YANG BELUM TUNTAS

Tiba-tiba di inbox emailku ada balasan dari KOMPAS! Bukan main riangnya.

Bayangkanlah itu, KOMPAS, sebuah harian yang dibaca seluruh indonesia, sekarang redaktur Opini-nya mengirimkan email padaku. Dag dig dug der.

Dengan pelan-pelan kubuka inbox, bismillah, mudah-mudahan ini awal dari segala sesuatu yang baik. Diterimakah cerpenku?

Akhir-akhir ini aku menulis cerpen, sobat. Belajar menulis. Terlalu sedikit yang bisa dituliskan tentang diriku sendiri, jadi aku menuliskan imaji yang liar berputar-putar di kepalaku.

Kenapa harus diposting? Kenapa tidak disimpan saja? Suatu kali aku pernah menanyakan itu pada diriku sendiri.

Jawabannya adalah ‘karena aku ingin orang membaca tulisan ini’. Apakah itu tidak ikhlas?

Jawabannya adalah ‘membingungkan’.

Secara sadar aku pikir bahwa memang sangat menarik untuk tahu bahwa orang membaca tulisan kita. Hal yang lebih menarik lagi mungkin adalah orang suka kepada tulisan kita. Tapi diantara semua itu, yang paling berkah mungkin orang mendapat manfaat dari tulisan kita.

Jadi dengan judul ‘menebar manfaat’, atas saran beberapa rekan-rekan, aku coba kirimkan tulisan-tulisanku.

Memang, dengan jujur aku mengaku bahwa tulisan yang semakin banyak dibaca, memberikan semakin banyak kepuasan pada diri kita. Dengan itu aku mencoba mengirimkan tulisan ini ke sebuah penerbit dengan skala yang besar. KOMPAS salah satunya.

Memang yang paling enak itu menutup-nutupi diri sendiri. Misalnya aku bisa dengan pintar berdalih seperti ini “kawan, semakin banyak karya kita dibaca orang, semakin banyak manfaat, semakin besar pahala kita.” Indah, bukan?

Tapi secara jujur, sepertinya kapasitas keikhlasanku belum sebegitu-begitunya.

Apa buktinya? Katamu.

Buktinya adalah kemarin itu. Dengan membaca bismillah, aku buka judul email pada inbox, berharap ada sesuatu yang menakjubkan dari kiriman penerbit harian besar itu.

‘terimakasih atas kirimannya, tapi kami tidak mendapatkan file attachmentnya’ kata isi surat itu.

OOOoooaaalaaah…Singkat, dan menohok.

Aku sadar tapi sambil tertawa berguling-guling :-p.

Dalam banyak hal aku masih harus belajar. Tatacara kepenulisan yang bagus. Bagaimana menceritakan sesuatu tentang diri kita yang menurut kita bagus, tapi juga matters buat orang lain. Bagaimana membuat sebuah cerita imaji yang tidak hanya meliuk-liuk tapi juga berfaedah.

Aku geleng-geleng, bisa-bisanya, mengirimkan ke sebuah penerbit, sebuah email kiriman cerpen, tanpa file attachment! Lalu aku meng-klik upload pada tombol di layar.

Oooh… satu lagi yang aku lupa, aku juga belum pandai belajar ikhlas.

Apa itu ikhlas? Ikhlas itu adalah terus menulis, meskipun tulisanmu dimuat koran, atau tidak dimuat koran. Dibaca orang atau tidak dibaca orang. Dan satu lagi, ikhlas itu adalah tidak deg-degan menerima email dari penerbit –apapun isi emailnya- :-p sekian.

6 thoughts on “YANG BELUM TUNTAS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s