DEKADE-DEKADE DENDAM

Aku menyimpan dendam yang menahun. Bersemayam di ceruk paling dalam palung hatiku, benar-benar terselubung sampai aku pun sering merasa bahwa aku bukanlah orang yang mempermasalahkan kejadian yang sudah hampir satu dekade lalu terjadi, sampai detik ini aku mencap diriku sendiri sebagai orang yang pemaaf, tapi benarkah?

Kamar sempit, penerangan yang temaram. Dimana gerangan? Sulit aku gambarkan perasaanku waktu itu. Bangun tidur, dengan perasaan hampa yang aneh, kebosanan yang membebat sejak tadi siang mendengarkan rapalan ceramah para dosen di kampus di sulam rapih dengan hawa-hawa sore menjelang maghrib, aneh dan mistis. Dan di aura yang sama sekali tidak indah sangatlah tidak preferrable untukku mendapati kenyataan pahit seperti itu.

Aku sudah tidak teriris lagi memang, saat ini. Tidak pula aku setiap mengenang kejadian itu lantas berduka nestapa yang dalam, misalnya. Tidak. Tapi kalaulah ditanya apakah aku memaafkan pelaku pada hari itu? Aku susah menjawabnya. Untuk berbohong aku tidak luwes, dan untuk mengungkapkan sejujurnya kok rasanya susah memverbalkannya.

Selain susah aku juga ternyata memahami sisi paling dalam kepribadianku yang belum terungkap. Seperti teori gunung es, ternyata aku pendendam. Dan menyadari kenyataan pelik seperti itu membuatku takut mengakuinya, maka itu aku bungkam, aku terlanjur mencap diriku sendiri sebagai orang yang pemaaf, tapi benarkah?

Seperti segala sesuatu ada asalmulanya, maka ceritaku ini juga ada sebab musababnya.

“assalamualaikum pakde” aku menyapa dengan nada paling njawani yang aku bisa. Bapakku seorang jawa, kata bapak masih ada turunan kraton trah kesekian puluh, tentu bukan pangkat yang bisa dielu-elukan, tapi terlepas dari kraton-kratonan yang jelas aku tidak bisa berbahasa jawa. Hanya bisa berlogat jawa. Dan dari pulau jawa, dari jogjakarta hadiningrat, aku menelpon dari sebuah wartel pada subuh dini hari, kepada seorang pakde yaitu teman bapakku, yang jarak rumahnya dua blok dari rumahku diujung komplek, demi menumpang ngobrol dengan Bapak, adalah alasan yang luarbiasa logis buatku untuk bersopan santun dan beramah tamah. Berbicara dalam logat yang mirip jawa aku nilai sebagai satu dari sekian kemungkinan beramah tamah itu.

“waalaikumsalam” pakde berkata.

Telepon keluarga itu berdering di subuh dini hari, sudah bisa ditebak, tidak lain tidak bukan adalah telepon menyusahkan dari seorang anak yang baru belajar merantau. Dan dugaan mereka itu selalu tepat, karna memang akulah yang sedang berada di dalam kotak sebuah wartel dekat kos-kosan di jogja sana, menelpon sederet nomor, nomor area bengkulu, lalu disusul nomor rumah pakde, untuk minta tolong dengan segala kerendahan hati, agar pakde bersedia memanggilkan bapak yang dua blok jauhnya itu, sekedar bertukar kabar denganku.

Maka ritual biasanya selalu begitu. Aku ber assalamualaikum pakde, pakde menjawab, lalu telepon dimatikan sekitar lima menit. Aku menunggu di bangku panjang sebelah bilik wartel, melihat jam dinding, lalu menghitung jarum panjangnya bergeser lima kali, di seberang sana, di sumatra sana, aku membanyangkan pakde menderumkan motor tuanya, lalu berangkat menuju rumahku, mengetok pintu luar, dan bapak menyahut dengan segala penerawangan yang tepat, sudah menyadari bahwa aku menelpon. Maka detik kemudian bapak dan pakde kembali berboncengan menuju rumahnya, lalu duduklah dengan takzim, bapakku di samping pesawat telepon itu, menunggu telepon berdering. Lima menit. Tepat lima menit. Telepon kutekan lagi, dan diujung sana sudah pasti bapak yang mengangkat.

Awalnya begitu. Aku merantau ke jogja, dan keluargaku di bengkulu. Kami tidak punya telepon. Dari dulu-dulu sekali, waktu aku masih SMA, telepon sudah jadi wacana yang sering Bapak tawarkan, tapi kemudian Bapak ralat sendiri. Kata bapak, telepon itu sebenarnya bukan kebutuhan primer, sekunder-pun dirasa bukan, maka untuk sesuatu yang jatuh dalam skala kebutuhan tersier, cukuplah ia jadi wacana saja, masih banyak yang lebih penting daripada telepon.

