DEKADE-DEKADE DENDAM (PART 2)

tulisan sebelumnya, dekade-deade dendam (part one)

 

Semenjak kehilangan yang tragis itu, aku menjelma paranoid. Di sebuah kosan yang berseting rumah saja, di sebuah kamar yang pengap dan tanpa jendela saja, hp bisa hilang.

Tempat di mana kampus berada pastilah menyisakan sebuah ironi. Perlambang kemajuan pendidikan berdiri agung, dikitari oleh bangunan-bangunan berjejal, kos-kosan yang dibangun tanpa sama sekali mengindahkan apakah itu tata ruang kota, drainase yang baik, atau sekedar ruang untuk para mahasiswanya menghirup nafas yang bersih. Maka dalam segala carut marut dinamika sosial yang terlalu rapat dan beranak pinak dengan cepat, segala yang jahat mungkin terjadi.

Aku saksi, sekaligus dalam hal ini korban. Pencuri dimana-mana selalu lebih canggih. Kadang-kadang aku mereka-reka, bagaimana mungkin pencuri itu membuka pagar depan tanpa berdecit, lalu masuk ke dalam rumah lewat pintu depan, lalu menuju kamarku, lalu mengambil hp yang kuletakkan disamping kasur, diatas meja belajar biru.

Misteri belum terpecahkan, dan satu-satunya jalan yang bisa aku tempuh adalah mencegah agar tidaklah hal serupa terulang. Aku paranoid. Kukunci pintu kamarku. Pulang kuliah aku masuk kamar dan menguncinya setiap saat aku hendak tidur. Keluar kamar menuju wc, kukunci pula. Apalagi pergi, pasti kukunci. Dengan lengkap dua kali putaran, sebelumnya dibacakan pula bismillah.

Ini memang aku akui merepotkan, tapi aku sedikit merasa bahwa keparanoidanku dapat dibenarkan karna dua hal:

1. Orangtuaku berpesan –pada sebuah pembicaraan yang kembali menggunakan wartel- bahwa menghadapi ancaman pencurian yang semakin marak, tidak ada salahnya meningkatkan penjagaan. Dont let your guard down. Filem-filem juga sesuai dengan falsafah hidup baruku itu.

2. aku bersumpah, sebelum mengetahui siapa dan bagaimana pencuri itu membodohiku, aku tidak akan meninggalkan kamarku tanpa penjagaan ketat. Seperti sumpah gajahmada.

Semenjak itu, pembicaraan interlokal antara aku dan orang tuaku kembali ke wartel. Jaraknya wartel itu sekitar 10 menit jalan santai, atau lima menit dengan lari pagi, dari kosanku.

Hari berganti, musim berubah, lewatlah satu lebaran, dan dengan kemurahan Tuhan aku berhasil membeli lagi sebuah handphone. Kali ini dengan uangku sendiri, dan ditambah sedikit belasungkawa dari bapak dan ibu.

Aku akhirnya sekarang menjadi orang yang sangat fungsional. Memandang hp sebatas fungsi yang paling dasar, menelpon, dan mengirim sms. Fungsi-fungsi lain semisal main ular-ularan seperti tetris –waktu itu game semacam itu sangat trend- tidak menjadi perhatianku.

Aku mohon maaf, sekiranya tidak bisa detail menggambarkan apa-apa merk hp-ku waktu itu, lantaran aku juga tidak begitu ingat. Berapa kali aku berganti hp. Modusnya adalah ‘ada uang beli hp, kiriman kurang aku jual hp itu’. sama sekali bukan trik bisnis, itulah kalau rekan-rekan ingin tahu, sebuah perniagaan yang tidak pernah untung. Dan dalam sebuah perniagaan konyol begitu, aku memaklumi diriku sendiri untuk tidak mengingat-ingat merk hp itu, tak apa.

Fungsionalitas handphone yang aku ceritakan tadilah, yang menyelamatkan aku dari banyak hal. Menyelamatkan aku dari kelaparan saat uang menipis, aku bisa segera menelpon orang tua dan mengabarkan berita yang membuat hati trenyuh, yaitu anaknya sudah mengalami kondisi finansial nyaris pailit, hp buruk rupa tak soal, yang penting bisa menelpon. Atau hp pernah juga pernah berjasa membuat aku gampang menghubungi para dosen pembimbing yang ampun-ampun susahnya mencocokkan jadwal dengan kesibukannya.

Lewat fungsionalitas telephoni sebuah hp, aku pernah pula dimaki-maki dosen pembimbing termaut seantero kampusku “SAYA TIDAK RESPEK YA, KALAU ADA MAHASISWA MENELPON SAYA LANTAS MENANYAKAN KAPAN DIA SIDANG!! KALAU SAYA BILANG ANDA SIDANG, BARU ANDA SIDANG!”. Takjub aku dengan kehebatan hp, pembimbing di seberang sana sedang aku berkilo-kilo jaraknya, tak urung aku merinding juga mendengar omelannya, padahal hp-ku hp tua bersahaja saja.

