KACA-KACA CINTA (tetirah) (cerpen)

Dia memilih melepaskan cinta. Memperjalankan jiwanya tuju pengertian-pengertian yang lebih dalam, yang lebih sejati. Untuk itu dia tetirah, pergi sebentar dari roman cinta yang picis dan murah.

Lelaki hidup dalam hempas-hempas takdir yang kasar, kawanku, katanya suatu kali. Mungkin sekasar debu-debu di jalan yang memecah-mecah halus ini, lalu menusuk-nusuk paru-mu. Begitu dia bercerita waktu itu.

Angin dingin. Senja baru saja mulai dewasa, menyadarkan siang benderang yang kekanakan, bahwa dalam satu kali perputaran hidup tak mungkin semua cemerlang, ada malam yang datang mengendap-endap, dan mengejutkan kita dengan gulita yang men-tak tampakkan segalanya, sesuatunya.

Aku tercenung di jok belakang motor tua itu, begitukah kawan? Aku bertanya dalam gumam-gumam yang halus.

Dia mengangguk. Kepalanya membentuk ritmis naik turun dari helm hitam tua. Tangannya masih memegang setang motor yang berlari cingkrang. Empat tahun lalu kejadian itu. Dia tuturkan tentang kekisah sembilu yang menyayat pembuluh-pembuluh, juga tentang kesatriaan yang menghadang segala takdir menyesakkan.

Motor melaju kencang, kami menuju kampus perkuliahan nan jauh. Sebuah kuliah malam hari yang melelahkan. Tapi begitulah hidup, bukan? Hujan turun, genang air dilibas roda-roda setengah gundul, lalu sepatu basah, sebuah lembab yang meresap sampai ke hati. Lalu aku mengakui, engkau digdaya, sebenarnya, sobat, pikirku.

Dan dia –dalam bayanganku- menjawab kencang dengan deru knalpot. Segala yang sudah terjadi itu tak terelakkan, bukan? Dan segala yang belum terjadi adalah jalinan cita-cita yang mimpi, yang tawar menawar dengan lauh mahfudz, yang berkelahi dengan takdir. Kita memilih, Tuhan menyetujui.

Dan begitukah akhirnya kau putuskan meninggalkan cinta? Aku bertanya.

Ya, sepertinya begitu

***

Di suatu siang yang lain. Berapa masa sebelumnya

“siapa dia” tanyanya suatu kali.

Kuhentikan membaca sebaris paragraf pada buku tipis.  “siapa?” tanyaku

Rekan karibku itu tak menjawab. Pandangannya terpaku pada rerimbun pohon peneduh di pinggiran jalan. Seorang wanita terlihat melintasi jalan itu dalam langkah yang pasti dan konstan, angin mengibarkan ujung jilbabnya yang buram ditimpa bayang-bayang  daun.

“kalau tak salah, namanya cahaya” aku menjawab sambil melanjutkan bacaan setengah selesai. Lelaki di sebelahku ini akan menghentikan tanyanya sebatas penasaran yang gagal mematangkan diri, kuduga begitu.

“anak jurusan manakah dia?”

Aku  salah….. lelaki sebelahku ini bertanya lagi. Tanya kedua membuktikan dia memerhatikan. Selama ini kupikir dia lelaki yang rigid. Aku menutup buku dan memandang dari sela-sela daun. “haha… tak kusangka, kau bisa memerhatikan wanita” aku tertawa.

Dia diam acuh yang menyebalkan dan aku ingin menyudahi dialog yang menggelitik ini. “aku tak tahu”

“serius??”

“ya, kau ingin kita cari tahu?”

“tak penting” katanya, sambil beranjak dari tangga beton depan kampus. “tak penting”

Aku tersenyum  dalam lengkung simetris “seberapa tak penting?” tanyaku

***

Lelaki itu bernama langit. Aku mengenalnya pada sebuah keluarga yang sahaja  yang  dengan baik menjamukan banyak makanan pada tetamu.

“ayo.. makanlah dulu” kata ibunya suatu kali, waktu aku bertandang.

Untuk keseluruhan pinutur yang  sopan dan lembut, keluarga ini tampak seperti menyajikan jejurang budaya yang lebar pada kesemerawutan tatanan perumahan sempit di sekitarnya. Lalu dengan berjalan waktu maka rumahnya menjadi semacam tempat melarikan diri dari hingar bingar rutinitas.

