AKU BENCI NAMAKU (cerpen)

Bertahun dia membenci ayahnya, untuk sebuah alasan yang tidak terlalu dia mengerti. Ayahnya seorang pekerja pertambangan, pekerjaan yang mengantarkannya pergi tuju tempat-tempat terasing dan keras. Mengakrabi dinamit yang meledak-ledakkan bebatu cadas pada kulit bumi.

Ayahnya pergi jauh untuk berapa masa, dan pulang membawa oleh-oleh rupa-rupa untuknya, tapi dia kemudian mendiamkan ayahnya. Untuk sebuah alasan yang dia tidak begitu mengerti. Mungkin dia membenci takdir, takdir yang menitipkan dia pada rahim ibunya, seorang istri kedua.

Dia tidak begitu tahu apa itu kedua, seperti dia tak pernah tahu apa utamanya pertama? tapi sesuatu yang salah membuat dia membencinya, sesuatu itu berupa nama.

Namanya drupadi. Mungkin nama itu menitis padanya dari sebuah dongeng.  ‘Drupadi’ konon seorang putri kerajaan panchala. Diperebutkan dalam sebuah sayembara yang dimenangkan oleh arjuna. Tetapi arjuna adalah bagian dari pandawa lima, sedang pandawa telah bersumpah untuk selalu membagi rata apapun yang mereka punya. Maka drupadi jelita itu pun diperistri lima bersaudara.Read More »

Iklan

DANTE TIDAK GILA (cerpen)

Anak itu gila, kata si mbok. Lihatlah berhari-hari dia hanya diam dan memandang rumpun bambu di belakang rumah kita. Lalu meringkuk-ringkuk memeluk lututnya. Lama-lama Bapakmu ikutan gila nduk, memungut anak seperti dia bagaikan menusukkan lagi minyang bambu ke tangan yang sudah ditelusupi duri. Kita ini orang miskin, orang miskin itu disantuni, diberi makan, bukan memberi makan.

Aku tidak mengerti mbok jawabku dalam hati, aku mendekatinya dengan bahasa yang jenaka, tapi sepertinya dia mendengar dengan telinga yang luka. Jangan-jangan si mbok benar, dia memang gila. Tapi dia makan sekali saja dalam sehari, jadi aku tak merasa kelaparan seperti yang mbok bilang, baguslah. Tapi apa benar dante gilla?

Namanya dante. Kapan ya, dia memperkenalkan diri pertama kali? Aku sudah lupa, mungkin saat dia selesai dari berlaku seperti kesurupan yang mengerikan itu hari. Dia ditenangkan bapak dengan diberinya air minum yang dibacakannya  alfatihah, kata bapak air putih bisa menyembuhkan luka, luka badan dan luka jiwa.

Aku bertanya bisakah?? Bapak berkata bisa. Aku tak percaya, kubilang pada bapak. Jika kau tak percaya maka tak akan bisa, bapak balas berkata.

Sepertinya bapak benar, dia tenang, tak lagi meraung… ah, aku salah, dia tidak pernah meraung, Cuma meringkuk, meringkuk yang ngeri. Selepas bapak memberinya minum maka dia berhenti menutup-nutupi telinganya dengan telapak tangannya.

Aku mendekat dengan bahasa yang jenaka, kutatap matanya tapi dia merunduk. “siapa namamu?” aku berkata.

“dante” dia menjawab.

Itu kata pertama dari mulutnya. Selepas itu tak ada, tak pernah ada. Setiap hari aku mendekat dan mengajaknya bermain di halaman belakang, mengejar bebek-bebek yang rakus, atau menjerat capung, tapi dia tidak bergeming.

Lama-lama dia mengikutiku bermain tapi dia  tidak berkata, tak pernah lagi. Tapi aku sudah tahu namanya, dia dante.

Bapak tak tahu namanya, apalagi si mbok. Si mbok bisanya meracau saja. Tiap kali si mbok meracau dan mengatainya sebagai anak gila itulah aku mengendap-endap mengajaknya bermain.

