SEBERANG NASIB

Suatu hari, jembatan yang menghubungkan dua desa terputus. Para penduduk dari kedua desa berkumpul di pinggir sungai besar yang berarus deras. Hujan tadi malam telah merobohkan apapun yang menghalang. Semua kegiatan menjadi terganggu. Tidak ada orang yang cukup konyol untuk menyeberangi jembatan itu dengan berenang. Tak ada rakit. Dalam kerumunan massa yang masih terperangah atas kejadian itu, tiba-tiba seseorang berkata.

“ah….. aku tahu perkaranya, inilah letak kebodohan pembangun jembatan ini, dia tidak mengindahkan proporsi campuran semen dan pasir, ini juga batu kali murahan, wajar saja jembatan ini rubuh. Konstruksi apa-apaan ini?……” orang ini nampaknya ahli dalam hal konstruksi bangunan, maka dia terus mengkritik bangunan jembatan yang sudah roboh itu.

Tidak seberapa lama kemudian seseorang menimpali “ah…. Kurasa bukan itu masalahnya, memang hal ini dikarenakan struktur tanah yang terus mengalami penurunan, ditambah lagi gerusan banjir di pinggir dinding sungai ini, itulah lemahnya pengetahuan para petinggi desa ini, tidak pernah mereka itu sedikit bertanya pada para ahli kebumian” seorang ahli lagi mengomentari dengan sinis.

“ya terlepas dari itu semua memang mental petinggi desa ini sudah buruk. Aku yakin mereka sudah mengkorupsi dana pembangunan jembatan ini, apa yang kita bisa harapkan, dari kualitas jembatan hasil sisa-sisa korupsi. Sampah!!”
————————– ————————– —————–

“mas, sudah ga bisa check-in lagi, udah mau terbang pesawatnya” istriku menelpon. Aku berada di depan terminal keberangkatan salah satu maskapai penerbangan.

Beberapa jam sebelumnya kami berada dalam sebuah taksi. Berbincang sedikit sambil sesekali mencuri pandang, ke arah argo yang berlari secepat kuda binal. Aku agak sedikit tidak percaya pada taksi dengan merk yang tidak familiar, tapi ini urusan penting, waktunya sempit, maka demi mengejar jadwal pesawat ke bengkulu, kami ikhlaskan uang dari saku untuk membayar taksi, harganya sudah hampir menyamai harga pesawat kelas promo paling murah. Biarlah, karena besok istriku harus sudah ada di bengkulu menghadiri pelantikan calon pegawai negeri sipil.

Jalanan macet. Sebuah cerita lama di Jakarta, cuaca hari itu cerah, sedikit panas. Kami tiba di depan terminal, mungkin 45 menit sebelum waktu keberangkatan terjadwal. Tanpa banyak basa-basi istriku langsung mengantri masuk ke dalam, dan aku melambaikan tangan. Memang niatnya aku hanya mengantarkan saja.

Lepas dari pandanganku, istriku sudah masuk ke dalam. Aku berjalan pelan dan berencana hendak langsung melompat ke dalam bus. Pulang menuju kontrakan sebelum kemacetan senja membuat jakarta jadi tampak lebih tua dari usianya. Tapi seperti ada yang menahanku.

Aku duduk sebentar di bangku panjang warna hitam. Dan benar saja, tak lama kemudian terdengar panggilan dari pengeras suara. Penumpang jurusan Jakarta-Bengkulu dipersilakan naik pesawat!!

Ada yang tidak beres, kupikir. Kulihat jam masih menunjukkan 15 atau 20 menit sebelum keberangkatan yang tercantum di jadwal. Dan aku yakin istriku pasti tidak bisa menerobos lautan manusia yang mengantri seperti itu. Lalu HP ku berdering. Dilayarnya tertulis nama istriku, sebelum aku angkatpun aku sudah tahu bahwa dia sudah tertinggal pesawat.

