KACA-KACA CINTA (bagian 2) (cerpen)

tulisan sebelumnya (bagian 1)

Cermin itu tak pernah bicara. Apa kau tak bosan memaku disana, kaca? Memantulkan warna kamar yang coklat redup. Menyalin ulang detil-detil bola mataku, kerut-kerut kerudung, ekspresi gelisah dan senyum, juga mendengar celotehan yang kurapal setiap hari? Betapa sering aku mematut diri di depanmu, bukan bersolek, tapi membuang segala yang tak pantas.

“cahaya, sudah selesai?” itu suara ibu, dari ruang tamu yang sempit dan sesak. Ibu pasti sedang menyulam, di atas bangku rotan tua yang sama, setiap paginya, setiap harinya.

“iya bu, sebentar”.

Kenalkan, namaku ‘cahaya’, anak dari seorang bunda yg renta, manusia yang kucintai sampai terbawa mimpi, terkadang ibu mewujud melati yang putih bersih dan menebar wangi ke hari-hari yang aku jalani dengan sepi dan sendiri. Kaca, kau pantulkan juga kerut di muka dan dahi ibu, bukan?

Aku ingat, suatu hari yang lalu, ibulah yang mengajarku membelitkan ujung jilbab, memantas-mantaskan warnanya dengan baju panjang ini, lalu menyisipkan peniti kecil di sela lipatannya. Aku masih gadis kecil yang lucu kala itu, dengan rok panjang merah dan padanan baju berlengan dan jilbab putih. “kenapa aku harus pakai kerudung, ibu?” tanyaku. “sebagian kawan-kawan tidak”.

Ibu tersenyum dan menarik aku ke hadapan cermin di dinding itu. “supaya kau mulia dan lebih memesona dibanding mereka, cahaya” katanya sambil membenarkan jilbabku yang miring kesana-sini.

“Wanita mematut diri depan kaca, duhai cahaya”, kata ibu suatu kali. “Bukan bersolek, tapi membuang apa-apa yang tak pantas”.

Sering sekali aku membayangkan masa-masa itu, dan baru terhenti biasanya saat waktu menyadarkanku, atau saat seperti kali ini, di luar dingin, uap air yang jenuh dari tadi melayang-layang, mengetuk-ngetuk jendela dengan suara gerimis yang sopan. Aku gelisah. Penantian selalulah panjang dan mencemaskan, apakah sebaiknya aku menyambut sapa-nya, kaca? Lelaki seberang rumah, yang bertamu di sore minggu lalu?

“Ada lelaki bertamu tadi siang, kau sedang tak ada”, kata ibu waktu itu, dan lelaki itu berbincang banyak dengan ibu, kata ibu dia anak baik.

“ah… ibu, kacamatamu berembun, sini, biar cahaya bersihkan dulu”. Kuarahkan tangan dengan pelan ke telinga ibu, ada dua helai rambut putih menyembul kusut dari balik frame kacamata tuanya, ibu memegang tanganku, dan aku tahu aku tak pandai mengalihkan perhatian.

“apa pendapatmu tentang dia, cahaya? Sudah lama dia memerhatikanmu. Seorang lelaki sopan yang bertamu untuk sekadar tahu namamu, meski dari berapa tahun lalu ia sudah mengenalmu lewat kilas-kilas jejalan yang kau lalui tiap kali ke mushola kecil di seberang rumah kita”

Suara ibu masih bening seperti kali pertama dia mengajarkanku mengaji dulu, seperti tetes pancuran bambu di surau seberang. Aku melepaskan tangan dari kacamatanya. Lalu menunduk lama. Ibu masih menyulam jalinan lama pada kursinya yang rotan, yang coklat tua. Aku memainkan ujung jilbabku waktu itu. Memintalnya hingga sedikit kerut dan menjelma gelisah, sekiranya kau juga dipajang di ruang tamu, pasti aku bisa melihat pantulan diriku, kaku dan tergugu, kaca.

Sedang ibu bagiku terlalu digdaya, pesonanya membuat aku hormat dan iba sekaligus.

