DEKADE-DEKADE DENDAM (PART 2)

tulisan sebelumnya, dekade-deade dendam (part one)

 

Semenjak kehilangan yang tragis itu, aku menjelma paranoid. Di sebuah kosan yang berseting rumah saja, di sebuah kamar yang pengap dan tanpa jendela saja, hp bisa hilang.

Tempat di mana kampus berada pastilah menyisakan sebuah ironi. Perlambang kemajuan pendidikan berdiri agung, dikitari oleh bangunan-bangunan berjejal, kos-kosan yang dibangun tanpa sama sekali mengindahkan apakah itu tata ruang kota, drainase yang baik, atau sekedar ruang untuk para mahasiswanya menghirup nafas yang bersih. Maka dalam segala carut marut dinamika sosial yang terlalu rapat dan beranak pinak dengan cepat, segala yang jahat mungkin terjadi.

Aku saksi, sekaligus dalam hal ini korban. Pencuri dimana-mana selalu lebih canggih. Kadang-kadang aku mereka-reka, bagaimana mungkin pencuri itu membuka pagar depan tanpa berdecit, lalu masuk ke dalam rumah lewat pintu depan, lalu menuju kamarku, lalu mengambil hp yang kuletakkan disamping kasur, diatas meja belajar biru.

Misteri belum terpecahkan, dan satu-satunya jalan yang bisa aku tempuh adalah mencegah agar tidaklah hal serupa terulang. Aku paranoid. Kukunci pintu kamarku. Pulang kuliah aku masuk kamar dan menguncinya setiap saat aku hendak tidur. Keluar kamar menuju wc, kukunci pula. Apalagi pergi, pasti kukunci. Dengan lengkap dua kali putaran, sebelumnya dibacakan pula bismillah.

Ini memang aku akui merepotkan, tapi aku sedikit merasa bahwa keparanoidanku dapat dibenarkan karna dua hal:

1. Orangtuaku berpesan –pada sebuah pembicaraan yang kembali menggunakan wartel- bahwa menghadapi ancaman pencurian yang semakin marak, tidak ada salahnya meningkatkan penjagaan. Dont let your guard down. Filem-filem juga sesuai dengan falsafah hidup baruku itu.

2. aku bersumpah, sebelum mengetahui siapa dan bagaimana pencuri itu membodohiku, aku tidak akan meninggalkan kamarku tanpa penjagaan ketat. Seperti sumpah gajahmada.

Semenjak itu, pembicaraan interlokal antara aku dan orang tuaku kembali ke wartel. Jaraknya wartel itu sekitar 10 menit jalan santai, atau lima menit dengan lari pagi, dari kosanku.

Hari berganti, musim berubah, lewatlah satu lebaran, dan dengan kemurahan Tuhan aku berhasil membeli lagi sebuah handphone. Kali ini dengan uangku sendiri, dan ditambah sedikit belasungkawa dari bapak dan ibu.

Aku akhirnya sekarang menjadi orang yang sangat fungsional. Memandang hp sebatas fungsi yang paling dasar, menelpon, dan mengirim sms. Fungsi-fungsi lain semisal main ular-ularan seperti tetris –waktu itu game semacam itu sangat trend- tidak menjadi perhatianku.

Aku mohon maaf, sekiranya tidak bisa detail menggambarkan apa-apa merk hp-ku waktu itu, lantaran aku juga tidak begitu ingat. Berapa kali aku berganti hp. Modusnya adalah ‘ada uang beli hp, kiriman kurang aku jual hp itu’. sama sekali bukan trik bisnis, itulah kalau rekan-rekan ingin tahu, sebuah perniagaan yang tidak pernah untung. Dan dalam sebuah perniagaan konyol begitu, aku memaklumi diriku sendiri untuk tidak mengingat-ingat merk hp itu, tak apa.

Fungsionalitas handphone yang aku ceritakan tadilah, yang menyelamatkan aku dari banyak hal. Menyelamatkan aku dari kelaparan saat uang menipis, aku bisa segera menelpon orang tua dan mengabarkan berita yang membuat hati trenyuh, yaitu anaknya sudah mengalami kondisi finansial nyaris pailit, hp buruk rupa tak soal, yang penting bisa menelpon. Atau hp pernah juga pernah berjasa membuat aku gampang menghubungi para dosen pembimbing yang ampun-ampun susahnya mencocokkan jadwal dengan kesibukannya.

