preambule hidup (part 2)

tulisan sebelumnya

Kalau diingat-ingat, membayangkan sore waktu itu aku berjalan dengan sepatu yang didetuk-detukkan di anak-anak tangga turun. lalu menukarkan sepotong kupon makan yang aku dapat dari wawancara kerja hari itu dengan sedikit nasi dan sepotong lauk. Rasanya ganjil, trenyuh iya, merasa konyol iya.

itulah… psikologis bisa sangat  mempengaruhi. Dalam kondisi normal, anak kosan seperti aku bisa makan dengan sungguh kurang ajar untuk deretan lauk pauk yang berjejal seperti yang kulihat waktu dulu itu, tapi nasi saja rasanya sudah tak tertelan. Aku tetap mengambil makan karna rasanya sayang saja, kupon itu paling tidak sudah menghemat berapa ribu uangku.

Selepas makan lalu aku menuju musholla, lalu berwudhu dan menggenapkan rakaat sholat yang sore itu rasanya paling syahdu. ya pasrah… ya tidak ada daya…. ya buntu….teraduk-aduk,  dan doa-doa semua rasanya aku sudah rapalkan dengan pilihan kata yang paling baik, tapi setiap kali ingin memohon-mohon, atau meminta sesuatu yang terlalu rinci, aku selalu tiba-tiba ingat bahwa yang Maha Menetapkan Takdir itu sudah jauh-jauh lebih paham akan mana yang sebenarnya itu baik buat kita, mana yang sebenarnya ndak ada bagus-bagusnya buat kita. Jadi berdoa saja pun aku malu rasanya. mau minta apa?? akhirnya aku berdoa begini saja…. Tuhan…. mana yang baik saja menurut Engkau…. kami ini tidak tahu apa-apa.

Lepas sholat rasanya lebih tenang. Sudah sedikit bisa percaya bahwa apa yang terjadi sekarang pastilah yang paling baik buat kita saat ini.

Harusnya aku sudah bisa langsung pulang, mengejar bus dari pangkalan damri, terus menikmati gerah-gerah satu jam setengahan menuju kosanku di pinggiran jatinangor, sebelum sore yang merambat nanti membuat bus semakin berjejal-jejalan, tapi malah aku belum ingin langsung pulang, hati kok rasanya masih greget ingin menyaksikan sisa-sisa wawancara hari itu. maka aku kembali menaiki anak tangga berputar- putar itu sampai pintu ruangan interview.

Pintu masih dikunci….. aku duduk di bangku beranda luar, paling kiri, paling dekat dengan pintu. berharap ada satu dua orang yang mungkin aku kenal, sekedar berbagi cerita, atau boleh jadi ada teman pulang.

Tiba-tiba seorang berbadan tambun datang, dengan langkah cepat dan tergesa dia berjalan ke arahku lalu mendorong pintu. malang…. pintu itu memang masih terkunci.

aku melongo ke arahnya dan spontan mengatakan “it is locked, sir”

Dia bule yang tadi menginterview ku. dia mengangkat bahunya, lalu berceloteh tentang petugas semestinya sudah membuka pintu itu karna mereka berjanji tepat pada jam ini sudah kembali ke dalam ruangan.

aku hanya tersenyum, dari sekian orang yang kutebak mungkin bisa aku temui dan bertukar cerita, lelaki ini datang dengan tidak sama sekali masuk dalam prediksiku.

Memecah  kekakuan  aku bertanya”where are you come from, sir?” kataku sambil membenarkan posisi dudukku. Dia menjawab, sambil bersandar ke daun pintu, tangannya di silangkan ke belakang seperti modus “istirahat ditempat grak” nya paskibra, lalu kami bercerita banyak hal.

dia bercerita tentang indonesia, tentang keluarganya, lalu tentang negrinya dan aku menyahut tentang impian-impianku untuk menjejakkan kakiku ke tempat-tempat yang jauh. mungkin ke negaranya, atau ke negri-negri yang mungkin orang belum pernah dengar. ke tengah lautan asing dan memotret sunset paling soliter, atau bulan paling lengkung. Dia mengamati dengan serius, lalu melontarkan pertanyaan

“so…. you are still not interested to join our company?” katanya tiba-tiba sekali.

dan atmosfer berubah. Aku tersenyum memikirkan hari ini. seperti grafik emosional seorang dengan karakter sanguinis, berubah-ubah dalam tempo yang luar biasa cepat, dan aku belajar dari kesalahan agar tidak menjadi setolol keledai, hanya keledai yang jatuh kelubang yang sama dua kali, maka kali ini aku menjawab rasanya sudah dengan tatanan kalimat paling manis.