“bu…. Apa boleh aku menimbang-nimbang dulu?”

Ibu memainkan jarum sulamannya. Begitu lincah, begitu indah. “boleh nak, boleh… putuskanlah olehmu, apapun yang kau pilih akan ibu setujui, jika kau bimbang berkatalah, jangan diam, karena diamnya gadis manis sepertimu dalam agama kita berarti ‘iya’”

ibu mengelus kepalaku. Tangannya terasa halus dari balik kain penutup kepalaku. Aku ingin menitiskan air mata yang entah apa, tapi tanpa kaca aku tak bisa menilai raut muka, air yang mengalir di kerut wajah yang salah bisa menggundahkan ibu. Dia terlalu berharga untuk sedih dan berduka.

Untunglah tiba-tiba ada suara suiit yang panjang menerobos dari dapur. Aku berdiri, pergi mematikan air pada kompor yang menyala-nyala redup. Aroma minyak tanah membubung gamang di udara, seandainya saja tak ada dia, bayangan pria yang menyampaikan salam yang kaku dan memesona, mungkin aku tidak akan bimbang. Pilihan datang pada waktu yang selalu salah, dan memutuskan diantara dua kebaikan adalah selamanya berat.

***

Pada mulanya hanya kata, lalu semua tumbuh diam-diam.

“siapakah nama saudari? kalau tak salah kita bersebelahan kampus” tanyanya waktu itu lewat bariton yang sedang dan kontras dengan desing klakson bus kota-bus kota yang tua.

Baiknya kujawabkah atau kudiamkan saja?

Bus damri berjejalan. Ada kerumunan penumpang yang menyemut. Rasanya tak mungkin aku berdesakan pada segala yang sempit dan terlalu liar itu, biarlah, aku mengambil bus kedua saja yang lewat nanti, Sedang  lelaki itu masih tetap di berapa langkah sampingku, bersender tenang pada pilar beton warung pinggir terminal damri, tak kuperhatikan mukanya, tapi instingku berkata dia orang baik.

“Cahaya, namaku cahaya”

itu saja kata yang aku ucap. Tak lebih, tak kurang. Aku tidak menambahkan apa-apa lagi, dia hanya ber Ooo yang disimpan dalam gumam tertahan, lalu melanjutkan membaca dan tak menoleh-noleh lagi. Aku lega, kutunaikan sebuah sapa balik yang sopan, dan dia memberi ruang bagiku untuk lepas dari segala kekikukan, aku berterimakasih padanya untuk telah tidak melanjutkan bertanya.

Pertemuan itu hampir saja aku lupa. Bila tidak kebetulan yang asing menaut-nautkan kami.

Namanya ‘langit’, dalam sebuah kepanitiaan acara kampus dia ada ditampuk pimpinan. Bukan orator ulung. Gayanya biasa,  sedikit kikuk. Kuperhatikan dia bukan analis yang detil. Dari keseluruhan geriknya yang terlalu awam, ada sesuatu yang menjamin di suaranya.

Suara orang baikkah itu? Aku bertanya pada diriku sendiri suatu kali. Kami ada di dalam satu kepanitiaan yang sama, maka aku beranikan menjawab “ya” untuk sebuah tanya yang dia lontarkan pada sebuah forum panitia. Adakah yang bersedia menjadi bendahara, katanya tidak lantang dan tidak pelan. Entah kenapa aku bersedia. Itulah kali pertama aku mengingat pertemuan di terminal damri lalu. Tak lebih, tak kurang.

Pertemuan berikutnya adalah rutinitas yang biasa, rapat-rapat akbar yang menjemukan. Juga pelaksanaan acara yang letih tapi menyenangkan. Senang, untuk telah menyisipkan sedikit arti pada kehidupan. Berada pada kumpulan orang-orang yang membuat kita merasa ada dan berguna, sungguh menyembuhkan segala luka jiwa. Begitu saja, dan namanya tidak pernah menjelma spesial melebihi segala nama di lingkaran itu, bagiku itu lebih baik, aku berterima kasih untuk lepas dari kekikukan suasana, segala yang menyangkut pria membuat aku canggung dan terasing, dan sampai saat itu dia adalah nama yang biasa.