Lewat fungsionalitas telephoni sebuah hp, aku pernah pula dimaki-maki dosen pembimbing termaut seantero kampusku “SAYA TIDAK RESPEK YA, KALAU ADA MAHASISWA MENELPON SAYA LANTAS MENANYAKAN KAPAN DIA SIDANG!! KALAU SAYA BILANG ANDA SIDANG, BARU ANDA SIDANG!”. Takjub aku dengan kehebatan hp, pembimbing di seberang sana sedang aku berkilo-kilo jaraknya, tak urung aku merinding juga mendengar omelannya, padahal hp-ku hp tua bersahaja saja.

Dan huruf besar itu, yang berisi omelan pembimbing skripsiku pada paragraf diatas tadi, memang sepatutnyalah aku cetak dengan huruf besar, huruf kapital adalah mewakili mungkin segi emosi, atau juga mewakili mungkin intonasi. Deretan kata-kata dalam sebuah teks kan tidak mungkin bisa membawa segala muatan sehebat kata-kata verbal secara langsung.

Cobalah, kalau tidak aku tulis dengan huruf besar, kita mana paham kalau kalimat dosenku itu marah-marahkah? Atau syahdu mendayu-dayukah? Itulah kelemahan bahasa. Lebih tepatnya kita kadang-kadang kebingungan menyampaikan ide kita lewat “bahasa” yang terbatas.

Kadangkala dosen –yang saya hormati- juga membuat bingung dengan mengirimkan balasan SMS singkat “YA, SAYA BISA HARI RABU”. Nah……. kita kan jadi serba salah, apakah kapital itu berarti marah? Merajukkah beliau? Atau itu hanya karna dosen itu menganggap hp itu sefungsional-fungsional mungkin. Deretan kata sudah terkirim, dan selesai sudah. Padahal, mahasiswa bodoh macam aku ini bisa menafsirkan kata-kata itu dengan beragam arti. Aku pusing, dan malam-malam susah tidur, padahal boleh jadi pak dosen tak tahu cara mematikan CAPSLOCK di hape.

Untunglah……. belakangan, teknologi internet sudah muncul. Banyak hal yang bisa memperjelas pesan yang kita sampaikan. Bahasa tulisan bisa diberikan warna-warni, misalnya pink, untuk kata-kata lembut, digaris bawah untuk penekanan. Kapital hanya untuk hal-hal yang kau rasa super urgent, atau kalau sekali waktu kau ingin memaki.

Dan kau pasti menangkap sesuatu yang runyam, sama seperti aku. Penetrasi hp, lebih merata dibandingkan penetrasi internet ataupun komputer dalam kehidupan masyarakat. Termasuk aku. Jadi apa yang aku pikirkan???? Yang aku inginkan adalah, bagaimana aku bisa menggabungkan dua hal itu, agar fungsi-fungsi yang aku celotehkan tadi, bisa diakomodir tidak hanya lewat komputer, tapi juga lewat hp. Singkat kata, aku mulai jengah dengan hp milikku yang hanya bisa dipakai sefungsional-fungsional mungkin.dalam bahasa tanpa sastra, bisa diterjamahkan sebagai: aku harus beli hape baru.

Aku lulus kuliah dan mulai bekerja, maka kemungkinan itu terbuka.

Seting kali ini bukan lagi di bandung, rekan-rekan. Tapi di jakarta. Sebuah tempat panas nan berdebu di jakarta selatan. Aku ingat sekali pesan bapak “kalau sudah bekerja, sisihkan sebagian gaji pertamamu untuk membeli kambing kurban”. Perintah yang sangat sederhana, tanpa semacam metafor-metafor. Aku mengangguk, “siap pak”, ujarku.

Tapi itulah godaan uang. Aku, dan rekan sekamarku, seorang batak murni tapi sejak lahir diemong oleh jogjakarta hadiningrat, sudah merancang sebuah visi hidup. Gaji pertama adalah handphone baru.

Ada juga sebagian kawan-kawan yang sudah bervisi lebih tinggi, yaitu menyisihkan uang untuk membeli rumah. Maka waktu kawanku satu itu sibuk mengurus NPWP untuk pajak dan segala persyaratan lainnya, kami –aku dan kawan batak jawaku itu- tidak ambil pusing. Peduli setan. Kami tetap teguh berpendirian bahwa hp, dalam hal ini, adalah sudah waktunya masuk dalam kehidupan keseharian kami. Dan hp itu haruslah tidak hanya mampu menjalankan fungsi dasarnya dalam kehidupan alat perkomunikasian tapi haruslah juga mampu memutar radio, tukar menukar data dua arah dengan bluetooh, ada mp3 playernya, dan kamera digital minimal 1.3 mega pixel.

