! Ada apa dengan malam ini? Ada apa dengan semua sate???

“dek…. Ga ada lontongnya nih, masih mau ga?”

“ga ada sate madura yang lain mas?”

singkat padat dan tersurat jelas balasan sms istriku yang berarti ‘tidak dengan tanpa lontong’. Baiklah….. aku membatalkan pesanan tadi, lalu mengambil jalan memutar.

Sate madura sate madura……. Baiklah, untuk malam ini sajai, semadura apapun kau sate berikutnya yang kujumpai, akan tetap kubeli, lalu motor berjalan lagi.

Sebuah gerobak sate di pinggir jalan kuhampiri. Tempat pembakarannya tidak membara, ada arang-arang hampir padam. Entah berapa tusuk pula itu sate di gerobak. Malam yang kurang beruntung buat ibu dan anak ini. Mereka aku perhatikan Cuma duduk saja, sambil merebahkan kepala dan tangan di atas meja. Mungkin aku pembeli pertama, atau boleh jadi yang kedua, tapi rasaku tidak lebih dari hitungan jari orang yang malam ini menghampiri gerobak ini.

Disinilah muaranya segala pencarian malam ini, rupanya. Daging sate yang besar-besar. Lontong yang berderet rapih. Cabe giling yang segar dan rekah. Arang yang menyala kembali.

Kebetulankah ini ataukah tidak?
Istriku tidak memasak nasi sore ini dan bukan kemarin atau dua hari lalu.
Kami tiba-tiba memikirkan sate padang dan bukannya mie ayam atau soto betawi.
Aku berhenti lalu menyerah di tikungan sana dan bukannya tikungan sebelumnya atau yang satu lagi.
Sate padang tak terlihat sama sekali dan bukannya ada sejak dari gang depan jalan raya duapuluh menit lalu.
Sate madura pertama yang kutemui tak ada lontong dan bukannya ada atau paling tidak ada penggantinya nasi.
Aku batal membelinya lantas mencari sate madura lainnya lagi dan bukannya menyerah dengan “tak pakai lontong juga sudah kenyang, kan?”.
Sekarang aku duduk melamun di pinggir bara sambil menahan perih mata dikipasi asap yang wangi daging terbakar, sesaat tiba-tiba aku jadi merasa berarti, bara itu kubuat menyala kembali.

aku membayar seharga dua porsi sate dan lontong enam biji. Sate madura itu buatku rezeki, aku bagi ibu dan anak itu mungkin juga rezeki. Sedang kata orang tua-tua dulu ‘rezeki itu sudah ada yang atur’. Kebetulankah ini ataukah tidak?

Agak kencang sekarang aku mengemudi motor, mengingat aku sudah lapar, istriku di rumah juga lapar. Selintas lalu tiba-tiba kulihat gerobak sate di pinggir jalan mungkin 20 meter dari tempatku berhenti tadi. “PADANG” terpampang nyata sekali di kacanya. Motor tetap melaju di enampuluh kilometer satu jamnya.

Kebetulankah ini ataukah tidak?
Sate padang itu duapuluh meter sesudah gerobak madura tadi dan bukannya sebelumnya atau di persimpangan jauh berikutnya.
Atau rezeki mungkin sudah ada yang mengatur!

FIRASAT

Rasa khawatir yang mengelindap di dada seringkali hanya lintasan ketakutan tidak beralasan saja, tapi ada kalanya juga itu sebuah firasat.

Firasat selingkali tidak kita tanggapi, dan baru kita sesali setelah terjadi. Waktu itu aku kelas lima SD, ya…… kelas lima, aku yakin itu. Sebuah kelas yang didepannya ada pohon belimbing menjulang tinggi sampai ke tingkat atas. Bangunan agak lama yang sekarang sudah susah ditelusuri bukti sejarahnya, karna berapa tahun lalu luluh lantak dihantam gempa.

Waktu itu, kondisi ekonomi carut marut. Detail-detail kejadian yang sulit dan nelongso sering rasanya lebih membekas di dalam memori jangka panjang kerut-kerut otak. Disimpan rapih dalam serabut syaraf yang kait mengait tak jelas. Sudah berapa puluh tahun yang lalu tapi masih saja bisa dibuka dengan rapih gambarannya.

Hari itu, bapak menitipkan kepadaku uang sejumlah duapuluh tiga ribu rupiah. Untuk membayar tunggakan buku, dan tunggakan BP3. Tapi sodaraku, sebelum kau lanjutkan menekuri ini cerita, haruslah kau rubah sedikit mindset di kepalamu, bahwa duapuluh tiga ribu rupiah uang waktu jaman itu sudah serasa tak karuan mahalnya. Jadi perasaanku waktu itu, sebagai anak kelas lima sd membawa sejumlah uang yang baru pertama itu aku genggam, seperti mau meletus.

Keamanan tingkat pertama aku terapkan. Dompet….. ya… dompet….. aku merasa, bahwa anak kelas lima sd sudah saatnya memakai dompet, maka dompet yang selama ini aku anggurkan saja diatas meja belajar kamarku hari ini mendapatkan mandatnya pertama kali, membawa uang 23ribu.
Hatiku bergetar bergejolak. Aku seperti diatas garis kemapanan.

Berangkatlah aku pagi-pagi, setengah enam pagi dari rumah, menunggu angkot di depan gerbang rumah. Dan disinilah keraguan pertama terjadi.

