TAKDIR SATE

Sejak menikah, aku menjadi sangat hemat. Setiap hari memakan masakan rumah. Aku jadi tahu sedikit sekarang, bahwa jauh benar bedanya pengeluaran antara memasak sendiri dan membeli di luar.

Mulanya agak tidak terbiasa, tapi setelah berapa kali dijalani, aku mulai kembali berasa di “rumah”. Empat tahun aku kuliah, dua tahun bekerja, hampir tidak lagi pernah makan, mengecap, mencium aroma masakan rumah. Lidahku jadi sedikit terbiasa dengan jajanan luaran. Tidak yang mahal-mahal tentu, tapi ya khas makanan pinggir jalan saja, goreng2, tumis-tumis.

Tapi entah kenapa malam ini istriku tidak seperti biasanya. Modus operandiyang biasa adalah istriku memasak dua kali, sekali pagi untuk sarapan, dan sekali lagi untuk siang dan malamnya. Kalau kami sedang bosan nasi, biasanya mie jadi menu favorit, selingan yang murah meriah, tapi malam ini istriku mengidamkan sate padang.

Aku, yang juga sudah lapar mengiyakan saja, kuganti pakaian, mengenakan jaket coklat kudel, lalu menstarter motor. Istriku menunggu di rumah. Demi sate padang maka aku keluyuran malam hari.

Sebenarnya tidak sampai tiga menit saja jarak dari kontrakan ke jalan raya depan sana, itu kalau aku tempuh dengan gaya kalem, tapi malam itu lebih dari tiga menit perjalananku. Di depan gang tak ada satupun penjual sate, motor kemudian kugas lagi, roda berputar lagi dan aku dibawa sekitar berapa meter lagi. Pelan-pelan aku susuri pinggiran jalan besar. Gorengan tahu pedas, soto ayam, pecel ayam, mi ayam, tapi tak ada sate.

Kupikir, kepalangan sudah di jalan besar ya baik diteruskan saja, hitung-hitung jalan-jalan malam. Maka aku terus lagi berhenti di beberapa lampu merah, melewati berapa persimpangan, tapi tak ada sate padang. Sekali aku berhenti dan bersorak girang, ternyata sate madura. Ah……. Belum rezeki, kata orang.

Sampai bosan aku memutari jalan, pelan-pelan celingak-celinguk, berhenti di banyak gerobak dan menggeleng lagi setiap salah tebak, ahhh….. malah bubur ayam ini, bukan sate padang. herannya, semakin jauh aku menelusur jalan raya semakin aku tertantang, tiba-tiba aku jadi sangat mengidamkan sate padang. Jadilah malam itu sebuah pengembaraan suci dengan tema sate padang. Sampai belokan terakhir yang aku kira cukup jauh aku menemukan lagi sate.

Sate madura lagi!!! Aaahhh….. kenapa madura????? Ada apa dengan sate padang??? Beginilah cara kerja kehidupan, sesuatu yang biasa kita temui tiba-tiba jadi langka kalau kita memimpikannya setengah mati.

Lama-lama aku kesal juga, sudahlah sate madura-pun tak apa. Motor kuparkir, ibu-ibu penjual sate itu kupikir tinggal menunggu pulang saja. Satenya sudah hampir habis, boleh jadi aku pembeli pamungkas.

“dek…… sate madura ajalah, ga ada lagi sate padangnya” aku mengirimkan sms

Istriku mengiyakan. Aku memesan dua porsi. Ibu itu langsung beranjak. Sebentar kemudian aku menambahkan “pakai lontong ya bu”.

“lontongnya habis” jawab ibu-ibu tadi.

Kelangkaan sate!!!!! ini belum terlalu malam, sate padang tak tampak dimana-mana, dan sate madura di pengkolan ujung jalan terjauh yang aku jajal malam ini ternyata tak berlontong!!!! Ada apa dengan malam ini? Ada apa dengan semua sate???

“dek…. Ga ada lontongnya nih, masih mau ga?”

“ga ada sate madura yang lain mas?”

singkat padat dan tersurat jelas balasan sms istriku yang berarti ‘tidak dengan tanpa lontong’. Baiklah….. aku membatalkan pesanan tadi, lalu mengambil jalan memutar.

Sate madura sate madura……. Baiklah, untuk malam ini sajai, semadura apapun kau sate berikutnya yang kujumpai, akan tetap kubeli, lalu motor berjalan lagi.

Sebuah gerobak sate di pinggir jalan kuhampiri. Tempat pembakarannya tidak membara, ada arang-arang hampir padam. Entah berapa tusuk pula itu sate di gerobak. Malam yang kurang beruntung buat ibu dan anak ini. Mereka aku perhatikan Cuma duduk saja, sambil merebahkan kepala dan tangan di atas meja. Mungkin aku pembeli pertama, atau boleh jadi yang kedua, tapi rasaku tidak lebih dari hitungan jari orang yang malam ini menghampiri gerobak ini.

Disinilah muaranya segala pencarian malam ini, rupanya. Daging sate yang besar-besar. Lontong yang berderet rapih. Cabe giling yang segar dan rekah. Arang yang menyala kembali.

Kebetulankah ini ataukah tidak?
Istriku tidak memasak nasi sore ini dan bukan kemarin atau dua hari lalu.
Kami tiba-tiba memikirkan sate padang dan bukannya mie ayam atau soto betawi.
Aku berhenti lalu menyerah di tikungan sana dan bukannya tikungan sebelumnya atau yang satu lagi.
Sate padang tak terlihat sama sekali dan bukannya ada sejak dari gang depan jalan raya duapuluh menit lalu.
Sate madura pertama yang kutemui tak ada lontong dan bukannya ada atau paling tidak ada penggantinya nasi.
Aku batal membelinya lantas mencari sate madura lainnya lagi dan bukannya menyerah dengan “tak pakai lontong juga sudah kenyang, kan?”.
Sekarang aku duduk melamun di pinggir bara sambil menahan perih mata dikipasi asap yang wangi daging terbakar, sesaat tiba-tiba aku jadi merasa berarti, bara itu kubuat menyala kembali.

aku membayar seharga dua porsi sate dan lontong enam biji. Sate madura itu buatku rezeki, aku bagi ibu dan anak itu mungkin juga rezeki. Sedang kata orang tua-tua dulu ‘rezeki itu sudah ada yang atur’. Kebetulankah ini ataukah tidak?

Agak kencang sekarang aku mengemudi motor, mengingat aku sudah lapar, istriku di rumah juga lapar. Selintas lalu tiba-tiba kulihat gerobak sate di pinggir jalan mungkin 20 meter dari tempatku berhenti tadi. “PADANG” terpampang nyata sekali di kacanya. Motor tetap melaju di enampuluh kilometer satu jamnya.

Kebetulankah ini ataukah tidak?
Sate padang itu duapuluh meter sesudah gerobak madura tadi dan bukannya sebelumnya atau di persimpangan jauh berikutnya.
Atau rezeki mungkin sudah ada yang mengatur!

3 thoughts on “TAKDIR SATE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s