“sudah menikah, kan, kakakmu yang terakhir itu, langit?”

“ya…. Dua bulan yang lalu, waktu kau pulang ke kampung halaman yang terasing itu” dia tergelak

“ah… kapan rupanya kau menyusul?”

“kau sendiri, kapan?”

Aku mengerjab, lalu diam sebentar dalam liku-liku kembara angan-angan. “ah…. Tak penting itu, nanti bila tiba waktunya kau orang pertama yang kuundang”

Aku mengunyah kue-kue di piring kaca bening. “masihkah kau memikirkan gadis kemarin itu, langit?”

“ah ga kok, yang mana?”

“kau tak pandai berpura-pura, berarti kau memikirkannya”

“kata  siapa, aku tidak”

“ya!! Jangan berkelit”

“bullshit… yang kau maksud cahaya?”

“hahaha……. Bukan aku yang menyebut namanya”

“ah…. Ya, sedikit, tidak lebih”

“seberapa sedikit??” aku tertawa.

“cukup untuk mengganggu selera makanku”

Lalu kami sama-sama tergelak. Dia mengalihkan pembicaraan. Kue-kue tandas, seperti ide-ide yang bermunculan banyak di awal lalu lenyap ditelan perjalanan. Sekian banyak  pengalih perhatian dia ceritakan, tapi tak lama dia kehabisan bahan. Menyimpan rahasia tanpa membagikannya pada siapa-siapa adalah menjemukan, hal yang jemu bisa membunuhmu. Itu klausul pertama. Kurasa itu kenapa dia lalu membuka ceritanya. Sesuatu yang rahasia adalah menyenangkan apabila tidak serahasia yang kau bayangkan.

“Bukankah realita pada akhirnya dibangun lewat mimpi-mimpi?” Aku bertanya, setelah sekian bulan waktu telah menghilang sedang bayangan gadis itu melekat semakin dalam di benaknya.

“maksudmu haruskah aku mendekati cahaya?” katanya menggantung. Intonasinya tersangkut pada ujung nama, seorang wanita yang berapa bulan ini mengisi hatinya dengan imaji kupu-kupu terbang rendah.

“dia terlalu sempurna” katanya lagi, “tak layak aku bersanding dengan titisan dewi”.

“tak layak?? Kau pikir siapa dia? Pitaloka, penerus tahta sunda? hingga kau sebegitu tak percaya dirinya”

Tapi penasaran menggiringnya untuk menjadi intel. Suatu kali langit mengamati gadis itu dari jauh, ia temukan gadis berjilbab anggun itu berhenti di pinggiran jalan rumput, mendekati seorang tua yang menyabit belukar di pepinggiran jalan. Mereka –gadis dan kakek tua itu- berbincang dalam kebisuan yang menakjubkan. Tak lama gadis itu mengulur selembar uang dari ujung tangannya, lalu berpamitan dengan takzim yang memuliakan. Orang tua penyabit rumput itu menangis haru. Dedaun jatuh, mengaburkan air mata orang tua itu, mungkin juga menjelma jejarum yang semakin menancapi hati temanku itu.

Dia merasakan matanya menjelma kaca-kaca yang bening, tapi tak ada yang jatuh dan merembes pada tanah-tanah di bawah kakinya, dia laki-laki, dan laki-laki tidak terharu…ah, laki-laki tidak menangis, mungkin terharu masih dibolehkan.

temanku berbalik dan merasa tak mampu mencuri selendang kayangan.

“Sudah kubilang, dia istimewa”  katanya.

“bukankahh setiap manusia itu istimewa” kataku.

“aku tidak layak, tidak untuk sebidadari dia”

“kerendahdirianmu menjelma jeruji yang mengurung dan tiap hari memakan nyalimu hingga tinggal seperempatnya”

“bukannya aku tak berani, tapi tak cukup bisa aku membimbingnya jika berumah tangga kelak, aku tak cukup ilmu”

“itulah kenapa kau mestinya mencuri selendangnya. Dia yang akan membantumu menemukan ilmu-ilmu”

“layakkah aku, menurutmu?”

“kau layak, sudah pasti”

“beranikah aku?”

