DANTE TIDAK GILA (cerpen)

Anak itu gila, kata si mbok. Lihatlah berhari-hari dia hanya diam dan memandang rumpun bambu di belakang rumah kita. Lalu meringkuk-ringkuk memeluk lututnya. Lama-lama Bapakmu ikutan gila nduk, memungut anak seperti dia bagaikan menusukkan lagi minyang bambu ke tangan yang sudah ditelusupi duri. Kita ini orang miskin, orang miskin itu disantuni, diberi makan, bukan memberi makan.

Aku tidak mengerti mbok jawabku dalam hati, aku mendekatinya dengan bahasa yang jenaka, tapi sepertinya dia mendengar dengan telinga yang luka. Jangan-jangan si mbok benar, dia memang gila. Tapi dia makan sekali saja dalam sehari, jadi aku tak merasa kelaparan seperti yang mbok bilang, baguslah. Tapi apa benar dante gilla?

Namanya dante. Kapan ya, dia memperkenalkan diri pertama kali? Aku sudah lupa, mungkin saat dia selesai dari berlaku seperti kesurupan yang mengerikan itu hari. Dia ditenangkan bapak dengan diberinya air minum yang dibacakannya  alfatihah, kata bapak air putih bisa menyembuhkan luka, luka badan dan luka jiwa.

Aku bertanya bisakah?? Bapak berkata bisa. Aku tak percaya, kubilang pada bapak. Jika kau tak percaya maka tak akan bisa, bapak balas berkata.

Sepertinya bapak benar, dia tenang, tak lagi meraung… ah, aku salah, dia tidak pernah meraung, Cuma meringkuk, meringkuk yang ngeri. Selepas bapak memberinya minum maka dia berhenti menutup-nutupi telinganya dengan telapak tangannya.

Aku mendekat dengan bahasa yang jenaka, kutatap matanya tapi dia merunduk. “siapa namamu?” aku berkata.

“dante” dia menjawab.

Itu kata pertama dari mulutnya. Selepas itu tak ada, tak pernah ada. Setiap hari aku mendekat dan mengajaknya bermain di halaman belakang, mengejar bebek-bebek yang rakus, atau menjerat capung, tapi dia tidak bergeming.

Lama-lama dia mengikutiku bermain tapi dia  tidak berkata, tak pernah lagi. Tapi aku sudah tahu namanya, dia dante.

Bapak tak tahu namanya, apalagi si mbok. Si mbok bisanya meracau saja. Tiap kali si mbok meracau dan mengatainya sebagai anak gila itulah aku mengendap-endap mengajaknya bermain.

“dante, ayo ke kebun belakang” kataku.

Aku melirihkan suara pada setiap kata yang menyebut namanya. Dante. Dante. Seperti itu, tak ada yang mendengar.

***

Dia ditemukan bapak, suatu hari yang gerimis. Aku sedang menemani bapak menanam padi, di sawah yang bukan petak tanah kami. Bapak tak punya sawah, hanya menanam. Luas sekali sawah yang ditanami padi oleh bapak. “ini sawah siapa pak’e?” tanyaku waktu itu.

“sawah juragan nduk orang kaya”.

“orang kaya itu baik apa jahat pak’e?”

Bapak tak menjawab langsung. Dia meluruskan punggungnya dari lengkung yang sepertinya bikin capek. Aku Cuma melihat punggung bapak dari belakang. Sambil duduk simpuh dan meniup-niup seruling bambu yang dibuatkan bapak dari buluh bambu kuning. Merdu sekali. Kulihat bapak menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangannya yang celemotan lumpur sawah.

“ayo nduk, mainkan lagi serulingmu” kata bapak.

Aku memainkannya lagi. Ada burung-burung pipit yang kaget dan berhambur terbang dari pucuk atap gubuk, yang rumbia dan coklat kumuh itu. Lalu kulihat bapak kembali menanam-nanami padi-padi yang masih mungil dan muda.

“tidak semua orang bisa kau pisahkan nduk” kata bapak tiba-tiba.

“pisahkan bagaimana pak’e?” aku bertanya kaget.