Seusai acara, aku meniti jalan setapak di pinggir selokan, setapak jalan yang rimbun di kiri kanannya. Sebuah arboretum, pepohonan, kebun-kebunan miniatur yang dikembangkan sebagai laboratorium alam.  Aku harus pulang segera, membantu ibu menyelesaikan segala yang menumpuk di rumah. Ini hari-hari akhir kuliah, aku semakin mencemaskan banyak hal, ibuku, adik-adikku, masa depan yang tanda tanya dan ada sesekali waktunya aku memikirkan ksatria.

Dalam impianku ksatria datang dengan kuda, mungkin berwarna putih, aku selalu terkesima pada dongeng tokoh-tokoh pria, bukan pada kekuasaan dan hartanya, tapi mengagumi pribadinya. Keberaniannya. Impian itu sesekali muncul tapi lebih sering redup, sudahlah aku harus menyelesaikan banyak hal.

***

Selang berapa purnama, suatu malam kulihat ibu tertidur di kamar. ada pantulan gambarnya pada kaca lemari, dari pintu yang setengah terbuka. Bagaimana aku membahagiakanmu, bunda? Tanyaku pada malam. Malam diam. Dia Cuma memberikan hening yang tenang. Aku berterimakasih pada malam, untuk tidak menggangguku dengan bunyi jangkrik atau kodok, aku senang merenung dan berfikir, lalu melihat kaca untuk memastikan tak ada gores-gores luka pada muka bunda yang senja.

Ada suara biip yang kencang. Aku merogoh sakuku dan membuka pesan pada layar monokrom putih hitam telepon genggamku. “Sudikah kiranya, cahaya mengenalku lebih dekat? Agar kiranya berani kulangkahkan kaki pada rencana-rencana panjang masa depanku, dan mematri namamu pada tiap lembarnya?”

Aku bergeming, dalam bimbang yang lama, haruskah kubalaskan pesan ini padanya? Nama itu muncul lagi, ‘langit’, lelaki yang kata orang-orang baik dan sopan. Suatu kali aku pernah merasa akan berkaitan pada banyak kisah tentang dia, sewaktu aku berjalan dibawah rerimbun pohon-pohon akasia di jejalan kampus, dan merasa ada sepasang mata  yang mengamati langkah-langkahku yang pelan. Mungkin itu kali pertama aku merasakan apa yang orang biasa sebut dengan firasat wanita.

Namanya nama yang biasa saja, sekian tahun menjelma menjadi bagian cerita orang-orang yang kukenal sebagai teman saja, tak lebih tak kurang. Sampai berapa waktu lalu aku membiarkan pesan-pesannya yang singkat untuk masuk ke handphoneku, mungkin juga masuk ke hatiku, dan menuliskan sepotong-sepotong kisahnya yang belum utuh.

Kupikir biarlah, hari tak lagi pagi, siang sudah datang sejak lama, dan memberikan pijarnya yang jumawa pada hari-hariku, menyadarkan akan ada sore yang sendu, sore yang mungkin harus dihadapi berdua, dengan seorang ksatria kuda putih, atau seorang yang biasa saja, yang membangunkan sebuah rumah tempat kembali, dan menyenandungkan bacaan ayat suci pada maghrib-maghrib yang selalu datang nantinya. Sudah waktunya?? Aku bertanya pada diri sendiri.

Lalu sesekali aku membalas pesannya. Sebuah pesan yang biasa dengan isi yang sederhana. Tak pernah kulebihkan kata dari sepotong dua potong seperlunya. Ini isyaratkah? atau harapan yang kosong dan tak bernas? Yang jelas, namanya sudah tidak lagi biasa. Mungkin menjadi bagian dari keping-keping cita-cita yang mudah-mudahan mulia. Sebegitu aku menahannya untuk keluar dari angan dan penantian, sebegitu pula namanya masuk dan terpahat perlahan, sudah saatnya?? Aku bertanya pada diri sendiri.

