DRAMA KOTAK

alkisah di sebuah negri hiduplah seorang pemuda ahli beladiri. Dalam banyak kesempatan dia teruji sebagai pemuda penuh talenta. Banyak orang yang tertolong dengan keahliannnya, dan santerlah kemudian berita itu ke banyak penjuru.

Sampai suatu ketika pemuda itu bertemu dengan seorang ahli tongkat. Sang ahli tongkat singkat cerita menjadi temannya. Sahabat sekaligus rival. Dalam berapa kali latih tanding pemuda itu babak belur. Semakin bertanding semakin dia yakin tidak mungkin dia bisa mengalahkan rivalnya, sang ahli tongkat itu.

Larut dalam kekecewaan maka pemuda itu berhenti berlatih. Dia kecewa. Dia larut dalam kesedihan dan menjadi sutradara dalam drama kenelongso-an yang dia ciptakan sendiri.

Suatu hari, sang guru memerhatikan pemuda itu dari jauh. Lalu menghampirinya. Mereka berbincang sebentar layaknya perbincangan dua generasi. Perbincangan antara pengalaman hidup dengan kehijauan usia.

Sang guru mendekati seekor monyet piaraan pemuda itu ( pemuda itu memiliki piaraan setia seekor monyet), dan mengambil seekor kutu dari bulunya.

Pemuda itu bergeming melihat ulah sang guru, dia memerhatikan dengan takzim, lalu seketika guru itu mengeluarkan kotak kecil ukuran 5 cm berbentuk kubus dan memasukkan kutu itu kesana.

Diberikanlah kotak itu pada pemuda tadi lalu guru meninggalkannya.
—————————————————————————————-

Kata orang. Hanya 10% dari potensi diri kita yang tampak ke permukaan. 90% lainnya terkubur dalam. Para pakar menyebut ini dengan teori gunung es.

Sebegitu terselubungnya massa besar potensi diri kita, sampai-sampai jangankan orang lain, bahkan kita tidak juga mengerti kalau kita punya potensi cukup besar.

Sebagian potensi kita hilang karna tidak pernah diasah. Sebagian karna lingkungan cukup kejam menyelimuti kita dengan sugesti yang mengecilkan diri kita. Sebagian karna kita belum menemukan moment yang pas untuk membuatnya tumbuh dan menjalar. Sebagian kita sendiri yang mematikannya. Dan itu sebagian besar.

Akhir-akhir ini aku kadang-kadang merasa agak ciut, menghadapi banyak sekali urusan-urusan, banyak sekali ketidakpastian-ketidakpastian. Keciutan yang normal biasanya menjadi semacam alarm bahwa ada yang kurang beres dengan diri kita. Itu bagus. Aku jadi tahu apa yang harus kuperbaiki dari mengetahui apa yang aku ciuti. Tapi ketakutan yang terlampau sering bisa berbahaya. karna ketakutan kadang-kadang tidak objektif, tapi subjektif kita yang mendramatisir, dan rata-rata kita adalah sutrada yang unik dalam membuat drama menyeramkan di khayalan kita. Bagaimana nanti kalau gagal? Bagaimana nanti kalau tidak diterima? Bagaimana kalau kalah cepat dengan yang lain? Bagaiamana kalau kita ternyata memang tidak layak? Ah…. Jangan-jangan memang kita tidak bisa?

Tuh…… kita pintar, kan? Mengada-ada memang bakat kita sejak dulu. Entah dari usia berapa kita dapatkan talenta itu aku tidak paham. Yang jelas untunglah kita belum bodoh seperti ini waktu kita masih balita dulu.

Dulu kita belum bisa berjalan. Dan setiap hari kita jatuh bangun. Kita terjungkal. Berdarah. Menangis. Merangkak lagi. Tapi kita tidak pernah kapok, sampai akhirnya kita bisa berjalan. Kalaulah saja kita terlalu takut dan banyak bagaimana-bagaimananya, mungkin sampai sekarang kita masih mengesot di lantai. Tapi untunglah, setidaknya ada masa-masa berapa tahun setelah lahir dulu yang kita jalani dengan cerdas. Meski sekarang kita agak tidak seberapa pintar lagi.

Karna kitalah yang kadang-kadang mematikan diri kita sendiri.
—————————————————————————————–
Tidak lama kemudian sang guru kembali.

Pemuda itu masih menunggu sambil menggenggam kotak tanpa paham maksud guru tua.

Sambil tersenyum sang guru mengambil lagi seekor kutu dari bulu monyet piaraan pemuda tadi, lalu dia berkata “buka kotak di genggamanmu”

Pemuda itu membuka kotak, lalu sang guru meletakkan kutu yang diambilnya barusan disamping kotak tersebut.

Dua ekor kutu meloncat bersamaan. Seperti tidak ada yang aneh pada mulanya.

Sampai berapa kali loncatan maka terlihatlah kutu yang dimasukkan kedalam kotak tidak lagi bisa melompat tinggi. Berapa kali dia meloncat hanya setinggi kubus. Sementara kutu bebas disampingnya sudah melenting entah kemana.

“seperti kutu itu” sang guru berkata….. “kau membuat kotakmu sendiri. Berapa kali kau meloncat dan terbentur pada masalah yang sama, maka kau mulai yakin bahwa loncatanmu hanya sebatas itu saja, dan lama-lama kau benar-benar hanya bisa meloncat setinggi “kotak” di kepalamu itu”.

Pemuda tadi terdiam dalam renungan yang lama dan dalam.

“bebaskan dirimu dari kotak khayalanmu sendiri dan melompatlah yang tinggi” guru tadi berkata sambil pergi membalikkan punggung.

Memang, di akhir cerita pemuda tadi belum juga bisa mengalahkan rivalnya, si ahli tongkat itu dalam sebuah pertarungan latih tanding.

Tapi yang paling penting pemuda itu sudah keluar dari kotak khayalannya, ketakutan yang menjadi dinding potensinya sendiri, dia berhasil melompat lebih tinggi lagi.

Lalu Bagaimana dengan kita hari ini????

*omong-omong hasil tanding mereka seri

2 thoughts on “DRAMA KOTAK

  1. Wah, bagus.., bebaskan diri dari kotak khayalan, memunculkan persepsi positif semoga lebih membantu untuk terus bergerak, 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s