Aku panik. Itu penerbangan paling sore. Tidak ada lagi penerbangan ke Bengkulu setelah itu. Tapi hasrat ingin memastikan itu masih meluap, maka aku sambangi kantor pemasaran maskapai itu, “tidak ada lagi pak” jawabnya. Aku terduduk lesu. Bagaimana ini??? Acara yang harus dihadiri istriku adalah jam 7.30 pagi. Tak ada pesawat yang terbang cukup subuh untuk menghadiri itu besok pagi. Pesawat tadi adalah harapan terakhir.

Tapi maskapai tidak hanya ini, kupikir. Aku  berlari-lari ke maskapai sebelahnya, dan sebelahnya lagi, dan sebelahnya lagi. “tidak ada”, “sudah terbang jam 1 tadi”, “sudah tutup”. Semua menjawab begitu. Aku kesal. Tidak lama kutelpon istriku. Dia masih berdebat dengan pegawai maskapai, perdebatan yang panjang dan lama, tapi hasilnya sudah bisa diduga, tetap tak bisa.

Dalam kebingungan seseorang berjaket levis menghampiri. Tidak perlu lama, aku tahu bahwa dia adalah calo. “ini mas, ada, tiket bengkulu, sudah check-in” katanya. Dalam situasi seperti ini aku ada dalam kondisi tidak bisa memilih.  Aku mengiyakan, lalu seperti kesetanan kami berlari menerobos kerumunan. Orang-orang terbelah. Aku hampiri istriku di depan pintu keluar. Tanpa banyak kata dia kutarik membelah antrian dan masuk lagi melewati pintu pemeriksaan.

“nanti kalau sudah naik pesawat baru kita ngobrol” kata calo itu, mungkin dia agak pandai membaca raut mukaku. Dari tadi aku menganggap mungkin ini salah satu pertolongan tak diduga, tapi juga was-was berapa tarif yang dipatok calo ini???

Kami menerobos banyak penjagaan, sang calo kemudian dengan gaya meyakinkan menelpon nomor salah satu petugas maskapai, entah darimana dia mendapatkan nomornya, lalu bergaya seperti protokoler bandara bahwa ada seorang penumpang tertinggal dan harus naik ke pesawat. Lama mereka berdebat, kami hampir sampai ke tangga naik, di depannya petugas airport tax sudah siap memungut bayaran, tapi tiba-tiba sang calo menggeleng. “sudah ga bisa lagi pak, sudah tutup pintunya, pesawat sudah mau terbang” katanya.

aku pasrah, kami berjalan lagi ke pintu keluar dengan menyeret kaki.Aku bawa sebagian barang-barang istriku. Tak ada harapan. Lalu kami duduk di bangku panjang warna hitam itu lagi. “gimana, Mas??” tanyanya.

Macam-macam perasaan bergejolak di hatiku. Ingatan tentang ratusan ribu yang sudah hilang karna menunggangi taksi abangan, tiket pesawat yang hangus karna tak bisa di-refund, penerbangan yang tinggal satu-satunya sudah melejit ke atas awan, dan membayangkan waktu bergeser pelan sedetik-sedetik untuk kemudian nanti mengejutkan kami dengan angka 7.30 esok pagi.

Tidak bisa, harus ada jalan. Dalam situasi seperti ini, naluri yang muncul adalah mencari kesalahan. Kenapa tidak tadi lebih awal??? Kenapa istriku berdandan terlalu lama? Kenapa supir taksi itu tidak memilih rute yang lebih pendek? Kenapa maskapai ini terbang 15 menit sebelum keberangkatan? Kenapa maskapai yang lain hanya menyediakan satu kali penerbangan? Bagaimana kalau aku kritik saja maskapai ini dengan mengirim surat pembaca ke koran??? Dengan logika yang kalut, maka semua seperti tertuduh.

Istriku diam saja, tidak berkomentar apa-apa. Kami hampir beranjak dan meninggalkan bandara, tiba-tiba aku terfikirkan, kenapa tidak kucoba penerbangan transit saja???

