KABAR LARUT, DARI CINTA DAN KEMATIAN

Handphone di sebelah bantalku berdering. Malam sudah selarut itu tiba-tiba suara kecil dari ujung sana mengabarkan berita kematian.

Pada hamparan kehidupan manusia, selalu terjadi pergolakan pemikiran, perubahan pemahaman-pemahaman, kesadaran yang menjadi matang dan lebih bernas, atau juga koreksi-koreksi atas pemikiran masa silam. begitulah ide-ide berloncatan dan berubah bentuk di kepalaku.

Bekerja, sudah sedemikian lama menjadi tujuan yang agung, dalam hidupku. padanya kutitipkan beban berat kejiwaan yang abstrak dan halus. padanya aku kait-kaitkan keinginan terdalam diri untuk menjadi ada dan tertulis dalam lembaran sejarah dunia, atau paling tidak menjadi salah satu variabel dalam persamaan runyam yang berjejalin dengan banyak kepala dan nama.

“dia mati” katanya.

aku terhenyak, malam masih larut dan kantukku terusir paksa. bagaimana bisa? aku bertanya dalam diam, dalam kaku.

“dia mati” katanya lagi, sambil menangis deras, tangis itu mengaburkan suaranya.

aku gelagapan. lalu jarak sejauh ini terasa semakin membebaniku dengan kemusykilan. bekerja di tempat yang terpisah membuatku tidak bisa hadir pada saat-saat seperti ini. waktu dimana kehadiranku mungkin lebih dari apapun baginya.

Baru tiga hari yang lalu pesawat mendarat. aku turun dari perjalanan satu jam empat puluh menit. waktu yang sebentar bisa mengulur jarak menjadi bermil-mil bila ditempuh dengan kecepatan besi terbang. kami terpisah jauh. dan bekerja sudah sedemikian lama menjadi tujuan yang agung, dalam hidupku. padanya kutitipkan beban berat kejiwaan yang abstrak dan halus. padanya aku kait-kaitkan keinginan terdalam diri untuk menjadi ada dan tertulis dalam lembaran sejarah dunia, atau paling tidak menjadi salah satu variabel dalam persamaan runyam yang berjejalin dengan banyak kepala dan nama.

“aku pergi dulu, dua minggu lagi aku pulang” kataku waktu itu.

aku harus bekerja, dek, mengumpulkan uang dan memugar rumah. meninggikannya dua lantai. mungkin juga mengganti mobil kita dengan yang lebih baru lagi. Sementara dia cuma menunduk tergugu dan berkata sampai jumpa lagi dua minggu kedepan. maka aku pergi dalam semangat yang pijar dan terang.

aku sadar, dalam ketiadaanku di dekatnya maka waktu akan berdetik lebih lama baginya. rutinitas akan menjelma lebih bosan. maka sebelum keberangkatan yang biasa itu, berapa hari sebelumnya kuajak dia pergi ke pasar, kami berhenti di pinggir sebuah jalan, tepat dibawah naungan pohon kecil nan teduh kami beli dua piring lontong sayur yang pedas, darisanalah semua bermula.

tiba-tiba dia ingin membeli binatang peliharaan. di pinggir jalan pasar pagi kami temukan sepasang kelinci berputar-putar dalam sangkar kawat-kawat besi. seekornya putih seekornya lagi abu-abu. pulang kami dari pasar itu dengan membonceng sepasang kelinci di motor. lalu keesokan harinya aku pergi ke seberang laut untuk sebuah tugas, dan dia, istriku mengobati sepinya dengan memberi kelinci sawi, juga kangkung. kelinci-kelinci itu melompat-lompat kesana kemari dan mencicit lucu. aku sedang di seberang pulau.

Cepat aku larut, dalam genangan pekerjaan yang bertumpuk dan penuh, dalam harapan-harapan akan rumah yang menjulang tinggi dan angkuh, dalam cita akan kendaraan yang glamour dan berkilat, dalam pengakuan keberadaan yang menenangkan aku dari pertanyaan seumur hidup “sudah berartikah aku jadi manusia?”, dalam kebutuhan-kebutuhan pada rasa hormat, dalam bebalut nama yang membuatku merasa ada.

lalu malam itu HP berdering, dari sebelah bantal tidurku pada suatu malam yang hampir habis. dan dari ujung sana dia mengabarkan berita kematian.

Seketika aku disergap rindu. dari cinta yang mungkin paling bersih dan putih, bahwa aku menangis tidak karena mendengar berita kelinci abu-abumu diterkam kucing liar lalu dibawanya pergi menjuntai-juntai dengan darah masih mengalir dari nadi kerongkongannya. tapi airmataku menetes pada setiap apa-apa yang membuatmu bersedih. dan pada kenyataan bahwa harus dengan isak tangismu aku menyadari betapa berharganya engkau. lalu tidak henti-hentinya kutenangkan kau dari sebrang laut, sudahlah, itulah insting binatang, tidaklah kucing liar itu tersalah, tidak juga kelinci kecil itu mati sia-sia. ini memang perkara cukup lumrah, tapi aku mengalirkan air mata juga untuk perasaan kehilangan yang bersemayam di balik hatimu, pada rasa kasih yang halus dan lembut, pada kesendirianmu yang kutinggalkan, dan pada kesalahan pemahaman yang bersemayam dalam hitung tahun-menahun padaku.

Maka malam itu, rasa-rasanya aku sudah menemukan jawabannya. Pada pertanyaan lama yang lengket di kepala, dada, dan sekujur tubuhku, bahwa aku hidup untuk memberi yang terbaik saja pada semua yang kucinta, lalu segala selainnya rasa-rasanya sudah tak jadi soal penting.

mungkin hanya niat yang seperti itu yang bisa menumbuhkan cinta, dan menguatkan kita pada pekerjaan yang meletihkan, pada keseharian, pada jarak yang terbentang yang jauh, pada kesendirian-kesendirian, pada sepi-sepi yang kosong, padaku dan padamu.

Atas nama cinta, semoga pandai kita membedakan, mana tujuan mana jalan. Maka semoga segala “kerja” kita bernilai di matanya.

nanti dek, kita beli kelinci lagi, ya. 🙂

Iklan