Memang kebanyakan syarat-syarat itu aku yang membuat. Kawan batak jawaku ini tadi kurasa-rasa hanya terpengaruh oleh retorika mautku saja. Kadang-kadang kalau menyusun rencana-rencana, aku merasa seperti sukarno sedang berpidato. Hanya bedanya pidato sukarno itu mencerahkan dan mengusung rencana-rencana besar, maka cukuplah retorikaku itu remeh temeh semisal kriteria hp yang harus dibeli dengan gaji pertama.

Waktunya datanglah sudah.

Gaji masuk……. astaghfirullah………… ah…. maksudku alhamdulillaah. Kami berjingkrak-jingkrak di dalam atm. Dan malam itu juga, aku dan rekan sekamarku berangkat menuju ITC, membeli sebuah hp. Dia satu, dan aku satu.

Maka sibuklah aku, mulai malam itu, menseting ini itu, membuka-buka majalah celular, dan memainkan sebuah impian sejak kuliah, yaitu menyelaraskan fungsi-fungsi internet dengan sebuah hp. TRINGGGG. Sekarang hp-ku sudah bisa gprs. Internetnya menyala….. betapa aku waktu itu senang, jaman itu, masih sedikit lho orang yang paham bagaimana menghidupkan gprs handphone, jadi waktu itu buatku sebuah pencapaian adiluhung. Kawan batak-jawaku itu, aku setingkan juga internetnya. Kami berdua sudah lebih uptodate dengan perkembangan komunikasi. Hp sudah tidak sekadar fungsional, tapi juga entertaining.

Apa?? Kambing kurban kau bilang???

Tenang….. lebaran idul adha masih lama, aku berfikir dalam hati, sebenarnya agak gamang juga, tapi aku yakin gaji kedua nanti bisa aku simpan, melaksanakan petuah dari bapak yang sudah dipesankan jauh-jauh hari itu.

Sampai suatu malam.

Aku tertidur lelap… kawanku itu tertidur juga. Bukan main gerahnya jakarta, hingga malam-malam menjelang dini hari aku terbangun. Jam berapa ini?? Aku mencari hp-ku, dan berharap melihat angka digital yang tertoreh di screennya, satu-satunya penunjuk waktu yang aku miliki. Tapi dimana??? Di bawah bantal tak ada. Di samping kasur tak ada.

Ah….. sudah pasti pria tambun rekan sekamarku ini yang menyembunyikannya. Aku tahu, tidak bisa aku ditipu dengan sebuah trik kuno macam begitu. Lalu kuambil hp kawanku tadi dan menelpon nomorku sendiri. TIDAK AKTIF!!!!

Gawat…………. aku panik dan mulai berdeguplah jantungku, sambil menatap nanar. Aku merasa ada sesuatu yang ganjil malam ini, aku tahu itu, dan sesuatu yang membuat perasaan tidak nyaman itu, apapun itu, masih ada di sekitar sini.

Nanar, aku sapu seisi ruangan dengan tatapan mataku. Aku saat ini dalam modus luarbiasa peka terhadap gerakan sekecil apapun. Tiba-tiba gorden kamar bergerak-gerak. Setengah kaget aku beringsut mendekati jendela kaca nako kamar kosan pinggir jalanku itu. tiba-tiba sejuntai tangan terlihat masuk lewat celah kaca nako. BAJINGAAAAAAANNNN!!!! Dendamku menyeruak, kejadian hampir satu dekade lalu menemukan muara pelampiasannya.

Meloncat aku ke pintu dan membuka kuncinya, satu putaran, dua putaran…… macet….aaarrrrrrrrrrrrggghhhh…. pintu akhirnya terbuka, aku kejar tak tentu arah pencuri setan alas itu. tak peduli aku tak pakai sendal. tapi luput……. yang tersisa hanya gelap……..

Dari segala kemungkinan yang bisa kulakukan, pukulan ke arah rahang. Pitingan maut. Tendangan ke ulu hati. colok mata, cekek leher, tapi aku malah hanya mengejar angin. Pintu terkutuk itu telat membuka beberapa detik. Dan refleks tololku bukannya menarik tangan pencuri itu dari kaca, tetapi grabak-grubuk membuka pintu.

Malam itu semua aku sumpah serapahi. tingkat moralitas penduduk indonesia yang rendah. Jakarta yang panas. Keamanan RT yang payah. Sistem kosan berkaca nako yang didisain oleh bapak kos kurang pertimbangan. Refleks bodohku. Sampai ketololan aku dan kawan sekamarku yang dipecundangi pencuri iseng yang mungkin kebetulan lewat di samping jalan, lalu dengan santai dan bersiul-siul memungut hp dari celah kaca nako, seperti petani menuai padi yang kuning dan ranum. Lalu aku tertunduk dan menarik nafas dalam, mengikhlaskan semuanya, aku percaya aku orang yang pemaaf, tapi benarkah?

