PREAMBULE HIDUP (part 1)

“so…. Be honest, are you really interested to join our company???”
Bagian ujung kata-kata itu mendengung dan berulang-ulang terdengar di telingaku. Entah apa yang membuatku tiba-tiba menjelma tolol dan menjawab pertanyaan itu dengan sungguh serampangan.

————————————
Pernahkah, rekan-rekan, kalian merasakan seperti sesungguhnya tidak punya daya, tidak punya andil dalam menentukan aliran paragraf hidup kalian, tidak punya kekuatan untuk mengubah sebuah tema besar novel dunia yang memaksa setiap sub bab dalam kehidupan kita untuk sesuai dengan plot? Seperti itulah yang kira-kira aku rasa waktu itu. Nothing to loose, aku pasrah sampai titik nadir.

Mungkin ini keajaiban cinta. Aku diselamatkan oleh takdir manis di prosa hidupku. Agak-agak tidak percaya bahwa aku bisa menembus saringan tahap pertama, kedua, dan sekarang bersama dengan sekian orang aku bercokol di tahap akhir.

Tiga tahun lalu, mungkin juga tiga tahun lebih berapa bulan, waktu itu aku sudah kira-kira setengah jam berada di sebuah ruangan hotel besar di pinggiran jalan juanda bandung. Sebuah lobi disewa oleh perusahaan besar service dunia migas yang orang biasa panggil dengan “the reds”.

Dengan menanti pasrah, duduklah kami di bangku panjang hitam berderet, sekitar dua puluhan orang pelamar pekerjaan yang tersisa dari ratusan kandidat pada seleksi tahap satu sebelumnya. Kupilih bangku paling dekat dengan pintu, lalu terdiam dan menopangkan daguku dengan tangan.

Aku merasa aneh juga. Kenapa aku bisa tidak grogi? Padahal disekelilingku puluhan kandidat lain duduk dengan posisi yang seperti mencerminkan kemungkinan lolos sangat besar. Sebagian berdasi dan berjas kelimis. Berkaca mata dengan frame tipis yang luar biasa elegan. Ah…. Entahlah, ,aku selalu merasa inferior jika bersebelahan dengan mereka-mereka yang seperti aku sebut tadi, tapi hari itu tidak. Aku sudah merasa bersyukur untuk lolos saringan hingga tahap akhir, maka itu sudah kuanggap pencapaian. Berhasil alhamdulillah, tidak berhasil rasanya pun tidak terlalu sakit hati.

Satu persatu rekan-rekan di sebelahku dipanggil memasuki ruangan. Hening yang terlalu senyap membuat aku bisa mendengar detuk sepatu mereka ke lantai, suara bangku yang diseret, dan sayup-sayup suara pewawancara yang mencecar, “why do u want to join our company?”. Selebihnya hanya sayup-sayup tak jelas.

Padahal aku tidak fasih berbahasa inggris tapi nyatanya itu prasyarat penting dalam pertandingan ini.

Aku sepenuhnya sadar, dibandingkan dengan kebanyakan orang, maka kemampuan inggris-ku pastilah jauh dari kelayakan. Sedari kecil, pertama kali bertemu dengan bahasa dunia itu, sudah terlalu banyak rupanya aku dijejali dengan makanan gramatikal. Berpusing-pusing dengan tatanan waktu dan pola diterangkan menerangkan yang terbolak balik rupanya sudah membuat aku agak hilang fokus. Padahal kupikir dari kita pertama kali belajar berbicara, kita tidak pernah dibingungkan dengan mana subject mana predikat? Toh anak umur berapa tahun bisa berbicara. Tapi tidak ingin rasanya mendebat metode pembelajaran yang sudah diracik para ahli, dan aku dengan rendah hati mengakui bahwa vocabulary yang banyak tidak juga akan bisa disulam rapih tanpa pemahaman grammar, tapi tetap saja aku fakir bahasa. Maka sejak berapa minggu sebelum tes awal di aula sebuah gedung perkuliahan termegah sebandung, aku sudah ketar-ketir. Kepercayaan diri bolehlah mungkin bisa disulut dan dikobar-kobarkan oleh puisi, atau mungkin kata-kata motivasi, atau impian-impian, tapi kepercayaan diri tanpa perbekalan yang baik, seperti preman tolol yang melompat ke ring tinju dan menantang tyson. Aku tidak pintar memang, tapi setidaknya aku percaya sekali bahwa aku berpikir kadang-kadang cukup taktis.

