FIRASAT

Rasa khawatir yang mengelindap di dada seringkali hanya lintasan ketakutan tidak beralasan saja, tapi ada kalanya juga itu sebuah firasat.

Firasat selingkali tidak kita tanggapi, dan baru kita sesali setelah terjadi. Waktu itu aku kelas lima SD, ya…… kelas lima, aku yakin itu. Sebuah kelas yang didepannya ada pohon belimbing menjulang tinggi sampai ke tingkat atas. Bangunan agak lama yang sekarang sudah susah ditelusuri bukti sejarahnya, karna berapa tahun lalu luluh lantak dihantam gempa.

Waktu itu, kondisi ekonomi carut marut. Detail-detail kejadian yang sulit dan nelongso sering rasanya lebih membekas di dalam memori jangka panjang kerut-kerut otak. Disimpan rapih dalam serabut syaraf yang kait mengait tak jelas. Sudah berapa puluh tahun yang lalu tapi masih saja bisa dibuka dengan rapih gambarannya.

Hari itu, bapak menitipkan kepadaku uang sejumlah duapuluh tiga ribu rupiah. Untuk membayar tunggakan buku, dan tunggakan BP3. Tapi sodaraku, sebelum kau lanjutkan menekuri ini cerita, haruslah kau rubah sedikit mindset di kepalamu, bahwa duapuluh tiga ribu rupiah uang waktu jaman itu sudah serasa tak karuan mahalnya. Jadi perasaanku waktu itu, sebagai anak kelas lima sd membawa sejumlah uang yang baru pertama itu aku genggam, seperti mau meletus.

Keamanan tingkat pertama aku terapkan. Dompet….. ya… dompet….. aku merasa, bahwa anak kelas lima sd sudah saatnya memakai dompet, maka dompet yang selama ini aku anggurkan saja diatas meja belajar kamarku hari ini mendapatkan mandatnya pertama kali, membawa uang 23ribu.
Hatiku bergetar bergejolak. Aku seperti diatas garis kemapanan.

Berangkatlah aku pagi-pagi, setengah enam pagi dari rumah, menunggu angkot di depan gerbang rumah. Dan disinilah keraguan pertama terjadi.

Selain keamanan tingkat tinggi, rupanya dompet bisa juga menjadi sumber petaka. Celana merahku sudah sempit, lalu dimana baiknya aku simpan ini dompet??? Sudah aku terapkan tentu saja, gaya bapak2 kantoran, dengan canggih aku sorong dompet coklat kulit ke saku celana belakang. Terlalu gembung rekan-rekan!!!!……. Ah…. Tidak etis saja rasanya. Kurang estetikanya, kalau saja dompet ini agak lebih proporsional untuk ukuran celana anak sd, aku rasa tidak masalah, tapi saat ini pastinya saku belakang celana tidak bisa diandalkan.

Maka aku simpan di saku samping, sebelah kanan. Pertama di sebelah kanan aku sorong. Dan disinilah keraguan berlanjut. Kau tahu, kawan…… dompet gembung di saku celanamu, dan sensasi pertama kali membawa uang banyak bisa membuat semua orang terlihat macam garong.

Pertama kali naik angkot aku sudah curiga dengan bapak sopir, tak mungkin muka berjambang begini sopir angkot?? Setelah naik aku buruk sangka pada ibu2 gendut penjual ikan, jangan2 dia maling??? Bagaimana kalau mbak2 disamping kananku ini melihat tonjolan dompet di saku ku??? Bagaimana…??? Bagaimana???? Aku pindahkan dengan cekatan dompet ke saku kiri, jantung berdenyut seperti stroke, tangan dipinggang, mata menatap nanar. Ah….. bahaya ini, bahaya, semua orang seperti penjahat. Aku mengelap keringat dingin sebesar kelereng di dahiku, tapi tiba-tiba sudah di depan sekolah. Aku selamat………

Tiba di sekolah rasanya tidak pernah senikmat ini. Dan aku mengambil sebuah kesimpulan besar. Kebodohan pertama adalah membawa uang di dalam dompet, dan kebodohan kedua adalah menyimpan dompet di saku celana. Dari estetika, tinjauan keamanan, kenyamanan bergerak, ketenangan batin, tidak ada celahnya bahwa dompet besar coklat berisi duapuluh tiga ribu pantas untuk disimpan di saku celana merahku. Yang sampingkah itu, atau yang belakangkah itu, tidak!!!

