PINUTUR PEGAS

Ada seonggok besar pengganggu di ruangan ini!! pria dengan berat duakali beratku, duduk menghadap buku-buku tebal, dan membaca dengan silent.

Sebenarnya semua yang ada di ruangan ini adalah kombinasi sempurna yang meneduhkan mata. Lantai karpet beludru coklat. Pelapon yang temaram dan indah seperti laut susu. Wallpaper krem yang lekat di dinding. Tutup lampu yang coklat gelap. Sofa lembut yang berbulu-bulu putih kotor. Semuanya serasi dan menenangkan, kecuali dia, pria tambun yang sudah membaca dari bangun subuh hari, setelah makan siang, sebelum berenang di kolam sore-sore, setelah makan malam, dan sambil mengigau waktu tidur.

Ini gelagat tolol. ujian masih seminggu lagi, dan sejak kemarin dia sudah membuatku merasa inferior, cemas mengerati kulit-kulitku setiap detik, rasanya semakin banyak paragraf yang dia baca, semakin aku terancam.

“bert… Sudah dulu membacanya, muak aku lihat kau membaca terus!!!”. Aku tidak bisa menikmati waktu liburan sabtu minggu, dengan memikirkan rekan sekamarku belajar seperti orang gila.

“kenapa kamu, lagi sensi???” tanyanya.

Di saat seperti ini dia balik bertanya???  Ketidak pekaan yang konyol. Oke, memang tidak ada yang salah dengan menitisi bakat rajin tiap hari, tapi ketidak pekaan adalah kecacatan yang harus dioperasi.

“come on….. Masih seminggu lagi ujiannya, sekarang saatnya santai-santai nonton TV”. Aku berusaha menyadarkannya dari ancaman gila karna terlalu banyak belajar. Aku tidak mau rekan sekamarku pada waktu training di salah satu perusahaan service migas, menjadi  gila karna terlalu banyak mengutak-atik reaksi hidrokarbon.

Mungkin paduan dari jadwal padat training yang melelahkan, dengan fakta bahwa Ini negri yang panas, membuatnya jadi senewen. Bayangkan saja, setiap kali keluar dan bermandi ultraviolet, kulitmu serasa dipanggang, seperti daging sapi irisan di resto hanamasa. Kalimantan memang dilewati garis equator. Untunglah aku tidak dilindas persis, hanya selisih berapa derajat saja, tapi itu juga rasanya sudah bukan main. Untung juga aku masih waras, belajar hanya sekali sehari, dan dia mulai membutuhkan dokter jiwa sepertinya.

“aku tahu kelemahanku, apa-apa yang kalian bisa tangkap dalam sekali lintas, bagiku butuh dua tiga kali baru paham. Karnanya aku selalu belajar dua kali lebih keras, agar bisa mengimbangi kalian-kalian”. Dia menutup bukunya, tapi jari tengahnya disisipkan kedalam lembaran terakhir yang tadi dia baca. Cara yang simpel, aku yakin barang sedetik dua detik lagi dia akan membukanya kembali kapan aku lengah.

“ah……. Berlebihan kau”. Aku mengomentari kesal. Mengetahui kelemahan diri sendiri memang salah satu bentuk kesadaran pribadi yang utuh. Tapi kali ini dia berlebihan. Aku tahu, orang yang bisa menjelaskan definisi dan kegunaan “diferensial integral” matematika yang menyebalkan itu, dalam kehidupan nyata, adalah hampir pasti bukan orang pas-pasan

————————————–

Dulu dia kurus, katanya, tapi aku hanya mengenalnya dengan perawakan sebulan lalu agak gemuk, dan sekarang tambun. Dibesarkan di tanah jawa. Bapak ibunya batak. Tak ada darah jawa yang mengaliri nadinya. Tapi keseluruhan tutur-pinuturnya seperti abdi keraton.

“Hah??? Kau orang batak?” begitulah reaksiku waktu pertama kali aku berkenalan dengannya, di sebuah kantor di bilangan jakarta selatan, waktu kami masih sama-sama anak baru lulus kuliah, dan diterima bekerja bagi kami seperti sebuah anugerah dari langit.

Sebentar saja, kami sudah bisa mencocokkan irama. Dia orang yang sederhana, seperti orang jawa kebanyakan. Kami tinggal bersebelahan kosan di cilandak, berangkat kantor berbarengan, dan kemudian ditempatkan di ruangan yang sama di hotel bintang empat sewaktu kami training di kota balikpapan ini.

Mulanya seperti persinggungan dengan kota ini, tidak ada yang menarik, biasa saja, tapi lama kelamaan aku mensaluti pribadinya.

Setiap malam, seusai makan malam, kami bertandang ke kamar teman sebelah menyebelah, saling mencontek-contek PR yang harus dikumpul besok pagi waktu training, lalu setelah itu kami menonton tv discovery channel, sambil makan keripik kentang, kami bertukar cerita tentang pengalaman hidup.

laiknya berbalas pantun. Aku menceritakan tentang empat bersaudara yang kesemuanya laki-laki, lalu dia menceritakan ke-eksklusivan menjadi satu-satunya lelaki di keluarganya. Aku menceritakan tentang kesulitan-kesulitan yang pernah aku lalui, dia menceritakan hal sama yang selalu saja setingkat lebih mengagumkan.

“Hah!!! Terus….. terus!?” selalu begitu reaksiku setiap kali potongan kehidupannya dituturkannya seperti dalang merapal kisah wayang.

Mulanya cerita yang klise, kesusahan ekonomi. Aku tidak memerdulikannya. Drama yang sudah pernah aku rasai. Sampai kemudian pada bagian dimana dia dan kedua kakaknya, juga Ayah Ibunya, pernah makan hanya dengan satu  mangkok mi ayam dibagi lima, aku mulai tertarik.

“Hah!!! Terus…??” reaksiku waktu itu.

“aku kan tinggal di dekat bandar udara jogja” dia mulai bercerita. “jarak yang harus kutempuh dua kali perjalanan naik bus ke kampus UGM” dia mengambil satu lagi keripik dan bercerita sambil mengunyah.

“akhu hanya dibewri uwang cukhupw untwuk ongkosh…”

“Habiskan dulu keripik di mulutmu itu!!!” aku mencecar. aku harus konsen mendengar cerita berhikmah, dia malah menceritakannya sambil memonyongkan bibir yang penuh kentang tipis.

Kriuk-kriuk sebentar dia melumat kripik, sepertinya kulihat dia memang sekarang lebih gemuk dari berapa waktu lalu.

“aku hanya diberi uang cukup ongkos, jadi kalau aku mau jajan, atau ada keperluan lain, aku harus menghemat dengan caraku sendiri” dia melanjutkan tanpa cemilan di mulutnya.

Lalu dia bercerita semangat sekali. Aku merebahkan punggungku ke sofa beludru, menaikkan kakiku ke tangan kursi, dan membayangkan gamelan jawa beriring-iringan. Dia pergi dari rumah menaiki bus, dan turun di setengah jalan menuju kampusnya. Setelah itu berjalan kaki di trotoar yang disekat-sekat karbonmonoksida bus damri tua jogjakarta hadiningrat, begitu dia bilang.

Sesampainya di kampus, yang tersisa hanyalah kaki pegal dan keringat yang berjuntai-juntai di baju.

Gamelan berbunyi lagi di kepalaku, malam bergulir dan kantukku hilang.

Setiap hari dia membawa dua buah baju, katanya lagi. Baju kemeja yang rapih menggantikan kaos yang digenangi asap knalpot, lalu dia duduk di bangku kelas.

“Terus… terus…..?” aku merespon repetitif dan tidak kreatif sama sekali.

“nah… waktu itu aku punya pacar, kan sudah pernah kuceritakan padamu…” dia menjawab sambil bergeser sedikit, dikecilkannya discovery channel di TV sharp besar itu.

Ceritanya mengalun dan tercetak seperti gambar foto. Setiap hari dia mengumpulkan sisa-sisa ongkos yang dia hemat, dan dengan itulah dia bisa mentraktir pacarnya makan baso di kantin sekolah, setiap sabtu. Ini pertaruhan gengsi juga rupanya. Begitu terus berbulan-bulan.

Sampai suatu ketika, sang pacar merasa tidak lagi mampu mengikuti ritme hidup semacam itu. Dia dan segala style-nya itu seperti centang prenang yang tidak bisa disusun-susun lagi. Mereka broke-up. Kawan batak jawa-ku ini tadi terpuruk.

Semakin hari dia semakin larut dalam romantisme duka, tak ada pelarian, tak ada teman. Tidak satupun kegiatan mengalihkan dia dari duka yang terlampau larat. Kegiatan apapun di luar perkuliahan dia jauhi. Kegiatan kemahasiswaan  adalah equal dengan pulang lebih sore. Pulang sore berarti harus punya uang makan, dan itu logika yang salah buat dia. Satu-satunya kemungkinan dia untuk makan adalah pulang segera kerumah setelah kuliah berakhir. Dan tentu kesendirian dirumah adalah hantu yang membuat segalanya terlihat dua kali lebih suram.

