PHYTOPTHORA

Menjadi tua, apakah selalu identik dengan menjadi membosankan? Aku tidak percaya itu sebenarnya, karna slogan bahwa “tua itu pasti, dewasa itu pilihan” sudah sebegitu lekatnya denganku sampai-sampai aku juga menganggap bahwa “tua itu pasti, membosankan atau tidak itu juga pilihan”.

Rupa-rupanya, dalam batas-batas yang wajar, kejadian yang kita alami dalam kehidupan ini bisa dikelompokkan dalam tema besar yang sama, meskipun detailnya berbeda sedikit-sedikit. Nyatanya orang tua suka “mengulang-ulang cerita”.

Dalam banyak kesempatan kita temukan itu. Bapakmu yang suka mengulang peristiwa perang 45. atau ibu anda yang sering mengulang cerita tentang pertemuan pertama dia dengan ayahmu, lalu bahwa sebenarnya dulu ibumu adalah kembang desa. Guru anda di kelas yang alih-alih mengajarkan pelajaran tapi satu jam pertama dihabiskan dengan cerita tentang kebun duriannya, atau dosen yang memutar ulang pertemuan dengan ular sanca di pedalaman kalimantan saat ia dalam sebuah projek eksplorasi.

Tampak sangat biasa. Orang tua memang suka mengulang cerita, dan itu juga yang terjadi pada Bapak. Tapi yang menjadi unik adalah diluar tema yang klise Bapak seringsekali memutar ulang “Phytopthora”.

Phytopthora palmivora merupakan patogen penyebab penyakit gugur buah pada tanaman kelapa dan busuk buah pada tanaman kakao. Cuma sebatas itu yang aku mengerti dari bahasa latin itu.

Oke…….. Bapakku seorang penyuluh perkebunan, jadi wajar jika sedikit-sedikit tata bahasa binomial nomenclature itu keluar dalam satu dua wejangan.

Misalnya, waktu aku merasa jenuh dan “mbludak” memori otak, tidak lagi bisa menghafal untuk persiapan EBTANAS, maka bapak menyarankan untuk mencoba memanfaatkan semua indra. Begini beliau bilang “kalo kamu sudah ndak bisa lagi mengingatnya dengan membaca, coba baca kencang-kencang, dengan bersuara, biar indera pendengaran turut bermain. Atau yang lebih manjur sebenarnya dengan menulis”.

Nah… dari situlah “phytopthora” mulai muncul dalam kehidupanku. “misalnya bapak dulu, waktu belajar, kan banyak bahasa latin, ndak ada cara lain selain ditulis, ditulis berulang kali, seperti misalnya Phytopthora. Bahasa latin kan susah, ejaannya sulit, suka tertukar-tukar…………………..”

Sejak saat itu Phytopthora mulai menghantui keseharianku.

misalnya lagi, aku bercerita tentang keinginanku S2, maka akan menjadi panjang dan lebar. Bapak akan bercerita mengenai kesuksesan beliau meraih juara 3 dalam sebuah pelatihan tingkat nasional, mengalahkan anggota pelatihan lain yang sarjana, dan master degree. Dalam hal ini aku salut dengan bapak. Percaya dirinya. Bakat cerdasnya. Hanya memang secara legal formal beliau hanya tamatan SMA, hanya pernah mengikuti pelatihan di kantornya. Tapi……… kata bapak “mau s2 mau S3, itu kan legal formal, tidak ada salahnya, tapi yang paling penting adalah kita harus punya kepercayaan diri bahwa dalam prakteknya kalau kita bisa kenapa mesti gentar dengan yang titelnya diatas kita, waktu pelatihan itu misalnya, kan banyak diajarin bahasa latin, Bapak sudah tahu kuncinya, kalo bahasa latin itu harus rajin ditulis, kita harus pandai membuat strategi belajar sendiri, misalnya Phytopthora…………………….” Oh….God, lagi-lagi itu

That’s it, phytopthora telah dengan sangat mahir muncul dalam perbincangan tema apapun, genre apapun.

Apakah menjadi tua selalu identik dengan membosankan?? Aku sebenarnya tidak percaya itu, karna kadang-kadang sebelum tua pun kita sudah agak membosankan. Seorang rekan sering memotong pembicaraanku waktu aku mengulang untuk yang ketiga kalinya cerita tentang aku berjalan 13 km dari sekolah menuju rumah, karna sebuah ide tolol menukar ongkos angkot dengan es potong “lo udah pernah cerita itu boi”, begitu katanya, dan aku tertawa karna tiba-tiba mengingat phytopthora.

Menceritakan kembali potongan kehidupan kita pada orang lain, memang sebenarnya agak-agak rumit. Berkaitan dengan keinginan berbagi. Berkait juga dengan kepercayaan, tidak mungkin kita nyaman bercerita berulang-ulang jika bukan dihadapan orang yang kita percayai. Kait mengait juga dengan sebuah pencapaian, mungkin ada sisi dalam diri kita yang ingin menunjukkan bahwa dalam tingkat-tingkat tertentu kita sudah memperoleh pencapaian dalam hidup ini, bukankah hal paling menyedihkan dalam hidup adalah kenyataan bahwa ternyata hal paling hebat yang kita bisa lakukan adalah menjadi orang biasa-biasa saja. Oleh karna itu kita memutar ulang cerita, romantisme sejarah kadang-kadang bisa menyulut kembali semangat kita, jika kita kenang dalam proporsi yang wajar………………………………………………… tapi, sebentar, sebentar, bagian yang ini belum pernah kan aku ceritakan???

Nah….
Kalaulah menjadi tua itu pasti, adakah kemungkinannya bahwa menjadi membosankan itu pasti juga??? Nanti kita akan menjadi seorang ayah atau ibu yang bercerita kepada anak-anak kita tentang awal-awal kita mencicil kredit rumah. Atau bagaimana kita merasa seperti dianak tirikan pada saat awal-awal bekerja. Atau macam-macam lagi cerita lainnya. Kita ingin berbagi, kita ingin anak kita mengetahui potongan sejarah kehidupan kita, tapi mereka menganggapnya sebagai “dejavu”. Cerita yang sama yang sekitar enam atau sepuluh kali mereka dengar.

ah…… masa kita tidak bisa, menyempatkan diri untuk sebentar mendengarkan orang tua kita bercerita. Perkara kita sudah hafal itu tidak jadi soal. Puluhan tahun kita sudah belajar berbicara pada mereka, mengeluh, meminta, menangis, memaksa, marah, semua kita ulang-ulang dengan mahir, sekarang saatnya kita belajar mendengar, sekali saja.

Menjadi tua itu pasti, menjadi membosankan???? Ah…. Tidaklah, mereka tidak membosankan, kita saja yang kurang pandai mendengar.

Lalu…. Aku mulai menikmati cerita apapun saja yang dituturkan bapak. Bapak bercerita, aku bercerita, sudah pernah sebenarnya kudengar yang bapak dongengkan, dan aku menanggapinya juga dengan tanggapan yang kurang lebih sama. Tapi ada yang bertambah dekat setiap kali ritual itu kami kerjakan.

“jadi, kalau sudah menikah itu kamu harus banyak belajar, belajar apa saja. belajar itu harus cerdas, ada cara-cara tersendirinya…………………” yap, disana, dibagian sana, aku yakin benar phytopthora akan muncul. Tapi pak, aku akan mendengarkan, pasti.

gambar dipinjam dari sini
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s