“lah…. Mainkan dulu serulingmu enak sekali mendengarnya” bapak berkata, sepertinya sambil tersenyum, aku Cuma melihat gurat bajunya yang seperti melengkung. Aku lalu meniup lagi serulingku.

“di dunia itu nduk” bapak melanjutkan. Aku mendengarnya dengan telinga yang awas dan takzim. “tidak semua orang orang baik, tidak semua orang orang jahat. Kadang-kadang mereka bercampur baur.”

Aku tahu itu pak. Kubilang dalam hati, seperti suara bapak yang bercampur-campur dengan serulingku ini kan ya?? Tapi aku tak potong kata-kata bapak. Aku meniup  serulingku terus, tapi kubuang nadanya dari telingaku, dan kuberikan lubang yang besar untuk suara bapak masuk. Aku suka kalo bapak mendongeng.

“dalam tiap orang, ada baiknya, ada jahatnya. Kau bertemanlah dengan siapa saja. Dengan yang baik tiru perilakunya. Dengan yang jahat ajarkan rubah sifatnya. Kalau tak bisa ya menjauh saja”

Hari gerimis, gerimis yang kecil-kecil. Heran, setiap kali bapak mendongeng maka hari akan gerimis, gerimis yang menjadikan tanah bau wangi-wangi. Setelah itu aku dan bapak pulang meniti pematang-pematang sawah. “Aku senang pak dengan bau hujan kubilang pada bapak”.

“makanya nduk, hujan itu rahmat, ayo buru-buru” kata bapak sambil berlari. Aku ikut-ikut berlari di belakangnya. Bapak begitu besar ya? Aku melompat-lompat di bekas pijakan kaki bapak yang mengecap pada lumpur. Kulihat dari jauh bapak memotong sebuah daun pisang, gerimis menjelma hujan yang gemuruh, yang guntur, aku pecicilan mengejar bapak sambil berkata dalam hati, rahmat, rahmat, rahmat, aku takut guntur pak, tapi hujan itu rahmat.

Lalu kami bernaung di bawah payung daun pisang yang besar. Waktu itulah, di ujung pematang, di dekat batang  pisang yang tua dan miring, kami menemukan dante. Tubuhnya mungil, dia seukuranku. Meringkuk dibawah guyur air yang bening dan mengalirkan merah yang pekat dari bajunya.

“dia berdarah, pak’e” kataku.

“tenanglah” kata bapak, sambil memegang-megang badan anak itu. Lalu membopongnya dengan sigap dan segera. Bapak berlari, aku mengejarnya setelah kupungut daun pisang yang bapak buang. Aku sendiri yang berpayung sekarang, bapak membopong anak itu di depanku dengan basah, dengan kuyup yang meliputi setiap jengkal bajunya, seperti aku yang dilengketi kebingungan yang menggigilkan.

Aku mengejar bapak dan melompat lompat berjingkat mencoba memayungi kepala bapak. Aku tak bisa. Anak itu meneteskan darah yang merah dan anyir, bapak basah diguyur air dari langit dan aku memegang daun pisang sambil merapal rahmat…rahmat…

***

Di rumah, si mbok menyiapkan jahe. Jahe yang ditumbuk dengan ulekan. Lalu dijerang di atas panci yang dijilat-jilat api merah kayu bakar. Aku duduk di pinggir dipan dengan memegang cangkir kaleng yang hangat. Sebentar aku melihat Bapak, sebentar aku melihat si mbok, lalu anak itu.

Si mbok pandai membuat obat, obat itu menyembuhkan luka. Badan anak kecil itu mencecap lebam. Lebam yang membiru-biru hitam. Obat mbok memang sakti. Mbok belajar dimana ya? Pikirku. Apa mbok bisa menyembuhkan semua luka? Seperti luka-luka jiwa. Aku yakin anak ini masih luka, luka di dalam dadanya. Kata bapak itu disebut jiwa.