Dan huruf besar itu, yang berisi omelan pembimbing skripsiku pada paragraf diatas tadi, memang sepatutnyalah aku cetak dengan huruf besar, huruf kapital adalah mewakili mungkin segi emosi, atau juga mewakili mungkin intonasi. Deretan kata-kata dalam sebuah teks kan tidak mungkin bisa membawa segala muatan sehebat kata-kata verbal secara langsung.

Cobalah, kalau tidak aku tulis dengan huruf besar, kita mana paham kalau kalimat dosenku itu marah-marahkah? Atau syahdu mendayu-dayukah? Itulah kelemahan bahasa. Lebih tepatnya kita kadang-kadang kebingungan menyampaikan ide kita lewat “bahasa” yang terbatas.

Kadangkala dosen –yang saya hormati- juga membuat bingung dengan mengirimkan balasan SMS singkat “YA, SAYA BISA HARI RABU”. Nah……. kita kan jadi serba salah, apakah kapital itu berarti marah? Merajukkah beliau? Atau itu hanya karna dosen itu menganggap hp itu sefungsional-fungsional mungkin. Deretan kata sudah terkirim, dan selesai sudah. Padahal, mahasiswa bodoh macam aku ini bisa menafsirkan kata-kata itu dengan beragam arti. Aku pusing, dan malam-malam susah tidur, padahal boleh jadi pak dosen tak tahu cara mematikan CAPSLOCK di hape.

Untunglah……. belakangan, teknologi internet sudah muncul. Banyak hal yang bisa memperjelas pesan yang kita sampaikan. Bahasa tulisan bisa diberikan warna-warni, misalnya pink, untuk kata-kata lembut, digaris bawah untuk penekanan. Kapital hanya untuk hal-hal yang kau rasa super urgent, atau kalau sekali waktu kau ingin memaki.

Dan kau pasti menangkap sesuatu yang runyam, sama seperti aku. Penetrasi hp, lebih merata dibandingkan penetrasi internet ataupun komputer dalam kehidupan masyarakat. Termasuk aku. Jadi apa yang aku pikirkan???? Yang aku inginkan adalah, bagaimana aku bisa menggabungkan dua hal itu, agar fungsi-fungsi yang aku celotehkan tadi, bisa diakomodir tidak hanya lewat komputer, tapi juga lewat hp. Singkat kata, aku mulai jengah dengan hp milikku yang hanya bisa dipakai sefungsional-fungsional mungkin.dalam bahasa tanpa sastra, bisa diterjamahkan sebagai: aku harus beli hape baru.

Aku lulus kuliah dan mulai bekerja, maka kemungkinan itu terbuka.

Seting kali ini bukan lagi di bandung, rekan-rekan. Tapi di jakarta. Sebuah tempat panas nan berdebu di jakarta selatan. Aku ingat sekali pesan bapak “kalau sudah bekerja, sisihkan sebagian gaji pertamamu untuk membeli kambing kurban”. Perintah yang sangat sederhana, tanpa semacam metafor-metafor. Aku mengangguk, “siap pak”, ujarku.

Tapi itulah godaan uang. Aku, dan rekan sekamarku, seorang batak murni tapi sejak lahir diemong oleh jogjakarta hadiningrat, sudah merancang sebuah visi hidup. Gaji pertama adalah handphone baru.

Ada juga sebagian kawan-kawan yang sudah bervisi lebih tinggi, yaitu menyisihkan uang untuk membeli rumah. Maka waktu kawanku satu itu sibuk mengurus NPWP untuk pajak dan segala persyaratan lainnya, kami –aku dan kawan batak jawaku itu- tidak ambil pusing. Peduli setan. Kami tetap teguh berpendirian bahwa hp, dalam hal ini, adalah sudah waktunya masuk dalam kehidupan keseharian kami. Dan hp itu haruslah tidak hanya mampu menjalankan fungsi dasarnya dalam kehidupan alat perkomunikasian tapi haruslah juga mampu memutar radio, tukar menukar data dua arah dengan bluetooh, ada mp3 playernya, dan kamera digital minimal 1.3 mega pixel.

Memang kebanyakan syarat-syarat itu aku yang membuat. Kawan batak jawaku ini tadi kurasa-rasa hanya terpengaruh oleh retorika mautku saja. Kadang-kadang kalau menyusun rencana-rencana, aku merasa seperti sukarno sedang berpidato. Hanya bedanya pidato sukarno itu mencerahkan dan mengusung rencana-rencana besar, maka cukuplah retorikaku itu remeh temeh semisal kriteria hp yang harus dibeli dengan gaji pertama.

Waktunya datanglah sudah.

Gaji masuk……. astaghfirullah………… ah…. maksudku alhamdulillaah. Kami berjingkrak-jingkrak di dalam atm. Dan malam itu juga, aku dan rekan sekamarku berangkat menuju ITC, membeli sebuah hp. Dia satu, dan aku satu.