Entah kenapa tiba-tiba aku ingat kambing kurban.

Iklan

DEKADE-DEKADE DENDAM

Aku menyimpan dendam yang menahun. Bersemayam di ceruk paling dalam palung hatiku, benar-benar terselubung sampai aku pun sering merasa bahwa aku bukanlah orang yang mempermasalahkan kejadian yang sudah hampir satu dekade lalu terjadi, sampai detik ini aku mencap diriku sendiri sebagai orang yang pemaaf, tapi benarkah?

Kamar sempit, penerangan yang temaram. Dimana gerangan? Sulit aku gambarkan perasaanku waktu itu. Bangun tidur, dengan perasaan hampa yang aneh, kebosanan yang membebat sejak tadi siang mendengarkan rapalan ceramah para dosen di kampus di sulam rapih dengan hawa-hawa sore menjelang maghrib, aneh dan mistis. Dan di aura yang sama sekali tidak indah sangatlah tidak preferrable untukku mendapati kenyataan pahit seperti itu.

Aku sudah tidak teriris lagi memang, saat ini. Tidak pula aku setiap mengenang kejadian itu lantas berduka nestapa yang dalam, misalnya. Tidak. Tapi kalaulah ditanya apakah aku memaafkan pelaku pada hari itu? Aku susah menjawabnya. Untuk berbohong aku tidak luwes, dan untuk mengungkapkan sejujurnya kok rasanya susah memverbalkannya.

Selain susah aku juga ternyata memahami sisi paling dalam kepribadianku yang belum terungkap. Seperti teori gunung es, ternyata aku pendendam. Dan menyadari kenyataan pelik seperti itu membuatku takut mengakuinya, maka itu aku bungkam, aku terlanjur mencap diriku sendiri sebagai orang yang pemaaf, tapi benarkah?

Seperti segala sesuatu ada asalmulanya, maka ceritaku ini juga ada sebab musababnya.

“assalamualaikum pakde” aku menyapa dengan nada paling njawani yang aku bisa. Bapakku seorang jawa, kata bapak masih ada turunan kraton trah kesekian puluh, tentu bukan pangkat yang bisa dielu-elukan, tapi terlepas dari kraton-kratonan yang jelas aku tidak bisa berbahasa jawa. Hanya bisa berlogat jawa. Dan dari pulau jawa, dari jogjakarta hadiningrat, aku menelpon dari sebuah wartel pada subuh dini hari, kepada seorang pakde yaitu teman bapakku, yang jarak rumahnya dua blok dari rumahku diujung komplek, demi menumpang ngobrol dengan Bapak, adalah alasan yang luarbiasa logis buatku untuk bersopan santun dan beramah tamah. Berbicara dalam logat yang mirip jawa aku nilai sebagai satu dari sekian kemungkinan beramah tamah itu.

“waalaikumsalam” pakde berkata.

Telepon keluarga itu berdering di subuh dini hari, sudah bisa ditebak, tidak lain tidak bukan adalah telepon menyusahkan dari seorang anak yang baru belajar merantau. Dan dugaan mereka itu selalu tepat, karna memang akulah yang sedang berada di dalam kotak sebuah wartel dekat kos-kosan di jogja sana, menelpon sederet nomor, nomor area bengkulu, lalu disusul nomor rumah pakde, untuk minta tolong dengan segala kerendahan hati, agar pakde bersedia memanggilkan bapak yang dua blok jauhnya itu, sekedar bertukar kabar denganku.

Maka ritual biasanya selalu begitu. Aku ber assalamualaikum pakde, pakde menjawab, lalu telepon dimatikan sekitar lima menit. Aku menunggu di bangku panjang sebelah bilik wartel, melihat jam dinding, lalu menghitung jarum panjangnya bergeser lima kali, di seberang sana, di sumatra sana, aku membanyangkan pakde menderumkan motor tuanya, lalu berangkat menuju rumahku, mengetok pintu luar, dan bapak menyahut dengan segala penerawangan yang tepat, sudah menyadari bahwa aku menelpon. Maka detik kemudian bapak dan pakde kembali berboncengan menuju rumahnya, lalu duduklah dengan takzim, bapakku di samping pesawat telepon itu, menunggu telepon berdering. Lima menit. Tepat lima menit. Telepon kutekan lagi, dan diujung sana sudah pasti bapak yang mengangkat.