Aku tak begitu mengerti jiwa, tapi aku mau dia sembuh, sembuh dengan  obat dari si mbok. Tapi aku tak yakin obat si mbok bisa. Sesuatu yang bapak sebut jiwa itu susah dibaluri ramuan dari kebun belakang. Si mbok mungkin juga luka, sebuah luka pada jiwa yang membuatnya sering meracau dan marah-marah pada dunia. Waktu kutanyakan pada bapak, apakah si mbok luka jiwanya? Bapak menutup mulutku dengan jari telunjuknya. “tak boleh berkata begitu, nduk” kata bapak.

Tapi aku yakin si mbok luka. Buktinya, Cuma sehari dua dia tak bertanya tentang anak itu, tentang luka pada bajunya yang putih, tentang asal usulnya, lalu tak lama si mbok mulai marah-marah, pada anak itu, pada bapak, sekali-kali padaku. Aku sih tak pusing, kalau si mbok marah dan mulai menyebut-nyebut sesuatu yang bernama kemiskinan, aku tinggal main saja ke belakang, sambil sekali-kali mengintip gedhek, rumah kami yang bambu dijalin-jalin itu, kalau-kalau bapak bakal pergi ke ladang atau sawah orang, aku bisa ikut. Tapi aku melihat anak itu, di pinggir dipan dan meringkuk pada lututnya, aku jadi kasihan, kupikir hari ini tak apalah tak ikut bapak ke sawah, aku akan menemani dia, dan hari itulah aku tahu namanya dante.

Dante…. Gilakah kau? Seperti kata si mbok? Tapi orang gila matanya tidak bening bagai kaca.

***

Aku mulai percaya dante tidak gila. Kami main di kali belakang, mandi-mandi dan menaiki kerbau-kerbau gembalaan orang. Tapi aku mulai ragu kalau dante bisa bicara, mungkin dante bisu??

Tidak gila tetapi bisu, sama-sama menyedihkan. Tapi aku masih sedikit yakin, kalau suatu nanti dante bisa bicara, bicara dengan bahasa yang sama jenaka. Biar bisa ngomong-ngomong sedikit dengan ibu, dengan si mbok.

Tapi hujan memang rahmat ternyata. Sore itu gerimis lagi, dengan pelangi yang melengkung warna-warni dibalik-balik awan. Si mbok sakit, mbok batuk-batuk parah. Bapak pergi, kata si mbok bapak membendung kali, ada yang meluap di dekat sawah si juragan, juragan yang bukan  jahat dan bukan baik.  Aku lapar, si mbok tak bisa masak. Lalu aku mainkan saja seruling, tembang-tembang yang larut dengan uap-uap  basah dari hujan. Sepertinya dante suka. Aku tahu aku pandai.

Lalu dante kulihat jalan-jalan ke dapur, dia merajah-rajah bawang dan cabai, memotong-motong lengkuas aku berhenti meniup seruling. Lalu aku mencium bau wangi yang meracau-racau dari dapur. Aku berjingkat-jingkat senang. Si mbok tampaknya tidak marah kami mengacak-acak dapurnya. Lalu dante menuangkan kuah pada mangkuk, mengantarnya pada ibu dengan langkah yang pelan dan ragu-ragu. Ibu batuk-batuk, lalu bangun dengan payah dari dipan satu-satunya di gubuk kami.

“makan” katanya pada ibu.

HAAAHH dante bicara!! dante bicara! aku bersorak, ibu lalu senyum dan menyeruput kuah itu dari mangkuk.

“dari mana kamu belajar bikin soto, nduk?” tanya ibu pada dante.

Kulihat dante tersenyum, aku tertawa entah kenapa, lalu ibu berseri-seri mukanya. Ah, hujan memang rahmat. Diluar guntur menyalak-nyalak, ada kilat-kilat cahaya menerobos dari lubang-lubang dinding. Dante ini kupikir sakti juga, dia bisa menyembuhkan luka jiwa.

***

Esoknya bapak tak  ke ladang, tidak juga ke sawah. Sawah juragan diperbaiki dulu, kata bapak. Hujan yang lebat memakan pematangnya, menggenangi sawahnya dengan air yang bah, yang banyak dan membusukkan akar-akar.