Dia tertinggal. Teknik mesin yang berkutat dengan permodelan mengharuskan komputer dikuasai dengan baik, sedang dia tak punya komputer. Tak satupun orang senat mahasiswa yang mengenalnya. Dia kuliah dengan semangat yang setengah-setengah dan nyaris  padam. Manusia marjinal yang ada atau tidak adanya dia dalam konstelasi kampus  tidaklah diperhatikan orang lain. Rekan-rekan lupa bahwa namanya juga tercetak di absen perkuliahan, dan menerima struk IPK sementara pada akhir semester dengan nilai 2.2

“Hah???? Terus… terus……..” aku menurunkan kaki dari tangan sofa.

Disaat itulah, katanya, dia seperti orang yang kehilangan arah dan hendak menyerah. Pacarnya sudah digandeng orang lain, kabar-kabarnya. Seorang perwira polisi yang mungkin bisa mentraktirnya makan baso seminggu lebih dari satu kali.

Kesendirian yang terlalu sepi membuatnya memutuskan mungkin mencari kerja dan berhenti kuliah adalah pilihan bijak. Tapi seperti ada yang mengganjal. Hutang ayah dan ibunya, juga kakaknya yang sekali-kali memberikan dia jajan, rasanya terlalu berharga untuk diganjar dengan kuliah setengah jalan, dan semangat menghadapi hidup yang “tempe”. Satu-satunya yang bisa dia lakukan untuk membalas jasa semua orang-orang itu adalah menyelesaikan kuliah.

Merasa tidak lagi ada tempat bergantung dan membagi keluh kesah, maka dia pelan-pelan bangkit. Setiap hari dia bertahan di kampus sampai sore, dan menyambangi lab komputer kampus untuk belajar mengoperasikan semua program. Prinsipnya adalah meskipun tidak memiliki komputer, tidak berarti tidak melek teknologi.

Setiap ada kesempatan, dia dan beberapa orang teman berlatih berbahasa inggris. Mayoritas mahasiswa menganggap mereka sinting. Berkoar-koar mengobrol bahasa inggris di keramaian, terlebih lagi tak masuk grammar, tapi mereka tidak peduli.

Jika orang belajar satu jam, dia mengulangnya dua jam. Dan segala hal yang dia tidak paham dibacanya terus sampai dia menjiwainya. Dia tidak pernah tahu dia sudah berjalan lebih jauh dari orang-orang, sampai suatu ketika, lelaki yang tadinya tidak pernah diperhitungkan orang ini, menjadi tempat bertanya bagi kawan-kawan satu almamater. Setiap ada benturan, dan mereka tidak memahami apakah itu filosofi sebuah teori, apakah itu penerapan praktis sebuah ide-ide, maka mereka tahu siapa tempat bertanya, pria keturunan batak murni yang segala tutur-pinuturnya itu terlampau jawa.

Lalu cerita untuk babak itu ditutup, happy ending yang menyenangkan. Lulus dengan ipk 3.4. Diterima bekerja di perusahaan mentereng berkat praktek percakapan english ngawurnya itu. Dan sang permaisuri yang dulu hilang akhirnya kembali.

Aku bertepuk tangan…… aaah….luarbiasa. sulit benar percaya bahwa ini kisah nyata.

Balikpapan hujan. Kami ada di lantai 5 hotel bintang empat. Aku sedikit mengantuk. PR buat kelas training besok masih ada sekitar dua atau tiga lagi yang aku  belum jawab. Kukemasi buku-buku serampangan kedalam tas, mataku perih, rasanya ingin rebah dan terlelap segera.

“bert…” sambil menguap aku melepaskan rasa penasaranku yang terakhir “bukannya sulit, untuk membangkitkan semangat diri  sendiri? Maksudku… kalau ada orang lain yang memberikan kata-kata semangat, mungkin saja kita bisa terbakar, tapi kalau menyemangati diri sendiri? Apa yang kamu doktrinkan ke dirimu itu?”

“PEGAS!!” dia menjawab sambil menguap.

“pegas???” aku tidak paham.

“ya……” katanya. “setiap kali aku dalam kondisi terpuruk, aku bayangkan bahwa diriku adalah pegas. Tekanan hanya membuatku memampat. Aku tidak mati dan hancur, hanya mengumpulkan tenaga,  sampai menemukan momentum yang tepat untuk melenting”

“bukan main……..” aku terperangah. Sangat terkesima aku dengan prinsip seperti itu, tapi tetap saja aku mengantuk.

“boleh aku kopi kata-katamu barusan, bert?” tanyaku sambil bercanda.

“hahahaha…. Kopi aja” katanya.

“oke…sekalian PR dua nomor essay terakhir besok pagi kukopi juga”.

————————–

gambar dipinjam dari sini

JINGGA-JINGGA MAGHRIB

Kau tahu kenapa aku bodoh?

Orang pintar, menyingkap hikmah dibalik kejadian, dalam hitungan hari, mungkin jam, mungkin menit. Sedang aku butuh bertahun-tahun.

Tahunan. Perasaan tidak nyaman itu membebaniku. Apakah aku mengambil pilihan tepat? Kuliah di jurusan Geologi yang berkutat dengan batu. Interaksi kami adalah dengan batubara dan intan. Kami mengakrabi minyak mentah. Padahal sedari dulu aku mengidam-idamkan bersinggungan dengan banyak buku tentang manusia. Belajar watak-watak. Memahami propaganda-propaganda yang merubah wajah sejarah.

Ingin putar haluan, rasanya tidak mungkin. Ada kan, pilihan-pilihan dimana setelah itu kau tidak bisa kembali, tidak bisa berbalik, tak ada lagi pilihan baru. Seperti itulah. Debu, pasir, batu, rongga-rongga, air, minyak dan segala yang terbenam di balik kulit bumi ini aku jejalkan ke kepalaku. “malang-malang putung”. Mencoba mencari kenikmatan dari sebuah dunia asing. Kau menjadi turis, di tempat wisata yang tidak hendak kau kunjungi.

Waktulah, yang kemudian kurasa mengakrabkanku dengan semuanya. Dengan kampus berdebu itu, dengan kawan-kawan yang asing itu, dengan laboratorium fosil-fosil, dengan skripsi dan penelitian-penelitian di tempat-tempat yang jauh.

Ternyata aku menikmati petualangan itu. Logika bahwa konstelasi perbatuan tidaklah homogen di semua tempat, berimbas pada sebuah kenyataan manis bahwa kita haruslah berjalan-jalan terus. Maka suatu kali pergilah aku dan berapa orang teman menuju pedalaman hutan kalimantan. Seperti orang bodoh kami berfoto-foto dulu di depan pesawat lion air. Ini penerbangan pertama kami. Seumur hidup kami dibesarkan dalam tata nilai yang miskin uang, hari ini kami naik pesawat. Kami dibayar. Sebuah konsultan penambangan memerlukan jasa kami, maka kami dengan senang hati meng-amini.

Tinggal di hotel kelas melati. Berjalan-jalan sore di pinggir jalan dekat jembatan besar. Jembatannya tidak indah, tapi kami di negri orang ini, di negri orang!!! Sepanjang tahun kami memimpikan petualangan indiana jones, sekarang kami ada di borneo, dan esoknya kami menelusur sungai mahakam. Dengan sebuah kapal mesin bising. Sebentar kami naik ke atas geladak, sebentar ke bawah, ke ujung buritannya, kami norak dan berbahagia. Malamnya kami tidur di atas atap. Kapal mesin melawan arus dari hulu, berjalan seperti kura-kura berapa knot, kami berselimut kain kotak-kotak, menutup kepala kami dengan sebo, dan memandang bintang kerlap-kerlip. Kami berharap malam itu tidak hujan. Nyatanya memang malam itu tidak hujan. Dan nyamuk liar hutan berbaik hati untuk tidak sowan ke kami. Lelap………………… Tenang……………………….. Tidur membawa kami dalam ekstase paling hening. Kapal meliuk-liuki meander. Kata orang ada kera-kera berlari-larian diatas mangrove, banyak nokturnal, tapi kami tidak lagi tahu, kami tertidur sampai pagi tiba.

Setibanya di dalam belantara, lama kami berjalan, menaik turuni morfologi yang berundak-undak, bertemu rusa. Ah… ini semakin menjelma filem saja. Kami takut-taku kalau pipis sendirian, kata orang dayak banyak beruang, tersembunyi dibalik-balik siluet gelap kayu-kayu hutan.