“aku tak tahu, kau sendiri yang bisa menjawabnya”

Dan dia mungkin menghabiskan malam itu dengan mengumpulkan keberanian yang lepas-lepas. Mungkin menata ulang sebuah narasi besar yang centang perenang, mungkin menghapus inferioritas keluarga yang mengurat akar, mungkin membuat kerangka masa depan yang jelas dan terarah, mungkin menimang-nimang ketulusan hati.

Tapi dia pria pemberani. Mukanya sumringah suatu hari. Kau curikah selendangnya? Tanyaku penasaran waktu itu.Hari sudah berlalu, dan cerita berjalan jauh

“tidak, tapi dia menjawab sapaku” katanya. Panjang kisah dia ceritakan. Tentang usaha perkenalan yang kikuk dan mengada-ada, tentang sapaan yang takut-takut dan terbata, lalu sampai pada isyarat kata yang menimbulkan tanya.

ceritakan niatmu pada seorang yang engkau percaya, siapa tahu bisa memberikan jalan , apa maksud pesan ini?” dia bertanya, dengan mengajukan layar hitam  putih telepon genggam padaku. Itu tulisan singkat dari gadis pujaannya.

“kau bodoh, langit” ujarku. Tak ada lagi isyarat yang lebih terang dari ini. Segeralah!! Jawab isyarat itu, jawab lewat orang tuamu, jawab lewat apapun. Bergeraklah sekarang dan jangan kau menunda satu detik juga. Aku mencecar. Dia terdiam, terbakar mungkin. Atau ragu, entahlah.

Tapi waktu berjalan seperti karapan sapi-sapi liar, kan? Tak bisa kau kendalikan begiitu terlepas. Kami sibuk dalam rel kehidupan kami masing-masing. Seminggu, dua, atau tiga minggu aku lupa, sejak terakhir kali dia menunjukkan sebaris pesan, sandi paling terbaca, yang dimatanya menjadi rahasia-rahasia tak terpecahkan. Lelaki itu, larut dalam timang-timang yang rumit dan lama.

“aku terlambat” ujarnya tiba-tiba, pada sebuah perbincangan telepon yang jauh.

“maksudmu?” tanyaku

“kau benar, harusnya aku bertindak segera waktu itu, berani waktu itu”

“cahaya??”

“ya, dia sekejap saja menjadi masa lalu”

“cahaya??”

“rupanya ada yang mencuri selendangnya lebih dulu, menawarkannya kepastian janji yang berani dan tulus, bertindak dengan keberanian laki-laki yang genap dan utuh”

“maaf langit, semoga kau temu pendamping yang lebih baik. Aku menyambut, uluran janji, dari lelaki yang datang dengan keberanian, beberapa saat lalu. maaf

Itu pesan terakhir, dari cahaya, diceritakan ulang oleh lelaki sahabatku yang menjelma penyesalan seandainya begini seandainya begitu. Aku diam, aku tak pandai menyemangati. Ujung telepon hening. Pulsa berdetik dengan hitungan menit yang konstan, memutuskan sambungan dengan bunyi biip yang panjang dan menusuk telinga. Aku bersimpati, tapi kawanku ini lelaki, pikirku, dan lelaki hidup dalam hempas takdir yang kadang-kadang kasar.

Diujung sana dia memacu motornya yang tua, pada sebuah hujan yang menjelma sembilu berguguran di bilik-bilik hati. Dia merasakan matanya menjelma kaca-kaca yang bening, tak perlu ada yang tumpah, karna mata laki-laki tercipta untuk menahan perih.

Segala yang sudah terjadi itu tak terelakkan, bukan? Dan segala yang belum terjadi adalah jalinan cita-cita yang mimpi, yang tawar menawar dengan lauh mahfudz, yang berkelahi dengan takdir. Kita memilih, Tuhan menyetujui. Dia lepaskan cinta dari roman yang picis dan murah, karna sejatinya cinta adalah mulia, dan kemuliaan dimanapun akan menemukan cinta lagi.

Motornya menderu, hari hujan, tempias angin dingin dan ciprat air dari kendaraan membasahi helmnya, dia rasakan matanya menjelma kaca-kaca, tapi tak ada yang tumpah. Tak ada.

bagian dua (kaca-kaca cinta)

(source gambar: pinjem google image)

One thought on “KACA-KACA CINTA (tetirah) (cerpen)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s