“dante, ayo ke kebun belakang” kataku.

Aku melirihkan suara pada setiap kata yang menyebut namanya. Dante. Dante. Seperti itu, tak ada yang mendengar.

***

Dia ditemukan bapak, suatu hari yang gerimis. Aku sedang menemani bapak menanam padi, di sawah yang bukan petak tanah kami. Bapak tak punya sawah, hanya menanam. Luas sekali sawah yang ditanami padi oleh bapak. “ini sawah siapa pak’e?” tanyaku waktu itu.

“sawah juragan nduk orang kaya”.

“orang kaya itu baik apa jahat pak’e?”

Bapak tak menjawab langsung. Dia meluruskan punggungnya dari lengkung yang sepertinya bikin capek. Aku Cuma melihat punggung bapak dari belakang. Sambil duduk simpuh dan meniup-niup seruling bambu yang dibuatkan bapak dari buluh bambu kuning. Merdu sekali. Kulihat bapak menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangannya yang celemotan lumpur sawah.

“ayo nduk, mainkan lagi serulingmu” kata bapak.

Aku memainkannya lagi. Ada burung-burung pipit yang kaget dan berhambur terbang dari pucuk atap gubuk, yang rumbia dan coklat kumuh itu. Lalu kulihat bapak kembali menanam-nanami padi-padi yang masih mungil dan muda.

“tidak semua orang bisa kau pisahkan nduk” kata bapak tiba-tiba.

“pisahkan bagaimana pak’e?” aku bertanya kaget.

“lah…. Mainkan dulu serulingmu enak sekali mendengarnya” bapak berkata, sepertinya sambil tersenyum, aku Cuma melihat gurat bajunya yang seperti melengkung. Aku lalu meniup lagi serulingku.

“di dunia itu nduk” bapak melanjutkan. Aku mendengarnya dengan telinga yang awas dan takzim. “tidak semua orang orang baik, tidak semua orang orang jahat. Kadang-kadang mereka bercampur baur.”

Aku tahu itu pak. Kubilang dalam hati, seperti suara bapak yang bercampur-campur dengan serulingku ini kan ya?? Tapi aku tak potong kata-kata bapak. Aku meniup  serulingku terus, tapi kubuang nadanya dari telingaku, dan kuberikan lubang yang besar untuk suara bapak masuk. Aku suka kalo bapak mendongeng.

“dalam tiap orang, ada baiknya, ada jahatnya. Kau bertemanlah dengan siapa saja. Dengan yang baik tiru perilakunya. Dengan yang jahat ajarkan rubah sifatnya. Kalau tak bisa ya menjauh saja”

Hari gerimis, gerimis yang kecil-kecil. Heran, setiap kali bapak mendongeng maka hari akan gerimis, gerimis yang menjadikan tanah bau wangi-wangi. Setelah itu aku dan bapak pulang meniti pematang-pematang sawah. “Aku senang pak dengan bau hujan kubilang pada bapak”.

“makanya nduk, hujan itu rahmat, ayo buru-buru” kata bapak sambil berlari. Aku ikut-ikut berlari di belakangnya. Bapak begitu besar ya? Aku melompat-lompat di bekas pijakan kaki bapak yang mengecap pada lumpur. Kulihat dari jauh bapak memotong sebuah daun pisang, gerimis menjelma hujan yang gemuruh, yang guntur, aku pecicilan mengejar bapak sambil berkata dalam hati, rahmat, rahmat, rahmat, aku takut guntur pak, tapi hujan itu rahmat.

Lalu kami bernaung di bawah payung daun pisang yang besar. Waktu itulah, di ujung pematang, di dekat batang  pisang yang tua dan miring, kami menemukan dante. Tubuhnya mungil, dia seukuranku. Meringkuk dibawah guyur air yang bening dan mengalirkan merah yang pekat dari bajunya.

“dia berdarah, pak’e” kataku.