Maka dengan yakin aku simpan itu dompet di dalam tas. Saku depan tas hijau hitam.

Jumat……. Hari yang entah kenapa orang sandingkan dengan segala misteri, padahal itu hari yang baik seharusnya. Dan kebaikan itu dimulai dengan senam kesegaran jasmani. Senam wajib untuk anak sd. Aku masuk ke dalam kelas dan meletakkan tas di atas meja. Sejenak aku berhenti. Tidak ada siapa-siapa di kelas, kawan-kawan berhamburan ke lapangan dan menguasai wilayah masing-masing. Dalam senam kesegaran jasmani, maka posisi menentukan tingkat kecapaian. Semakin aman dari mata guru, maka tidak usah terlalu jingkrak-jingkrak. Dari tadi hatiku sudah semaput rasanya ingin mengambil baris belakang, tapi ingin kutinggal langsung ini tas rasanya berat. Dompet di saku tas ini menggangguku.

Kelas hening tenang, tapi firasatku mengatakan ada yang tidak beres. Sejenak dompet itu aku pegang dari dalam tas, ingin rasanya aku simpan di saku celana, tapi bagaimana mungkin, senam dengan tidak mengindahkan estetika dan kenyamanan??? Belum lagi kalau aku disoraki pandir oleh kawan-kawan karna berdompet setebal handuk dilipat-lipat??? Estetika mengalahkan segalanya dan itu dompet bersemayam di kantong tas. Aku lari keluar lalu bergoyang-goyang senam. Cara yang indah mengawali hari bukan? dan I love Friday, my friends.

Senam usai…..
Kami kembali ke kelas, seperti umumnya anak-anak dimanapun berada, maka kelas gaduh tak karuan dan baru diam sesaat setelah wali kelas masuk. Pelajaran apa aku sudah tidak ingat, tapi hatiku berbunga karna akan membayar buku. Bayangkan itu. Maju ke depan kelas dengan dompet kulit tergenggam di tangan, lalu melunasi buku diktat yang sudah lama sekali diabsen “rio……kapan bayar buku???”, ada kalanya dompet menunjang kredibilitas, itu pencitraan namanya rekan-rekan.

Tas aku buka, dompet aku ambil. Tapi……………. Kenapa ada sebutir salak di dalamnya????
Aku heran, tapi aku tidak ambil pusing, lalu kukeluarkan dompet dan berdiri ingin membayar buku.

FIRASAT!!! Jangan sepelekan firasat. Itu rupanya rasa tak enak sesaat menjelang SKJ tadi. Uangku lenyap, raib tak ada bekas. Aku panik dan memerah mukaku, kubongkar-bongkar tas, sana-sini. Semakin kubongkar semakin panik, semakin panik semakin tak bisa aku mengontrol diri. Buku-buku berkelebat di kepalaku, lalu struk bp3, lalu buku-buku lagi, aku seperti diteror dan tanpa sadar menangis, ini beban berat buat anak kelas lima. Dalam kekalutan aku melihat kiri kanan sambil menangis. Seorang teman di sebrang bangkuku juga terlihat bingung sambil mengutak-atik tasnya, lalu dia berkata pelan “salakku mana ya???”

Dompet??? Salak??? Dompet??? Salak???? Dua kata itu seperti berjalin-jalin dalam simpul syarafku, lalu sambil sesenggukan aku mengacungkan telunjuk dan berteriak “KAUUUUU PENCURINYAAAAAAA”

Kelas heboh…… wali kelas mulai memerhatikan, sesaat kemudian hingar bingar. Seperti magnet maka bangkuku dikerubung rekan-rekan satu kelas. Mereka yang tidak tahu persis apa yang terjadi mulai mengarang-ngarang cerita “rio dirampok” katanya…… puihhhh itulah tabiat manusia, kita ini senang sekali berspekulasi, maka teori konspirasi merebak di kelas lima B.