Malamnya kami tidur membujur di “bifak” darurat. Dua potong kayu sebetis diletakkan berjajar di atas tiang-tiang kayu penopang. Lalu dibentangkan karung plastik di tengah-tengahnya. Disana kami membaringkan tulang punggung yang gemurutuk. Seharian berjalan-jalan puluhan kilometer mungkin membuat ruas-ruas tulang belakang kami beradu. Berapa jejer ranjang darurat itu dipisahkan dengan kelambu-kelambu warna hijau tua tentara. Meski di hutan kami masih butuh privacy. Dinding yang memisahkan kesendirian kami yang introvert dengan kawan sebelah yang hanya berjarak centimeter.
Tidak seperti nyamuk, suara tidak bisa dihalau oleh jejaring bolong-bolong berapa mesh itu, dari situlah kami mebuka-katupkan mulut kami, mengirimkan gelombang suara hati kami ke kawan-kawan sebelah. Kami tetap tidur tengadah, pandangan kami terhalang atap kelambu yang gelap pekat, tapi kami merasa melihat bintang-bintang. Semenjak itulah, setiap malam kami bertukar cerita, tentang rahasia paling sudut yang tidak pernah kami buka sebelumnya.

Kumpulan lelaki-lelaki yang kelelahan. Suara tonggeret. Nada konstan air sungai yang berlari-lari berapa meter dari tempat kami tidur, dan gerimis kecil. Tidak ada yang sanggup melawan gendam semacam itu. Kami ceritakan apa saja. Kegelisahan skripsi yang mengganjal nyeri, kekhawatiran masa depan, impian pekerjaan, sampai pertaruhan siapa yang menikah lebih dulu diantara kami.

Hidup kami kemudian seperti siklus. Hutan. Kampus. Hutan. Kampus. Aku mulai mensyukuri keberadaanku. Mengakrabi batu dan minyak ternyata mengantarkan aku pada pilihan-pilihan yang cepat. Setelah predikat sarjana, aku langsung menyandang predikat pekerja. Pilihan pekerjaan yang luas, gaji yang mencukupi. Dan pertanyaan tahunan yang terbayar.

——oOo——

Tepi Laut. Pinggiran delta mahakam

 

Kau tahu kenapa aku bodoh?

Orang pintar, menyingkap hikmah dibalik kejadian, dalam hitungan hari, mungkin jam, mungkin menit. Sedang aku butuh bertahun-tahun.

Tahunan. Perasaan tidak nyaman itu membebaniku. Apakah aku mengambil pilihan tepat? Bekerja di perusahaan multinasional, menghabiskan hari dengan bepergian ke banyak tempat. Terapung di tengah laut. Mengakrabi reaksi polymer. Menghitung tekanan hidrostatis. Berkutat dengan angka-angka, padahal tahun-tahu lalu aku mengidam-idamkan bersinggungan dengan banyak kertas tentang batu, persembunyian minyak-minyak, goa-goa intan dan emas.

Bekerja, di tempat yang tidak se-ilmu dengan pendidikan kesarjanaanmu terkadang meletupkan konflik-konflik. Di sinikah, kau akan menghabiskan sisa hari tuamu? Aku sering bertanya seperti itu. Biasanya diriku lambat menjawabnya dan aku menjadi kesal. Kesal terhadap orang lain masih bisa kita lampiaskan, tapi kesal terhadap diri sendiri membuat kita menjadi hilang arah.

Sore ini, hujan baru selesai. Dek paling atas dari sebuah anjungan pengeboran ini kalau sore memang menjadi tempat favorit buatku. Memandang burung-burung camar yang terbang, sesekali elang yang berputar-putar bermanuver jatuh drastis, lalu membubung lagi ke awan, dari permukaan laut yang berkecipak, setelah seekor ikan naas terjepit cakar dan terbawa terbang ke atas sana. Ini perkara takdir. Mataku silau oleh sinar matahari yang menusuk retina, menyipit berair dan aku seka dengan telapak tangan, entah kemana hilangnya diorama tadi.

“so….. where will you go afther this?”
seorang bule tua. Berwajah eropa yang tidak terlalu asing. Duduk di sebuah kursi panjang basah sisa hujan. Menenteng mug putih berisi cappucino. Diseruputnya sebentar, lalu ber”ahh…” yang nikmat. Dia melihat pantulan mentari tua di laut yang beriak pelan habis hujan, seperti agar-agar yang memantulkan warna tembaga. Aku agak tersinggung sedikit, dia muncul begitu tiba-tiba, dan secepat itu pula dia bertingkah seperti tidak melontar tanya apa-apa.

Where will I go after this??

Sesore ini, hari seperti menyajikan drama melankolis yang hampir utuh. Dimulai dari hujan reda, lalu aku jalan berjinjit-jinjit di dek paling atas anjungan pengeboran ini. Ada helikopter yang meronta-ronta turun ke helipad, aku berlindung dibalik kanopi yang dari atasnya angin blingsatan ber-wus-wusss. Lalu aku kembali ke pinggir setelah chopper itu terangkat dan pergi lagi, meninggalkan sepi yang kontras. Sunset…….. Camar………….. Elang………… Nelayan……………. Apa lagi yang kurang????

Kuhirup nafas dalam-dalam, dan berharap membuka mata ketika matahari sudah ambruk kebalik ufuk, diganti jingga-jingga maghrib yang tua. “Where will you go after this??” seketika bule tua seusia bapakku itu datang, dan lamunanku buyar.

“what do you mean, sir?”

Sruuup….. dihirupnya lagi capuccino di mug-nya itu. Aku tidak pernah mau meminum kopi dari coffe maker di ruang tengah itu. Aku tahu itu kopi yang sangat kuat. Sedikit saja bisa memicu jantungmu berdegup seharian, tapi dia seperti menikmatinya.

Lalu dia bangun dari duduk, dan mendekatiku yang bersandar ke handrail membelakangi laut. “I will be leaving this country in a few months. And you, what will you do? Will you stay here and enjoying what you are doing now, or will you quit and start for a new job? I see you are not quite satisfy with your assignment now”. Katanya.

Dia bule perancis. Francois. Nama yang umum dikalangan prancis. Tidak semua orang luar datang dan hidup dengan keseharian yang congkak. Nyatanya aku cukup nyaman bekerja dibawah supervisi orang seperti dia. Dia meresapi keindahan sore seperti yang aku biasa lakukan, sesaat aku merasa bisa dekat dengan beliau, maka aku membalikkan badan juga, menghadap laut yang menghembuskan angin berputar-putar. Baju kami berkibar. Kondisi yang gagah sekali untuk memulai percakapan serius.

“you sir……………….. what will you do after you leave?” aku balik bertanya. Dalam kondisi ini, kita berlomba dengan waktu. Keindahan sore itu diberikan hanya dalam hitungan detik. Kalaulah sibuk-sibuk aku menjelaskan kegundahanku, segala rencana-rencanaku, tapi sebentar kemudian malam sudah menaklukkan senja, aku mungkin akan menyesalinya berminggu-minggu kemudian. Tadinya aku ingin mengambil mug itu dari tangannya, dan ikut menyeruput kopi, seperti keakraban yang biasa aku saksikan di film-film barat. Tapi tersadar film kebanyakan menipu, jadi aku memilih diam. Biarlah dia minum sendiri capuccino itu.

“I think, I will spare more time for my family” dia bicara dengan aksen inggris yang prancis. Sengau-sengau yang tidak menggangguku. Aku separuh melihat matahari terbenam, separuh melirik dia. Dia melanjutkan
“you know……when I was young, I used to work in a place that I think cool. Work in a job that looked smart. And by no time, I lost my time, I have no time for family. All the jobs that made me headache…..”

satu sluuurpp lagi, dari tadi dia berbicara dengan memandang ke gurat-gurat awan.
“and now…I just realize one think….”

Digantungnya kata-katanya di awang-awang. Angin ber-wus-wusss lagi dari kanan kami. Aku menahan diri untuk tidak bertanya. Tapi usia membuat dia seperti pasti menang dalam permainan kata-kata ini.

“and what is that……???” aku bertanya dengan intonasi yang sedatar mungkin. Akting tidak tertarik yang hebat, aku mainkan, tapi mataku bergerak-gerak beda.

“work, is all about giving something to your family! You feed them. Buy them what they needed. And the most important is you’re not loosing your time for them, because you live only once”.

Aku lupa pada temaram yang hampir padam. Tidak peduli juga pada bulan yang kelihatan siluetnya putih lengkung dan tergerek naik. Kususun-susun kalimat padanan yang sama puitisnya buat dia, tapi aku kalah bahasa. Membuat kalimat dalam benakku, memuitiskannya, dan mentranslatenya ke inggris adalah pekerjaan sulit.

Dia berbalik badan. Melangkah tap tap tap di deck dari plat besi itu. Genangan air pecah dilindas bootnya yang hitam, aku masih termenung gagap sambil mengiya-iya-kan bahwa dimanapun kita bekerja, apapun yang kita kerjakan, sesungguhnyalah kita tidak banting tulang untuk pekerjaan itu, bahwa hal yang kita cari jauh lebih prinsip dari baju seragam apapun yang kita pakai. Kumasukkan tangan ke dalam saku baju coverall, sambil tersenyum membatin, bapak ini boleh juga

lalu tanpa berbalik dia setengah berteriak “come on in, its dark now!!!”

aku mengikuti langkahnya, genang-genang air berkecipak di dek, dan di belakangku semburat awan berwarna jingga-jingga maghrib.