“tenanglah” kata bapak, sambil memegang-megang badan anak itu. Lalu membopongnya dengan sigap dan segera. Bapak berlari, aku mengejarnya setelah kupungut daun pisang yang bapak buang. Aku sendiri yang berpayung sekarang, bapak membopong anak itu di depanku dengan basah, dengan kuyup yang meliputi setiap jengkal bajunya, seperti aku yang dilengketi kebingungan yang menggigilkan.

Aku mengejar bapak dan melompat lompat berjingkat mencoba memayungi kepala bapak. Aku tak bisa. Anak itu meneteskan darah yang merah dan anyir, bapak basah diguyur air dari langit dan aku memegang daun pisang sambil merapal rahmat…rahmat…

***

Di rumah, si mbok menyiapkan jahe. Jahe yang ditumbuk dengan ulekan. Lalu dijerang di atas panci yang dijilat-jilat api merah kayu bakar. Aku duduk di pinggir dipan dengan memegang cangkir kaleng yang hangat. Sebentar aku melihat Bapak, sebentar aku melihat si mbok, lalu anak itu.

Si mbok pandai membuat obat, obat itu menyembuhkan luka. Badan anak kecil itu mencecap lebam. Lebam yang membiru-biru hitam. Obat mbok memang sakti. Mbok belajar dimana ya? Pikirku. Apa mbok bisa menyembuhkan semua luka? Seperti luka-luka jiwa. Aku yakin anak ini masih luka, luka di dalam dadanya. Kata bapak itu disebut jiwa.

Aku tak begitu mengerti jiwa, tapi aku mau dia sembuh, sembuh dengan  obat dari si mbok. Tapi aku tak yakin obat si mbok bisa. Sesuatu yang bapak sebut jiwa itu susah dibaluri ramuan dari kebun belakang. Si mbok mungkin juga luka, sebuah luka pada jiwa yang membuatnya sering meracau dan marah-marah pada dunia. Waktu kutanyakan pada bapak, apakah si mbok luka jiwanya? Bapak menutup mulutku dengan jari telunjuknya. “tak boleh berkata begitu, nduk” kata bapak.

Tapi aku yakin si mbok luka. Buktinya, Cuma sehari dua dia tak bertanya tentang anak itu, tentang luka pada bajunya yang putih, tentang asal usulnya, lalu tak lama si mbok mulai marah-marah, pada anak itu, pada bapak, sekali-kali padaku. Aku sih tak pusing, kalau si mbok marah dan mulai menyebut-nyebut sesuatu yang bernama kemiskinan, aku tinggal main saja ke belakang, sambil sekali-kali mengintip gedhek, rumah kami yang bambu dijalin-jalin itu, kalau-kalau bapak bakal pergi ke ladang atau sawah orang, aku bisa ikut. Tapi aku melihat anak itu, di pinggir dipan dan meringkuk pada lututnya, aku jadi kasihan, kupikir hari ini tak apalah tak ikut bapak ke sawah, aku akan menemani dia, dan hari itulah aku tahu namanya dante.

Dante…. Gilakah kau? Seperti kata si mbok? Tapi orang gila matanya tidak bening bagai kaca.Read More »

KACA-KACA CINTA (bagian 2) (cerpen)

tulisan sebelumnya (bagian 1)

Cermin itu tak pernah bicara. Apa kau tak bosan memaku disana, kaca? Memantulkan warna kamar yang coklat redup. Menyalin ulang detil-detil bola mataku, kerut-kerut kerudung, ekspresi gelisah dan senyum, juga mendengar celotehan yang kurapal setiap hari? Betapa sering aku mematut diri di depanmu, bukan bersolek, tapi membuang segala yang tak pantas.

“cahaya, sudah selesai?” itu suara ibu, dari ruang tamu yang sempit dan sesak. Ibu pasti sedang menyulam, di atas bangku rotan tua yang sama, setiap paginya, setiap harinya.

“iya bu, sebentar”.

