AKU BENCI NAMAKU (cerpen)

Bertahun dia membenci ayahnya, untuk sebuah alasan yang tidak terlalu dia mengerti. Ayahnya seorang pekerja pertambangan, pekerjaan yang mengantarkannya pergi tuju tempat-tempat terasing dan keras. Mengakrabi dinamit yang meledak-ledakkan bebatu cadas pada kulit bumi.

Ayahnya pergi jauh untuk berapa masa, dan pulang membawa oleh-oleh rupa-rupa untuknya, tapi dia kemudian mendiamkan ayahnya. Untuk sebuah alasan yang dia tidak begitu mengerti. Mungkin dia membenci takdir, takdir yang menitipkan dia pada rahim ibunya, seorang istri kedua.

Dia tidak begitu tahu apa itu kedua, seperti dia tak pernah tahu apa utamanya pertama? tapi sesuatu yang salah membuat dia membencinya, sesuatu itu berupa nama.

Namanya drupadi. Mungkin nama itu menitis padanya dari sebuah dongeng.  ‘Drupadi’ konon seorang putri kerajaan panchala. Diperebutkan dalam sebuah sayembara yang dimenangkan oleh arjuna. Tetapi arjuna adalah bagian dari pandawa lima, sedang pandawa telah bersumpah untuk selalu membagi rata apapun yang mereka punya. Maka drupadi jelita itu pun diperistri lima bersaudara.

Dia sesungguhnya membenci namanya. Ada sesuatu yang salah disana, katanya. Sesuatu yang menyelinapkan kebencian dan melukai kepercayaannya pada orang-orang. Orang bilang nama itu doa, tapi baginya nama itu mantra. Sesuatu yang keras dititipkan pada nama itu. Mungkin lewat tirakat dari cinta yang luka, pada alam, pada Tuhan, pada takdir semesta ini.

Dia lahir pada sebuah pagi, di rumah sakit yang masih benderang lampunya, masih riuh. Hari masih dini, sedang para suster sudah menggerubuti ibunya dengan pertolongan-pertolongan yang sigap. Mungkin mereka tahu, bahwa seorang anak yang cantik, pastilah akan terlahir dari perempuan yang bermata bulat penuh, berbulu mata lentik, wajah bersih dan rambut yang bergelombang.

Lalu tiba-tiba pagi pecah, oleh tangis dari suara kecilnya. Dia menangis dengan suara yang bening dan lengking, waktu suster membopong dirinya yang kecil dan masih diselimuti sisa-sisa air ketuban yang menetes-netes. Ibunya tersenyum kala itu. Ada cahaya, dari bulan yang purnama dan penuh, menembusi sepotong jendela yang berkaca bening lalu mengenai kepalanya. “kita namai dia wulan, ya ayah” kata ibunya.

Laki-laki itu mengangguk, lalu menggenggam jemari istrinya dengan hangat, dengan cinta yang erat. Lalu laki-laki itu menangis, ada sesuatu bahagia, dan sesuatu duka yang bercampur padanya. Saat bahagia dan duka kau rasakan bersamaan, yang bisa kau keluarkan Cuma tangis, tak pernah tawa. Itu anak pertama mereka.

‘wulan’ gadis kecil itu tumbuh dengan cepat. Dia menyukai namanya. Ibunya sering mengajaknya berkaca di depan cermin sambil berkata “wulan..lihat, kau cantik sekali anakku”.

Lalu saat itu wulan akan tersenyum dan menyunggingkan lengkung bibir yang memperlihatkan gigi geliginya.

***

“pintar kamu wulan” kata guru-guru SD-nya. Dia cantik, berbakat, seperti kebaikan yang bertumpuk-tumpuk. Dia ramah.

“kenalkan, nama  saya wulan” begitu dia berkata pada orang yang baru dikenalnya. Lalu tak lama mereka akan menjadi teman. Dia akan terkait pada hati dari banyak kepala dan nama.

Tapi suatu kali wulan tiba-tiba murung, dia sering menangis. Aku sudah bujuk dia.

Katanya dia memikirkan sapu tangan. Sapu tangan apa? Kutanya padanya. Sapu tangan ibunya, katanya. Diceritakannya padaku tentang sebuah pagi yang dia tidak akan pernah lupa.

