YANG DIPERTUAN HAJI (cerpen)

“Kau tulis itu sampai seribu, atau kulaporkan kau sama Bapakmu, heh!” Suara Wak Ruslan mengancam, meninggi.

Terkejutlah Hasan dengan ancaman Wak Ruslan. Seperti mau mati dia tulis cepat-cepat kalimat itu. Seribu kali. Tak terbayangkan. Aku tidak akan main-main pistol api di masjid lagi. Baru seperempat halaman kertas dia tulis, masih jauh.

Dalam pegal-pegal yang pelan-pelan lekat di siku dan jemarinya, Hasan semakin yakin Wak Ruslan sesungguhnya bukan haji, belum haji. Sambil memunguti keringatnya yang satu-satu gugur dan jatuh pada kertas putih, Hasan mencuri-curi lihat pada Wak Ruslan yang sedang mengajarkan kawan-kawannya mengaji. Dia lihat di dekat pilar masjid, ada kawan-kawannya menahan tawa, menutup mulut mereka dengan sarung. Sial.

Memang Hasan merasa dijebak, bukan dia yang memain-mainkan pistol korek api tadi, tapi  kawan-kawannya di sebalik pilar itulah yang diam-diam mengambil pistol-pistolan kayu milik Hasan, dan dengan sontoloyo telah menembakkan sebuah peluru korek api mengenai kain pembatas shaf. Ada bolong bulat seukuran kepalan tangan. Lalu Wak Ruslan marah.

“Siapa yang punya pistol ini?” Berat, serak dan seperti tak ada ampun suara Wak Ruslan. Orang-orang diam semua. Hasan tak pandai menjelaskan. Orang-orang melihat pada dirinya, lalu dialah tumbalnya malam itu.

Hasan masih menulis pada kertas. Dia berkeringat dan capek, tapi dia sekarang sudah merasa yakin. Dia pikir dia akan memasang taruhan pada teman-temannya bahwa Wak Kifli lah yang sebenarnya  sudah haji. Sebagian kawan-kawannya bertaruh bahwa Wak Ruslan yang benar-benar sudah haji. Dia tak percaya itu, Wak Ruslan kejam, katanya dalam hati.

***

Entah siapa yang memulai, setiap yang sering berpakaian baju koko warna putih, atau memakai peci bulat warna putih, akan disebut haji di desa itu. Tempat Hasan tinggal itu. Saking banyaknya Wak Haji di desa itu, orang-orang sampai lupa mana yang benar-benar sudah pergi haji ke mekkah, mana yang belum.

Maka pada desa Hasan tinggal, bertaburanlah panggilan Wak Haji, Paman Haji. Dan diantara yang banyak itu, tersohorlah dua nama yaitu Wak Haji Ruslan, dan Wak Haji Kifli.

Nah…pada mulanya hanya Wak Haji Ruslan satu-satunya petinggi di kampung itu. Wak Ruslan ialah imam masjid Jami’, masjid satu-satunya di desa. Anak-anak ramai belajar mengaji pada Wak Ruslan. Memang dia orang baik, tapi mengajar dengan sangat disiplin keras seperti metoda Belanda. Sudah nasib anak-anak yang dia ajar mengaji, salah sedikit menerima hukuman menulis seribu kali. Wak Haji Ruslan amatlah masyhur, kejam tapi pandai agama.

Tapi kepopuleran Wak Haji Ruslan tak lama, waktu idul fitri datang tempo lalu, berduyun-duyunlah orang ke masjid, lalu duduk berdesak-desakan. Wak Haji Ruslan sedang merapikan sorbannya, beliaulah penceramah tunggal dan membosankan di kampungnya Hasan.

Panitia sholat idul fitri saat itu sedang sibuk mengedar-edarkan kotak sumbangan dari kardus mie instan, lalu mikrofon takbir dipasrahkan saja pada anak-anak, pada Hasan dan kawan-kawannya.

Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar. Orang-orang ikut mengiringi suara takbir itu, takbir naik ke bubungan atap masjid dan melecat kemana-mana lewat Toa di atas menara. Mikrofon digilirkan pada orang-orang, satu persatu orang bertakbir, lalu sampailah pada seorang berbaju putih dengan sajadah dia selempangkan pada pundak. Kifli.

Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar walilla hilhamd. Syahdu, pelan meliuk-liuk, sambil ada tangis-tangis serak di sela-sela takbirnya. Kagetlah orang-orang, tak pernah-pernah mereka mendengar takbir yang syahdu begini, mestilah ini orang baru di kampung.

Lalu orang-orang di masjid ikut bertakbir, ikut syahdu, sebagian terbawa aura suasana, lalu tangis yang membubung ke langit-langit masjid dilecatkan lagi lewat Toa di menara. Ceramah idul fitri belum lagi dimulai, tapi orang-orang sudah ramai menangis.

Yang masih di jalanpun akhirnya berduyun-duyun cepat-cepat melangkah tuju masjid. Siapa yang pimpin takbir di masjid? Tanya mereka. Kifli…Kifli, kata orang-orang. Wak Haji Kifli kalau tak salah.

Maka selepas sholat idul fitri, orang-orang berebut salam dan cium tangan pada Wak Haji Kifli, mereka senang dengan merdunya suara Wak Haji Kifli, mereka sudah lama juga tak menangis, maka waktu Wak Haji Kifli menangis mereka ikut berurai air mata, tak paham arti takbirnya tak soal, yang penting menangislah kencang-kencang. Banyak orang-orang menangis takbir, Cuma Wak Ruslan yang tak berurai air mata.

Wak Haji Ruslan serasa dilangkahi. Lalu mulai dari sejak itulah, ada dua Wak Haji yang menjadi tokoh pada desa itu.

Selepas dari masjid pagi itulah, Hasan dan kawan-kawannya berdebat. Mana yang lebih alim, lebih pandai agama, dan yang paling penting mana yang benar-benar haji, pernah ke Makkah? Sebagian mendukung Wak Haji Ruslan, sebagian mendukung Wak Haji Kifli, tapi tak ada yang benar-benar tahu, siapa yang benar-benar sudah ke Mekkah.

***

Wak Haji Kifli ternyata orang kaya. Usut punya usut, rupanya beliau punya mobil dan sepeda motor. Sering membagi-bagikan kue pada tetangga-tetangganya. Hasan tinggal dekat pada rumah Wak Kifli, dan dia sering mendapat kue. Dari awalnya orang baru di kampung itu, pelan-pelan Wak Kifli merebut cinta masyarakat, cinta itu dititipkan pada panggilan Haji.

“Assalamualaikum Wak Haji!” Orang-orang selalu menyapanya begitu. Hasan juga.

Tapi Hasan kapok, tak lagi-lagi dia membawa-bawa nama Wak Haji Kifli dalam majelis pengajian. Kemarin malam, waktu dia sedang menyimak pengajaran tajwid dan lagu-lagu tilawah dari Wak Ruslan, dia berceletuk “Wak Haji Ruslan, aku senang gaya Wak Haji Kifli melantunkan takbir pas idul fitri tempo lalu, itu lagu apa namanya dalam tilawah?”

Bukan jawaban yang Hasan dapat, malah dicerca dia. Wak Haji Ruslan dengan sigap balik menanyai Hasan, darimana Hasan yakin kalau Kifli sudah Haji?

“Jangan sembarangan kau Hasan, tahukah kau, gelar Haji itu bukan main-main, tak bisa kau sematkan pada sembarang orang, itu gelar terhormat untuk yang sudah ke Mekkah!” Sambil menunjuk-nunjuk Wak Ruslan memberitahu Hasan.

Bodohnya Hasan, dia menanyai balik. “Nah, Wak Haji Ruslan benarkah Uwak sudah ke Mekkah?”

Wak Ruslan diam, kawan-kawan Hasan pun diam. Matilah kau Hasan, dalam hati mereka fikir begitu. Tapi tiba-tiba sekali Wak Ruslan berkata.

“Aku sudah mau berangkat haji, Hassan, kau camkan itu! Kifli itu kaya-kaya begitu tapi tak kudengar dia mau pergi haji. Mulai sekarang jangan lagi kalian panggil Kifli haji, aku juga. Tak boleh itu!”