Dari sana bapak membawa cerita, cerita yang dia dapat dari kawan-kawan pekerja sawah. Kata bapak cerita itu tentang dante. Aku beringsut dan memasang kuping pada dinding lemari. Malam itu Bapak bercerita pada ibu dari ruang sebelah, ruang yang di pisah dengan lemari tua warna hitam. Aku mendengar sambil melihat bayang-bayang bapak yang bergoyang-goyang ditanah dari cahaya lampu teplok.

Orangtua dante mati, kata bapak. Aku terkejut, sekian lama bermain petak umpet dengan dante, tak kutanyakan siapa orang tuanya.  Apakah bapaknya dante bermain petak umpet? Apakah dante bersembunyi? Sembunyi-sembunyi yang lama dan membosankan?

Sebuah batang bambu menggepruk kepala bapak dante kata orang-orang di sawah, darahnya menjelma pekat yang anyir dan ciprat kemana-mana. Aku ngeri mendengarnya, kulihat dante masih tertidur di samping kakiku, dia pulas, aku membayang-bayang.

Orang-orang marah, kata bapak, marah pada keluarga dante yang menyepi, pada desas-desus yang tak mereka tahu benar-benar. Pada keluguan bapak ibu dan paman-paman dante yang mengikut-ngikut nabi baru. Lalu semua tiba-tiba kalap.

Apa itu kalap? Pikirku, lalu bapak menjawab dari balik lemari, mungkin bapak memang benar sakti. Orang-orang kalap itu, kata bapak, merajam-rajam kekhilafan dengan batu dan bambu. Mereka senang pada kebenaran, tapi lupa pada perjuangan yang payah, mereka kata bapak adalah pemakan beras yang tak pandai menanam padi, tak sabar menebar benih.

Si mbok takut, tapi tak marah pada dante, si mbok cemas, akan mereka carikah dante? Akan dibunuh? Tanya si mbok pada bapak. Sepertinya tidak, kata bapak, sebenarnya yang memulai kerusuhan pada hari yang seram itu bukan penduduk kampung sana, tapi puluhan orang yang pada sebuah gerimis muncul-muncul entah darimana. Mudah-mudahan dante aman, kata bapak.

Aku ikut lega, lalu sebuah kantuk yang berat menyelimutiku dengan hangat, dan aku tidur dengan  mimpi-mimpi seruling yang damai dan sebuah pelangi.

****

Hari berlalu, burung-burung mencicit pada sebuah subuh yang syahdu dan dingin. Si mbok memasakkan kami wedang jahe, selepas sholat subuh yang seru dan ramai. Aku dan dante bersebelah-sebelah, ibu bermukenah di belakang kami.

Selepas sholat sekarang giliran dante, mengeja alif ba ta, pada sebuah jusamma yang usang dan menguning. Aku sudah selesai membacanya barusan, lalu dante terbata-bata juga mengejanya. usai mengaji kami menyeruput jahe yang harum, dan bapak mendongeng lagi, aku senang.

“tahukah kau, nduk” kata bapak pada aku dan dante. “ siapakah nabi kita?”

“tahu…. “ jawabku riang “Muhammad, Muhammad sang terpuji”

Bapak senyum memandangku, lalu ganti memandang dante

“apa Muhammad itu dari india, pak’e?” tanya dante

“bukan nak…. Bukan, dia dari arabia, dan dia nabi terakhir”

Aku menyeruput jahe yang berasap, kulihat dante mengangguk-anggukkan kepalanya.  Aku jadi ingat kata bapak waktu dulu-dulu sekali, Cuma nabi, yang bisa dicap pasti.

Dicap apa pak’e tanyaku.

Dicap orang baik. Kata bapak.

Lalu malam itu aku melihat si mbok, melihat bapak, bayanganku di tanah,  dan dante.

“ah… memang nabi terakhir itu rahmat ya pak??” tanyaku

“iya, seperti hujan” kata bapak sambil tersenyum.

Diluar gerimis, dan dante ternyata tidak gila.

(gambar pinjem dari google images)

6 thoughts on “DANTE TIDAK GILA (cerpen)

  1. adakah hubungannya dgn salah satu karya Dante?? Ah iya, saya belum pernah membaca satu pun karya Dante secara utuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s