SARKASME OMBAK

Aku mencium sarkasme dari bau ombak. Dibawa angin yang menyeruput ego dari ceruk paling dalam nadiku. Ini sudah ketiga, tahun dimana aku mencicipi wangi asin garam, membelah biru tua laut dengan buih susu kecil-kecil limpasan baling-baling speed boat.

Kapal-kapal besar pergi dan datang. Orang-orang berebut menarik pelampung dan meniti tangga yang berjungkat-jungkit dialun air. Aku marah dengan kecuekan suasana ini. Pagi yang terlalu canggung. Dermaga yang berjejal-jejal. Terlalu banyak yang aku tidak tahu, dan semua seperti memainkan tarian diam.

Speedboat bergerak. Meluncur pelan di speed sekian knot. Aku pelupa yang parah….sekian kali aku menumpang di kapal peluncur ini dan tidak juga paham aku berapa kilometer perjamkah itu satu knot?

Tiba-tiba aku marah, pada memori yang terlalu gembur. Kemarahan selama ini disimpan dalam lipatan-lipatan laci, lalu terbuka kembali. Cuma sebuah tekad yang mendesing kencang di telingaku, bahwa puluhan tahun lalu aku sudah menisbatkan kemarahan untuk tidak pernah menempel pada segala sesuatu yang kurang prinsipil dan tak jelas.

Kapan terakhir kali aku marah besar? Aku tidak pernah ingat. Sedari kecil aku besar dalam tata nilai yang ketat. Aku menyerap sebisa mungkin semua kebaikan yang tumbuh serabutan disekitarku, tapi aku tidak belajar untuk marah.

Aku membenci kemarahan. Sesuatu yang sporadis dan meletup-letup adalah sangat tidak “aku”. Bagaimanapun kesalnya, aku lebih memilih diam. Aku terlalu menyedihkan bagi diriku sendiri apabila marah. Bagiku marah adalah kehilangan. Sesuatu seperti lepas dari kekang lalu menjadikan kita seperti bukan tuan bagi mulut dan tatapan nanar kita sendiri. Aku tidak pernah menyukai saat-saat dimana aku meng-astaghfirullah-kan lontar kata, atau laku ku sendiri. Maka kemarahan adalah sebuah “kata benda” yang hilang, dari kamus kebijakan hidupku sejak mungkin duapuluhan tahun silam.

Setelah itu drama seperti burung-burung camar saja. Dibackground-ni oleh matahari yang tua dan bulat penuh berwarna merah tua ke-orange-an, lalu berkecipak pelan seperti genang laut. Sunset yang terlalu baik dan klise.

Ketenangan yang terlampau indah lama-lama seperti kesunyian. Ada sesuatu yang membuat nyaman disana, tapi selalu saja diujungnya ada potongan yang kurang. Dari keseluruhan bingkai-bingkai gambar hidup yang disuruk-surukkan menjadi kolase, ternyata terlalu tenang dan damai adalah belum menggenapi pigura.

Maka aku marah…..
Marah pada duapuluh tahun yang seperti ketelingsut oleh perjalanan yang kurang cekatan.
Marah juga aku pada setiap kesalahan yang berulang dan ritmis. Bahwa hidup haruslah membaik dan menjadi semakin cerah setiap detiknya agaknya masih pemeo orang-orang dulu, maka aku marah dan menghardik kepada kinerja otak yang lamban untuk menjadi cerdas dan menyerap kebijakan: hidup itu singkat, tidak cukup waktu buat kita untuk belajar dari kesalahan diri kita sendiri, maka belajarlah dari kesalahan orang lain.

Sebuah tempat limabelas menit lagi akan kusambangi. Pekerjaan yang mengantarkan “tiket” perjalanan hilir mudik. Melompat-lompati daratan, udara dan laut. Hari sudah bergulir sejak tadi dini hari sekali, sedang aku masih menolak matahari pagi yang memantul-mantul di dentum-dentum air.

Speed boat hampir merapat ke dermaga, dan aku mencium sarkasme dari bau ombak. Adrenalin berkecipak di pembuluh nadi, mungkin hanya alam yang pantas sombong.

Iklan

4 thoughts on “SARKASME OMBAK

  1. marah itu merupakan penghamburan energi, biar hemat energi, ada 2 cara yg bisa dipake ketika marah datang :
    1. diam, cara yang paling efektif kan,,
    2. alihkan energi marah kia ke hal yang lebih bermanfaat, misal ambil kain pel, pel lah itu lantai sampai kinclong,,haha..
    aku marah, kenapa aku tidak bisa menyalurkan semua kebaikan yang telah kuserap..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s