Kenalkan, namaku ‘cahaya’, anak dari seorang bunda yg renta, manusia yang kucintai sampai terbawa mimpi, terkadang ibu mewujud melati yang putih bersih dan menebar wangi ke hari-hari yang aku jalani dengan sepi dan sendiri. Kaca, kau pantulkan juga kerut di muka dan dahi ibu, bukan?

Aku ingat, suatu hari yang lalu, ibulah yang mengajarku membelitkan ujung jilbab, memantas-mantaskan warnanya dengan baju panjang ini, lalu menyisipkan peniti kecil di sela lipatannya. Aku masih gadis kecil yang lucu kala itu, dengan rok panjang merah dan padanan baju berlengan dan jilbab putih. “kenapa aku harus pakai kerudung, ibu?” tanyaku. “sebagian kawan-kawan tidak”.

Ibu tersenyum dan menarik aku ke hadapan cermin di dinding itu. “supaya kau mulia dan lebih memesona dibanding mereka, cahaya” katanya sambil membenarkan jilbabku yang miring kesana-sini.

“Wanita mematut diri depan kaca, duhai cahaya”, kata ibu suatu kali. “Bukan bersolek, tapi membuang apa-apa yang tak pantas”.

Sering sekali aku membayangkan masa-masa itu, dan baru terhenti biasanya saat waktu menyadarkanku, atau saat seperti kali ini, di luar dingin, uap air yang jenuh dari tadi melayang-layang, mengetuk-ngetuk jendela dengan suara gerimis yang sopan. Aku gelisah. Penantian selalulah panjang dan mencemaskan, apakah sebaiknya aku menyambut sapa-nya, kaca? Lelaki seberang rumah, yang bertamu di sore minggu lalu?

“Ada lelaki bertamu tadi siang, kau sedang tak ada”, kata ibu waktu itu, dan lelaki itu berbincang banyak dengan ibu, kata ibu dia anak baik.

“ah… ibu, kacamatamu berembun, sini, biar cahaya bersihkan dulu”. Kuarahkan tangan dengan pelan ke telinga ibu, ada dua helai rambut putih menyembul kusut dari balik frame kacamata tuanya, ibu memegang tanganku, dan aku tahu aku tak pandai mengalihkan perhatian.

“apa pendapatmu tentang dia, cahaya? Sudah lama dia memerhatikanmu. Seorang lelaki sopan yang bertamu untuk sekadar tahu namamu, meski dari berapa tahun lalu ia sudah mengenalmu lewat kilas-kilas jejalan yang kau lalui tiap kali ke mushola kecil di seberang rumah kita”

Suara ibu masih bening seperti kali pertama dia mengajarkanku mengaji dulu, seperti tetes pancuran bambu di surau seberang. Aku melepaskan tangan dari kacamatanya. Lalu menunduk lama. Ibu masih menyulam jalinan lama pada kursinya yang rotan, yang coklat tua. Aku memainkan ujung jilbabku waktu itu. Memintalnya hingga sedikit kerut dan menjelma gelisah, sekiranya kau juga dipajang di ruang tamu, pasti aku bisa melihat pantulan diriku, kaku dan tergugu, kaca.

Sedang ibu bagiku terlalu digdaya, pesonanya membuat aku hormat dan iba sekaligus.

“bu…. Apa boleh aku menimbang-nimbang dulu?”

Ibu memainkan jarum sulamannya. Begitu lincah, begitu indah. “boleh nak, boleh… putuskanlah olehmu, apapun yang kau pilih akan ibu setujui, jika kau bimbang berkatalah, jangan diam, karena diamnya gadis manis sepertimu dalam agama kita berarti ‘iya’”

ibu mengelus kepalaku. Tangannya terasa halus dari balik kain penutup kepalaku. Aku ingin menitiskan air mata yang entah apa, tapi tanpa kaca aku tak bisa menilai raut muka, air yang mengalir di kerut wajah yang salah bisa menggundahkan ibu. Dia terlalu berharga untuk sedih dan berduka.