Kau tahu, kenapa aku bodoh???

LENGKUNG KABUT TIRUS

Cuma dia, yang bisa menggelitik mulutku untuk terbuka. Dari seluruh cucu nenek, aku memang terkenal bungkam.

Orangtuanya bercerai. Sampai sekarang aku tidak pernah tahu dan tidak mau tahu. Dia tinggal bersama kakek dan nenekku, sejak dia kecil. Memoriku paling jauh mengingatnya sejak kilasan dia kelas 5 sd. Pintar matematika, dia pandai mengaji juga, meski tidak sampai mahir tentunya.

Persinggunganku dengan rumah panggung tua yang berderak-derak itu cukup sering. Di rumah Kakek dan Nenek itulah sebagian memori kami beririsan. Dia hadir untuk mengecek sekali-kali bacaanku. Kakeklah yang mengajariku membaca. Ditulislah kata-kata di sebuah papan tulis hitam sebesar buku gambar, dengan kapur batu berwarna kuning. Aku mengejanya berulang-ulang dengan lantang. Kakek pergi sebentar, aku lalu berhenti mengeja. Pastilah dia lewat dan mendelik kepadaku dengan pura-pura marah, aku membaca lagi dengan lantang. Aku selalu ditakut-takutinya dengan tukang es potong, katanya tukang es itu pemangsa manusia yang malas membaca. Lalu erat-erat aku pegang pinggiran papan tulis kecil itu, suaraku mengerang-erang serak. Sampai aku pandai membaca terbalik sebelum satu sd.

Banyak sebenarnya dia memiliki saudara. Sebagian adik dan kakaknya memiliki tekstur muka yang mirip denganku, tapi aku dalam banyak hal lebih dekat kepadanya. Dia tidak pernah merasa tersaingi. Dari aku belum lahir dia sudah menggelayut di kaki kakek, sudah dibelikan baju oleh nenek, lalu aku datang kedunia dan menyabet semua perhatian kakek-nenek dari banyak cucunya. Aku dianak emaskan tanpa aku sadar. Semua cucu lainnya merasakan dan dia paling tahu itu, tapi seingatku dia tetap tersenyum dengan gurat yang sama lengkung hari ke harinya.

Cukup lama aku menjadi tunggal, di keluargaku. Sampai adik-adikku lahir, maka aku menjadi sulung. Bertahun-tahun aku hidup dalam aura yang tua, tapi dia mengajariku menjadi adik.

Mukanya dulu bulat. Bergigi gingsul di dekat taringnya. Cukup jauh beda tingginya denganku, aku dulu kerdil.

Kepada kakak sepupuku yang lain aku selalu diam dan irit kata, tapi kepadanya aku membongkar rahasia-rahasia. Sowan-ku kepadanya adalah setiap kali liburan sekolah. Aku mengunjungi desa kakek-nenek yang diatas bukit, menumpang minibus yang berderum bergoyang-goyang mengikuti jalan kelok, melintas ngarai, menembus kabut-kabut gunung yang segar, menghindari pohon roboh melintangi jalan, lobang-lobang aspal, dan semua yang membuat ibuku biasanya muntah mabuk darat, tapi aku gembira sekali.

Sesaat kemudiannya kami sampai di depan rumah panggung setinggi sepuluh tingkat anak tangga. Di depannya pastilah nenek dan kakek berdiri seperti menyanyikan hymne. Ibulah anak kesayangan mereka, dan tuah itu mengalir kepadaku seperti guyuran pancuran sungai desa. Disitulah aku dan kakak sepupuku ini berlarian, setelah sebentar aku mencium tangan kakek-nenek, bergelayutan manja, lalu kabur pergi.

Aku selalu menyabet perhatian kakek-nenek. Dia tahu itu tapi dia masih saja tersenyum. Senyum yang selalu saja sama lengkung dengan hari-hari yang kuingat dulu.

Tinggiku merambat hampir menyamai kupingnya. Wanita memang tumbuh lebih mula daripada kebanyakan lelaki, tapi berhenti meninggi terlalu dini. Aku lambat laun menyalipnya dalam banyak hal.

Entah kenapa, dia berhenti sekolah. Sebuah hal yang biasa saja sebenarnya. Rata-rata orang di desaku berhenti sekolah sebelum mencapai gelar yang bisa dibusungkan di dadanya. Tapi bagiku itu memahat tanda tanya sebesar drum di samping sumur rumahku. Dia wanita yang digelayuti talenta.

Dia pindah dari rumah nenek di atas gunung, tinggal bersama dengan keluarga kami di pinggiran pantai. Sebuah rumah semi-selesai. Berlantai tanah, tanpa pelapon, dan sebuah sumur yang digali sendiri oleh bapak. Disampingnya diletakkan sebuah drum yang dipotong setengah. Ditinggikan dengan kayu-kayu pancang, lalu disambungkan pipa plastik meliuk-liuk sampai ke bak mandi. Itulah ritual pagi dan sore hari. Aku timba berember-ember air, lalu kutuangkan sambil menjinjit kaki, ke dalam drum bekas aspal. Sampai bak besar itu penuh.

Dia membantu ibu memasak. Mengepel. Dan menyanyikan senandung tidur yang menghipnotis adik-adikku yang masih bayi untuk terlelap tanpa suara di kamar depan. Di momen-momen itu aku biasanya masih berpeluh. Tenaga sudah diujung-ujungnya, rasanya, tapi bak belum lagi penuh. Setiap kali itulah dia akan bersiul kecil, mengkode-ku dengan ujung matanya, lalu aku akan menyingkir mengendap-endap dan lari main entah kemana. Dia dengan cekatan memenuhi drum, dijaganya setiap riak air, setiap gemericik tetesnya untuk tidak mengusik bapak. Bapak memang tegas, bahwa aku harus ditempa untuk menjadi pria liat, tantangan hidup kata bapak pastilah lebih keras dari sekedar air setengah drum, tapi aku nyatanya sudah pecicilan. Dan seingatku dia masih tersenyum.

Adikku membesar dengan tempo yang terengah-engah. Usiaku juga meloncat cepat. Sedang dia sudah memutuskan kembali ke kampung halaman. Aku diasuhnya hingga beranjak remaja. Adikku ditemaninya hingga pandai merangkak, lalu dia kembali ke rumah panggung yang berdecit itu. Mungkin kembali memetik cabai merah di pinggir sawah petak punya kakek, atau mungkin ikut mamangku memetik kopi dengan keranjang dari anyaman bambu, entahlah.

Perjumpaan kami pun hanya selintas-selintas. Aku dewasa dan sedikit susah menceritakan banyak babak dalam satu waktu saja, sebentar saja aku, bapak ibu, dan adik-adik bertandang ke puncak gunung sana, sebentar kemudian sudah harus kembali ke kota. Aku sekolah, adik-adikku sekolah. Kami selalu menyabet perhatian kakek nenek, sedang dia sudah mulai berkerut-kerut senja. Aku susah mendekat dan berbagi, sedang dia semakin hari semakin pandai menuturkan cerita. Dibangga-banggakannya kami-kami ini, saudaranya yang tiap hari bergelut dengan buku dan teorema-teorema. Kami tumbuh dan membesar dengan kecerdasan yang soliter, dia bertahan dengan kesederhanaan yang merakyat membuatnya kait mengait dengan banyak sahabat dan nama.

Lalu hari menumpuk-numpuk men-dasawarsa. Aku sudah kuliah di seberang lautan. Kakek sudah berpulang ke negeri jauh, nenek sudah semakin tua dan lamur. Bagiku hari barulah naik sepenggalah, bagi mereka mungkin sudah senja. Berita yang kudengar bahwa dia sudah menikah. Sungguh menyesal rasanya tidak dapat menghadiri pernikahan orang yang berjasa menuntun aku besar. Sekedar ucapan selamat dan mengejek-ejeknya di pelaminan mungkin, atau sekedar kado tipuan yang berlapis-lapis bungkus tapi kuisi permen, mungkin. Atau aku sajalah yang jadi fotografernya dengan meminjam kamera digital kawan kuliah yang aku rasa tak seantero desa ada yang memilikinya, mungkin. Tapi satupun tak. Aku tak sempat datang dan hari kehari semakin lupa.

Aku sarjana kini, dan Nenek memajang fotoku di dinding papan ruang tamu. Kudengar dia sudah pindah rumah, ke tengah kebun yang sejauh mata memandang Cuma bulir-bulir kopi dan semak-semak ilalang.