Wali kelasku panik, kawan-kawan yang baik budi menyabarkanku, dan rekan yang kutuding setengah mati membela diri “aku bukan maliiiiingggg” ujarnya.

Tapi aku seperti pengacara handal, langsung kucecar dia dengan barang bukti “INI SALAK SIAPA??????” tanyaku.

“salakku” jawabnya pasrah.

“lalu kenapa ada di tasku???” tanyaku sambil menatap nanar, mata memerah karna menangis setengah, nafas tersengal-sengal seperti habis maraton, dalam kondisi begini adrenalin bisa memuncak, dan aku sedang dalam fase akan melabrak -bahkan hantu- bila ketahuan dia mencuri uang buku milikku.

Wali kelasku menyerah, untuk urusan semacam ini tidak bisa ditangani oleh dia sendiri. Maka walikelas lima A, dan lima C dipanggil. Kelas semakin sesak, zat asam arang sepertinya sudah melebihi ambang batas, orang-orang mulai menyingkir teratur. Dan pak ashadi seorang guru olahraga mengambil alih. Dengan tegas semua murid disuruh berjejer di depan kelas. Ini masalah serius. Integritas murid kelas lima B dipertaruhkan, dan para guru juga ikut tercoreng dianggap tidak bisa mendidik muridnya untuk bermoral, pada gilirannya kepala sekolah bisa dianggap tidak becus menyemangati gurunya, kepala sekolah bisa dipecat, vakuum kekuasaan, bisa kisruh, mana tahu ada kudeta??? Bisa lebih parah lagi…. Maka sesegera mungkin solusi cepat dibutuhkan.

Tak ada ampun…. Semua murid diperiksa, tas-tas dibongkar, sepatu-sepatu dibongkar. Sang pemilik salak diinterogasi secara khusus. Dan aku sedang menepuk-nepuk jidat sendiri sambil memikirkan nanti apa yang akan aku bilang di rumah????

Gagal. Tak satupun murid tertangkap menyimpan uang 23 ribu. Uang itu bisa dimana saja sekarang. Tak perlu money laundering susah-susah! Cukup disulap jadi bakso saja, selesai. Tapi pak ashadi nan cerdik tak habis akal.

Tiba-tiba dia muncul lagi dimuka kelas, membawa kaleng biskuit khongguan yang kosong, dan dengan dramatis dia menyeru di depan kelas. “anak-anak, didalam kaleng ini sudah bapak taruh silet, sangat tajam dan baru diberi mantra, siapa yang mengambil duit itu, nanti akan langsung disayat jarinya”. Sangat mengerikan, betapa dahsyatnya ancaman pak ashadi. Ide luhurnya mungkin begini, saat setiap anak memasukkan jarinya kedalam kaleng biskuit, maka salah seorang oknum akan berteriak “tidaaaakk aku ga mauuuuuuu”, maka ahaaaaa tertangkap kau, itulah pencurinya! Aku pikir-pikir sekarang pak ashadi jenius juga. Tapi salah, rekan-rekan, semua sudah memasukkan jarinya satu persatu kedalam kaleng, tak ada tanda-tanda yang mengaku. Sekelompok wanita berbisik-bisik sambil merinding menunjuk-nunjuk kaleng biskuit, sekelompok laki-laki berbisik dengan ekspresi tak jelas.

Pak ashadi, untuk menutupi malu karna mantranya gagal, maka mengeluarkan lagi sebuah kalimat retoris sambil memeluk kaleng biskuit saktinya. “pencurinya sudah tertulis di silet ini, akan langsung bapak panggil polisi”.

*****
Aku pulang dengan langkah gontai….
Hancurlah sudah masa depanku. Tak dinyana lagi. Darimana bapak dapat uang untuk mengganti uang yang hilang itu? Sedang BP3 dan buku sudah menunggak. Habislah aku. Sudah terbayang marahnya bapak, terbayang marahnya ibu, tak bisa dibayangkan dahsyatnya penggebuk kasur nanti melayang menghunjam tanpa ampun akibat kelalaianku ini.