“wulan ayo makan dulu!” kata ibunya pagi itu.

Wulan tak mengindahkan, dia asyik berlari dan memetik bunga-bunga rumput pada taman. Bermain dan mengejar capung-capung. Dari jauh dia lihat Ayahnya bersiap-siap pergi, dengan motor besar dan jaket kulit hitam. Dilihatnya ayahnya merapikan janggut pada spion motornya.

“Ayah mau kemana?” tanyanya dari jauh.

“ada urusan sebentar, wulan”

“Ayah jangan pergi, iya wulan makan” katanya memelas.

Ayahnya diam dan mengenakan helmnya, lalu motornya berderum berat dan menggema.

Wulan mencium bau bensin dari knalpot yang hitam, seperti juga mencium sesuatu yang bernama cemburu.

“tak bisa menunggu wulan selesai makan dulu, mas?” kata ibu pada Ayahnya.

“dia sakit, aku harus segera” jawab ayahnya dari balik helm hitam. Lalu motor itu pergi dan menghilang di tikungan dekat pos satpam.

Siapa ‘dia’? Tanya wulan dalam hati. Siapa yang sakit? Apakah ayah akan kembali? Apakah ayah pergi? Mungkin ayah marah, karena dia tak mau sarapan pagi.

Wulan berlari dan mengejar-ngejar, Ayah, Ayah, begitu dia berteriak, lalu menangis dan menyeka mata dengan kerah baju yang kotor oleh getah-getah perdu.

“sudahlah wulan, nanti juga Ayah pulang” kata ibunya.

“wulan mau makan bu, tapi ayah jangan pergi” dia menangis, tangis yang menetes dan bercampur pada nasi yang bubur, pada potongan ayam-ayam dan dedaun bawang.

Ibunya menyeka air mata Wulan. Dengan saputangan yang kemudian dia selipkan juga pada sebalik kaca yang menutup lentik bulu matanya.

“siapa yang sakit, ibu?” tanyanya.

Ibunya tak menjawab, dan tetap mengusap-usapkan sapu tangan itu pada matanya yang sembab. Mungkin menghapus air mata, mungkin juga menghapus luka.

Lalu sepulang sekolah hari itu, pada saat bel SD berdentang, aku melihat wulan dijemput ibunya. Wulan berlari kecil menghampirinya dengan riang, tapi tiba-tiba ibunya memanggilnya dengan nama yang berbeda.

“Drupadi, ayo pulang!” kata ibunya tiba-tiba.

“siapa Drupadi, ibu?” tanya wulan dengan matanya yang bulat.

Aku melihat tangan wulan digenggam, lalu dia tertatih-tatih mengikuti langkah-langkah ibunya yang besar-besar.

“ibu…tanganku sakit, jangan cepat-cepat” wulan berteriak.

Kulihat ibunya tak menjawab. Tapi melangkah terus dengan tiap pijakannya menerbangkan debu-debu pada udara.

“ayo cepat drupadi!” kata ibunya.

“tidak… aku wulan, aku bukan drupadi” wulan berontak.

Tiba-tiba sekali, ibunya berjongkok, lalu menatap wulan membelai kepalanya, dan menghunjamkan padang mata yang tegas padanya.

“mulai sekarang, engkau bernama drupadi, nak” kata ibunya, sambil mengenakan bando kupu-kupu biru pada kepala anaknya.

“apa itu drupadi?” tanya wulan

“sesuatu yang baik” jawab ibunya, suaranya bergetar.

***

Mulai itu dia kenalkan dirinya dengan nama yang berbeda. Dan pada takdir yang singkat kemudian ibunya lalu meninggal. Drupadi Sejak itu pendiam. Dia tak punya ibu, tapi juga membenci ayahnya. Aku berusaha menemani dan menghiburnya, tapi dia tak acuh.

Aku bertanya kenapa kau membenci ayahmu? Dia tak menjawab.

Ada sesuatu yang ingin dia lakukan, tapi dia tak tahu apa, hingga pada suatu kali yang lain  drupadi menemukan arti namanya secara tak sengaja, pada buku dongeng mahabarata di perpustakaan sekolahnya yang tua.

‘Drupadi’: seorang gadis jelita, bersuami lima ksatria pandawa.

