LABIRIN (repost)

Pagi selalu saja dingin dan menusuk, memberikan aura perenungan yang dalam dan tak terganggu, hening yang terlampau, lalu seperti nyata kita mendengar bunyi denging yang mendengung di telinga, lalu masuk ke hati dan fikiran, sampai-sampai tak sanggup kita menahan Tanya yang berputar-putar tentang makna hidup, arah jalan, dan kemana-mana kaki sudah kita langkahkan kemarin-kemarin itu?

Setiap subuh, kupintakan dengan sangat, untuk dapat dianugerahkan mata yang bening dan teduh, yang bisa melihat sampai ke balik-balik makna, tentang mana yang baik di akhirnya mana yang buruk di akhirnya.

Kupintakan juga jiwa yang lapang sesamudera, untuk menampung segala keluh kesah apa-apa, segala letih penat kita, segala banyak coba dunia yang merantai menyeret-nyeret, maka biarlah semua tenggelam dalam genang yang tiada bertepi.

“mohon cukupkan hari kami ini untuk selalu merasa diliputi berjuta nikmat yang menggelontori, yang mengalir sejuk melewati jengkal demi jengkal tubuh, meresap pelan lewat pori, mensenyumkan bibir, mata dan hati kami ini dengan bahagia yang tak alang kepalang.

Sekian banyak hari sudah kami lalu ya Rabb, jangan biarkan nafsu bodoh kami ini menjadikan kami berputar-putar dalam labirin yang kami buat sendiri, sementara jalan indah menuju bahagia itu selalu lurus menujuMu, kami ini tak kepalang senang nian menikung.

Bagaimana kami harus melolong? selagi terlalu senang kami untuk terpukau tertipu, tidak mungkin kami menjerit saat kami kira kami suka ria. Inilah kami duhai yang maha membimbing, wahai yang menunjukkan pilihan disetiap tikungan-tikungan, wahai yang memberi tanda di setiap persimpangan, kami begitu bodoh dan tersesat sekusut masai yang tak lagi bisa kami urai.

Tuhan…………………………………………
kemarin dulu-dulu itu, kami terlupa setelah tafakur pagi, maka izinkan kami tetap tunduk dan terjaga ini hari, hingga siang nanti tiba, sampai senja menyorong gulita, sampai nanti tiba masanya.

 

Iklan

ODE UNTUK ORANG-ORANG YANG SENDIRI (repost)

alone

Dalam rentang panjang waktu hidup kita yang terseok, pasti ada satu dua masa dimana kita harus menikmati kesendirian yang pahit. Terperangkap dalam belantara terasing dibawah tatapan beribu-ribu mata, atau menangisi jutaan keping beban yang tak memberi jeda nafas kita untuk terhela barang satu dua detik saja.

Aku, suatu kali pernah juga menitikkan air mata, pada jenak-jenak hidup dari keseluruhan waktu panjangku yang bernama “sendiri”

Maka diwaktu yang singkat ini, izinkan aku sejenak menjadi kurma, yang beribu tahun lalu memberi teduh pada Muhammad, di sebuah kebun nun di Thaif sana.

Dari sudut kenangan itu, kulontar senyum untuk siapapun saja,“gerangan apa engkau meneteskan air mata, kawan?”

Hidup ini, bagi kita adalah orkestra. Gemuruh syair, alunan biola dan harpa adalah nada dalam pagelaran hidup kita, tapi hening juga nada, diam sejenak dalam syahdu yang kadang2 mengiris, untuk lalu bergemuruh lagi dengan simfoni luar biasa yang memaksa dunia ini bertepuk tangan, suka atau tidak suka.

“gerangan apa engkau meneteskan air mata, kawan?”

Atas nama ibu yang telah menggadaikan separuh nafasnya untuk kita, maka tidak sekali-kali kita akan surut.

Atas nama ayah yang mengisi jenak-jenak hari kita dengan semangatnya, maka tidak sekali kali kita akan goyah.

Hidup kita terlalu berharga untuk jatuh dan hancur luluh! Maka kita tetap berdiri, betapapun rapuh kaki, betapapun teriris hati, betapapun berduri jalan ini, betapapun SENDIRI!

Maka hari ini kita hapus airmata dalam diam yang hening, lalu berjanji dalam hati, bahwa tidak suatu apa akan membuat kita limbung, tidak mentari, tidak bayu, tidak bumi.

“gerangan apa engkau meneteskan air mata, kawan?”

Ceritakan sejenak padaku! akan aku dengarkan dengan sepenuh waktu, sesabar angin siang yang membelai-belai ilalang, sesabar bulan tua yang menemani kita,

dari sabit hingga purnama,

dari sabit hingga purnama

 

 

repost tulisan lama

senandung biji pohon di tengah hutan pada suatu hari

hutan

Saat ini, aku merasa seperti sebuah biji yang bernyanyi sendiri di tengah hutan.

Apa yang lebih penting bagi biji selain tumbuh dan menjadi berarti?

Ada yang lepas dari kesendirian hutanku, meloncat, dan berlari ingin berteriak

“jangan pernah rendahkan aku meski biji tak setinggi belantara!!!”

suatu hari aku bernyanyi,
senandungku,
nanti, suatu saat aku akan tumbuh besar dan menjadi

 

 

*repost tulisan lama