Awalnya begitu. Aku merantau ke jogja, dan keluargaku di bengkulu. Kami tidak punya telepon. Dari dulu-dulu sekali, waktu aku masih SMA, telepon sudah jadi wacana yang sering Bapak tawarkan, tapi kemudian Bapak ralat sendiri. Kata bapak, telepon itu sebenarnya bukan kebutuhan primer, sekunder-pun dirasa bukan, maka untuk sesuatu yang jatuh dalam skala kebutuhan tersier, cukuplah ia jadi wacana saja, masih banyak yang lebih penting daripada telepon.

Akupun mengamini. Bagaimana aku tidak mengamini? Harga telepon sangatlah mahal. Rumah kami saja baru dimasuki listrik, apatah wajar jika kami memasang telepon? Memasang telepon, konon lebih sulit lagi birokrasinya daripada memasang listrik. Memang, waktu itu sudah ada satu dua yang menggunakan handphone, tapi waktu itu handphone masih barang mewah, harganya mahal, dan sekalipun tidak pernah aku ingat menjadi wacana dirumah kami.

Maka ritual semacam itu harus terjadi berulang-ulang, aku bangun pagi, lalu selepas subuh berjalan ke wartel terdekat, memencet kode area bengkulu, lalu menekan nomor pakde. Pakde menjawab. Telepon dimatikan sebentar lima menit. Lima menit kemudian kutelpon lagi, diseberang sana pastilah sudah bapak yang menyapa.

Lama-lama hal ini terasa merepotkan juga. Dalam kultur jawa, ada rasa tidak enak, perasaan yang tidak nyaman saat terlalu sering berhutang budi pada orang lain, maka sebuah ide lebih baru tercetus dari orang tuaku. Biarlah aku tidak usah menelpon, nanti pada awal2 bulan merekalah yang akan menelpon. Untunglah kos-kosanku memiliki sebuah telepon. Maka pada malam hari, biasanya telepon berdering dan namaku diteriakkan oleh kawan-kawan. Aku paham, bahwa orangtuaku sekarang sedang ada di sebuah bilik di warung telepon, melakukan sebuah ritual yang tadinya aku lakukan. Kami bertukar cerita. Aku melaporkan kemajuan bimbingan belajar yang aku ikuti di jogjakarta hadiningrat ini, demi menembus saringan ujian masuk perguruan tinggi negri. Apa??? Bertemu embah? Sudah pasti belum, meski di jogja ini banyak sanak sodara dari jalur bapak, tapi aku ini sudah tercetak sebagai anak pemalu yang bervisi jauh kedepan. Andaikata aku tidak lulus UMPTN, bagaimana tanggapan keluarga bapak nanti? Maka dengan merasa diri sudah bijak, aku memutuskan tidak akan menemui keluarga bapak sebelum berita kelulusan aku dengar.

Lama-lama persepsi bapak berubah. Komunikasi bukanlah soal tersier, dia mungkin primer, atau sekurang-kurangnya sekunder. Itulah awal mula kemunculan handphone di rumah kami. Handphone muncul, sebagai sebuah entitas yang asing. Dia dikagumi berlebihan. Perkara handphone itu adalah handphone bekas, dengan layarnya yang hanya selebar kelingking bayi, berantena panjang, dan setiap text yang tercetak dilayarnya itu jelas sekali tersusun dari titik-titik pixel yang besar-besar, tidak pernah jadi soal.

Aku senang, tidak perlu lagi menelpon pakde, tinggal kutekan sederet angka yang lebih panjang lagi, lalu tersambunglah ke handphone bapak. Handphone berdering adalah sebuah anugerah baru di rumah kami. Tak ada yang tahu nomor hp itu selain aku, jadi setiap aku tidak menelpon, sekeluarga mungkin sangsi bahwa hp bekas itu masih berfungsi. Bapak harus pula keluar rumah setiap kali menerima panggilanku, sinyalnya hilang timbul hilang timbul, atap seng rupanya sudah cukup jadi penghalang untuk kemampuan tangkap sinyal sebuah hp tua. Aku melaporkan perkembangan, bapak bertanya kabar, lalu koneksi terputus. Hp tua itu mati, lowbat yang klise. Dan aku tidak lantas menelpon kembali, interlokal menuju hp ternyata menguras celenganku. Satu masalah selesai, tantangan baru lagi ternyata muncul. Katanya, telpon dari hp ke hp lebih murah daripada interlokal.

