PINUTUR PEGAS

Ada seonggok besar pengganggu di ruangan ini!! pria dengan berat duakali beratku, duduk menghadap buku-buku tebal, dan membaca dengan silent.

Sebenarnya semua yang ada di ruangan ini adalah kombinasi sempurna yang meneduhkan mata. Lantai karpet beludru coklat. Pelapon yang temaram dan indah seperti laut susu. Wallpaper krem yang lekat di dinding. Tutup lampu yang coklat gelap. Sofa lembut yang berbulu-bulu putih kotor. Semuanya serasi dan menenangkan, kecuali dia, pria tambun yang sudah membaca dari bangun subuh hari, setelah makan siang, sebelum berenang di kolam sore-sore, setelah makan malam, dan sambil mengigau waktu tidur.

Ini gelagat tolol. ujian masih seminggu lagi, dan sejak kemarin dia sudah membuatku merasa inferior, cemas mengerati kulit-kulitku setiap detik, rasanya semakin banyak paragraf yang dia baca, semakin aku terancam.

“bert… Sudah dulu membacanya, muak aku lihat kau membaca terus!!!”. Aku tidak bisa menikmati waktu liburan sabtu minggu, dengan memikirkan rekan sekamarku belajar seperti orang gila.

“kenapa kamu, lagi sensi???” tanyanya.

Di saat seperti ini dia balik bertanya???  Ketidak pekaan yang konyol. Oke, memang tidak ada yang salah dengan menitisi bakat rajin tiap hari, tapi ketidak pekaan adalah kecacatan yang harus dioperasi.

“come on….. Masih seminggu lagi ujiannya, sekarang saatnya santai-santai nonton TV”. Aku berusaha menyadarkannya dari ancaman gila karna terlalu banyak belajar. Aku tidak mau rekan sekamarku pada waktu training di salah satu perusahaan service migas, menjadi  gila karna terlalu banyak mengutak-atik reaksi hidrokarbon.

Mungkin paduan dari jadwal padat training yang melelahkan, dengan fakta bahwa Ini negri yang panas, membuatnya jadi senewen. Bayangkan saja, setiap kali keluar dan bermandi ultraviolet, kulitmu serasa dipanggang, seperti daging sapi irisan di resto hanamasa. Kalimantan memang dilewati garis equator. Untunglah aku tidak dilindas persis, hanya selisih berapa derajat saja, tapi itu juga rasanya sudah bukan main. Untung juga aku masih waras, belajar hanya sekali sehari, dan dia mulai membutuhkan dokter jiwa sepertinya.

“aku tahu kelemahanku, apa-apa yang kalian bisa tangkap dalam sekali lintas, bagiku butuh dua tiga kali baru paham. Karnanya aku selalu belajar dua kali lebih keras, agar bisa mengimbangi kalian-kalian”. Dia menutup bukunya, tapi jari tengahnya disisipkan kedalam lembaran terakhir yang tadi dia baca. Cara yang simpel, aku yakin barang sedetik dua detik lagi dia akan membukanya kembali kapan aku lengah.

“ah……. Berlebihan kau”. Aku mengomentari kesal. Mengetahui kelemahan diri sendiri memang salah satu bentuk kesadaran pribadi yang utuh. Tapi kali ini dia berlebihan. Aku tahu, orang yang bisa menjelaskan definisi dan kegunaan “diferensial integral” matematika yang menyebalkan itu, dalam kehidupan nyata, adalah hampir pasti bukan orang pas-pasan

————————————–

Dulu dia kurus, katanya, tapi aku hanya mengenalnya dengan perawakan sebulan lalu agak gemuk, dan sekarang tambun. Dibesarkan di tanah jawa. Bapak ibunya batak. Tak ada darah jawa yang mengaliri nadinya. Tapi keseluruhan tutur-pinuturnya seperti abdi keraton.

“Hah??? Kau orang batak?” begitulah reaksiku waktu pertama kali aku berkenalan dengannya, di sebuah kantor di bilangan jakarta selatan, waktu kami masih sama-sama anak baru lulus kuliah, dan diterima bekerja bagi kami seperti sebuah anugerah dari langit.

Sebentar saja, kami sudah bisa mencocokkan irama. Dia orang yang sederhana, seperti orang jawa kebanyakan. Kami tinggal bersebelahan kosan di cilandak, berangkat kantor berbarengan, dan kemudian ditempatkan di ruangan yang sama di hotel bintang empat sewaktu kami training di kota balikpapan ini.

Mulanya seperti persinggungan dengan kota ini, tidak ada yang menarik, biasa saja, tapi lama kelamaan aku mensaluti pribadinya.

Setiap malam, seusai makan malam, kami bertandang ke kamar teman sebelah menyebelah, saling mencontek-contek PR yang harus dikumpul besok pagi waktu training, lalu setelah itu kami menonton tv discovery channel, sambil makan keripik kentang, kami bertukar cerita tentang pengalaman hidup.

laiknya berbalas pantun. Aku menceritakan tentang empat bersaudara yang kesemuanya laki-laki, lalu dia menceritakan ke-eksklusivan menjadi satu-satunya lelaki di keluarganya. Aku menceritakan tentang kesulitan-kesulitan yang pernah aku lalui, dia menceritakan hal sama yang selalu saja setingkat lebih mengagumkan.