Maka suatu hari, sebelum tes awal bermula, aku bertandang ke kamar kos seorang teman, selang lima kamar dari kamar kos ku yang paling dekat dengan WC, di sebuah pedesaan yang masih asri dan rimbun dengan pepohonan bambu, kupinjamlah headset seorang rekan. Lalu kembali aku ke kamar kos yang pengap dan miskin inovasi.

Ketidakterlibatan arsitek handal dalam perancangan kosan itulah yang mungkin mengakibatkan aku terpaksa meringkuk di kamar pojok, sirkulasi udara yang payah, jendela hanya satu dan bersebelahan dengan pintu wc. Biasanya daun jendela dan pintu itu aku biarkan terbuka setengah, namun sekarang harus aku tutup. Aku sedikit pemalu, dan untuk sebuah metoda pembelajaran udik yang akan aku terapkan, aku haruslah terasing dari keramaian.

Aku nyalakan komputer yang pertama kalinya aku bisa beli dengan kerja kerasku sendiri, lalu sebuah program perekam suara aku “run”.

Sejak jauh-jauh hari sudah terfikirkan, untuk mengatasi kekuranganku, maka aku akan mengumpulkan semua tipe pertanyaan wawancara kerja, dan berlatih dengan rekaman. Setiap hari, setiap minggu, sampai aku percaya aku fasih mengucapkannya, renyah intonasinya, dan spontan seperti gerak refleks. Pada titik-titik tertentu, aku masih percaya bahwa talenta bahasa yang dikucurkan dari langit kepada orang lain, mungkin bisa kulawan dengan kerja keras, semoga.

Hari beranjak tua dan ringkuh, azan maghrib meronta-ronta masuk lewat kasa-kasa diatas kusen pintu. Aku meregangkan sejenak badan yang terlampau tegang dan kaku. Tes awal belum lagi dimulai dan aku sudah demam panggung.

“ok… time to pray”…. Kalimat ber-inggris pertama yang aku latih hari itu.

Hari berjalan, tes awal berlangsung. Menegangkan sekaligus menantang. Ratusan kandidat, inferioritas, optimisme, semua campur aduk, dan pada akhirnya menunggu tidak pernah menyenangkan.

Malam-malam benar, berapa hari setelahnya. Handphone dekil punyaku berdering.

“selamat, anda lulus tahap pertama, silakan datang besok jam………………………….”

Aku hampir tidak memperhatikan apa yang orang ditelepon itu bilang. Aku lupa apakah pria ataukah wanita yang menelepon. Aku sebentar juga lupa dimana tadi dia bilang aku harus datang??
Ini seperti keajaiban. Ratusan orang bergerombol di di aula besar institut elegan di bandung itu, dan dari sekian orang yang sangat-sangat layak lulus, namaku menyempil sebagai salah satunya. Bagaimana mungkin??

Aku membuka pintu kamar, angin dingin malam menembus berlari-larian seperti sudah sejak tadi ingin menyusup ke dalam ruangan setengah hampa ini. Aku keluar dan duduk di teras kamar kos-ku. Rasa-rasanya aku masih tidak percaya, sungguh. Aku bersandar ke kursi yang berderik, melihat bulan separuh yang hilang timbul hilang timbul dibalik awan yang diulur-ulur angin. Rekan-rekan sebelah menyebelah sudah lelap tidur.

Ah…. Bagaimana menghabiskan malam ini? Aku tidak merokok, ingin minum kopi aku tak punya kopi. Maka berkhayal dan mengintip bulan sampai kantuk turun lagi seperti ilham, adalah pilihan satu-satunya……….

Ada yang jatuh bertaburan dari langit malam itu. Dan romansa selalu datang dengan dramatis. Angin pelan, desir pohon bambu kebun sebelah, dan temaram lampu bohlam kuning dibalik jemuran celana levis yang entah sejak kapan belum diangkat juga. Cinta kadang-kadang abstrak dan membingungkan.