Dan itulah awal mula kehadiran hp dalam kehidupanku. Aku pindah lagi ke bandung. Melanjutkan pendidikan di sebuah kota yang baru. Dan dibaluri dalam pergaulan yang membuat aku berfikir bahwa hp memang primer. Primer sekali dan tak mungkin sekunder. Salahlah orang-orang yang menganggap hp itu tersier.

Tapi aku sungguh tidak meminta. Ini jujur aku katakan, rekan-rekan. Memang ibu yang waktu itu menyerahkan sebagian uang yang sudah dia kumpulkan dari hasil berjualan, lalu dititipkan padaku lewat transferan bank dari bapak. Kata ibu waktu itu, belilah sebuah handphone yang bagus. Second tidak apa-apa, tapi carilah yang bagus, bila perlu lebih bagus daripada yang dirumah. Supaya menelpon bisa lebih murah.

Jumpalitan benar aku waktu itu. Aku memang sebenarnya sudah menabung, dan mengumpulkan uang dalam sebuah kotak sepatu, niatku, dengan uang jajan yang aku kumpulkan itu, moga-moga bisa membeli sebuah hp, tapi ternyata takdir berpihak padaku, ibu mengirimi aku uang, dan menyarankan aku membeli hp, dan sumpah rekan-rekan, aku tidak memintanya.

Gampang, mencari hp yang lebih bagus dari punya bapak, hampir semua hp di etalase toko-toko sepanjang jalan jatinangor, dipilih secara paling random-pun adalah hp dengan kualitas lebih bagus daripada hp bapak.

Malam itu, aku ingat betul, membeli sebuah hp bermerk seperti merk kulkas, ada antena juga, tetapi kecil, berlayar biru, dan bercharger beda dengan merk hp-nya. Rasanya malam itu seperti mimpi. Segala keletihan kuliah dan segala kesepian dalam perjalanan panjang menuntut ilmu sampai negri cina ini terbayar oleh sebuah hiburan kecil dari Tuhan, handphone dengan warna layar biru. Aku utak atik sampai malam-malam sekali, sampai baterainya habis dan mati. Aku tertidur.

Keesokan harinya aku kaget bukan main. Tak bisa hp itu digunakan. Sebuah kode diminta dengan tegas. PHONE LOCKED. Siapapun pemilik hp itu dulunya, pasti dengan congkak telah menjual hp dengan merahasiakan kodenya. Aku lari-lari siang itu ke counter tempat hp itu kubeli. Bisa ternyata diakali. Tunggulah barang 2 hari katanya. Harus dibawa ke teknisi dengan biaya 20 ribu. Aku mengalah, hp ku di unlocked dan uangku melayang. Tapi hp sudah mejadi primer.

Wartel sudah jarang kusambangi. Entah mereka mengamati atau tidak, bahwa pelanggan setia mereka berkurang satu. Komunikasi lewat hp lebih mudah. Dan memang lebih murah. Aku bercerita pada keluargaku, bahwa hp yang kubeli itu berlayar sebesar dua jari dan lebih mungil dari yang dirumah.

Dalam konstelasi pertemanan di kampus, hp itu membuatku semakin accessible, bisa dihubungi kapan saja. Waktu kuliah yang acak-acakan dapat dengan mudah diatasi oleh kecanggihan teknologi. Setiap ada waktu luang, aku pulang ke kosan, dan istirahat melepas penat. Nantinya akan ada rekan-rekan yang menderingkan hp biru itu, sebagai alarm bahwa ada jadwal perkuliahan.

Tapi hari itu tidurku terlampau lelap, sepulang kuliah kuhempaskan badan di kasur tipis, dan tenggelam dalam mimpi di temaramnya kamar. Azan ashar masjid sebelah tidak menggoyang-goyang aku dari lena yang dalam, dan baru aku terjaga saat maghrib hampir pentas di ujung ufuk.

Aku menggeliat, memicingkan mata dari sinar orange khas senja yang masuk meliuk-liuk dari ventilasi. Jam berapa ini?? Aku mencari-cari hp biru, berharap melihat angka digital yang tercetak di screen-nya, satu-satunya penanda waktu yang aku punya.

Di sebelah kasur, tak ada. Di atas meja, tak ada. Aku terdiam sejenak. Di bawah lemari, tak ada. Di balik pintu, tak ada. Aku mulai panik dan mendengar jantungku sendiri berdegup. Di dalam tas, tak ada. Di saku celana, tak ada. Kepalaku pusing dan berkunang-kunang. Semua sudah aku bolak-balik dan tak urung hp biru itu masih tak terlihat. Kucari chargernya, kalau-kalau masih tersangkut di colokan listrik. Tak ada. Aku berdiri, memegang kepalaku dengan dua tangan dan menyapu rambutku ke belakang, lalu azan maghrib terlontar keras dari toa musholla sebelah.