“Hah!!! Terus….. terus!?” selalu begitu reaksiku setiap kali potongan kehidupannya dituturkannya seperti dalang merapal kisah wayang.

Mulanya cerita yang klise, kesusahan ekonomi. Aku tidak memerdulikannya. Drama yang sudah pernah aku rasai. Sampai kemudian pada bagian dimana dia dan kedua kakaknya, juga Ayah Ibunya, pernah makan hanya dengan satu  mangkok mi ayam dibagi lima, aku mulai tertarik.

“Hah!!! Terus…??” reaksiku waktu itu.

“aku kan tinggal di dekat bandar udara jogja” dia mulai bercerita. “jarak yang harus kutempuh dua kali perjalanan naik bus ke kampus UGM” dia mengambil satu lagi keripik dan bercerita sambil mengunyah.

“akhu hanya dibewri uwang cukhupw untwuk ongkosh…”

“Habiskan dulu keripik di mulutmu itu!!!” aku mencecar. aku harus konsen mendengar cerita berhikmah, dia malah menceritakannya sambil memonyongkan bibir yang penuh kentang tipis.

Kriuk-kriuk sebentar dia melumat kripik, sepertinya kulihat dia memang sekarang lebih gemuk dari berapa waktu lalu.

“aku hanya diberi uang cukup ongkos, jadi kalau aku mau jajan, atau ada keperluan lain, aku harus menghemat dengan caraku sendiri” dia melanjutkan tanpa cemilan di mulutnya.

Lalu dia bercerita semangat sekali. Aku merebahkan punggungku ke sofa beludru, menaikkan kakiku ke tangan kursi, dan membayangkan gamelan jawa beriring-iringan. Dia pergi dari rumah menaiki bus, dan turun di setengah jalan menuju kampusnya. Setelah itu berjalan kaki di trotoar yang disekat-sekat karbonmonoksida bus damri tua jogjakarta hadiningrat, begitu dia bilang.

Sesampainya di kampus, yang tersisa hanyalah kaki pegal dan keringat yang berjuntai-juntai di baju.

Gamelan berbunyi lagi di kepalaku, malam bergulir dan kantukku hilang.

Setiap hari dia membawa dua buah baju, katanya lagi. Baju kemeja yang rapih menggantikan kaos yang digenangi asap knalpot, lalu dia duduk di bangku kelas.

“Terus… terus…..?” aku merespon repetitif dan tidak kreatif sama sekali.

“nah… waktu itu aku punya pacar, kan sudah pernah kuceritakan padamu…” dia menjawab sambil bergeser sedikit, dikecilkannya discovery channel di TV sharp besar itu.

Ceritanya mengalun dan tercetak seperti gambar foto. Setiap hari dia mengumpulkan sisa-sisa ongkos yang dia hemat, dan dengan itulah dia bisa mentraktir pacarnya makan baso di kantin sekolah, setiap sabtu. Ini pertaruhan gengsi juga rupanya. Begitu terus berbulan-bulan.

Sampai suatu ketika, sang pacar merasa tidak lagi mampu mengikuti ritme hidup semacam itu. Dia dan segala style-nya itu seperti centang prenang yang tidak bisa disusun-susun lagi. Mereka broke-up. Kawan batak jawa-ku ini tadi terpuruk.

Semakin hari dia semakin larut dalam romantisme duka, tak ada pelarian, tak ada teman. Tidak satupun kegiatan mengalihkan dia dari duka yang terlampau larat. Kegiatan apapun di luar perkuliahan dia jauhi. Kegiatan kemahasiswaan  adalah equal dengan pulang lebih sore. Pulang sore berarti harus punya uang makan, dan itu logika yang salah buat dia. Satu-satunya kemungkinan dia untuk makan adalah pulang segera kerumah setelah kuliah berakhir. Dan tentu kesendirian dirumah adalah hantu yang membuat segalanya terlihat dua kali lebih suram.

Dia tertinggal. Teknik mesin yang berkutat dengan permodelan mengharuskan komputer dikuasai dengan baik, sedang dia tak punya komputer. Tak satupun orang senat mahasiswa yang mengenalnya. Dia kuliah dengan semangat yang setengah-setengah dan nyaris  padam. Manusia marjinal yang ada atau tidak adanya dia dalam konstelasi kampus  tidaklah diperhatikan orang lain. Rekan-rekan lupa bahwa namanya juga tercetak di absen perkuliahan, dan menerima struk IPK sementara pada akhir semester dengan nilai 2.2

“Hah???? Terus… terus……..” aku menurunkan kaki dari tangan sofa.