Lalu berita yang sampai padaku, pun selintas-lintas. Kakakku itu sudah punya anak, seeorang perempuan yang kurasa bermuka bulat tebal seperti dia. Anak yang pintar dan mengacungkan jarinya untuk setiap pertanyaan-pertanyaan gurunya. Anak itu menangis, suatu kali, di pinggir sungai besar yang dirayapi banjir. Memegang kuyup tas sekolahnya sambil menyeka-nyeka air dari kelopak mata, tanpa isak. Ibunya memayungnya dengan payung kecil, sebagian besinya mencuat-cuat keluar, tapi anak itu tidak hendak beranjak pulang, sambil memandang titian setapak jalan di seberang sungai yang mengular hilang di SD kecilnya seberang sana. “pulanglah nak, banjir besar, sekolahnya besok saja” bisik ibunya.

Kilasan memori seperti direwind cepat, pita-pitanya memlintir-mlintir kenanganku dengan tema besar hutang budi. Aku overloaded dengan bayangan-bayangan. Muka tirus dan anak kecil mengigil. Aku sudah lama tidak menyapa gunung, mungkin sudah waktunya menyibak lagi kabut-kabut.

Jalan berbatu, cadas tajam-tajam dibenamkan di tanah gembur. susah payah aku menapakinya. Ada got-got tertimbun sampah. Ada cabai, tomat dan terong ditanam serampangan di tepi-tepi rumah. Ada hamparan kopi yang dijemur di atas alas tikar bambu. Di sanalah rumah putih kecil berbercak lumpur sisa hujan di dinding-dindingnya. Kulihat pintunya terbuka setengah kedalam. Seorang laki-laki setua setengah bapakku membopong bayi mungil dibalut bedong. Disampingnya wanita kurus kusam dengan kain gendong melilit-lilit di pundaknya. Masih saja dia tersenyum dengan gurat lengkung yang biasa.

Setiap kali aku mengenangnya, aku tersenyum membayang-bayangkan jika nantinya anak tertuaku lahir, akan aku kenalkan dengan kakak sepupunya. Perempuan lincah bertalenta, yang kini menggelayuti lenganku dan menancapkan mata bulatnya kepadaku setiap kali memanggilku paman.

“Ayo….. bacakan paman surat-surat pendek!!” tantangku, lalu seketika itu juga dia merapalnya.

Anak pintar……….

———————————

gambar ilustrasi dipinjam dari sini

SEBERANG NASIB

Suatu hari, jembatan yang menghubungkan dua desa terputus. Para penduduk dari kedua desa berkumpul di pinggir sungai besar yang berarus deras. Hujan tadi malam telah merobohkan apapun yang menghalang. Semua kegiatan menjadi terganggu. Tidak ada orang yang cukup konyol untuk menyeberangi jembatan itu dengan berenang. Tak ada rakit. Dalam kerumunan massa yang masih terperangah atas kejadian itu, tiba-tiba seseorang berkata.

“ah….. aku tahu perkaranya, inilah letak kebodohan pembangun jembatan ini, dia tidak mengindahkan proporsi campuran semen dan pasir, ini juga batu kali murahan, wajar saja jembatan ini rubuh. Konstruksi apa-apaan ini?……” orang ini nampaknya ahli dalam hal konstruksi bangunan, maka dia terus mengkritik bangunan jembatan yang sudah roboh itu.

Tidak seberapa lama kemudian seseorang menimpali “ah…. Kurasa bukan itu masalahnya, memang hal ini dikarenakan struktur tanah yang terus mengalami penurunan, ditambah lagi gerusan banjir di pinggir dinding sungai ini, itulah lemahnya pengetahuan para petinggi desa ini, tidak pernah mereka itu sedikit bertanya pada para ahli kebumian” seorang ahli lagi mengomentari dengan sinis.

“ya terlepas dari itu semua memang mental petinggi desa ini sudah buruk. Aku yakin mereka sudah mengkorupsi dana pembangunan jembatan ini, apa yang kita bisa harapkan, dari kualitas jembatan hasil sisa-sisa korupsi. Sampah!!”
————————– ————————– —————–

“mas, sudah ga bisa check-in lagi, udah mau terbang pesawatnya” istriku menelpon. Aku berada di depan terminal keberangkatan salah satu maskapai penerbangan.

Beberapa jam sebelumnya kami berada dalam sebuah taksi. Berbincang sedikit sambil sesekali mencuri pandang, ke arah argo yang berlari secepat kuda binal. Aku agak sedikit tidak percaya pada taksi dengan merk yang tidak familiar, tapi ini urusan penting, waktunya sempit, maka demi mengejar jadwal pesawat ke bengkulu, kami ikhlaskan uang dari saku untuk membayar taksi, harganya sudah hampir menyamai harga pesawat kelas promo paling murah. Biarlah, karena besok istriku harus sudah ada di bengkulu menghadiri pelantikan calon pegawai negeri sipil.

Jalanan macet. Sebuah cerita lama di Jakarta, cuaca hari itu cerah, sedikit panas. Kami tiba di depan terminal, mungkin 45 menit sebelum waktu keberangkatan terjadwal. Tanpa banyak basa-basi istriku langsung mengantri masuk ke dalam, dan aku melambaikan tangan. Memang niatnya aku hanya mengantarkan saja.

Lepas dari pandanganku, istriku sudah masuk ke dalam. Aku berjalan pelan dan berencana hendak langsung melompat ke dalam bus. Pulang menuju kontrakan sebelum kemacetan senja membuat jakarta jadi tampak lebih tua dari usianya. Tapi seperti ada yang menahanku.

Aku duduk sebentar di bangku panjang warna hitam. Dan benar saja, tak lama kemudian terdengar panggilan dari pengeras suara. Penumpang jurusan Jakarta-Bengkulu dipersilakan naik pesawat!!

Ada yang tidak beres, kupikir. Kulihat jam masih menunjukkan 15 atau 20 menit sebelum keberangkatan yang tercantum di jadwal. Dan aku yakin istriku pasti tidak bisa menerobos lautan manusia yang mengantri seperti itu. Lalu HP ku berdering. Dilayarnya tertulis nama istriku, sebelum aku angkatpun aku sudah tahu bahwa dia sudah tertinggal pesawat.

Aku panik. Itu penerbangan paling sore. Tidak ada lagi penerbangan ke Bengkulu setelah itu. Tapi hasrat ingin memastikan itu masih meluap, maka aku sambangi kantor pemasaran maskapai itu, “tidak ada lagi pak” jawabnya. Aku terduduk lesu. Bagaimana ini??? Acara yang harus dihadiri istriku adalah jam 7.30 pagi. Tak ada pesawat yang terbang cukup subuh untuk menghadiri itu besok pagi. Pesawat tadi adalah harapan terakhir.

Tapi maskapai tidak hanya ini, kupikir. Aku  berlari-lari ke maskapai sebelahnya, dan sebelahnya lagi, dan sebelahnya lagi. “tidak ada”, “sudah terbang jam 1 tadi”, “sudah tutup”. Semua menjawab begitu. Aku kesal. Tidak lama kutelpon istriku. Dia masih berdebat dengan pegawai maskapai, perdebatan yang panjang dan lama, tapi hasilnya sudah bisa diduga, tetap tak bisa.

Dalam kebingungan seseorang berjaket levis menghampiri. Tidak perlu lama, aku tahu bahwa dia adalah calo. “ini mas, ada, tiket bengkulu, sudah check-in” katanya. Dalam situasi seperti ini aku ada dalam kondisi tidak bisa memilih.  Aku mengiyakan, lalu seperti kesetanan kami berlari menerobos kerumunan. Orang-orang terbelah. Aku hampiri istriku di depan pintu keluar. Tanpa banyak kata dia kutarik membelah antrian dan masuk lagi melewati pintu pemeriksaan.

“nanti kalau sudah naik pesawat baru kita ngobrol” kata calo itu, mungkin dia agak pandai membaca raut mukaku. Dari tadi aku menganggap mungkin ini salah satu pertolongan tak diduga, tapi juga was-was berapa tarif yang dipatok calo ini???

Kami menerobos banyak penjagaan, sang calo kemudian dengan gaya meyakinkan menelpon nomor salah satu petugas maskapai, entah darimana dia mendapatkan nomornya, lalu bergaya seperti protokoler bandara bahwa ada seorang penumpang tertinggal dan harus naik ke pesawat. Lama mereka berdebat, kami hampir sampai ke tangga naik, di depannya petugas airport tax sudah siap memungut bayaran, tapi tiba-tiba sang calo menggeleng. “sudah ga bisa lagi pak, sudah tutup pintunya, pesawat sudah mau terbang” katanya.

aku pasrah, kami berjalan lagi ke pintu keluar dengan menyeret kaki.Aku bawa sebagian barang-barang istriku. Tak ada harapan. Lalu kami duduk di bangku panjang warna hitam itu lagi. “gimana, Mas??” tanyanya.

Macam-macam perasaan bergejolak di hatiku. Ingatan tentang ratusan ribu yang sudah hilang karna menunggangi taksi abangan, tiket pesawat yang hangus karna tak bisa di-refund, penerbangan yang tinggal satu-satunya sudah melejit ke atas awan, dan membayangkan waktu bergeser pelan sedetik-sedetik untuk kemudian nanti mengejutkan kami dengan angka 7.30 esok pagi.