Menyesal betul hp itu tidak kubeli dari celengan kotak sepatuku, benda biru itu adalah pemberian orangtuaku, sungguh pula bukan aku yang meminta. Sudah hampir satu dekade, dan aku masih mengecap diriku sebagai orang yang pemaaf, tapi benarkah? Aku tidak tahu..

to be continued…..

preambule hidup (part 2)

tulisan sebelumnya

Kalau diingat-ingat, membayangkan sore waktu itu aku berjalan dengan sepatu yang didetuk-detukkan di anak-anak tangga turun. lalu menukarkan sepotong kupon makan yang aku dapat dari wawancara kerja hari itu dengan sedikit nasi dan sepotong lauk. Rasanya ganjil, trenyuh iya, merasa konyol iya.

itulah… psikologis bisa sangat  mempengaruhi. Dalam kondisi normal, anak kosan seperti aku bisa makan dengan sungguh kurang ajar untuk deretan lauk pauk yang berjejal seperti yang kulihat waktu dulu itu, tapi nasi saja rasanya sudah tak tertelan. Aku tetap mengambil makan karna rasanya sayang saja, kupon itu paling tidak sudah menghemat berapa ribu uangku.

Selepas makan lalu aku menuju musholla, lalu berwudhu dan menggenapkan rakaat sholat yang sore itu rasanya paling syahdu. ya pasrah… ya tidak ada daya…. ya buntu….teraduk-aduk,  dan doa-doa semua rasanya aku sudah rapalkan dengan pilihan kata yang paling baik, tapi setiap kali ingin memohon-mohon, atau meminta sesuatu yang terlalu rinci, aku selalu tiba-tiba ingat bahwa yang Maha Menetapkan Takdir itu sudah jauh-jauh lebih paham akan mana yang sebenarnya itu baik buat kita, mana yang sebenarnya ndak ada bagus-bagusnya buat kita. Jadi berdoa saja pun aku malu rasanya. mau minta apa?? akhirnya aku berdoa begini saja…. Tuhan…. mana yang baik saja menurut Engkau…. kami ini tidak tahu apa-apa.

Lepas sholat rasanya lebih tenang. Sudah sedikit bisa percaya bahwa apa yang terjadi sekarang pastilah yang paling baik buat kita saat ini.

Harusnya aku sudah bisa langsung pulang, mengejar bus dari pangkalan damri, terus menikmati gerah-gerah satu jam setengahan menuju kosanku di pinggiran jatinangor, sebelum sore yang merambat nanti membuat bus semakin berjejal-jejalan, tapi malah aku belum ingin langsung pulang, hati kok rasanya masih greget ingin menyaksikan sisa-sisa wawancara hari itu. maka aku kembali menaiki anak tangga berputar- putar itu sampai pintu ruangan interview.

Pintu masih dikunci….. aku duduk di bangku beranda luar, paling kiri, paling dekat dengan pintu. berharap ada satu dua orang yang mungkin aku kenal, sekedar berbagi cerita, atau boleh jadi ada teman pulang.

Tiba-tiba seorang berbadan tambun datang, dengan langkah cepat dan tergesa dia berjalan ke arahku lalu mendorong pintu. malang…. pintu itu memang masih terkunci.

aku melongo ke arahnya dan spontan mengatakan “it is locked, sir”

Dia bule yang tadi menginterview ku. dia mengangkat bahunya, lalu berceloteh tentang petugas semestinya sudah membuka pintu itu karna mereka berjanji tepat pada jam ini sudah kembali ke dalam ruangan.

aku hanya tersenyum, dari sekian orang yang kutebak mungkin bisa aku temui dan bertukar cerita, lelaki ini datang dengan tidak sama sekali masuk dalam prediksiku.