Akupun mengamini. Bagaimana aku tidak mengamini? Harga telepon sangatlah mahal. Rumah kami saja baru dimasuki listrik, apatah wajar jika kami memasang telepon? Memasang telepon, konon lebih sulit lagi birokrasinya daripada memasang listrik. Memang, waktu itu sudah ada satu dua yang menggunakan handphone, tapi waktu itu handphone masih barang mewah, harganya mahal, dan sekalipun tidak pernah aku ingat menjadi wacana dirumah kami.

Maka ritual semacam itu harus terjadi berulang-ulang, aku bangun pagi, lalu selepas subuh berjalan ke wartel terdekat, memencet kode area bengkulu, lalu menekan nomor pakde. Pakde menjawab. Telepon dimatikan sebentar lima menit. Lima menit kemudian kutelpon lagi, diseberang sana pastilah sudah bapak yang menyapa.

Lama-lama hal ini terasa merepotkan juga. Dalam kultur jawa, ada rasa tidak enak, perasaan yang tidak nyaman saat terlalu sering berhutang budi pada orang lain, maka sebuah ide lebih baru tercetus dari orang tuaku. Biarlah aku tidak usah menelpon, nanti pada awal2 bulan merekalah yang akan menelpon. Untunglah kos-kosanku memiliki sebuah telepon. Maka pada malam hari, biasanya telepon berdering dan namaku diteriakkan oleh kawan-kawan. Aku paham, bahwa orangtuaku sekarang sedang ada di sebuah bilik di warung telepon, melakukan sebuah ritual yang tadinya aku lakukan. Kami bertukar cerita. Aku melaporkan kemajuan bimbingan belajar yang aku ikuti di jogjakarta hadiningrat ini, demi menembus saringan ujian masuk perguruan tinggi negri. Apa??? Bertemu embah? Sudah pasti belum, meski di jogja ini banyak sanak sodara dari jalur bapak, tapi aku ini sudah tercetak sebagai anak pemalu yang bervisi jauh kedepan. Andaikata aku tidak lulus UMPTN, bagaimana tanggapan keluarga bapak nanti? Maka dengan merasa diri sudah bijak, aku memutuskan tidak akan menemui keluarga bapak sebelum berita kelulusan aku dengar.

Lama-lama persepsi bapak berubah. Komunikasi bukanlah soal tersier, dia mungkin primer, atau sekurang-kurangnya sekunder. Itulah awal mula kemunculan handphone di rumah kami. Handphone muncul, sebagai sebuah entitas yang asing. Dia dikagumi berlebihan. Perkara handphone itu adalah handphone bekas, dengan layarnya yang hanya selebar kelingking bayi, berantena panjang, dan setiap text yang tercetak dilayarnya itu jelas sekali tersusun dari titik-titik pixel yang besar-besar, tidak pernah jadi soal.

Aku senang, tidak perlu lagi menelpon pakde, tinggal kutekan sederet angka yang lebih panjang lagi, lalu tersambunglah ke handphone bapak. Handphone berdering adalah sebuah anugerah baru di rumah kami. Tak ada yang tahu nomor hp itu selain aku, jadi setiap aku tidak menelpon, sekeluarga mungkin sangsi bahwa hp bekas itu masih berfungsi. Bapak harus pula keluar rumah setiap kali menerima panggilanku, sinyalnya hilang timbul hilang timbul, atap seng rupanya sudah cukup jadi penghalang untuk kemampuan tangkap sinyal sebuah hp tua. Aku melaporkan perkembangan, bapak bertanya kabar, lalu koneksi terputus. Hp tua itu mati, lowbat yang klise. Dan aku tidak lantas menelpon kembali, interlokal menuju hp ternyata menguras celenganku. Satu masalah selesai, tantangan baru lagi ternyata muncul. Katanya, telpon dari hp ke hp lebih murah daripada interlokal.

Dan itulah awal mula kehadiran hp dalam kehidupanku. Aku pindah lagi ke bandung. Melanjutkan pendidikan di sebuah kota yang baru. Dan dibaluri dalam pergaulan yang membuat aku berfikir bahwa hp memang primer. Primer sekali dan tak mungkin sekunder. Salahlah orang-orang yang menganggap hp itu tersier.

