ILIR-ILIR

Lir-ilir, lir-ilir
Tanduri wis sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar.

Terakhir kali aku bertemu pohon belimbing adalah empatbelas tahun silam. Selepas itu belimbing seperti sedikit menghilang dari dalam ceritaku.

Dulu sewaktu kelas 6 SD, kami sekolah di bangunan dua lantai. Kelas 6 menduduki strata tertinggi dan oleh karnanya layak ditempatkan di lantai dua. Lantai atas. Kami bisa memandang-mandangi anak-anak yang berlarian di bawah. Sebuah pengalaman yang baru untuk bisa melihat dunia dari ketinggian seperti itu.

Kelas 6 berarti adalah hampir SMP. Les adalah wajib, tanpa terkecuali. Demi menghadapi ujian tingkat akhir, demi melanjutkan ke SMP yang bagus dan mutu.
Dari sinilah lantai dua dan belimbing menjadi berkah.

Sebuah rahasia umum pada masa itu adalah laki-laki tidak pandai me-manage keuangan. Itu sudah semacam aksioma. Dan aku tidak merasa punya kapasitas yang cukup untuk mematahkan dogma seperti itu. Jadi insting untuk membelanjakan terlebih dulu uang jajan yang dititipkan ibu, aku turuti saja.

Tiba di sekolah paling pagi, aku langsung ke kantin dan dengan riang gembira kubelanjakan uang jajan yang diberikan ibu. Seratus limapuluh rupiah. Padahal jaman dulu nominal sebesar itu masih cukup untuk membeli mie rebus untuk makan siang. Tapi semua planning ibu babak bingkas. Les tambahan dimulai saat pelajaran sekolah usai. Sedang separuh atau tiga perempat uang sudah aku jajankan pada pagi hari. Maka aku kelaparan. Begitu terus polanya setiap hari.

Memang masih juga tersisa uang. Kadang seratus, kadang tujuh puluh lima rupiah. Apa mau dikata. Uang segitu hanya cukup membeli mie saja. Tanpa air panas. Tidak direbus. Jadi sambil cengir-cengir aku beli saja mie instan, dan kuremukkan di dalam plastiknya, lalu bumbu-bumbu ditaburkan, dimakan seperti kerupuk. Tidak Cuma aku yang agak tolol seperti itu, adalah sekitar dua tiga orang temanku. Hal ini berlaku umum di kalangan pria.

Rasa lapar masih bisa diatasi dengan teknik begitu, tapi tidak untuk rasa haus. Bibir kami nantinya akan seperti orang kelamaan menyelam di sungai. Keriput dan berwarna ungu kehitaman yang jelek sekali. Bumbu mie itu entah mengandung apa dalam unsur-unsur kimianya tapi yang jelas kami sangat haus.

Meminta minum kepada anak-anak perempuan adalah hal yang menjatuhkan kredibilitas. Membeli es tentulah tidak lagi punya uang, maka pohon belimbing menjadi sebuah solusi.

Dibawah. Di lantai satu. Adalah kelas lima. Di depan kelas lima tumbuhlah sebatang belimbing yang besar. Dipagari bambu setinggi lutut orang dewasa. Menjulang tinggi pohon belimbing itu, dan rantingnya yang digelayuti buah ranum-ranum menyeruak masuk ke beranda kelas kami. Di lantai dua.

Konon, desas-desus yang beredar mengatakan bahwa belimbing itu kepunyaan kepala sekolah. Dari generasi ke generasi begitu, seperti tanah waris. Siapa yang menanamnya pada mulanya tak jelas. Kepala sekolah generasi terdahulukah? Tumbuh liarkah? Tak jelas. Hanya satu yang pasti bahwa siapa saja yang memanjat pohon itu akan dengan tidak hormat diteriaki oleh penjaga sekolah. Tak ada yang cukup berani memanjat pohon belimbing itu, tidak satupun melanggar teritori bapak kepala sekolah, kecuali kami, kelas enam. Rantai teratas dalam piramida SD Negeri 20.

Kami tarik-tarik ranting pohonnya, sebagian kami patah-patahkan. Dedaun berserak-serak di koridor. Baju kami kotor dan terkena getah-getah. Tapi kami mendapatkan satu dua butir belimbing. Kecil dan asam. Tapi mengobati haus seperti musafir bertemu oase. Dalam delik hukum kami tidak bersalah. Penjaga sekolah tidak pernah meneriaki kami, kami tidak memanjat pohonnya, Cuma numpang menarik-narik ranting yang menggoda bertandang ke beranda.