Untunglah tiba-tiba ada suara suiit yang panjang menerobos dari dapur. Aku berdiri, pergi mematikan air pada kompor yang menyala-nyala redup. Aroma minyak tanah membubung gamang di udara, seandainya saja tak ada dia, bayangan pria yang menyampaikan salam yang kaku dan memesona, mungkin aku tidak akan bimbang. Pilihan datang pada waktu yang selalu salah, dan memutuskan diantara dua kebaikan adalah selamanya berat.

***

Pada mulanya hanya kata, lalu semua tumbuh diam-diam.

“siapakah nama saudari? kalau tak salah kita bersebelahan kampus” tanyanya waktu itu lewat bariton yang sedang dan kontras dengan desing klakson bus kota-bus kota yang tua.

Baiknya kujawabkah atau kudiamkan saja?Read More »

KACA-KACA CINTA (tetirah) (cerpen)

Dia memilih melepaskan cinta. Memperjalankan jiwanya tuju pengertian-pengertian yang lebih dalam, yang lebih sejati. Untuk itu dia tetirah, pergi sebentar dari roman cinta yang picis dan murah.

Lelaki hidup dalam hempas-hempas takdir yang kasar, kawanku, katanya suatu kali. Mungkin sekasar debu-debu di jalan yang memecah-mecah halus ini, lalu menusuk-nusuk paru-mu. Begitu dia bercerita waktu itu.

Angin dingin. Senja baru saja mulai dewasa, menyadarkan siang benderang yang kekanakan, bahwa dalam satu kali perputaran hidup tak mungkin semua cemerlang, ada malam yang datang mengendap-endap, dan mengejutkan kita dengan gulita yang men-tak tampakkan segalanya, sesuatunya.

Aku tercenung di jok belakang motor tua itu, begitukah kawan? Aku bertanya dalam gumam-gumam yang halus.

Dia mengangguk. Kepalanya membentuk ritmis naik turun dari helm hitam tua. Tangannya masih memegang setang motor yang berlari cingkrang. Empat tahun lalu kejadian itu. Dia tuturkan tentang kekisah sembilu yang menyayat pembuluh-pembuluh, juga tentang kesatriaan yang menghadang segala takdir menyesakkan.

Motor melaju kencang, kami menuju kampus perkuliahan nan jauh. Sebuah kuliah malam hari yang melelahkan. Tapi begitulah hidup, bukan? Hujan turun, genang air dilibas roda-roda setengah gundul, lalu sepatu basah, sebuah lembab yang meresap sampai ke hati. Lalu aku mengakui, engkau digdaya, sebenarnya, sobat, pikirku.

Dan dia –dalam bayanganku- menjawab kencang dengan deru knalpot. Segala yang sudah terjadi itu tak terelakkan, bukan? Dan segala yang belum terjadi adalah jalinan cita-cita yang mimpi, yang tawar menawar dengan lauh mahfudz, yang berkelahi dengan takdir. Kita memilih, Tuhan menyetujui.

Dan begitukah akhirnya kau putuskan meninggalkan cinta? Aku bertanya.

Ya, sepertinya begitu

***

Di suatu siang yang lain. Berapa masa sebelumnya

“siapa dia” tanyanya suatu kali.

Kuhentikan membaca sebaris paragraf pada buku tipis.  “siapa?” tanyaku

Rekan karibku itu tak menjawab. Pandangannya terpaku pada rerimbun pohon peneduh di pinggiran jalan. Seorang wanita terlihat melintasi jalan itu dalam langkah yang pasti dan konstan, angin mengibarkan ujung jilbabnya yang buram ditimpa bayang-bayang  daun.

“kalau tak salah, namanya cahaya” aku menjawab sambil melanjutkan bacaan setengah selesai. Lelaki di sebelahku ini akan menghentikan tanyanya sebatas penasaran yang gagal mematangkan diri, kuduga begitu.

“anak jurusan manakah dia?”