Maka sibuklah aku, mulai malam itu, menseting ini itu, membuka-buka majalah celular, dan memainkan sebuah impian sejak kuliah, yaitu menyelaraskan fungsi-fungsi internet dengan sebuah hp. TRINGGGG. Sekarang hp-ku sudah bisa gprs. Internetnya menyala….. betapa aku waktu itu senang, jaman itu, masih sedikit lho orang yang paham bagaimana menghidupkan gprs handphone, jadi waktu itu buatku sebuah pencapaian adiluhung. Kawan batak-jawaku itu, aku setingkan juga internetnya. Kami berdua sudah lebih uptodate dengan perkembangan komunikasi. Hp sudah tidak sekadar fungsional, tapi juga entertaining.

Apa?? Kambing kurban kau bilang???

Tenang….. lebaran idul adha masih lama, aku berfikir dalam hati, sebenarnya agak gamang juga, tapi aku yakin gaji kedua nanti bisa aku simpan, melaksanakan petuah dari bapak yang sudah dipesankan jauh-jauh hari itu.

Sampai suatu malam.

Aku tertidur lelap… kawanku itu tertidur juga. Bukan main gerahnya jakarta, hingga malam-malam menjelang dini hari aku terbangun. Jam berapa ini?? Aku mencari hp-ku, dan berharap melihat angka digital yang tertoreh di screennya, satu-satunya penunjuk waktu yang aku miliki. Tapi dimana??? Di bawah bantal tak ada. Di samping kasur tak ada.

Ah….. sudah pasti pria tambun rekan sekamarku ini yang menyembunyikannya. Aku tahu, tidak bisa aku ditipu dengan sebuah trik kuno macam begitu. Lalu kuambil hp kawanku tadi dan menelpon nomorku sendiri. TIDAK AKTIF!!!!

Gawat…………. aku panik dan mulai berdeguplah jantungku, sambil menatap nanar. Aku merasa ada sesuatu yang ganjil malam ini, aku tahu itu, dan sesuatu yang membuat perasaan tidak nyaman itu, apapun itu, masih ada di sekitar sini.

Nanar, aku sapu seisi ruangan dengan tatapan mataku. Aku saat ini dalam modus luarbiasa peka terhadap gerakan sekecil apapun. Tiba-tiba gorden kamar bergerak-gerak. Setengah kaget aku beringsut mendekati jendela kaca nako kamar kosan pinggir jalanku itu. tiba-tiba sejuntai tangan terlihat masuk lewat celah kaca nako. BAJINGAAAAAAANNNN!!!! Dendamku menyeruak, kejadian hampir satu dekade lalu menemukan muara pelampiasannya.

Meloncat aku ke pintu dan membuka kuncinya, satu putaran, dua putaran…… macet….aaarrrrrrrrrrrrggghhhh…. pintu akhirnya terbuka, aku kejar tak tentu arah pencuri setan alas itu. tak peduli aku tak pakai sendal. tapi luput……. yang tersisa hanya gelap……..

Dari segala kemungkinan yang bisa kulakukan, pukulan ke arah rahang. Pitingan maut. Tendangan ke ulu hati. colok mata, cekek leher, tapi aku malah hanya mengejar angin. Pintu terkutuk itu telat membuka beberapa detik. Dan refleks tololku bukannya menarik tangan pencuri itu dari kaca, tetapi grabak-grubuk membuka pintu.

Malam itu semua aku sumpah serapahi. tingkat moralitas penduduk indonesia yang rendah. Jakarta yang panas. Keamanan RT yang payah. Sistem kosan berkaca nako yang didisain oleh bapak kos kurang pertimbangan. Refleks bodohku. Sampai ketololan aku dan kawan sekamarku yang dipecundangi pencuri iseng yang mungkin kebetulan lewat di samping jalan, lalu dengan santai dan bersiul-siul memungut hp dari celah kaca nako, seperti petani menuai padi yang kuning dan ranum. Lalu aku tertunduk dan menarik nafas dalam, mengikhlaskan semuanya, aku percaya aku orang yang pemaaf, tapi benarkah?

Entah kenapa tiba-tiba aku ingat kambing kurban.

3 thoughts on “DEKADE-DEKADE DENDAM (PART 2)

  1. tragis,,,tapi ngakak,,huahahahaha,,,
    masuk lubang yang sama gara2 euforia hp baru,,,
    bapa hilma jarang ngasih hp baru, ini dapet hp baru karna modus penyuapan supaya cepet lulus,,hehe *mental anak tk*

  2. waaaa,,hilma mana nih?hilma temen D bukan ya?
    hmm,,sayang D jarang menerima suap spesial dari ortu..hehe..

    hmm,,emang seringnya gitu sih,,kang..
    memaafkan sesaat,,terus ngerasa kasuat-suat lagi kl inget kejadian yg lalu2..jd aslinya emg pendendam ya kl gt?haha,,D bgt tuu..

  3. kawan “batak jawaku”???? wekekkekekkekkekke….pria tambun itu sekarang hampir menjadi seorang bapak!!!!

    gaji jadi kulinya bang roid memang menyilaukan mata….saking kecilnya wekekkekekkekek…

    keep Alhamdulillah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s