Tidak bisa, harus ada jalan. Dalam situasi seperti ini, naluri yang muncul adalah mencari kesalahan. Kenapa tidak tadi lebih awal??? Kenapa istriku berdandan terlalu lama? Kenapa supir taksi itu tidak memilih rute yang lebih pendek? Kenapa maskapai ini terbang 15 menit sebelum keberangkatan? Kenapa maskapai yang lain hanya menyediakan satu kali penerbangan? Bagaimana kalau aku kritik saja maskapai ini dengan mengirim surat pembaca ke koran??? Dengan logika yang kalut, maka semua seperti tertuduh.

Istriku diam saja, tidak berkomentar apa-apa. Kami hampir beranjak dan meninggalkan bandara, tiba-tiba aku terfikirkan, kenapa tidak kucoba penerbangan transit saja???

Kutekan nomor telp, dan berulangkali kutanyakan penerbangan transit. Adakah rute bengkulu dari kota selain jakarta??? Jawabnya nihil. Tak ada, semua penerbangan bengkulu adalah transit dari jakarta.

Ada yang melesat-lesat dalam hatiku. Membuat semua penerbangan menuju kota kecil, hanya dari jakarta, adalah keputusan yang konyol. Aku mulai kesal dengan jalur penerbangan. Begitulah insting bawaan manusia. Kita lebih senang mengutuk-ngutuk keadaan, ketimbang mencari pemecahan.

————————– ————————– ———————–
Semua penduduk di desa itu meng-iyakan ocehan para ahli, dan ikut mengeluarkan sumpah serapah masing-masing dengan gayanya sendiri.

Selang berapa waktu kemudian, lewatlah seorang pemuda biasa, seorang tukang kayu yang membawa kapak di dalam keranjangnya. Sebentar berbincang dengan sekalian orang maka dia tahu apa yang sedang terjadi. Tanpa banyak berkomentar dia keluarkan kapak dari keranjangnya, dan menuju ke sebuah pohon besar di pinggiran sungai. Dihantamkannya kapak itu berulang kali kepohon sampai batang besar itu tumbang melintangi bentang sungai.

Tanpa banyak bicara dia menyeberang ke desa sebelah sana, meniti pohon yang kini menjembatani dua desa. Para penduduk terdiam juga seketika, lalu satu persatu orang menyeberang.
————————– —————————————————-
Sejenak aku menarik nafas dalam. Orang-orang hilir mudik, tidak ada yang peduli bahwa aku dan istriku sedang duduk di bangku panjang hitam, membawa banyak tas dan memasang tampang paling mengenaskan dari orang yang tertinggal pesawat.

Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, selain perasaan sedikit lega –perasaan yang semu- adakah menimpakan kesalahan pada orang lain akan memberikan pemecahan???

Tiba-tiba sebuah ide muncul begitu saja. Ah….. terbanglah ke kota terdekat dari bengkulu, di sumatra, dan setelah itu tempuhlah jalur darat. Mungkin bisa tiba di kota raflessia itu pagi hari.

Aku gembira tak karuan. Lalu bergegas menelpon ke maskapai manapun yang bisa kutelpon. DAPAT!!!! Penerbangan menuju palembang ternyata masih ada yang kosong. Terminal 2, maskapai garuda menyediakannya untuk jam 19.30 malam ini, dengan harga yang fantastis.

Sedikit terkejut, tapi tidak ada pilihan. Dan aku sepertinya harus menemani istriku untuk keberangkatan ini, karna tak mungkin ia menempuh perjalanan malam hari jakarta-palembang via udara, dan Palembang-Bengkulu jalur darat, sendirian.

Istriku sibuk mencari no telp travel, bus, mobil, atau apapun yang bisa menjemput dan mengantarkan kami ke bengkulu dari palembang, dan aku mengantri di loket Garuda.

Tiba-tiba berita mengejutkan seperti merubah aura keseluruhan hari itu. Kartu keanggotaanku di Garuda sudah memiliki banyak poin hadiah, dan aku bisa mendapatkan tiket penerbangan Jakarta-Palembang gratis. Alhamdulillah…… hampir tidak percaya. Sebentar kemudian aku menoleh ke istriku dan ingin mengabarkan hal ini kepadanya, dia berkata, “mas… travel palembang-bengkulunya sudah dapat, nanti jam 9 kita dijemput di bandara”.

19.45
Kami sedang melayang di ketinggian jelajah entah berapa. Seorang pramugari menawarkan minuman. Aku meminta segelas cola tanpa es, sambil memandang keluar jendela. Awan berkabut. Dan aku sungguh yakin tak ada gunanya merutuk nasib.

————————

gambar ilustrasi dipinjam dari sini

ILIR-ILIR

Lir-ilir, lir-ilir
Tanduri wis sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar.

Terakhir kali aku bertemu pohon belimbing adalah empatbelas tahun silam. Selepas itu belimbing seperti sedikit menghilang dari dalam ceritaku.

Dulu sewaktu kelas 6 SD, kami sekolah di bangunan dua lantai. Kelas 6 menduduki strata tertinggi dan oleh karnanya layak ditempatkan di lantai dua. Lantai atas. Kami bisa memandang-mandangi anak-anak yang berlarian di bawah. Sebuah pengalaman yang baru untuk bisa melihat dunia dari ketinggian seperti itu.

Kelas 6 berarti adalah hampir SMP. Les adalah wajib, tanpa terkecuali. Demi menghadapi ujian tingkat akhir, demi melanjutkan ke SMP yang bagus dan mutu.
Dari sinilah lantai dua dan belimbing menjadi berkah.

Sebuah rahasia umum pada masa itu adalah laki-laki tidak pandai me-manage keuangan. Itu sudah semacam aksioma. Dan aku tidak merasa punya kapasitas yang cukup untuk mematahkan dogma seperti itu. Jadi insting untuk membelanjakan terlebih dulu uang jajan yang dititipkan ibu, aku turuti saja.

Tiba di sekolah paling pagi, aku langsung ke kantin dan dengan riang gembira kubelanjakan uang jajan yang diberikan ibu. Seratus limapuluh rupiah. Padahal jaman dulu nominal sebesar itu masih cukup untuk membeli mie rebus untuk makan siang. Tapi semua planning ibu babak bingkas. Les tambahan dimulai saat pelajaran sekolah usai. Sedang separuh atau tiga perempat uang sudah aku jajankan pada pagi hari. Maka aku kelaparan. Begitu terus polanya setiap hari.

Memang masih juga tersisa uang. Kadang seratus, kadang tujuh puluh lima rupiah. Apa mau dikata. Uang segitu hanya cukup membeli mie saja. Tanpa air panas. Tidak direbus. Jadi sambil cengir-cengir aku beli saja mie instan, dan kuremukkan di dalam plastiknya, lalu bumbu-bumbu ditaburkan, dimakan seperti kerupuk. Tidak Cuma aku yang agak tolol seperti itu, adalah sekitar dua tiga orang temanku. Hal ini berlaku umum di kalangan pria.

Rasa lapar masih bisa diatasi dengan teknik begitu, tapi tidak untuk rasa haus. Bibir kami nantinya akan seperti orang kelamaan menyelam di sungai. Keriput dan berwarna ungu kehitaman yang jelek sekali. Bumbu mie itu entah mengandung apa dalam unsur-unsur kimianya tapi yang jelas kami sangat haus.

Meminta minum kepada anak-anak perempuan adalah hal yang menjatuhkan kredibilitas. Membeli es tentulah tidak lagi punya uang, maka pohon belimbing menjadi sebuah solusi.

Dibawah. Di lantai satu. Adalah kelas lima. Di depan kelas lima tumbuhlah sebatang belimbing yang besar. Dipagari bambu setinggi lutut orang dewasa. Menjulang tinggi pohon belimbing itu, dan rantingnya yang digelayuti buah ranum-ranum menyeruak masuk ke beranda kelas kami. Di lantai dua.

Konon, desas-desus yang beredar mengatakan bahwa belimbing itu kepunyaan kepala sekolah. Dari generasi ke generasi begitu, seperti tanah waris. Siapa yang menanamnya pada mulanya tak jelas. Kepala sekolah generasi terdahulukah? Tumbuh liarkah? Tak jelas. Hanya satu yang pasti bahwa siapa saja yang memanjat pohon itu akan dengan tidak hormat diteriaki oleh penjaga sekolah. Tak ada yang cukup berani memanjat pohon belimbing itu, tidak satupun melanggar teritori bapak kepala sekolah, kecuali kami, kelas enam. Rantai teratas dalam piramida SD Negeri 20.