Aku  salah….. lelaki sebelahku ini bertanya lagi. Tanya kedua membuktikan dia memerhatikan. Selama ini kupikir dia lelaki yang rigid. Aku menutup buku dan memandang dari sela-sela daun. “haha… tak kusangka, kau bisa memerhatikan wanita” aku tertawa.

Dia diam acuh yang menyebalkan dan aku ingin menyudahi dialog yang menggelitik ini. “aku tak tahu”

“serius??”

“ya, kau ingin kita cari tahu?”

“tak penting” katanya, sambil beranjak dari tangga beton depan kampus. “tak penting”

Aku tersenyum  dalam lengkung simetris “seberapa tak penting?” tanyakuRead More »

DENDAM LUBANG, DENDAM BATU

Lubang menganga, sebesar tanya yang terbuka. Keingintahuan, mungkin seperti lubang galian, menelan apa saja yang terjatuh, apa saja yang mengelinding. Begitulah aku selalu bertanya, mulutku melahap apa saja yang bernama makanan dan kepalaku menelan apa saja yang aku ingin tahu. Celaka, aku ingin tahu segala sedang aku masih kelas tiga SD waktu itu.

“Kenapa mereka gali parit di depan rumah kita ini, pak?” Aku bertanya pada suatu malam yang tidak purnama.

Bapak berjingkat melintasi galian parit di depan rumah, aku diangkatnya dengan satu tangan, di seberangkannya ke ujung jalan. “ini galian kabel telepon” kata bapak.

Lalu itu malam kami pergi ke tenda terang di pinggir jalan, dibawah petromax yang tiap sebentar dipompa, aku melahap lotek yang pedas. Makanku lahap, dan aku tak bisa juga berhenti bertanya “kenapa kita tak pasang telepon pak?” bapak tak menjawab, aku makan lagi dengan lahap, lotek itu pedas, tapi aku masih mengunyah dan memendam tanya.

Suatu kali Bapak menyerah juga, galian telepon itu masih menganga di depan rumah. Tak mungkin mulutku berhenti bertanya selagi tiap saat bapak harus menyeberangkanku melintas parit, dengan satu tangan dia mengangkatku, lalu aku akan mengulangi lagi pertanyaan yang sama, kadang waktu pagi sebelum berangkat sekolah, atau waktu siang hari panas dengan semilir  angin debu yang menepis-nepis muka aku dan Bapak. “kenapa kita tak pasang telepon, pak?”,

Angin berhembus, dan aku diangkat melintas galian parit, kali ini bapak menjawab, waktu sebelah tangannya masih membopong aku diudara. “kita belum punya uangnya, nanti uangnya ada kalau kamu sudah besar”.

Lalu tak lama ada sebilah papan dilintangkan di depan rumah. Aku bisa menyeberang. Pagi-pagi tak perlu lagi menggerutu dengan memanggil-manggil bapak untuk mengangkat badan kecilku, aku bisa meniti bilah papan itu dengan hati-hati. Parit itu dalam, ada batu-batu dibagian bawahnya. Ada pipa dari  semen, ukurannya sebesar temanku yang paling besar di SD, dan setiap kali sampai di ujung papan itu, aku melihat ke tumpukan batu-batu pipih hitam-hitam di samping jalan, di dekat parit, di dekat galian kabel telepon, yang mungkin telepon itu akan aku bisa pasang di rumah saat aku sudah besar.

Batu itu milik negara, kata bapak, ya, milik negara, aku mengulang-ngulang kata-kata itu di mulutku, lalu angin membawanya terbang berputar-putar menelusup ke telinga dan tanya di kepalaku.

“hei…. Jangan kau ambil batu-batu itu” aku berkacak pinggang. Pada suatu sore menjelang, dan aku di seberang rumah, di ujung  bilah papan jembatan kecil yang biasa kutiti, melindungi harta negara -batu-batu untuk membangun galian terowongan telepon- dari tangan-tangan jahil manusia-manusia tak tahu adat di depanku ini. Seorang anak kecil hitam yang memasukkan dua, atau mungkin tiga batu pipih hitam ke dalam mobil-mobilan truk-nya.