Mataku lama-lama luruh, tapi hati masih belum ingin terlelap. Perasaan masih bergejolak dan imaji tidak membiarkan kesadaranku untuk lelap dan hilang. Aku masuk lagi ke kamar, lalu menyalakan komputer dan memasang lagi headset ke telinga. Sekian macam pertanyaan-pertanyaan yang sangat sering dicecarkan oleh para pewawancara kerja sudah aku rangkum dalam sebuah file. Dari banyak sekali sumber aku kumpulkan, aku translate ke dalam bahasa inggris dan aku rekam lewat mic computer. Begitu terus berulang-ulang aku coba sampai akhirnya aku merasa sedikit punya bekal. “tell me about you?”, “what is the biggest challenge in your life?”, “are you able to work under pressure?”, aku membawa semua itu kedalam mimpi, dan seingatku tiba-tiba hari sudah pagi, aku tergeletak di karpet dengan headset di kepala.
—————————————————————————————————————

“hei…… lo disini juga?”

“eh… iya teh” aku menjawab dengan logat sunda yang sopan. Disampingku ternyata seorang gadis tambun entah sejak kapan sudah bercokol. Dengan keakrabannya yang tidak canggung sama sekali, aku menebak bahwa pastilah teteh –aku sudah dengan refleks men-sunda-kan bahasa panggilan- ini satu kampus denganku, dan ditambah lagi dengan kenyataan bahwa dia tidak sama sekali menunjukkan kesan kikuk dengan kehadiranku, maka aku membuat sebuah simpulan penting bahwa dia pastilah juga seniorku.

“udah dipanggil lo?” Sambil mengunyah permen karet dia bertanya

“belum teh” kataku.

“wah…. Siap-siap aja lo, dari tadi banyak yang ditolak kayanya. Yaa…… mereka sih ga bilang kalau lo ditolak atau diterima sih, tapi kayanya, kalau mereka bilang ‘kami akan pertimbangkan lagi cv anda’ pasti artinya lo ditolak, kalau mereka bilang ‘selamat bergabung’ artinya lo diterima”

“ooh…….” Aku hanya bisa ber OOO yang agak panjang. Sedari tadi jantungku berdetak dengan ketukan yang stabil dan pasrah maka kalimat terakhir dari wanita di sebelahku ini menambahkan seperempat ketukan, aku bisa mendengar degup jantungku yang tidak begitu stabil, dari balik kemeja putih pinjaman. Ada keringat yang mengalir pelan satu alur dari balik punggungku, aku merasa gerah, padahal hari sama sekali tidak panas.

“saudara Rio, silakan masuk”

Suara dari dalam ruangan seperti diteriakkan lewat toa. Aku berjalan pelan dan tiba-tiba seperti me-rewind kilas-kilas suara yang aku dengar dari tadi. Detak-detuk sepatuku yang berjalan konstan, lalu aku tiba di depan sebuah meja yang dibaliknya dua orang duduk dengan santai, seorang wanita dan seorang lagi pria bule agak gendut, kutarik bangku di depanku dan suara cericitnya terdengar sampai keluar kurasa.

Sebatas itulah fragmen wawancara yang aku sudah tahu dan siap, dari mendengar suara orang-orang tadi, maka selebihnya adalah murni improvisasi dan spontan.

Aku tersenyum lebar, dan mengulurkan tangan menjabat dua orang pewawancara itu “i am rio, you can call me like that, nice to meet you” kataku dengan berusaha fasih.

Aku sudah membuka percakapan itu dengan elegan lalu duduk dengan proporsional, menyapa terlebih dahulu, bersalaman dengan erat dan percaya diri, semua totally mirip dengan yang aku pelajari dari internet, dari curi-curi membaca buku di toko buku pinggir jalan, dari artikel lepas koran, dan tiba-tiba pertanyaan pertama…

“ok….. Tell me about you”

Tepat sekali….. Statistik membuktikan bahwa 97% pertanyaan yang dilontarkan pertama kali dalam sebuah wawancara adalah “tell me about you”. Aku seperti dejavu dan merasakan kepalaku tertekan headset yang kupinjam dari kamar sebelah kosan, lalu dengan sungguh fasih aku menjawab.

