DENDAM LUBANG, DENDAM BATU

Lubang menganga, sebesar tanya yang terbuka. Keingintahuan, mungkin seperti lubang galian, menelan apa saja yang terjatuh, apa saja yang mengelinding. Begitulah aku selalu bertanya, mulutku melahap apa saja yang bernama makanan dan kepalaku menelan apa saja yang aku ingin tahu. Celaka, aku ingin tahu segala sedang aku masih kelas tiga SD waktu itu.

“Kenapa mereka gali parit di depan rumah kita ini, pak?” Aku bertanya pada suatu malam yang tidak purnama.

Bapak berjingkat melintasi galian parit di depan rumah, aku diangkatnya dengan satu tangan, di seberangkannya ke ujung jalan. “ini galian kabel telepon” kata bapak.

Lalu itu malam kami pergi ke tenda terang di pinggir jalan, dibawah petromax yang tiap sebentar dipompa, aku melahap lotek yang pedas. Makanku lahap, dan aku tak bisa juga berhenti bertanya “kenapa kita tak pasang telepon pak?” bapak tak menjawab, aku makan lagi dengan lahap, lotek itu pedas, tapi aku masih mengunyah dan memendam tanya.

Suatu kali Bapak menyerah juga, galian telepon itu masih menganga di depan rumah. Tak mungkin mulutku berhenti bertanya selagi tiap saat bapak harus menyeberangkanku melintas parit, dengan satu tangan dia mengangkatku, lalu aku akan mengulangi lagi pertanyaan yang sama, kadang waktu pagi sebelum berangkat sekolah, atau waktu siang hari panas dengan semilir  angin debu yang menepis-nepis muka aku dan Bapak. “kenapa kita tak pasang telepon, pak?”,

Angin berhembus, dan aku diangkat melintas galian parit, kali ini bapak menjawab, waktu sebelah tangannya masih membopong aku diudara. “kita belum punya uangnya, nanti uangnya ada kalau kamu sudah besar”.

Lalu tak lama ada sebilah papan dilintangkan di depan rumah. Aku bisa menyeberang. Pagi-pagi tak perlu lagi menggerutu dengan memanggil-manggil bapak untuk mengangkat badan kecilku, aku bisa meniti bilah papan itu dengan hati-hati. Parit itu dalam, ada batu-batu dibagian bawahnya. Ada pipa dari  semen, ukurannya sebesar temanku yang paling besar di SD, dan setiap kali sampai di ujung papan itu, aku melihat ke tumpukan batu-batu pipih hitam-hitam di samping jalan, di dekat parit, di dekat galian kabel telepon, yang mungkin telepon itu akan aku bisa pasang di rumah saat aku sudah besar.

Batu itu milik negara, kata bapak, ya, milik negara, aku mengulang-ngulang kata-kata itu di mulutku, lalu angin membawanya terbang berputar-putar menelusup ke telinga dan tanya di kepalaku.

“hei…. Jangan kau ambil batu-batu itu” aku berkacak pinggang. Pada suatu sore menjelang, dan aku di seberang rumah, di ujung  bilah papan jembatan kecil yang biasa kutiti, melindungi harta negara -batu-batu untuk membangun galian terowongan telepon- dari tangan-tangan jahil manusia-manusia tak tahu adat di depanku ini. Seorang anak kecil hitam yang memasukkan dua, atau mungkin tiga batu pipih hitam ke dalam mobil-mobilan truk-nya.

“buat apa kau ambil batu itu?” aku mendelik.

“buat bermain gundu”

“letakkan lagi di tempatnya”

“memangnya batu ini punyamu??” dia mendelik balas

“memang bukan punyaku, itu punya negara” aku menatap dengan keyakinan yang genap, batu itu di depan aku punya rumah, mau apa dia?

Anak tak tahu adat itu pergi, aku mendengar dengusnya dari bulir-bulir pasir halus yang diangkat angin, waktu dia hempaskan lagi batu-batu pipih itu kembali ke tumpukan, dan ditariknya kasar mobil-mobilan truknya yang dari kayu itu.

“awas kau” ujarnya.

***

Setelah hari-hari berjalan pelan, galian itu merapat, tak ada lagi bilah papan nan berderik waktu kulintas, tak usah lagi aku dibopong menyeberang, aku senang, batu-batu pipih hitam tak lagi ada. Tadinya sekali-kali pernah juga aku pinjam itu batu untuk bermain, tapi kan aku kembalikan lagi?? Bukankah aku benar dalam hal ini?

Kuulang-ulang itu dalam hati, setiap kali aku berlari dan membiarkan bajuku bergolak ditampar-tampar angin, tanganku merentang mencicipi setiap aroma kering yang dibawa hembus udara siang. Kata Bapak ini angin laut, rumahku jauh dari dermaga benarkah ini angin laut? aku bertanya-tanya lagi. Tapi apa peduliku? Aku berhenti sebentar di sebuah warung pinggir jalan, lalu memakan lotek. Sebentar lagi ashar, sudah waktunya mengaji, ah…. Aku senang sekali mengaji..

Jumpalitanlah aku, selepas makan siang, berlari-lari meniti pematang rawa-rawa, melintas dan menyibak-nyibak alang-alang. Aku sendiri, berlari dengan sebelah tangan menekan kopiah pada kepalaku yang besar. Bajuku berkibar tapi tak dramatis, ujungnya diselipkan kedalam pinggang celana yang bergesper rapih. Lariku cepat, rumah guru ngaji ada di komplek yang belakang sekali, aku pacu kakiku untuk sampai di sana tepat waktu, bagaimana mungkin aku bisa telat? Mengaji memang penting, tapi yang paling penting adalah bermain peran.