“buat apa kau ambil batu itu?” aku mendelik.

“buat bermain gundu”

“letakkan lagi di tempatnya”

“memangnya batu ini punyamu??” dia mendelik balas

“memang bukan punyaku, itu punya negara” aku menatap dengan keyakinan yang genap, batu itu di depan aku punya rumah, mau apa dia?

Anak tak tahu adat itu pergi, aku mendengar dengusnya dari bulir-bulir pasir halus yang diangkat angin, waktu dia hempaskan lagi batu-batu pipih itu kembali ke tumpukan, dan ditariknya kasar mobil-mobilan truknya yang dari kayu itu.

“awas kau” ujarnya.

***

Setelah hari-hari berjalan pelan, galian itu merapat, tak ada lagi bilah papan nan berderik waktu kulintas, tak usah lagi aku dibopong menyeberang, aku senang, batu-batu pipih hitam tak lagi ada. Tadinya sekali-kali pernah juga aku pinjam itu batu untuk bermain, tapi kan aku kembalikan lagi?? Bukankah aku benar dalam hal ini?

Kuulang-ulang itu dalam hati, setiap kali aku berlari dan membiarkan bajuku bergolak ditampar-tampar angin, tanganku merentang mencicipi setiap aroma kering yang dibawa hembus udara siang. Kata Bapak ini angin laut, rumahku jauh dari dermaga benarkah ini angin laut? aku bertanya-tanya lagi. Tapi apa peduliku? Aku berhenti sebentar di sebuah warung pinggir jalan, lalu memakan lotek. Sebentar lagi ashar, sudah waktunya mengaji, ah…. Aku senang sekali mengaji..

Jumpalitanlah aku, selepas makan siang, berlari-lari meniti pematang rawa-rawa, melintas dan menyibak-nyibak alang-alang. Aku sendiri, berlari dengan sebelah tangan menekan kopiah pada kepalaku yang besar. Bajuku berkibar tapi tak dramatis, ujungnya diselipkan kedalam pinggang celana yang bergesper rapih. Lariku cepat, rumah guru ngaji ada di komplek yang belakang sekali, aku pacu kakiku untuk sampai di sana tepat waktu, bagaimana mungkin aku bisa telat? Mengaji memang penting, tapi yang paling penting adalah bermain peran.

Akulah midun! Legenda dalam sastra indah minangkabau. Lelaki dengan kharisma nan tanpa tanding. Lihai bersilat dan digilai para wanita. Aku selalu kebagian mementaskan ulang drama “sengsara membawa nikmat” itu di depan rumah guru ngaji. Setelah mengeja alif ba ta dengan terburu-buru seperti setan, kami lari ke halaman depan. Disanalah, sesiapa yang sudah selesai mengaji, kami bermain peran.

Malam hari sebelumnya, filem midun diputar di TVRI, kami undi, siapa yang berperan menjadi midun dalam permainan drama-dramaan sore itu, siapa yang menjadi si kacak, siapa yang menjadi siapa, tapi tokoh yang kuperankan tak pernah berubah. Setiap hari setiap minggu, setiap kali kami mengulang cerita itu dalam permainan maka akulah midun. Akulah protagonis nan tiada tara.

“hey….. jangan pulang lewat lapangan voli” seorang anak memperingatkanku di sela permainan yang seru.

“kenapa memangnya?” aku bertanya, tak enak rasanya ada yang menginterupsi di sela kami beradu peran

“kudengar ada yang akan menghadangmu”

Aku berhenti bergaya silat, lalu aku kepinggir halaman. Reka cerita yang dimainkan kawan-kawanpun berubah, mereka melanjutkan permainan tanpa midun. Aku bercakap-cakap dengan si pemberi peringatan.