Memecah  kekakuan  aku bertanya”where are you come from, sir?” kataku sambil membenarkan posisi dudukku. Dia menjawab, sambil bersandar ke daun pintu, tangannya di silangkan ke belakang seperti modus “istirahat ditempat grak” nya paskibra, lalu kami bercerita banyak hal.

dia bercerita tentang indonesia, tentang keluarganya, lalu tentang negrinya dan aku menyahut tentang impian-impianku untuk menjejakkan kakiku ke tempat-tempat yang jauh. mungkin ke negaranya, atau ke negri-negri yang mungkin orang belum pernah dengar. ke tengah lautan asing dan memotret sunset paling soliter, atau bulan paling lengkung. Dia mengamati dengan serius, lalu melontarkan pertanyaan

“so…. you are still not interested to join our company?” katanya tiba-tiba sekali.

dan atmosfer berubah. Aku tersenyum memikirkan hari ini. seperti grafik emosional seorang dengan karakter sanguinis, berubah-ubah dalam tempo yang luar biasa cepat, dan aku belajar dari kesalahan agar tidak menjadi setolol keledai, hanya keledai yang jatuh kelubang yang sama dua kali, maka kali ini aku menjawab rasanya sudah dengan tatanan kalimat paling manis.

Sebegitu rapihnya, sebegitu semengatnya sampai ingatanku rasanya di fast-forward lalu tiba-tiba yang aku ingat cuma setelah itu bule gemuk itu tersenyum, lalu sejurus kemudian seorang pegawai hotel datang membawa kunci ruangan, ruangan dibuka. calon peserta lain datang kembali, kursi beranda luar penuh dan berjejal lagi, aura kembali tegang. lima menit kemudian namaku dipanggil untuk kali kedua, dan aku kembali memasuki ruangan seperti dejavu yang hilang-timbul, lalu diujungnya aku tersenyum, mereka seingatku juga tersenyum, dan aku berjabat tangan dengan mendengarkan dengungan kata-kata “welcome to our company”.

Mungkin takdir baik dan buruk itu tidak seperti musim, menggelayuti langit kita tidaklah dalam tempo yang lama dan berulang, dia hanya semisal cuaca, yang sebentar datang lalu sebentar pergi. Dan dari sekian gerimis atau guyur lebat hujan yang bertamu, dari sekian hangat mentari atau terik kemarau yang hilang pergi, kita tidak pernah tahu mana yang baik buat kita mana yang buruk buat kita.

Berapa hari lalu aku lolos seleksi tahap awal, berapa jam lalu aku memulai wawancara dengan sangat mulus menjawab cecar-cecar pertanyaan, berapa puluh menit lalu aku dengan tolol menghancurkan  kemungkinan paling baik untuk bisa bekerja segera selepas wisuda, berapa menit lalu aku sudah pasrah dan merasa bahwa mungkin memang disini bukan tempatku, lalu berapa detik barusan saja kesempatan itu kembali terbuka dengan cara yang unik, eksentrik.

lalu aku pulang dan berjalan menuju pangkalan damri dengan ekspresi yang menggantung, bahagia menyelusup sampai ke bonggol-bonggol tulang tapi ingin bersorak-sorak di jalan aku tidak pula bisa. jalanku setengah diseret, setengah berlari, gembira iya, lemas lunglai iya, lalu aku menggeleng-geleng sambil tersenyum senyum. alhamdulillaah… alhamdulillaah….

epilog:

untuk  tiga tahunan yang sudah aku lewati, maka aku termasuk pembelajar yang lamban. sampai sekarang, belum pernah aku merasa mampu beradaptasi dengan cepat, pada kondisi yang membuat kita terasing dan jauh.

Memburu minyak sampai ke lekuk-lekuk meander, ke lipatan-lipatan hutan, ditengah-tengah samudera.

Aku sempat berfikir, bahwa memang pada porsinya yang sesuai, terasing dan meninggalkan keluarga itu adalah sebuah tempaan yang bagus, yang membuat kita jadi matang dan semakin paham akan berartinya sebuah keluarga.

seperti misal budaya merantau yang ada pada kebanyakan penduduk sumatra, termasuk di tempatku. rasa-rasanya kalau sudah besar dan tidak merantau, ada sesuatu yang kurang. Orang-orang bijak pun menyarankan, pergilah ke tempat-tempat yang jauh dan petiklah saripati hidup dari sana.
itu betul, dan sampai sekarang tidak pernah aku membantah itu.

Aku merantau, dan memulai hidup di tempat yang sama sekali baru, jelas sekali itu. Tapi setelah pergi jauh dan menemukan tentang arti kebersamaan, aku jadi sadar, bahwa inti dari berkelana dan belajar di negri-negri yang jauh itu adalah pada akhirnya berlabuh. Adalah pada akhirnya membangun kastil atau gubuk kita sendiri, di sebuah tempat yang memang kita rasa adalah perhentian.

Dalam sebuah drama panjang, mungkin sekali dua kita harus berhenti, ini bukan akhir, tapi awal babak yang baru. babak “merantau” mungkin sudah usai, babak “pulang” mungkin baru digelar.

ini belum titik, mungkin ini baru preambule