ONOMATOPE (repost)

Aku tidak pernah bisa memainkan alat musik. Sedari dulu alat musik seperti tidak pernah mau mengakrabkan diri denganku meski aku selalu beramah tamah dengan bunyi. Tapi kami tidak pernah bisa menyatu.

Dimasa SMA pernah sekali aku meminta ibu membelikan sebuah gitar. Sebuah permintaan yang selintas saja, aku tahu tidak mungkin beliau membelikanku gitar. Tapi rupanya ibu bercerita pada nenek, dan nenek mengirimi aku uang. Maka siang hari yang panas di minggu itu aku dan Bapak menyusuri jalan Soeprapto yang pendek, lalu lintas terpadat di kotaku, dan membawa pulang sebuah gitar yamaha coklat tua.

Aku memetik gitar pada sore hari, memetiknya lagi malam hari. Mengakrabinya dengan sebuah keberanian yang murni, otodidak yang soliter. Gitar itu berbunyi dengan bunyi yang tidak harmonis, aku tahu itu. Ribuan kali memetiknya tidak lantas menjelmakan aku sebagai manusia yang menipu diri sendiri, aku mengenali petikanku sebagai suara aneh yang sumbang sama seperti waktu pertama kali aku memetiknya dulu.

Aku tidak menyalahkan setelannya, tidak senarnya, tidak resonansi lubangnya. Tapi seperti kesadaran yang utuh aku memaknainya sebagai legowo. Aku tidak bisa bersahabat dengan alat musik, tidak sekarang mungkin, meski aku selalu beramah tamah dengan bunyi.

Sampai akhir aku kuliah, gitar tua itu tidak lagi terdengar bunyinya, aku tidak memetiknya lagi, tidak juga mempermasalahkan adik-adikku yang menggeletakkannya di sebarang tempat, sampai berdebu. Diganti-ganti senarnya oleh mereka dan disetelnya dengan cekatan, aku diamkan dan aku dengarkan.
******

Dibesarkan di keluarga empat bersaudara membuatku susah membedakan “timbre”. Kami semua laki-laki, hanya ibu seorang perempuan. Aku jadi bersikap, memandang, bertindak, dan merenung dalam tempo yang terlalu pria.

Sebuah ritme yang menyenangkan memang, untuk selalu cepat dan tuju sasaran. Untuk menjadi se-rasional apapun yang aku inginkan. Untuk menjadi kokoh dan tidak gampang lapuk. Sampai suatu ketika sebuah babak baru dalam kehidupan hadir.

Ini “chorus”.
Sebuah reff dalam susunan bait-bait lagu. Aku ternyata sepenuhnya sadar bahwa bernyanyi dalam panggung ini tidak bisa selamanya sendiri, maka aku pinta dia untuk menemaniku.

Seorang perempuan.
Bertahun-tahun aku seperti merasa asing dengan “genre” satu ini. Selama ini dunia seperti terlalu “nge-pop” atau “jazzy” tiba-tiba dia mengenalkan aku dengan “klasik”.

Setiap hari aku belajar mengikuti irama yang baru. Menikmati kenyataan psikologis bahwa manusia punya wajah yang bernama feminin. Aku baru sadar itu, dan belajar sedikit-sedikit bahwa bahasa wanita sedikit lebih abstrak, gaya bertuturnya sedikit lebih bias, bersikapnya sedikit lebih manja, dan “ya”-nya bisa jadi “tidak”, dan “tidak”nya terkadang “ya”.

Dia menyukai seni, sama sepertiku juga. Kami sama-sama tidak bisa memainkan alat musik, tapi dia bernyanyi dengan lebih baik.

Semasa kuliah dia anggota sebuah kelompok paduan suara. Menyanyi baginya adalah suatu seni yang profesional. Tinggi rendah nada adalah sesuatu yang bisa dibaca buatnya. Maka ketika suatu kali aku melihatnya dalam balutan seragam coklat kehitaman nan anggun. Bernyanyi dibalik dirigen yang memegang tongkat kecil seperti penyihir, dan mebuka-katupkan mulutnya sambil tangannya memegang partitur nada-nada, saat itu aku tahu kami berbeda.

Enam tahun sejak gitar coklat tua yamaha itu dibelikan bapak dengan uang dari nenek yang dititipkan pada ibu, aku tidak juga pandai bermusik.

Sampai sekarang aku masih mengidamkan untuk suatu nanti bisa memainkan alat musik. Di ruang tengah keluarga atau mungkin di kebun belakang, di kelilingi anak cucu yang sedang bermain berlari-larian dan menantu yang sedang mengipas-ngipasi ayam bakar, aku memainkan sebuah alat musik yang “klasik”, entah piano atau biola, sukur-sukur harpa. Karna diwaktu kita tua mungkin cuma kebahagiaan kecil-kecil begitu yang kita bisa derma.

Dan kalau lebih mungkin lagi nanti, aku memainkannya dengan sebuah partitur. Loncat-loncat oktaf yang teratur. Istriku menyanyi di sebelahku atau bisa juga kami bernyanyi bersama.

Tapi hari itu masih nanti, kupikir. Sekarang kami masih mencocokkan suara. Dan aku mulai kagum pada wanita yang fragile sekaligus pejal. Labil tapi tidak tergoyahkan. Terkadang berputar tapi mampu juga fokus dan luar biasa straight. Itulah perempuan.

Kalau aku memainkan segalanya dengan spontan dan improvisasi, maka tidak ada yang lebih baik untuk mendampingiku selain keteraturan dan kemampuan membaca not balok, sepertimu, dek.

Meski aku masih belum juga bisa memainkan alat musik, tapi aku selalu beramah tamah dengan bunyi. Maka aku dengar dan kubahasakan apa saja yang orang lain tidak dengar, seperti sebuah onomatope.

Aku istimewa kan, dek??

wikipedia:
Onomatope (dari Bahasa Yunani ονοματοποιία) adalah kata atau sekelompok kata yang menirukan bunyi-bunyi dari sumber yang digambarkannya. Konsep ini berupa sintesis dari kata Yunani όνομα (onoma = nama) dan ποιέω (poieō, = “saya buat” atau “saya lakukan”) sehingga artinya adalah “pembuatan nama” atau “menamai sebagaimana bunyinya”. Bunyi-bunyi ini mecakup antara lain suara hewan, suara-suara lain, tetapi juga suara-suara manusia yang bukan merupakan kata, seperti suara orang tertawa.

 

Iklan