“ah…. I’ve been waiting for this opportunity…..”

Satu pertanyaan mereka kujawab dengan serangkaian inggris yang polos tapi teratur, aku yakin benar pilihan kata-kataku tidaklah istimewa, tapi seyakin itu juga aku bahwa lontaran jawabanku pastilah runut dan mengalir. Sekali-kali aku membenarkan posisi dudukku, sekali waktu aku tertawa dan menjelaskan dengan mata berbinar, sekali waktu menggerak-gerakkan tangan ke kiri dan kanan seirama dengan penjelasanku, aku merasa berapi-api dan sungguh membakar. Mungkin ini adalah bagian yang selama ini terpendam dan malu-malu aku bungkus rapih. Rupa-rupanya aku punya bakat orasi. Sedikit-sedikit aku bisa tebak bahwa mereka sungguh tertarik dengan bagaimana aku menjawab pertanyaan. Aku berkeringat dan hari sepertinya sungguh tidak sedang panas.

Sebagian besar arah pertanyaan sudah bisa aku tebak, sebagian aku baru pertama kali dengar dan bisa diselesaikan dengan sedikit improvisasi. Berganti-ganti mereka bertanya. Dari satu pewawancara lalu beranjak ke sebelahnya lagi, lalu kembali ke penanya sebelumnya. Desau kata-kata dari bahasa inggris seorang indonesia masih bisa kutangkap jelas, tapi lontaran frase dan idiom-idiom bule murni sering kali membuatku harus ber “pardon-pardon”, agak tidak mulus memang, tapi aku percaya masih bisa kuatasi dengan lagak yang santai dan biasa saja “ah…. Ya… ya…. I see that” begitu aku berkelit.

Seorang pewawancara dengan cekatan mengambil kertas dari balik meja, mungkin itu sesuatu yang harus aku tanda tangani atau mungkin penjelasan kerja dan salary, entahlah, yang jelas ini berarti 98% kemungkinan aku akan memenangkan permainan tukar kata ini.

Aku selesai dan menghembus nafas panjang lalu menariknya lagi perlahan. Kulihat mereka kagum dan dengan antusias bertanya apakah aku pernah mengikuti semacam kursus atau pelatihan menjawab pertanyaan wawancara kerja, aku menjawab singkat, “no”.

Lalu aura wawancara berubah dan menjadi santai, sangat santai. Mereka menyiapkan lembar-lembar form. Aku tenang sungguh, dan merasa bahwa masa depan mungkin sudah agak terang sekarang. Lalu aku melamun, aku berkelana ke impian-impian tentang rumah, tentang pernikahan, tentang anak-anak dan cucu-cucu, tentang aku pergi ke kantor dan mengendarai sebuah mobil sedan hitam, lalu memberikan sebuah presentasi yang canggih dengan power point, menggenggam sebuah pointer laser yang bintik merahnya menyengat mata, lalu menggerak-gerakkan tangan dan bahu, menekankan nada pada kata-kata tertentu, memelankan pada sebagian kalimatnya dan pada slide terakhir orang-orang akan bertepuk tangan, boleh jadi standing ovation. Sungguh apik, impian yang rapih, modern dan minimalis.

Tapi apakah ini pekerjaan yang tepat???? Tiba-tiba aku berubah fikiran.

Aku cukup konyol untuk memikirkan itu pada waktu yang sungguh tidak tepat. Tapi bayangan selintas yang aku dapatkan tentang perusahaan service migas, perusahaan yang aku susah payah ikuti penyaringannya saat ini, sungguh berbeda dengan skenario masa tua yang kubangun.

Kudengar dari banyak orang, bahwa perusahaan ini nantinya akan mementalkan aku ke banyak sekali tempat. Mengasingkan aku ke tengah laut dan ke sudut-sudut belukar duri. Eksplorasi minyak yang keras dan asing, tapi menjanjikan. Disinikah tempatku? Pemburu minyak???

“hello… do you hear me??” Tiba-tiba pewawancara itu berkata lagi dengan sedikit memajukan badannya.