Dia tersenyum. Aku ngeri melihatnya. Tiba-tiba drupadi menjadi sering berkaca, seperti dia mengingat wasiat-wasiat ibu padanya, tiap kali rambutnya disisir dan dipakaikan sebuah bando kupu-kupu.

Dia tahu dia jelita, nanti dia akan taklukkan banyak pria. Seperti drupadi putri panchala. Seperti dongeng india. Seperti mantra pada namanya. Seperti dendam pada ibunya. Mungkin menyengsarakan para lelaki bisa mengobati takdir hidup ibunya yang getir. Bisa membunuh dendam pada seorang ayah yang meninggalkannya pada suatu babak masa kanak-kanak yang lekat dan tak bisa dihapus.

“lihat drupadi, kamu cantik sekali” katanya pada diri sendiri “nanti laki-laki akan terbius oleh rambutmu, engkau orang baik, menarik orang yang baik pula, tapi seperti takdir yang berganti-ganti, ayahmu memperistri dua wanita, sedang kau akan menaklukkan banyak pria”.

Drupadi apa kau sudah gila?? tanyaku padanya

“aku jelita, kan?” tanyanya padaku. aku diam

Lalu pada hari-hari yang berjalan terus itu, tiba-tiba saja ada rangga menatapnya. Ada sandika. Dan entah berapa puluh nama yang melihat rambutnya tergerai dan kilap ditimpa matahari. “kamu cantik, drupadi” kata mereka.

Aku marah “kau memang jelita, drupadi!!” aku memotong. “tapi bukankah aku juga cantik?” aku bertanya padanya.

Aku mengerjap-ngerjapkan kelopak mataku, lalu kulihat pada cermin kaca drupadi juga mengerjapkan kelopak matanya. Aku bingung. Siapakah drupadi dan siapakah aku? Lalu kusentuhkan ujung telunjukku pada kaca. Ada ujung tangan drupadi di sana. Aku merasakan jarinya lentik dan dingin. aku pucat, ternyata akulah drupadi.

Namaku Wulandari. Aku lahir pada suatu pagi yang bersaput embun. Ada purnama yang bulat, yang penuh. Lalu ibuku memanggilku wulan, ayahku memanggilku Wulan. Tapi ibu mengubahku menjadi drupadi. menitipkan sebuah doa bahwa aku bisa membalaskan hatinya yang sakit dengan menjadi wanita yang berkuasa terhadap para pria.

Sejak itu aku memusuhi ayah, sebagian hatiku menjadi keras dan sebagian lainnya ingin menjadi lunak. Ayah seperti biasa pergi bekerja, tuju tempat-tempat yang jauh dan terasing, berminggu-minggu, kadang berbulan-bulan. Memecah batu dan mengantongi bijih-bijih emas, nikel dan tembaaga.

Tiap kali pulang maka ayah akan membawakan oleh-oleh aneka rupa “nah…. wulan, ini ayah bawa baju untukmu”.

Aku yang ‘wulan’ tersenyum. Sedang ada drupadi mencuat-cuat dari dalam hatiku, pada sebuah tempat  yang nun disana sekali itu. Maka aku bertengkar dan memaki-maki diriku sendiri pada kaca.

“diamlah kau drupadi!!!” kataku suatu kali.

“diamlah kau wulan!!!” kataku pada kali yang lain.

Ayah aku acuhkan. Tapi dia tetap bercerita dan menegurku. Sekali waktu dia mengajakku tuju taman-taman bunga yang ditumbuhi rumput-rumput liar pada sebagiannya. “Wulan…masih ingat kita pernah bermain sepeda disini?” katanya.

Aku diam.

Lalu dia menyerah, dia tahu, ada sebagian diriku yang marah dan tak mau bicara, dan akhirnya dia bercerita tentang aku, tentang ibu, dan tentang istri pertamanya. “maukah kau, Wulan, ayah ceritakan  tentang dua ibumu?”

Lalu kudengarkan pelan-pelan ayah bercerita.

Mereka keluarga yang bahagia, tinggal di sebuah rumah yang kecil dan rimbun pada taman-tamannya. Bertahun menantikan seorang anak tapi tak kunjung ada yang datang. istrinya digelayuti sakit pada rahimnya, dia tak mungkin memiliki anak. Ayah sedih, pada ketiadaan anak kecil yang menangis di malam-malam hari, di rumah itu. Tapi ayah juga sedih, pada sesenggukan istrinya yang merasa tak berguna dan payah.