Akulah midun! Legenda dalam sastra indah minangkabau. Lelaki dengan kharisma nan tanpa tanding. Lihai bersilat dan digilai para wanita. Aku selalu kebagian mementaskan ulang drama “sengsara membawa nikmat” itu di depan rumah guru ngaji. Setelah mengeja alif ba ta dengan terburu-buru seperti setan, kami lari ke halaman depan. Disanalah, sesiapa yang sudah selesai mengaji, kami bermain peran.

Malam hari sebelumnya, filem midun diputar di TVRI, kami undi, siapa yang berperan menjadi midun dalam permainan drama-dramaan sore itu, siapa yang menjadi si kacak, siapa yang menjadi siapa, tapi tokoh yang kuperankan tak pernah berubah. Setiap hari setiap minggu, setiap kali kami mengulang cerita itu dalam permainan maka akulah midun. Akulah protagonis nan tiada tara.

“hey….. jangan pulang lewat lapangan voli” seorang anak memperingatkanku di sela permainan yang seru.

“kenapa memangnya?” aku bertanya, tak enak rasanya ada yang menginterupsi di sela kami beradu peran

“kudengar ada yang akan menghadangmu”

Aku berhenti bergaya silat, lalu aku kepinggir halaman. Reka cerita yang dimainkan kawan-kawanpun berubah, mereka melanjutkan permainan tanpa midun. Aku bercakap-cakap dengan si pemberi peringatan.

Celaka, ini bukan filem, ini nyata, peringatan telah diberikan, dan aku dalam pertaruhan nasib. Hari sudah menjelang gelap, aku pikir ini saatnya berlari pulang. Aku menyibak ilalang, meloncat-loncati pematang rawa-rawa, akan ada yang menghadangku di lapangan voli berumput liar, siapakah mereka? Apakah salahku? Menipukah kawanku tadi? Mungkinkah mereka memendam dendam, dendam pada sejumput kebenaran? aku berlari terus, sebelah tanganku memegan erat kopiah, bajuku berkibar penuh lalu langkahku terhenti di setapak jalan, ada rumput putri malu mengatupkan daunnya yang berduri-duri setelah tersentuh ujung sandalku. Aku bernafas cepat dan berdegup pula jantungku.

“kutemukan kau” katanya dari seberang sana. Di ujung jalan setapak, seorang pria berteriak tanpa ekspressi.

Dia tinggi, kurus, hitam dan berambut lurus pirang, sebuah pirang yang buruk, rambutnya terpapar matahari sekian lama, mungkin terlalu asik bermain gundu, atau dia sibuk mencuri batu-batu pipih dari pembangunan gorong-gorong, aku sedikit cemas, dia rupanya. Tak kulihat truk mobil-mobilannya, tapi dia membawa tiga orang teman. Tak satupun yang rasanya ingin kuajak bermain peran, mungkin mereka sindikat pencuri batu-batu pipih untuk permainan gundu.

Matahari renta, awan tua, angin berdebur dengan liuk yang mistis dan sakit. Aku dihadang empat orang pesakitan yang pendendam, kemanakah baiknya aku lari?

“pergilah” ada suara menusuk langsung dari belakang, menegurku, aku kaget, mukaku pias tak karuan.

Seorang berbadan pejal, teman yang tak begitu kuakrabi, ada di belakangku. Dia lelaki marjinal, tak kebagian peran dalam drama apapun yang kami mainkan selepas pengajian sore, dia anak seorang penjaga kebun kelapa kalau tak salah, dia tidak pula pandai mengaji. Lalu dia ada di belakangku sore mistis itu dengan sebuah kata perintah “pergilah!” yang tegas dan tak dibuat-buat, aku menimbang-nimbang.

Tanpa banyak kata dia maju dan bergelut dengan lelaki kurus itu, mereka duel. Tak mengerti aku, siapa melawan siapa, siapa membela siapa, apa, mengapa, bagaimana-bagaimananya, aku berlari. Lari dalam tanya yang membebat-bebat kepala. Kakiku terjerembab-jerembab dalam pematang yang bergambut, angin darat berhembus ke arah laut, membantu matahari untuk menggelinding ke balik samudera nan teduh, mencipta siluet senja yang indah, namun aneh dan rapuh.

Dari jauh aku lihat pertarungan yang tak imbang hingga sebuah babak dimana Si kurus bangsat itu tiba-tiba ditarik rambutnya sampai mengaduh, dia balas menjambak dengan sia-sia. Aku tertawa, lalu aku lari terus dalam tawa, pintar sekali penyelamatku itu, dia berkelahi dengan kepalanya yang botak.

Sandalku berkecipak-kecipak di jalan yang mulai menjelma aspal bongkah-bongkah hitam. Azan mengalun indah digantung di ujung-ujung langit, aku tiba di seberang rumah dan melirik bebatuan hitam nan pipih yang tinggal satu dua di atas sisa-sisa tanah liat yang menyembul, warnanya pucat serupa tembaga senja. ini hari sudah maghrib. Penyelamat negarakah aku? Benarkah akan kupasang telepon nanti saat aku besar? Siapa yang memenangkan perkelahian tadi? Tidakkah si gundul itu lebih layak memerankan midun pada permainan besok? Si kurus itu lelaki yang dimamah oleh dendam dan kebencian? Ataukah kejujuran yang disampaikan dengan cara yang tidak indah akan membuat orang membenci kebenaran?

Galian parit sudah selesai ditutup mungkin sejak dua hari lalu. Dan aku malam itu mengetuk pintu rumah dengan nafas yang tersengal-sengal menyedihkan.

“darimana saja kau?” Suara bapak menggema dari balik pintu.

 

One thought on “DENDAM LUBANG, DENDAM BATU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s