Kutekan nomor telp, dan berulangkali kutanyakan penerbangan transit. Adakah rute bengkulu dari kota selain jakarta??? Jawabnya nihil. Tak ada, semua penerbangan bengkulu adalah transit dari jakarta.

Ada yang melesat-lesat dalam hatiku. Membuat semua penerbangan menuju kota kecil, hanya dari jakarta, adalah keputusan yang konyol. Aku mulai kesal dengan jalur penerbangan. Begitulah insting bawaan manusia. Kita lebih senang mengutuk-ngutuk keadaan, ketimbang mencari pemecahan.

————————– ————————– ———————–
Semua penduduk di desa itu meng-iyakan ocehan para ahli, dan ikut mengeluarkan sumpah serapah masing-masing dengan gayanya sendiri.

Selang berapa waktu kemudian, lewatlah seorang pemuda biasa, seorang tukang kayu yang membawa kapak di dalam keranjangnya. Sebentar berbincang dengan sekalian orang maka dia tahu apa yang sedang terjadi. Tanpa banyak berkomentar dia keluarkan kapak dari keranjangnya, dan menuju ke sebuah pohon besar di pinggiran sungai. Dihantamkannya kapak itu berulang kali kepohon sampai batang besar itu tumbang melintangi bentang sungai.

Tanpa banyak bicara dia menyeberang ke desa sebelah sana, meniti pohon yang kini menjembatani dua desa. Para penduduk terdiam juga seketika, lalu satu persatu orang menyeberang.
————————– —————————————————-
Sejenak aku menarik nafas dalam. Orang-orang hilir mudik, tidak ada yang peduli bahwa aku dan istriku sedang duduk di bangku panjang hitam, membawa banyak tas dan memasang tampang paling mengenaskan dari orang yang tertinggal pesawat.

Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, selain perasaan sedikit lega –perasaan yang semu- adakah menimpakan kesalahan pada orang lain akan memberikan pemecahan???

Tiba-tiba sebuah ide muncul begitu saja. Ah….. terbanglah ke kota terdekat dari bengkulu, di sumatra, dan setelah itu tempuhlah jalur darat. Mungkin bisa tiba di kota raflessia itu pagi hari.

Aku gembira tak karuan. Lalu bergegas menelpon ke maskapai manapun yang bisa kutelpon. DAPAT!!!! Penerbangan menuju palembang ternyata masih ada yang kosong. Terminal 2, maskapai garuda menyediakannya untuk jam 19.30 malam ini, dengan harga yang fantastis.

Sedikit terkejut, tapi tidak ada pilihan. Dan aku sepertinya harus menemani istriku untuk keberangkatan ini, karna tak mungkin ia menempuh perjalanan malam hari jakarta-palembang via udara, dan Palembang-Bengkulu jalur darat, sendirian.

Istriku sibuk mencari no telp travel, bus, mobil, atau apapun yang bisa menjemput dan mengantarkan kami ke bengkulu dari palembang, dan aku mengantri di loket Garuda.

Tiba-tiba berita mengejutkan seperti merubah aura keseluruhan hari itu. Kartu keanggotaanku di Garuda sudah memiliki banyak poin hadiah, dan aku bisa mendapatkan tiket penerbangan Jakarta-Palembang gratis. Alhamdulillah…… hampir tidak percaya. Sebentar kemudian aku menoleh ke istriku dan ingin mengabarkan hal ini kepadanya, dia berkata, “mas… travel palembang-bengkulunya sudah dapat, nanti jam 9 kita dijemput di bandara”.

19.45
Kami sedang melayang di ketinggian jelajah entah berapa. Seorang pramugari menawarkan minuman. Aku meminta segelas cola tanpa es, sambil memandang keluar jendela. Awan berkabut. Dan aku sungguh yakin tak ada gunanya merutuk nasib.

————————

gambar ilustrasi dipinjam dari sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s