Kami tarik-tarik ranting pohonnya, sebagian kami patah-patahkan. Dedaun berserak-serak di koridor. Baju kami kotor dan terkena getah-getah. Tapi kami mendapatkan satu dua butir belimbing. Kecil dan asam. Tapi mengobati haus seperti musafir bertemu oase. Dalam delik hukum kami tidak bersalah. Penjaga sekolah tidak pernah meneriaki kami, kami tidak memanjat pohonnya, Cuma numpang menarik-narik ranting yang menggoda bertandang ke beranda.

Sebatas itu saja persinggunganku dengan belimbing. Tidak kurang. Tidak lebih. Sampai waktu tadi sore aku duduk di atas batu, dibawah batang ranum. Menunggu istri yang sudah setengah jam lebih masih juga belum keluar dari kantor. Sesekali celingak-celinguk aku baru sadar bahwa teduh yang kukecap dari tadi sekali ini ternyata adalah naungan belimbing.

Belimbing tiba-tiba hadir lagi. Seperti surprise. Tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Sudah belasan tahun ini menghilang dalam konstelasi kehidupanku tapi sekarang dia ada, dan tiba-tiba berjasa.

Entah bagaimana, aku tiba-tiba teringat akan sebuah tembang jawa yang syahdan disusun lariknya oleh sunan kalijaga. Hampir semua orang pernah mendengarnya, atau paling tidak merasa dekat dengan lantunan nada-nadanya meski tidak tahu itu apa.

“ilir-ilir”

Bangunlah…bangunlah
Tanaman sudah bersemi
Demikian menghijau
Ibarat pengantin baru
——————————
Anak gembala
Panjatlah “belimbing” itu
Meski susah tetaplah panjat!
Untuk membasuh pakaianmu
——————————
Pakaianmu terkoyak-koyak dibagian samping
Jahitlah!
Untuk menghadap nanti senja
——————————
Mumpung bulan bersinar terang
Mumpung banyak waktu luang.

Katanya, belimbing dalam syair itu adalah perlambang, metafora lima pilar agama diwakilkan pada belimbing yang bergigir lima. Jika disayat maka bintang segilima akan tampil dengan indah, elegan. Apa benar seperti itu aku tidak tahu, aku tidak hidup semasa dengan sunan kalijaga.

Tapi pasti bukan suatu kebetulan kalau sore tadi aku menjemput istriku, lalu iseng-iseng keliling mencari tempat berteduh dan menemukan pohon rindang yang dibawahnya ada batu besar, lalu istirahat sampai setengah mengantuk.

Lalu tembang itu muncul. Aku merasa seperti di tengah sawah, aku bersila di dalam pondok bambu kecoklatan. Ada kakek ditengah-tengah pematang memancing dan sebentar kemudian menarik kail yang diujungnya ada ikan mas sebesar betis menggelepar-gelepar.

Aku seperti di teras rumah panggung, dengan sarung putih kotak-kotak, memegang sebuah alquran besar keemasan. Di kepalaku bertengger kopiah hitam kebesaran. Ujung jemari tangan kananku mengapit bambu yang sudah diserut setipis lidi sapu, lalu menunjuk-nunjuk aksara arab besar warna hitam dan bersenandung “a… ba….ta….tsa”

Menjelma kemudian aku di sebuah masjid putih belum jadi, lantainya dilapis karpet hijau kasar khas masjid-masjid pinggiran. Gelombang-gelombang tanah belum tersemen utuh dibalik karpet itu terasa benar. Dan aku sedang rukuk-itidal-lalu sujud berjamaah dengan kawan-kawan yang setengah mati untuk tidak tertawa. Kami masih kecil sepertinya dan mulai belajar arti bahwa duapuluh tujuh derajat lebih utama bersama-sama dibanding sendirian.

Saujana terbentang dengan gambar yang bergonta ganti, aku kecil, masuk SD, disunat, mengaji, sholat berjamaah, ada surau, ada mengapit quran besar di dada, ada kilas waktu malam-malam lari-lari aku pulang dari TPA, ada tarawih dan mencatat ceramah-ceramah, ada semangat isra’miraj kelas enam SD, ada sholat subuh pagi hari, lalu hilang.

Belasan tahun terlewat setelah masa itu tidak ada lagi yang sama. Banyak yang hilang dalam keseharianku, padahal belimbing mungkin terserak dimana-mana tapi baru sore ini aku terbangun lagi.

Ilalang di depanku “ilir-ilir” melambai-lambai, aku berdiri sebentar lalu meregang-regangkan badan.

Ah…….. akan kupetik belimbing lagi
Meski susah tetaplah panjat!
Untuk membasuh pakaianmu.


ilustrasi gambar pinjam dari:siini

PHYTOPTHORA

Menjadi tua, apakah selalu identik dengan menjadi membosankan? Aku tidak percaya itu sebenarnya, karna slogan bahwa “tua itu pasti, dewasa itu pilihan” sudah sebegitu lekatnya denganku sampai-sampai aku juga menganggap bahwa “tua itu pasti, membosankan atau tidak itu juga pilihan”.

Rupa-rupanya, dalam batas-batas yang wajar, kejadian yang kita alami dalam kehidupan ini bisa dikelompokkan dalam tema besar yang sama, meskipun detailnya berbeda sedikit-sedikit. Nyatanya orang tua suka “mengulang-ulang cerita”.

Dalam banyak kesempatan kita temukan itu. Bapakmu yang suka mengulang peristiwa perang 45. atau ibu anda yang sering mengulang cerita tentang pertemuan pertama dia dengan ayahmu, lalu bahwa sebenarnya dulu ibumu adalah kembang desa. Guru anda di kelas yang alih-alih mengajarkan pelajaran tapi satu jam pertama dihabiskan dengan cerita tentang kebun duriannya, atau dosen yang memutar ulang pertemuan dengan ular sanca di pedalaman kalimantan saat ia dalam sebuah projek eksplorasi.

Tampak sangat biasa. Orang tua memang suka mengulang cerita, dan itu juga yang terjadi pada Bapak. Tapi yang menjadi unik adalah diluar tema yang klise Bapak seringsekali memutar ulang “Phytopthora”.

Phytopthora palmivora merupakan patogen penyebab penyakit gugur buah pada tanaman kelapa dan busuk buah pada tanaman kakao. Cuma sebatas itu yang aku mengerti dari bahasa latin itu.

Oke…….. Bapakku seorang penyuluh perkebunan, jadi wajar jika sedikit-sedikit tata bahasa binomial nomenclature itu keluar dalam satu dua wejangan.

Misalnya, waktu aku merasa jenuh dan “mbludak” memori otak, tidak lagi bisa menghafal untuk persiapan EBTANAS, maka bapak menyarankan untuk mencoba memanfaatkan semua indra. Begini beliau bilang “kalo kamu sudah ndak bisa lagi mengingatnya dengan membaca, coba baca kencang-kencang, dengan bersuara, biar indera pendengaran turut bermain. Atau yang lebih manjur sebenarnya dengan menulis”.

Nah… dari situlah “phytopthora” mulai muncul dalam kehidupanku. “misalnya bapak dulu, waktu belajar, kan banyak bahasa latin, ndak ada cara lain selain ditulis, ditulis berulang kali, seperti misalnya Phytopthora. Bahasa latin kan susah, ejaannya sulit, suka tertukar-tukar…………………..”

Sejak saat itu Phytopthora mulai menghantui keseharianku.

misalnya lagi, aku bercerita tentang keinginanku S2, maka akan menjadi panjang dan lebar. Bapak akan bercerita mengenai kesuksesan beliau meraih juara 3 dalam sebuah pelatihan tingkat nasional, mengalahkan anggota pelatihan lain yang sarjana, dan master degree. Dalam hal ini aku salut dengan bapak. Percaya dirinya. Bakat cerdasnya. Hanya memang secara legal formal beliau hanya tamatan SMA, hanya pernah mengikuti pelatihan di kantornya. Tapi……… kata bapak “mau s2 mau S3, itu kan legal formal, tidak ada salahnya, tapi yang paling penting adalah kita harus punya kepercayaan diri bahwa dalam prakteknya kalau kita bisa kenapa mesti gentar dengan yang titelnya diatas kita, waktu pelatihan itu misalnya, kan banyak diajarin bahasa latin, Bapak sudah tahu kuncinya, kalo bahasa latin itu harus rajin ditulis, kita harus pandai membuat strategi belajar sendiri, misalnya Phytopthora…………………….” Oh….God, lagi-lagi itu

That’s it, phytopthora telah dengan sangat mahir muncul dalam perbincangan tema apapun, genre apapun.

Apakah menjadi tua selalu identik dengan membosankan?? Aku sebenarnya tidak percaya itu, karna kadang-kadang sebelum tua pun kita sudah agak membosankan. Seorang rekan sering memotong pembicaraanku waktu aku mengulang untuk yang ketiga kalinya cerita tentang aku berjalan 13 km dari sekolah menuju rumah, karna sebuah ide tolol menukar ongkos angkot dengan es potong “lo udah pernah cerita itu boi”, begitu katanya, dan aku tertawa karna tiba-tiba mengingat phytopthora.