Tapi aku sungguh tidak meminta. Ini jujur aku katakan, rekan-rekan. Memang ibu yang waktu itu menyerahkan sebagian uang yang sudah dia kumpulkan dari hasil berjualan, lalu dititipkan padaku lewat transferan bank dari bapak. Kata ibu waktu itu, belilah sebuah handphone yang bagus. Second tidak apa-apa, tapi carilah yang bagus, bila perlu lebih bagus daripada yang dirumah. Supaya menelpon bisa lebih murah.

Jumpalitan benar aku waktu itu. Aku memang sebenarnya sudah menabung, dan mengumpulkan uang dalam sebuah kotak sepatu, niatku, dengan uang jajan yang aku kumpulkan itu, moga-moga bisa membeli sebuah hp, tapi ternyata takdir berpihak padaku, ibu mengirimi aku uang, dan menyarankan aku membeli hp, dan sumpah rekan-rekan, aku tidak memintanya.

Gampang, mencari hp yang lebih bagus dari punya bapak, hampir semua hp di etalase toko-toko sepanjang jalan jatinangor, dipilih secara paling random-pun adalah hp dengan kualitas lebih bagus daripada hp bapak.

Malam itu, aku ingat betul, membeli sebuah hp bermerk seperti merk kulkas, ada antena juga, tetapi kecil, berlayar biru, dan bercharger beda dengan merk hp-nya. Rasanya malam itu seperti mimpi. Segala keletihan kuliah dan segala kesepian dalam perjalanan panjang menuntut ilmu sampai negri cina ini terbayar oleh sebuah hiburan kecil dari Tuhan, handphone dengan warna layar biru. Aku utak atik sampai malam-malam sekali, sampai baterainya habis dan mati. Aku tertidur.

Keesokan harinya aku kaget bukan main. Tak bisa hp itu digunakan. Sebuah kode diminta dengan tegas. PHONE LOCKED. Siapapun pemilik hp itu dulunya, pasti dengan congkak telah menjual hp dengan merahasiakan kodenya. Aku lari-lari siang itu ke counter tempat hp itu kubeli. Bisa ternyata diakali. Tunggulah barang 2 hari katanya. Harus dibawa ke teknisi dengan biaya 20 ribu. Aku mengalah, hp ku di unlocked dan uangku melayang. Tapi hp sudah mejadi primer.

Wartel sudah jarang kusambangi. Entah mereka mengamati atau tidak, bahwa pelanggan setia mereka berkurang satu. Komunikasi lewat hp lebih mudah. Dan memang lebih murah. Aku bercerita pada keluargaku, bahwa hp yang kubeli itu berlayar sebesar dua jari dan lebih mungil dari yang dirumah.

Dalam konstelasi pertemanan di kampus, hp itu membuatku semakin accessible, bisa dihubungi kapan saja. Waktu kuliah yang acak-acakan dapat dengan mudah diatasi oleh kecanggihan teknologi. Setiap ada waktu luang, aku pulang ke kosan, dan istirahat melepas penat. Nantinya akan ada rekan-rekan yang menderingkan hp biru itu, sebagai alarm bahwa ada jadwal perkuliahan.

Tapi hari itu tidurku terlampau lelap, sepulang kuliah kuhempaskan badan di kasur tipis, dan tenggelam dalam mimpi di temaramnya kamar. Azan ashar masjid sebelah tidak menggoyang-goyang aku dari lena yang dalam, dan baru aku terjaga saat maghrib hampir pentas di ujung ufuk.

Aku menggeliat, memicingkan mata dari sinar orange khas senja yang masuk meliuk-liuk dari ventilasi. Jam berapa ini?? Aku mencari-cari hp biru, berharap melihat angka digital yang tercetak di screen-nya, satu-satunya penanda waktu yang aku punya.

Di sebelah kasur, tak ada. Di atas meja, tak ada. Aku terdiam sejenak. Di bawah lemari, tak ada. Di balik pintu, tak ada. Aku mulai panik dan mendengar jantungku sendiri berdegup. Di dalam tas, tak ada. Di saku celana, tak ada. Kepalaku pusing dan berkunang-kunang. Semua sudah aku bolak-balik dan tak urung hp biru itu masih tak terlihat. Kucari chargernya, kalau-kalau masih tersangkut di colokan listrik. Tak ada. Aku berdiri, memegang kepalaku dengan dua tangan dan menyapu rambutku ke belakang, lalu azan maghrib terlontar keras dari toa musholla sebelah.

Menyesal betul hp itu tidak kubeli dari celengan kotak sepatuku, benda biru itu adalah pemberian orangtuaku, sungguh pula bukan aku yang meminta. Sudah hampir satu dekade, dan aku masih mengecap diriku sebagai orang yang pemaaf, tapi benarkah? Aku tidak tahu..

to be continued…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s