Celaka, ini bukan filem, ini nyata, peringatan telah diberikan, dan aku dalam pertaruhan nasib. Hari sudah menjelang gelap, aku pikir ini saatnya berlari pulang. Aku menyibak ilalang, meloncat-loncati pematang rawa-rawa, akan ada yang menghadangku di lapangan voli berumput liar, siapakah mereka? Apakah salahku? Menipukah kawanku tadi? Mungkinkah mereka memendam dendam, dendam pada sejumput kebenaran? aku berlari terus, sebelah tanganku memegan erat kopiah, bajuku berkibar penuh lalu langkahku terhenti di setapak jalan, ada rumput putri malu mengatupkan daunnya yang berduri-duri setelah tersentuh ujung sandalku. Aku bernafas cepat dan berdegup pula jantungku.

“kutemukan kau” katanya dari seberang sana. Di ujung jalan setapak, seorang pria berteriak tanpa ekspressi.

Dia tinggi, kurus, hitam dan berambut lurus pirang, sebuah pirang yang buruk, rambutnya terpapar matahari sekian lama, mungkin terlalu asik bermain gundu, atau dia sibuk mencuri batu-batu pipih dari pembangunan gorong-gorong, aku sedikit cemas, dia rupanya. Tak kulihat truk mobil-mobilannya, tapi dia membawa tiga orang teman. Tak satupun yang rasanya ingin kuajak bermain peran, mungkin mereka sindikat pencuri batu-batu pipih untuk permainan gundu.

Matahari renta, awan tua, angin berdebur dengan liuk yang mistis dan sakit. Aku dihadang empat orang pesakitan yang pendendam, kemanakah baiknya aku lari?

“pergilah” ada suara menusuk langsung dari belakang, menegurku, aku kaget, mukaku pias tak karuan.

Seorang berbadan pejal, teman yang tak begitu kuakrabi, ada di belakangku. Dia lelaki marjinal, tak kebagian peran dalam drama apapun yang kami mainkan selepas pengajian sore, dia anak seorang penjaga kebun kelapa kalau tak salah, dia tidak pula pandai mengaji. Lalu dia ada di belakangku sore mistis itu dengan sebuah kata perintah “pergilah!” yang tegas dan tak dibuat-buat, aku menimbang-nimbang.

Tanpa banyak kata dia maju dan bergelut dengan lelaki kurus itu, mereka duel. Tak mengerti aku, siapa melawan siapa, siapa membela siapa, apa, mengapa, bagaimana-bagaimananya, aku berlari. Lari dalam tanya yang membebat-bebat kepala. Kakiku terjerembab-jerembab dalam pematang yang bergambut, angin darat berhembus ke arah laut, membantu matahari untuk menggelinding ke balik samudera nan teduh, mencipta siluet senja yang indah, namun aneh dan rapuh.

Dari jauh aku lihat pertarungan yang tak imbang hingga sebuah babak dimana Si kurus bangsat itu tiba-tiba ditarik rambutnya sampai mengaduh, dia balas menjambak dengan sia-sia. Aku tertawa, lalu aku lari terus dalam tawa, pintar sekali penyelamatku itu, dia berkelahi dengan kepalanya yang botak.

Sandalku berkecipak-kecipak di jalan yang mulai menjelma aspal bongkah-bongkah hitam. Azan mengalun indah digantung di ujung-ujung langit, aku tiba di seberang rumah dan melirik bebatuan hitam nan pipih yang tinggal satu dua di atas sisa-sisa tanah liat yang menyembul, warnanya pucat serupa tembaga senja. ini hari sudah maghrib. Penyelamat negarakah aku? Benarkah akan kupasang telepon nanti saat aku besar? Siapa yang memenangkan perkelahian tadi? Tidakkah si gundul itu lebih layak memerankan midun pada permainan besok? Si kurus itu lelaki yang dimamah oleh dendam dan kebencian? Ataukah kejujuran yang disampaikan dengan cara yang tidak indah akan membuat orang membenci kebenaran?

Galian parit sudah selesai ditutup mungkin sejak dua hari lalu. Dan aku malam itu mengetuk pintu rumah dengan nafas yang tersengal-sengal menyedihkan.

“darimana saja kau?” Suara bapak menggema dari balik pintu.