Menceritakan kembali potongan kehidupan kita pada orang lain, memang sebenarnya agak-agak rumit. Berkaitan dengan keinginan berbagi. Berkait juga dengan kepercayaan, tidak mungkin kita nyaman bercerita berulang-ulang jika bukan dihadapan orang yang kita percayai. Kait mengait juga dengan sebuah pencapaian, mungkin ada sisi dalam diri kita yang ingin menunjukkan bahwa dalam tingkat-tingkat tertentu kita sudah memperoleh pencapaian dalam hidup ini, bukankah hal paling menyedihkan dalam hidup adalah kenyataan bahwa ternyata hal paling hebat yang kita bisa lakukan adalah menjadi orang biasa-biasa saja. Oleh karna itu kita memutar ulang cerita, romantisme sejarah kadang-kadang bisa menyulut kembali semangat kita, jika kita kenang dalam proporsi yang wajar………………………………………………… tapi, sebentar, sebentar, bagian yang ini belum pernah kan aku ceritakan???

Nah….
Kalaulah menjadi tua itu pasti, adakah kemungkinannya bahwa menjadi membosankan itu pasti juga??? Nanti kita akan menjadi seorang ayah atau ibu yang bercerita kepada anak-anak kita tentang awal-awal kita mencicil kredit rumah. Atau bagaimana kita merasa seperti dianak tirikan pada saat awal-awal bekerja. Atau macam-macam lagi cerita lainnya. Kita ingin berbagi, kita ingin anak kita mengetahui potongan sejarah kehidupan kita, tapi mereka menganggapnya sebagai “dejavu”. Cerita yang sama yang sekitar enam atau sepuluh kali mereka dengar.

ah…… masa kita tidak bisa, menyempatkan diri untuk sebentar mendengarkan orang tua kita bercerita. Perkara kita sudah hafal itu tidak jadi soal. Puluhan tahun kita sudah belajar berbicara pada mereka, mengeluh, meminta, menangis, memaksa, marah, semua kita ulang-ulang dengan mahir, sekarang saatnya kita belajar mendengar, sekali saja.

Menjadi tua itu pasti, menjadi membosankan???? Ah…. Tidaklah, mereka tidak membosankan, kita saja yang kurang pandai mendengar.

Lalu…. Aku mulai menikmati cerita apapun saja yang dituturkan bapak. Bapak bercerita, aku bercerita, sudah pernah sebenarnya kudengar yang bapak dongengkan, dan aku menanggapinya juga dengan tanggapan yang kurang lebih sama. Tapi ada yang bertambah dekat setiap kali ritual itu kami kerjakan.

“jadi, kalau sudah menikah itu kamu harus banyak belajar, belajar apa saja. belajar itu harus cerdas, ada cara-cara tersendirinya…………………” yap, disana, dibagian sana, aku yakin benar phytopthora akan muncul. Tapi pak, aku akan mendengarkan, pasti.

gambar dipinjam dari sini

DRAMA KOTAK

alkisah di sebuah negri hiduplah seorang pemuda ahli beladiri. Dalam banyak kesempatan dia teruji sebagai pemuda penuh talenta. Banyak orang yang tertolong dengan keahliannnya, dan santerlah kemudian berita itu ke banyak penjuru.

Sampai suatu ketika pemuda itu bertemu dengan seorang ahli tongkat. Sang ahli tongkat singkat cerita menjadi temannya. Sahabat sekaligus rival. Dalam berapa kali latih tanding pemuda itu babak belur. Semakin bertanding semakin dia yakin tidak mungkin dia bisa mengalahkan rivalnya, sang ahli tongkat itu.

Larut dalam kekecewaan maka pemuda itu berhenti berlatih. Dia kecewa. Dia larut dalam kesedihan dan menjadi sutradara dalam drama kenelongso-an yang dia ciptakan sendiri.

Suatu hari, sang guru memerhatikan pemuda itu dari jauh. Lalu menghampirinya. Mereka berbincang sebentar layaknya perbincangan dua generasi. Perbincangan antara pengalaman hidup dengan kehijauan usia.

Sang guru mendekati seekor monyet piaraan pemuda itu ( pemuda itu memiliki piaraan setia seekor monyet), dan mengambil seekor kutu dari bulunya.

Pemuda itu bergeming melihat ulah sang guru, dia memerhatikan dengan takzim, lalu seketika guru itu mengeluarkan kotak kecil ukuran 5 cm berbentuk kubus dan memasukkan kutu itu kesana.

Diberikanlah kotak itu pada pemuda tadi lalu guru meninggalkannya.
—————————————————————————————-

Kata orang. Hanya 10% dari potensi diri kita yang tampak ke permukaan. 90% lainnya terkubur dalam. Para pakar menyebut ini dengan teori gunung es.

Sebegitu terselubungnya massa besar potensi diri kita, sampai-sampai jangankan orang lain, bahkan kita tidak juga mengerti kalau kita punya potensi cukup besar.

Sebagian potensi kita hilang karna tidak pernah diasah. Sebagian karna lingkungan cukup kejam menyelimuti kita dengan sugesti yang mengecilkan diri kita. Sebagian karna kita belum menemukan moment yang pas untuk membuatnya tumbuh dan menjalar. Sebagian kita sendiri yang mematikannya. Dan itu sebagian besar.

Akhir-akhir ini aku kadang-kadang merasa agak ciut, menghadapi banyak sekali urusan-urusan, banyak sekali ketidakpastian-ketidakpastian. Keciutan yang normal biasanya menjadi semacam alarm bahwa ada yang kurang beres dengan diri kita. Itu bagus. Aku jadi tahu apa yang harus kuperbaiki dari mengetahui apa yang aku ciuti. Tapi ketakutan yang terlampau sering bisa berbahaya. karna ketakutan kadang-kadang tidak objektif, tapi subjektif kita yang mendramatisir, dan rata-rata kita adalah sutrada yang unik dalam membuat drama menyeramkan di khayalan kita. Bagaimana nanti kalau gagal? Bagaimana nanti kalau tidak diterima? Bagaimana kalau kalah cepat dengan yang lain? Bagaiamana kalau kita ternyata memang tidak layak? Ah…. Jangan-jangan memang kita tidak bisa?

Tuh…… kita pintar, kan? Mengada-ada memang bakat kita sejak dulu. Entah dari usia berapa kita dapatkan talenta itu aku tidak paham. Yang jelas untunglah kita belum bodoh seperti ini waktu kita masih balita dulu.

Dulu kita belum bisa berjalan. Dan setiap hari kita jatuh bangun. Kita terjungkal. Berdarah. Menangis. Merangkak lagi. Tapi kita tidak pernah kapok, sampai akhirnya kita bisa berjalan. Kalaulah saja kita terlalu takut dan banyak bagaimana-bagaimananya, mungkin sampai sekarang kita masih mengesot di lantai. Tapi untunglah, setidaknya ada masa-masa berapa tahun setelah lahir dulu yang kita jalani dengan cerdas. Meski sekarang kita agak tidak seberapa pintar lagi.

Karna kitalah yang kadang-kadang mematikan diri kita sendiri.
—————————————————————————————–
Tidak lama kemudian sang guru kembali.

Pemuda itu masih menunggu sambil menggenggam kotak tanpa paham maksud guru tua.

Sambil tersenyum sang guru mengambil lagi seekor kutu dari bulu monyet piaraan pemuda tadi, lalu dia berkata “buka kotak di genggamanmu”

Pemuda itu membuka kotak, lalu sang guru meletakkan kutu yang diambilnya barusan disamping kotak tersebut.

Dua ekor kutu meloncat bersamaan. Seperti tidak ada yang aneh pada mulanya.

Sampai berapa kali loncatan maka terlihatlah kutu yang dimasukkan kedalam kotak tidak lagi bisa melompat tinggi. Berapa kali dia meloncat hanya setinggi kubus. Sementara kutu bebas disampingnya sudah melenting entah kemana.

“seperti kutu itu” sang guru berkata….. “kau membuat kotakmu sendiri. Berapa kali kau meloncat dan terbentur pada masalah yang sama, maka kau mulai yakin bahwa loncatanmu hanya sebatas itu saja, dan lama-lama kau benar-benar hanya bisa meloncat setinggi “kotak” di kepalamu itu”.

Pemuda tadi terdiam dalam renungan yang lama dan dalam.

“bebaskan dirimu dari kotak khayalanmu sendiri dan melompatlah yang tinggi” guru tadi berkata sambil pergi membalikkan punggung.

Memang, di akhir cerita pemuda tadi belum juga bisa mengalahkan rivalnya, si ahli tongkat itu dalam sebuah pertarungan latih tanding.

Tapi yang paling penting pemuda itu sudah keluar dari kotak khayalannya, ketakutan yang menjadi dinding potensinya sendiri, dia berhasil melompat lebih tinggi lagi.

Lalu Bagaimana dengan kita hari ini????

*omong-omong hasil tanding mereka seri