Disaat itulah, katanya, dia seperti orang yang kehilangan arah dan hendak menyerah. Pacarnya sudah digandeng orang lain, kabar-kabarnya. Seorang perwira polisi yang mungkin bisa mentraktirnya makan baso seminggu lebih dari satu kali.

Kesendirian yang terlalu sepi membuatnya memutuskan mungkin mencari kerja dan berhenti kuliah adalah pilihan bijak. Tapi seperti ada yang mengganjal. Hutang ayah dan ibunya, juga kakaknya yang sekali-kali memberikan dia jajan, rasanya terlalu berharga untuk diganjar dengan kuliah setengah jalan, dan semangat menghadapi hidup yang “tempe”. Satu-satunya yang bisa dia lakukan untuk membalas jasa semua orang-orang itu adalah menyelesaikan kuliah.

Merasa tidak lagi ada tempat bergantung dan membagi keluh kesah, maka dia pelan-pelan bangkit. Setiap hari dia bertahan di kampus sampai sore, dan menyambangi lab komputer kampus untuk belajar mengoperasikan semua program. Prinsipnya adalah meskipun tidak memiliki komputer, tidak berarti tidak melek teknologi.

Setiap ada kesempatan, dia dan beberapa orang teman berlatih berbahasa inggris. Mayoritas mahasiswa menganggap mereka sinting. Berkoar-koar mengobrol bahasa inggris di keramaian, terlebih lagi tak masuk grammar, tapi mereka tidak peduli.

Jika orang belajar satu jam, dia mengulangnya dua jam. Dan segala hal yang dia tidak paham dibacanya terus sampai dia menjiwainya. Dia tidak pernah tahu dia sudah berjalan lebih jauh dari orang-orang, sampai suatu ketika, lelaki yang tadinya tidak pernah diperhitungkan orang ini, menjadi tempat bertanya bagi kawan-kawan satu almamater. Setiap ada benturan, dan mereka tidak memahami apakah itu filosofi sebuah teori, apakah itu penerapan praktis sebuah ide-ide, maka mereka tahu siapa tempat bertanya, pria keturunan batak murni yang segala tutur-pinuturnya itu terlampau jawa.

Lalu cerita untuk babak itu ditutup, happy ending yang menyenangkan. Lulus dengan ipk 3.4. Diterima bekerja di perusahaan mentereng berkat praktek percakapan english ngawurnya itu. Dan sang permaisuri yang dulu hilang akhirnya kembali.

Aku bertepuk tangan…… aaah….luarbiasa. sulit benar percaya bahwa ini kisah nyata.

Balikpapan hujan. Kami ada di lantai 5 hotel bintang empat. Aku sedikit mengantuk. PR buat kelas training besok masih ada sekitar dua atau tiga lagi yang aku  belum jawab. Kukemasi buku-buku serampangan kedalam tas, mataku perih, rasanya ingin rebah dan terlelap segera.

“bert…” sambil menguap aku melepaskan rasa penasaranku yang terakhir “bukannya sulit, untuk membangkitkan semangat diri  sendiri? Maksudku… kalau ada orang lain yang memberikan kata-kata semangat, mungkin saja kita bisa terbakar, tapi kalau menyemangati diri sendiri? Apa yang kamu doktrinkan ke dirimu itu?”

“PEGAS!!” dia menjawab sambil menguap.

“pegas???” aku tidak paham.

“ya……” katanya. “setiap kali aku dalam kondisi terpuruk, aku bayangkan bahwa diriku adalah pegas. Tekanan hanya membuatku memampat. Aku tidak mati dan hancur, hanya mengumpulkan tenaga,  sampai menemukan momentum yang tepat untuk melenting”

“bukan main……..” aku terperangah. Sangat terkesima aku dengan prinsip seperti itu, tapi tetap saja aku mengantuk.

“boleh aku kopi kata-katamu barusan, bert?” tanyaku sambil bercanda.

“hahahaha…. Kopi aja” katanya.

“oke…sekalian PR dua nomor essay terakhir besok pagi kukopi juga”.

————————–

gambar dipinjam dari sini

12 thoughts on “PINUTUR PEGAS

  1. TOP gan ceritanya sampe mbrebes(berkaca-kaca) mataku…..ayo kita menjadi “pegas” yang siap melenting menembus langit!!!!!!!!

  2. permaisuri yg hilang kembali lagi??? mbak D**n kah, yg sempet terserempet pesona pria bersergam dan bersepatu prok2 itu ????;p

    jd penasaran klo kmu bwt crita ttg malun..king of nggambleh itu…ahgagahgaag..

    nice konten bro…gag perlu RPM konten klo smua blogger kyk kamu…thx a lot bwt inspirasinya??

  3. ada dua tipe orang di dunia ini dlm hal kerja:
    bekerja cerdas dan bekerja keras

    bert mungkin bukan orang cerdas, krn itu dia memilih utk bekerja lebih keras (dlm hal belajar ^^) dbandingkan orang lain,, dan terbukti dia bisa!

    nice sharing ^^v
    like this gan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s