Di rumah aku bolak balik tak karuan. Resah. Belum pernah aku, anak sekecil itu merasakan gundah gulana seperti itu. Sebuah perasaan yang terlalu kompleks untuk anak kecil. Maka setiap aku akan melaporkan uang hilang, tenggorokanku tercekat. Itulah masa-masa dimana aku merasakan untuk pertama kalinya bahwa kebenaran sulit nian diungkapkan. Dan seperti memberikan celah bagiku untuk menutup-nutupi, Bapak dan Ibu entah kenapa tidak juga menanyakan apakah aku sudah membayar buku??

Hari semakin sore, aku merasa resah. Bolak balik diteras tidak juga memberikan pencerahan. Tiba-tiba….. ahaaaaaaaaaa.

Bodohnya aku, bagaimana mungkin aku lupa, hari itu, sore itu, adalah jadwal tayang ksatria baja hitam. Sebuah mahakarya fenomenal buatan orang-orang jenius jepang. Filem seri yang mengajarkan arti penting dari sebuah kepahlawanan. Maka otakku memroses data-data secara realistis, telah dipertimbangkannya bahwa celingak-celingukku dirumah tidak juga memberi hasil, sedang aku masih dalam kondisi shock untuk memberi tahu orang tuaku, maka lebih baik aku nonton filem. Larilah aku dengan kencang ke blok sebelah. Numpang nonton.

Menonton film waktu itu adalah perjuangan. Bagaimana tidak, RCTI hanya bisa diperoleh oleh orang-orang kaya yang memasang parabola saja. Maka dengan sigap kami-kami anak komplek belakang berduyun-duyun pergi menyambangi rumah yang memiliki parabola satu persatu. Tak ada ampun. Apabila ada rumah yang tertangkap mata kami memiliki antena seperti payung terbalik itu, akan kami kerubuni dengan beringas. Tapi disinilah kesenjangan sosial seperti tersingkap benar kepermukaan.

Kadangkala, anak sang empunya rumah akan dengan congkak menyeleksi siapa saja yang diperkenankan masuk ke rumahnya dan menumpang nonton. “kamu….. masuk!” katanya sambil berkacak pinggang di depan pintu rumah. “kamu…….. ga boleh” tak ada ampun buat yang belum mandi. “kamu…….. masuk, kamu….. ga masuk” semua terseleksi dengan cepat dan aku ada di jajaran orang yang bengong karna tak diperbolehkan masuk.
Aku juga heran, padahal aku sudah bersih dan rapi, aku sudah tahu itu jadi standar seleksi tes masuk rumah berparabola, tapi ini lebih merupakan tes subjektif, jadi sangat wajar kalau hasilnya tidak bisa diprediksi.

Hampir-hampir pintu itu menutup penuh, lalu aku menyela dengan cekatan, tak habis pikir aku, maka diplomasi tingkat tinggi dimainkan “tungguu…… eh…. Eh…….. aku punya tabloid fantasi yang ada poster satria baja hitamnya” teriakku dengan yakin.

“hmmmm….. masuk” katanya……… lalu aku berjingkrak masuk. Pintu ditutup, teater dimulai.

Khusuk sekali aku menonton. Ibarat narkoba, maka pelarianku itu adalah mengejar kesenangan sesaat tanpa menyelesaikan masalah sebenarnya. Aku larut dalam ekstase kepahlawanan kotaro minami tanpa sadar bahwa dirumahku, orang tuaku mendapatkan firasat.

Filem usai…. Aku pulang. Begitu “to be continued” terpampang di layar kaca, seketika itu juga maka pengaruh obat itu hilang. Aku kembali cemas dalam masalah duniawi, rasanya ingin lari saja dari hiruk pikuk dunia ini, ke hutan kek, ke pantai, atau jadi pertapa saja seperti di filem mahabarata pun tak apa. Tapi nyatanya mana mungkin. Pulanglah aku dengan langkah setengah diseret. Lambat laun akan terbongkar semua ini. Aku yakin itu.

Sampai dirumah ibu langsung bertanya, “sudah kau bayar tadi uang buku”

Deg…………………………………………………
Waktu seperti berhenti. Aliran darahku kacau, aku diam, merangkai kata belum pernah sesulit ini.