“sudahlah dek, takdirnya sudah begini, tak usah disesali, bukan salahmu” kata ayah.

Istrinya menangis lalu membisikkan sesuatu dengan lirih pada telinganya. Jika seorang anak itu harus datang ketengah-tengah kita lewat rahim yang lain, dia rela. Katanya.

Begitulah, pada sebuah petualangan pekerjaan yang jauh dan lama, ayah menemukan ibu. Ibu senang, ayah tampak gembira. Mereka menikah. Ibu tahu dia bukan yang pertama, tapi ceritra ayah menyudahi takut dan cemasnya. Aku lalu lahir. Pada sebuah pagi rembulan.

Tapi suatu ketika benih cemburu ibu tiba-tiba tumbuh menjadi liar.

“bolehkah aku juga memanggil dia anak?” tanya istri pertama ayah dengan hati-hati.

Ibu diam. Mungkin ibu marah pada takdir dan keadaan. Tak ada yang boleh mendekati anaknya selain dia. Sejak itu ibu menjauh, dan menjadi marah pada setiap detil yang bersinggungan dengan istri pertama ayahku.

Ayah mengalah, lalu istri pertamanya dititipkan hidup pada sebuah tempat yang jauh dan tak tersentuh.

Aku lalu besar dan suka memetik bunga-bunga rumput, ayah menemaniku dan menyuapiku sarapan pada setiap pagi yang ditimang-timang matahari, sambil sesekali menyisiri rambutku yang bergelombang dan berbando kupu-kupu. Tapi suatu hari itu istri pertamanya sakit, mungkin sakit dalam ketelantaran yang sendiri dan sepi yang melumat-lumat hari.

Waktu itulah ayah pergi, dengan tergesa meninggalkan ibu  yang menyuapkan sesendok bubur sarapan pagi padaku. aku berlari-lari mengejar ayah, lalu menangis dan diseka dengan sebuah saputangan yang menyerap airmata, mungkin juga menyerap luka. Lalu ibu marah dalam marahnya ibu menitipkan drupadi padaku.

Aku terenyuh. Kulihat ayah menyeka matanya yang sembab dengan sapu tangan ibu yang lusuh dan lama.

Ayah, aku tak menyukai drupadi, kataku pelan-pelan, ada iba yang tumbuh perlahan.

“aku ingin berganti nama, ayah” kataku.

Tiba-tiba aku rindu, rindu pada sepotong fragmen dimana ibu membetulkan bando kupu-kupu yang lucu pada rambutku. Lalu memanggilku dengan sepotong nama entah entah Wulan entah siapa. aku rindu ibu.

Ayah tersenyum, lalu mengajakku berjalan tuju sepotong rumah yang di berandanya seorang perempuan tua sedang merajut dengan dua jarum-jarum panjang.

“ah….. anakku, kau datang akhirnya” katanya serak

“duduklah sini, ibu rajutkan sebuah baju untukmu, mudah-mudahan pas di badan, ibu tak pandai merajut” katanya dengan nada yang tua dan merasuki telingaku.

Aku duduk di sampingnya. Dia genggam tanganku dengan dingin, lalu menatap matahari senja sambil menembangkan lagu-lagu yang entah apa.

Pada jenak yang tenang seperti inilah, ayah, aku baru sadar bahwa terlambat itu lebih baik, daripada tidak sama sekali.

“ayah… bolehkah aku memanggilnya ibu juga?” tanyaku, mungkin dengan serak, dengan air mata yang mengaliri pipi dan mengebaskan bibir lidah dan geligi.

“boleh, nak, tak pernah tak boleh” kata ayah sesenggukan.

Aku merasa ada yang hilang, hatiku menjelma ringan dan dipenuhi cinta. Mungkin masih ada sisa luka, sisa darah yang habis diserap sebuah sapu tangan yang kugenggam.

Dari kaca spion motor tua ayah di depan pintu pagar, kulihat ada drupadi mengetuk-ngetuk kasar di dalamnya. dia berteriak-teriak. Mungkin ingin keluar dan memaki. Biarlah….. aku tak  mau melihatnya lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s