Sebegitu rapihnya, sebegitu semengatnya sampai ingatanku rasanya di fast-forward lalu tiba-tiba yang aku ingat cuma setelah itu bule gemuk itu tersenyum, lalu sejurus kemudian seorang pegawai hotel datang membawa kunci ruangan, ruangan dibuka. calon peserta lain datang kembali, kursi beranda luar penuh dan berjejal lagi, aura kembali tegang. lima menit kemudian namaku dipanggil untuk kali kedua, dan aku kembali memasuki ruangan seperti dejavu yang hilang-timbul, lalu diujungnya aku tersenyum, mereka seingatku juga tersenyum, dan aku berjabat tangan dengan mendengarkan dengungan kata-kata “welcome to our company”.

Mungkin takdir baik dan buruk itu tidak seperti musim, menggelayuti langit kita tidaklah dalam tempo yang lama dan berulang, dia hanya semisal cuaca, yang sebentar datang lalu sebentar pergi. Dan dari sekian gerimis atau guyur lebat hujan yang bertamu, dari sekian hangat mentari atau terik kemarau yang hilang pergi, kita tidak pernah tahu mana yang baik buat kita mana yang buruk buat kita.

Berapa hari lalu aku lolos seleksi tahap awal, berapa jam lalu aku memulai wawancara dengan sangat mulus menjawab cecar-cecar pertanyaan, berapa puluh menit lalu aku dengan tolol menghancurkan  kemungkinan paling baik untuk bisa bekerja segera selepas wisuda, berapa menit lalu aku sudah pasrah dan merasa bahwa mungkin memang disini bukan tempatku, lalu berapa detik barusan saja kesempatan itu kembali terbuka dengan cara yang unik, eksentrik.

lalu aku pulang dan berjalan menuju pangkalan damri dengan ekspresi yang menggantung, bahagia menyelusup sampai ke bonggol-bonggol tulang tapi ingin bersorak-sorak di jalan aku tidak pula bisa. jalanku setengah diseret, setengah berlari, gembira iya, lemas lunglai iya, lalu aku menggeleng-geleng sambil tersenyum senyum. alhamdulillaah… alhamdulillaah….

epilog:

untuk  tiga tahunan yang sudah aku lewati, maka aku termasuk pembelajar yang lamban. sampai sekarang, belum pernah aku merasa mampu beradaptasi dengan cepat, pada kondisi yang membuat kita terasing dan jauh.

Memburu minyak sampai ke lekuk-lekuk meander, ke lipatan-lipatan hutan, ditengah-tengah samudera.

Aku sempat berfikir, bahwa memang pada porsinya yang sesuai, terasing dan meninggalkan keluarga itu adalah sebuah tempaan yang bagus, yang membuat kita jadi matang dan semakin paham akan berartinya sebuah keluarga.

seperti misal budaya merantau yang ada pada kebanyakan penduduk sumatra, termasuk di tempatku. rasa-rasanya kalau sudah besar dan tidak merantau, ada sesuatu yang kurang. Orang-orang bijak pun menyarankan, pergilah ke tempat-tempat yang jauh dan petiklah saripati hidup dari sana.
itu betul, dan sampai sekarang tidak pernah aku membantah itu.

Aku merantau, dan memulai hidup di tempat yang sama sekali baru, jelas sekali itu. Tapi setelah pergi jauh dan menemukan tentang arti kebersamaan, aku jadi sadar, bahwa inti dari berkelana dan belajar di negri-negri yang jauh itu adalah pada akhirnya berlabuh. Adalah pada akhirnya membangun kastil atau gubuk kita sendiri, di sebuah tempat yang memang kita rasa adalah perhentian.

Dalam sebuah drama panjang, mungkin sekali dua kita harus berhenti, ini bukan akhir, tapi awal babak yang baru. babak “merantau” mungkin sudah usai, babak “pulang” mungkin baru digelar.

ini belum titik, mungkin ini baru preambule

3 thoughts on “preambule hidup (part 2)

  1. jadi Kang arti preambule teh apa? versi tulisan di atas ama versi Akang, boleh disertakan dgn arti sesungguhny mnurut kaedah perbahasaan juga,,,hahaha,, baru nemu tu kata😀

  2. preambule itu artinya mukadimah, hilma. hehehe… jadi kurang lebih, semua yang akang alami, mungkin baru pembukaan, untuk sebuah takdir diujung sana, yang kita tidak bisa tebak. begitulah kira2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s