Sebatas itu saja persinggunganku dengan belimbing. Tidak kurang. Tidak lebih. Sampai waktu tadi sore aku duduk di atas batu, dibawah batang ranum. Menunggu istri yang sudah setengah jam lebih masih juga belum keluar dari kantor. Sesekali celingak-celinguk aku baru sadar bahwa teduh yang kukecap dari tadi sekali ini ternyata adalah naungan belimbing.

Belimbing tiba-tiba hadir lagi. Seperti surprise. Tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Sudah belasan tahun ini menghilang dalam konstelasi kehidupanku tapi sekarang dia ada, dan tiba-tiba berjasa.

Entah bagaimana, aku tiba-tiba teringat akan sebuah tembang jawa yang syahdan disusun lariknya oleh sunan kalijaga. Hampir semua orang pernah mendengarnya, atau paling tidak merasa dekat dengan lantunan nada-nadanya meski tidak tahu itu apa.

“ilir-ilir”

Bangunlah…bangunlah
Tanaman sudah bersemi
Demikian menghijau
Ibarat pengantin baru
——————————
Anak gembala
Panjatlah “belimbing” itu
Meski susah tetaplah panjat!
Untuk membasuh pakaianmu
——————————
Pakaianmu terkoyak-koyak dibagian samping
Jahitlah!
Untuk menghadap nanti senja
——————————
Mumpung bulan bersinar terang
Mumpung banyak waktu luang.

Katanya, belimbing dalam syair itu adalah perlambang, metafora lima pilar agama diwakilkan pada belimbing yang bergigir lima. Jika disayat maka bintang segilima akan tampil dengan indah, elegan. Apa benar seperti itu aku tidak tahu, aku tidak hidup semasa dengan sunan kalijaga.

Tapi pasti bukan suatu kebetulan kalau sore tadi aku menjemput istriku, lalu iseng-iseng keliling mencari tempat berteduh dan menemukan pohon rindang yang dibawahnya ada batu besar, lalu istirahat sampai setengah mengantuk.

Lalu tembang itu muncul. Aku merasa seperti di tengah sawah, aku bersila di dalam pondok bambu kecoklatan. Ada kakek ditengah-tengah pematang memancing dan sebentar kemudian menarik kail yang diujungnya ada ikan mas sebesar betis menggelepar-gelepar.

Aku seperti di teras rumah panggung, dengan sarung putih kotak-kotak, memegang sebuah alquran besar keemasan. Di kepalaku bertengger kopiah hitam kebesaran. Ujung jemari tangan kananku mengapit bambu yang sudah diserut setipis lidi sapu, lalu menunjuk-nunjuk aksara arab besar warna hitam dan bersenandung “a… ba….ta….tsa”

Menjelma kemudian aku di sebuah masjid putih belum jadi, lantainya dilapis karpet hijau kasar khas masjid-masjid pinggiran. Gelombang-gelombang tanah belum tersemen utuh dibalik karpet itu terasa benar. Dan aku sedang rukuk-itidal-lalu sujud berjamaah dengan kawan-kawan yang setengah mati untuk tidak tertawa. Kami masih kecil sepertinya dan mulai belajar arti bahwa duapuluh tujuh derajat lebih utama bersama-sama dibanding sendirian.

Saujana terbentang dengan gambar yang bergonta ganti, aku kecil, masuk SD, disunat, mengaji, sholat berjamaah, ada surau, ada mengapit quran besar di dada, ada kilas waktu malam-malam lari-lari aku pulang dari TPA, ada tarawih dan mencatat ceramah-ceramah, ada semangat isra’miraj kelas enam SD, ada sholat subuh pagi hari, lalu hilang.

Belasan tahun terlewat setelah masa itu tidak ada lagi yang sama. Banyak yang hilang dalam keseharianku, padahal belimbing mungkin terserak dimana-mana tapi baru sore ini aku terbangun lagi.

Ilalang di depanku “ilir-ilir” melambai-lambai, aku berdiri sebentar lalu meregang-regangkan badan.

Ah…….. akan kupetik belimbing lagi
Meski susah tetaplah panjat!
Untuk membasuh pakaianmu.


ilustrasi gambar pinjam dari:siini

One thought on “ILIR-ILIR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s