Tiba-tiba aku memerhatikan layar itu lagi. Dan merasa bahwa penantian mungkin akan menjelma sia-sia jika yang dinanti ternyata tak ada. Sedang wanita terlahir dengan kodrat-kodrat yang indah dan mulia. Khadijah dimana kini? Seandainya dia masih ada, bolehlah aku bertanya tentang isyarat-isyarat nan terjaga. Lalu kuberanikan membalas pesannya

ceritakan niatmu pada seorang yang engkau percaya, siapa tahu bisa memberikan jalan”

Begitu aku tuliskan sepenggal pesan yang kukirimkan pada tengah malam yang hening. Aku berterimakasih pada malam.

***

“ada lelaki bertamu tadi siang, kau sedang tak ada” kata ibu.

Perlahan kubuka pintu kamar. Aku merebahkan diri pada ranjang. Mengatur nafasku untuk sejenak berhembus dan menarik pada bilangan yang sama. Aku ingin menitikkan air, pada sesuatu yang entah apa. Pada penantian yang panjang dan melelahkan mungkin, pada harapan-harapan yang kosong dan pasrah mungkin, atau pada pilihan antara dua kebaikan ini mungkin?

Setelah pesan terakhir itu, tak kudengar lagi sesuatu tentangnya, tentang ‘langit’. Aku bertanya-tanya pada kaca yang tergantung di dinding kamarku. Salahkah penantian ini? Apakah sebaiknya kukirimkan pesan tentang penantian yang mengganggu hari-hari? Sedang wanita tumbuh dan besar dalam kodrat-kodrat yang ketat. Sedang menimbang-nimbangkah dia? Sedang mengatur rencanakah dia? Sedang bertukar kata dengan orangtuanyakah dia? Sedang apa aku ini??

“apa pendapatmu tentang dia, cahaya?” ibu mengagetkanku. “Sudah lama dia memerhatikanmu. Seorang lelaki sopan yang bertamu untuk sekadar tahu namamu, meski dari berapa tahun lalu ia sudah mengenalmu lewat kilas-kilas jejalan yang kau lalui tiap kali ke mushola kecil di seberang rumah kita”

Ibu sudah masuk kedalam kamar, duduk disampingku. Menyunggingkan sebuah senyum yang paling melati, harum tuturnya bisa kucium, ibu menjelma putih yang bersih dan menyejukkan. Aku tersenyum, lalu menyeka mata dari lembab yang tak menetes.

Seperti tahu apa yang aku bayangkan ibu melanjutkan “putuskanlah olehmu, cahaya. apapun yang kau pilih akan ibu setujui”

Aku terdiam, tapi tersenyum dengan bibir yang paling tulus. Di kepalaku berkelebatan gambar-gambar lelaki yang membaca buku di sebuah terminal, rapat-rapat akbar yang dikepalai ketua kikuk yang lugu, pesan singkat pada telepon genggamku di malam berapa bulan lalu, lalu penantian panjang, lalu seseorang yang asing lain lagi bertamu ke rumah dan menaklukkan hati ibu.

“jika kau bimbang berkatalah, jangan diam nak, karena diamnya gadis manis sepertimu berarti ‘iya’”

Aku memandang bayangan ibu dan aku dari balik kaca lemari. Kupegang erat tangannya yang berurat-urat senja. Kapan tetangga kita itu datang lagi, bu? Tanyaku dari dalam hati. Akan kujawab pintanya dengan diam. Diam yang memenangkan keberaniannya, dan tidak memecundangi penantianku yang lama. Maafkan ‘langit’ keberanian ada pada lelaki baik yang datang lebih mula.

Kubenarkan jilbabku lewat  pantulan kaca, bukan bersolek, tapi membuang apa-apa yang tak pantas.

(gambar pinjem dari google images)

Iklan

One thought on “KACA-KACA CINTA (bagian 2) (cerpen)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s