Sekarang

Dulu, aku pernah baca sebuah sisipan dalam satu majalah. Entah apa nama majalahnya aku lupa. Tapi kan kadang dalam sebuah edisi tertentu, majalah-majalah apapun sering menyisipkan sejumlah artikel dengan desain halaman sendiri, dengan ukuran kertas sendiri, dengan rancangan yang beda sendiri dengan keseluruhan halaman lainnya. Gampangnya seperti majalah kecil dalam sebuah majalah besar.

Waktu itu majalah yang aku baca menuliskan sebuah sisipan mengenai mesin waktu. Edisi iptek. Aku masih kelas 1 smp kalau tidak salah ingat. Isi bahasannya bagaimana persisnya juga aku lupa. Tapi yang jelas ketika itu sangatlah menarik. Satu-satunya tulisan science yang aku baca berulang-ulang, sangat memukau, tapi aku tidak begitu paham. Bisakah manusia kembali ke masa lalu???

Sampai sekarang pun aku percaya tak ada orang yang bisa. Siapapun dia. Hanya memang para ahli sering betul berdebat tentang kemungkinan melakukan hal itu secara teoritis.

Aku sering iseng, memlototi selembar kertas yang aku robek dari buku tulis. Seplotot-plototnya aku tatap itu kertas, hanya untuk memastikan bahwa aku sedang berada di suatu masa yang bernama “sekarang”. Kertas itu ada!!

Setelah puas aku tatap, maka kertas itu aku sulut dengan korek dan terbakar habis jadi abu. Lalu aku seperti tidak yakin. Sedetik lalu kertas itu aku masih plototi dengan tajam, lalu kemudian hilang tak ada bekas –selain abu tentu-. Kemana kertas itu sekarang? Terlebih lagi aku berfikir kemana kejadian sedetik yang lalu??? Tidak bisa diulang, berlalu dan terkunci dalam gembok paling “secure”, hanya hidup dalam memori kita.

Dan memori biasanya tidak menyakitkan. Karna ingatan adalah sebuah rekam video. Bukan kejadian nyata. Harusnya sensasinya lebih ringan dari aslinya. Kalau kenangan menyakiti kita hari ini, mungkin ada yang salah dengan cara kita menilai sejarah. Aku merasa bahwa “past” selama ini relatif lebih menyenangkan dibandingkan “presents”.

Aku ingat bagaimana dulu sekali aku pernah setengah mati menghemat biaya hidup semasa kuliah. Awal-awal kuliah yang getir. Sampai akhir-akhir masa kuliah yang penuh perjuangan. Aku ingat juga dulu semasa sekolah SMA hari-hari diisi penuh dengan kesuntukan persiapan menjelang SPMB. Masa-masa bertengkar dengan orang tua karna perbedaan visi. Masa-masa stress menjelang pernikahan. Masa-masa deg-degan menanti pengumuman kelulusan tes di sebuah perusahaan. Masa-masa terasing di hutan kalimantan dalam proyek eksplorasi batubara. Semua menjadi indah setelah dikenang.

Sampai sekarang masa lalu selalu menyulut sensasi ketenangan yang aneh. Setiap hari-hari sulit yang aku lalui, kadang-kadang aku berfikir bahwa enak sekali dulu waktu SMA. Hidup dikelilingi puluhan teman-teman yang baik dan jujur. Kebersamaan yang erat dan menenangkan. Atau saat sedang dilanda kebosanan karna menghadapi rutinitas yang menjemukan, aku kembali mengingat masa lalu, kenikmatan hidup penuh dengan petualangan, naik turun gunung dan terasing di hutan rimba. Semua menyisakan goresan yang indah untuk ditelusuri lagi. Ironis memang. Padahal dulu sewaktu menjalaninya terasa betapa getirnya. Susahnya. Tapi setelah dikenang jadi tidak seberapa getir, sebagian jadi menyenangkan.

Begitulah kita. Hidup kita adalah terjebak dalam dua kutub, kita tertarik-tarik dalam memori masa lalu dan angan-angan masa depan.

Kalau masa lalu, dulunya pernah juga jadi “sekarang”, maka kenapa dia harus menjadi indah hanya pada “masa depan?”

Hari ini aku menghadapi sekian rentet masalah, anda menghadapi juga sekian rentet lagi yang mungkin lebih banyak dibanding yang lain. Tapi hari ini kan besok menjadi masa lalu????

Hari ini kita tidak bahagia, lalu malam berganti dan hari menjadi besok, besok kita tidak juga bahagia, yang kita lakukan besok adalah mengutuki hari dan mengenang kemarin, bahwa kemarin ternyata tidak sepelik yang kita pikirkan, bahwa kemarin adalah masa paling indah yang tidak terulang, lalu kita berandai-andai agar besok hari kita sudah mulai bisa menikmati hidup kita.

Padahal kita hidup adalah hari ini. Bukan kemaren bukan besok.

Tapi kita kan hobinya berandai-andai, kapan kita bahagia?? “ahhh… bisa tidak ya kita kembali ke masa lalu???” sebentar……………. Aku cari dulu bundel majalah iptek jaman dulu itu, nanti aku kabari lagi.

Sembari menunggu majalahnya ketemu bagaimana kalau kita bahagianya sekarang saja?

6 thoughts on “Sekarang

  1. nice post! momentumnya pas,,
    coz, i’ve a little trouble now, and i hope tomorrow or someday when i remember about this moment, the smiling will colorize my face..
    Syukron Kang🙂

  2. ya aq sependapat dgnmu ‘past’ relatif lbh menyenangkan dibandingkan ‘present’

    seharusnya setiap hal yg dialami qta syukuri krn tanpa disadari selalu ada keindahan & manfaat di balik semua hal yg terjadi

  3. Betul,
    Jika kesedihan akan menjadi masa lalu, mengapa begitu lama berlarut-larut padahal bersabar adalah lebih baik.
    Jika Kemarahan akan menjadi masa lalu, kenapa diumbar sepuas hati, padahal memaafkan adalah lebih baik.
    Jika kebahagiaan akan menjadi masa lalu, kenapa dinikmati sendiri, padahal berbagi adalah lebih baik.
    Selamat beramal sebaik2nya di masa sekarang, agar menjadi indah saat dikenang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s