“loh…… kok ga jawab? Sudah dibayar belum??” ibu bertanya lagi dengan ekspresi *pasti kenapa-napa ini*
Aku masih diam. Tamatlah sudah, ingin rasanya menikmati saat-saat berharga waktu-waktu masalah belum terlalu kompleks, bisakah aku kembali ke TK, rekan-rekan????

“HAAAAAA HILAAAANGGGG????’ ibu histeris…tanpa sadar aku menjawab dengan jujur bahwa uang hilang. Jujur sudah di seting sebagai default di alam bawah sadarku. Maka peribahasa ungkapkan kebenaran walau pahit sudah aku terapkan dengan sebaik-baiknya. Detik berikutnya penggebuk kasur sudah seperti gerak bandul bolak balik menyambangiku.

Aku lari-lari sambil menangis, ibuku lebih lincah, aku meronta, dengan kesadaran penuh bahwa dalam hal ini aku korban, victim, ibuku telah jatuh dalam sebuah kesalahan metoda berfikir “blaiming the victim”.

“kenapa ga dijaga duitnya?? Haaaaa!!!!” kata ibu, aku masih meronta, sulitlah bagiku merangkai kata, maka aku meronta-ronta saja dengan lebih dahsyat. Itu sore mencekam.

*****
Keesokan harinya, aku masuk ke sekolah. Tak kuperhatikan pelajaran yang berlangsung. Sinis aku memandangi rekan sebelah bangku. Sang tertuduh tanpa alibi. Misteri salak yang tertinggal di dalam tas-ku pun memunculkan ribu-ribu teori.
1. Anak itu sedang makan salak, lalu mencuri uang di dompetku, tapi tidak sadar meninggalkan salaknya di dalam tas-ku.
2. Atau teori berikutnya: bisa jadi sang pencuri ingin menghilangkan jejak dengan meninggalkan salak rekanku di dalam tasku, cerdik sekali.
3. Atau teori konspirasi, ada tuyul yang mengambil salak rekanku, lalu bimbang apakah salak atau uang??? Maka dia memilih uang.

Begitulah. Bapakku datang kesekolah atas undangan wali kelasku, dengan serius kuperhatikan mereka berbicara di ruang TU. Aku menunduk, sendu, suram, lalu merapal doa yang lebih mirip sumpah serapah.

Itulah perbedaan antara kebaikan dan kebajikan. Jika berdoa agar hak kita kembali pada kita adalah kebaikan, maka kebajikan berarti mendoakan siapa saja yang merampas hak kita agar diberi pahala.

Kebajikan ada setingkat lebih tinggi levelnya diatas kebaikan, tapi doaku tidak di-dua-duanya. Mungkin malaikatpun akan malas membawa doa kutukan macam begitu ke arasy sana. Tapi aku tetap tepekur saja sambil menunduk.

Hey……….. apa itu??????????????
Setengah tidak percaya aku melihat di dekat kaki meja ada sebenggol uang. Kuambil dengan tergesa dan kuhitung jumlahnya “DUAPULUH TIGA RIBUUUUUUU” teriakku….. ini uangku….. uangku yang hilang kembaliiiiii. Tak salah lagi, tak ada keraguan.

Kelas kembali heboh….. hingar bingar terulang seperti dejavu.
Tidak peduli lagi aku ekspressi rekan-rekan, hanya saja yang kutahu wali kelasku tersenyum sumringah dan ibu itu berujar “alhamdulillah”

Entahlah….
Rasanya tidak mungkin kami luput membongkar seisi kelas waktu hari kemarinnya, lantas bagaimana uang itu dibawah mejaku kini??

Mantra sakti pak ashadi???
Atau sang pencuri tiba-tiba sadar dan berbaik hati mengembalikannya pagi ini?
Atau tuyul pencuri sudah ditangkap malaikat???
Entahlah…… misteri belum lagi terungkap tapi uang sudah kembali, sedang aku tak dapat firasat sama sekali pagi ini.

Lalu sambil menarik nafas dalam, tak lagi peduli aku siapa oknum dibalik semua ini, yang jelas aku lalu membusung dada, berdiri tegap memegang buntelan uang duapuluh tigaribu, lalu melangkah seperti pengibar bendera ke meja depan walikelas.

“bu………. Aku mau Bayar buku” keren sekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s