Selain keamanan tingkat tinggi, rupanya dompet bisa juga menjadi sumber petaka. Celana merahku sudah sempit, lalu dimana baiknya aku simpan ini dompet??? Sudah aku terapkan tentu saja, gaya bapak2 kantoran, dengan canggih aku sorong dompet coklat kulit ke saku celana belakang. Terlalu gembung rekan-rekan!!!!……. Ah…. Tidak etis saja rasanya. Kurang estetikanya, kalau saja dompet ini agak lebih proporsional untuk ukuran celana anak sd, aku rasa tidak masalah, tapi saat ini pastinya saku belakang celana tidak bisa diandalkan.

Maka aku simpan di saku samping, sebelah kanan. Pertama di sebelah kanan aku sorong. Dan disinilah keraguan berlanjut. Kau tahu, kawan…… dompet gembung di saku celanamu, dan sensasi pertama kali membawa uang banyak bisa membuat semua orang terlihat macam garong.

Pertama kali naik angkot aku sudah curiga dengan bapak sopir, tak mungkin muka berjambang begini sopir angkot?? Setelah naik aku buruk sangka pada ibu2 gendut penjual ikan, jangan2 dia maling??? Bagaimana kalau mbak2 disamping kananku ini melihat tonjolan dompet di saku ku??? Bagaimana…??? Bagaimana???? Aku pindahkan dengan cekatan dompet ke saku kiri, jantung berdenyut seperti stroke, tangan dipinggang, mata menatap nanar. Ah….. bahaya ini, bahaya, semua orang seperti penjahat. Aku mengelap keringat dingin sebesar kelereng di dahiku, tapi tiba-tiba sudah di depan sekolah. Aku selamat………

Tiba di sekolah rasanya tidak pernah senikmat ini. Dan aku mengambil sebuah kesimpulan besar. Kebodohan pertama adalah membawa uang di dalam dompet, dan kebodohan kedua adalah menyimpan dompet di saku celana. Dari estetika, tinjauan keamanan, kenyamanan bergerak, ketenangan batin, tidak ada celahnya bahwa dompet besar coklat berisi duapuluh tiga ribu pantas untuk disimpan di saku celana merahku. Yang sampingkah itu, atau yang belakangkah itu, tidak!!!

Maka dengan yakin aku simpan itu dompet di dalam tas. Saku depan tas hijau hitam.

Jumat……. Hari yang entah kenapa orang sandingkan dengan segala misteri, padahal itu hari yang baik seharusnya. Dan kebaikan itu dimulai dengan senam kesegaran jasmani. Senam wajib untuk anak sd. Aku masuk ke dalam kelas dan meletakkan tas di atas meja. Sejenak aku berhenti. Tidak ada siapa-siapa di kelas, kawan-kawan berhamburan ke lapangan dan menguasai wilayah masing-masing. Dalam senam kesegaran jasmani, maka posisi menentukan tingkat kecapaian. Semakin aman dari mata guru, maka tidak usah terlalu jingkrak-jingkrak. Dari tadi hatiku sudah semaput rasanya ingin mengambil baris belakang, tapi ingin kutinggal langsung ini tas rasanya berat. Dompet di saku tas ini menggangguku.

Kelas hening tenang, tapi firasatku mengatakan ada yang tidak beres. Sejenak dompet itu aku pegang dari dalam tas, ingin rasanya aku simpan di saku celana, tapi bagaimana mungkin, senam dengan tidak mengindahkan estetika dan kenyamanan??? Belum lagi kalau aku disoraki pandir oleh kawan-kawan karna berdompet setebal handuk dilipat-lipat??? Estetika mengalahkan segalanya dan itu dompet bersemayam di kantong tas. Aku lari keluar lalu bergoyang-goyang senam. Cara yang indah mengawali hari bukan? dan I love Friday, my friends.

Senam usai…..
Kami kembali ke kelas, seperti umumnya anak-anak dimanapun berada, maka kelas gaduh tak karuan dan baru diam sesaat setelah wali kelas masuk. Pelajaran apa aku sudah tidak ingat, tapi hatiku berbunga karna akan membayar buku. Bayangkan itu. Maju ke depan kelas dengan dompet kulit tergenggam di tangan, lalu melunasi buku diktat yang sudah lama sekali diabsen “rio……kapan bayar buku???”, ada kalanya dompet menunjang kredibilitas, itu pencitraan namanya rekan-rekan.

Tas aku buka, dompet aku ambil. Tapi……………. Kenapa ada sebutir salak di dalamnya????
Aku heran, tapi aku tidak ambil pusing, lalu kukeluarkan dompet dan berdiri ingin membayar buku.

FIRASAT!!! Jangan sepelekan firasat. Itu rupanya rasa tak enak sesaat menjelang SKJ tadi. Uangku lenyap, raib tak ada bekas. Aku panik dan memerah mukaku, kubongkar-bongkar tas, sana-sini. Semakin kubongkar semakin panik, semakin panik semakin tak bisa aku mengontrol diri. Buku-buku berkelebat di kepalaku, lalu struk bp3, lalu buku-buku lagi, aku seperti diteror dan tanpa sadar menangis, ini beban berat buat anak kelas lima. Dalam kekalutan aku melihat kiri kanan sambil menangis. Seorang teman di sebrang bangkuku juga terlihat bingung sambil mengutak-atik tasnya, lalu dia berkata pelan “salakku mana ya???”Read More »