“ah….. Sorry…sorry…. Pardon?” Aku agak gugup dan merasa konyol.

“you can consider this as out of interview” katanya santai.

“so…. Be honest, are you really interested to join our company??” Dia bertanya pelan, sambil meletakkan sebuah kertas di atas meja.

Dan dengan 98% kebodohan murni mulutku menjawab santai “No”.

Sebuah jawaban yang sedetik kemudian juga membuat aku mendelik tajam pada diriku sendiri. What the hell??? Apa yang baru saja aku lakukan???

“what???? “ mereka sungguh kaget. Dan tanpa mereka sadar aku sebenarnya jauh lebih kaget dan merasakan sebuah sensasi berubah bentuk, mungkin aku menjelma menjadi kera paling primitif, atau lebih tolol lagi.

Jawaban seperti apa itu??? Aku bisa saja menjawab dengan pandai semacam “absolutelly”, “definitely”, “exactly”, atau sesimpel “yes” saja untuk meyakinkan mereka. Tapi darimana “no” meloncat tiba-tiba??
Sejenak mereka berbisik dengan nada paling lirih satu sama lain, dan dengan sedikit berat mereka mempersilakan aku keluar.

“we never offer second chance rio” kata mereka, dan waktu serasa berhenti. Berapa detik lalu aku sudah diatas angin, pekerjaan sudah di depan mata, tapi sedetik kemudian semudah itu juga atmosfer terbalik-balik.

“we will keep your cv” katanya, dan berdasarkan makna konotatif petuah seniorku di depan ruangan tadi, maka itu berarti NO. Berarti tidak diterima! Se absolutelly-absolutelly-nya! sedefinitely-definitelynya! Yes….. Kamu tidak diterima, titik.

“you can leave now” katanya.

Aku beranjak pergi, masih juga terdengar cericit kaki kursi beradu dengan keramik, lalu suara detak-detuk sepatuku, lalu pintu berderit terbuka, aku picingkan separuh mataku silau oleh sinar matahari sore yang tempias dari balik dedaun di seberang beranda, kandidat lain masuk dan aku memiringkan badan mempersilakan dia melewati pintu.

Lirih sekali… aku berharap pada paragraf-paragraf takdir yang sudah lama tertulis. Dalam carut marut dinamika hidup ini, aku percaya selalu masih ada “cinta”, karna hidup tidak berakhir hanya karna ini, ini baru permulaan. Mungkin ini baru preambule…..

bersambung….preambule hidup 2

6 thoughts on “PREAMBULE HIDUP (part 1)

  1. for real,in every moment i will think soooooo long when i’ll say “no”,, but without any hesitation my bro can so easy say that word,,it’s very amazing ^^ i’ll try to say it with take no long time to think,,hahaha…
    nice hit 🙂

  2. stiap org ud punya pilihan dan keputusan msg2 ^^

    Jika manusia boleh meminta untuk mengulang apa yang telah ia putuskan, akan banyak orang yang menyesal dan meminta kepada Tuhan untuk mengulang ketika mereka gagal. Tidak akan ada orang yang maju dan berani menghadapi hidup ini. Oleh karena itu, aku tidak akan menyesal dengan segala keputusanku dan aku akan maju terus menghadapinya. (klo yg ini copas dr tmen rena kg) 😀
    smangat!

      • hohoho,,orang blog akang dsubscribe,,ok ok,c aq srg buka wp q, yg pertama diliat tu stat, readotomatic, ama comment 🙂 Kami nantikan kelanjutannya,,:)

  3. salam..
    bagus sekali kisahnya.. bisa ya itu terjadi. tapi memang jika kita tidak yakin akan suatu hal mendingan gak usah di jalankan daripada susah nantinya. dalam sebuah pekerjaan kenyamanan itu penting, jika kita tidak yakin maka kita tidak akan merasa nyaman bekerja.

  4. wew..ga nyangka..ternyata kejadian langka ini bnar2 terjadi ya..hehehe…entah bagaimana detil perasaan akang wktu say NO itu..dan perasaan sang interviewer…TOP SCORE deh! wkwkw..
    tp penasaran…lanjut ke next preambule ah….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s