***

Wak Ruslan menjual sawahnya. Sudah berapa lama dia pasang tulisan DIJUAL, pada petak sawahnya, sampai berapa waktu lalu Hasan melihatnya mencabut papan pengumuman itu. Sawah Wak Ruslan ternyata terjual.

Digelarlah syukuran di beranda rumah Wak Ruslan. Wak Ruslan akan ke Mekkah. Lama sekali pembukaan acara itu dengan tetek bengek ceramah Wak Ruslan.

“Pergi haji itu wajib bagi yang mampu, biar kata kita menjual sawah tapi demi pergi ke Makkah tak ada apa-apanya itu!” Wak Ruslan memulai pidatonya.

Orang-orang tak memperhatikan, sambil makan-makan kue-kue syukuran, orang-orang malah bergunjing. Wak Haji Kifli rupanya akan ikut pencalonan kepala desa, kata orang bisik-bisik di beranda Wak Ruslan.  Mereka tak tahu Wak Ruslan dengar.

“Nanti di Mekkah, akan aku doakan, agar para warga disini dibukakan mata batinnya, biar terlihat siapa benar siapa salah, siapa yang agama hanya mengaku-aku saja!” kata Wak Ruslan meninggi suara.

Langsung terdiamlah orang-orang yang merumpi bisik-bisik di sana, katanya doa di Makkah itu dikabulkan Tuhan. Hasan hadir juga pada syukuran itu, tapi dia tidak mengerti omongan orang-orang. Hasan asyik makan hidangan.

“Kalian dengarkan itu, Heh? Dibukakan mata batinnya oleh Tuhan.” Kata Wak Ruslan lewat pengeras suara.

***

Tak lama Wak Ruslan pergilah ke Mekkah. Ngaji sore ditiadakan dulu. Hasan dan kawan-kawannya berlari-larian saja di masjid. Sebentar sudah menjelang ashar lalu Wak  Kifli yang meraih mikrofon dan melantunkan azan. Allahu akbar Allahu akbar.

 Hasan dan kawan-kawan tak percaya, bagaimana mungkin suara merdu macam begitu, dilantunkan oleh orang yang belum haji? Masa Wak kifli disebut Wak ruslan belum haji?

Usai sholat ashar berjamaah, Hasan dan kawan-kawannya beroleh kue, banyak sekali kue dan juga pamflet. Pesan Wak Haji Kifli, tempelkanlah pamflet itu di gang-gang, di pagar-pagar rumah orang, di pohon-pohon, juga pelataran masjid. Wak Haji Kifli akan mencalon kepala desa. Betapa gagahnya.

Saat menempel pamflet, tiba-tiba Hasan merasa pusing. Kenapa Hasan? Tanya kawan-kawannya. Hasan berikan pamflet itu pada rekan-rekannya, dia tak mau lagi menempel pamflet. Pada saat yang sama Wak Haji Ruslan sedang berdoa di depan Ka’bah puluhan ribu mil dari desa itu.

Esok harinya usai sholat ashar, waktu Wak Kifli sedang membagi-bagikan kue, ada segerombolan polisi datang, dengan cepat menelikung tangan Wak Haji Kifli dan memborgolnya. Anak-anak kaget. Orang-orang kaget, kenapa Wak Kifli ditangkap? Tapi yang mereka lebih kaget lagi adalah mendengar suara Hasan.

Hasan tiba-tiba menjerit tak karuan, menjerit kesetanan dan lari pulang sambil menangis-nangis histeris. Kenapa Hasan? Pikir kawan-kawannya.

Apakah dia anak bapak ini? Tanya salah satu polisi. Bukan, jawab orang-orang. Dia sama sekali bukan keluarganya. Polisi lantas heran.

Orang-orang bertanya kenapa Wak Kifli diborgol? Kata Polisi dia korupsi.

Lama hari berjalan, sadarlah orang-orang bahwa Wak Haji Ruslan memang benar-benar panutan. Cuma Wak Haji Ruslan yang pandai agama, meskipun tak merdu suaranya, tapi tak pernah korupsi. Cuma Wak Haji Ruslan yang benar-benar pula pernah ke Makkah. Dengar-dengar dua hari lagi Wak Haji pulang dari Arab, orang-orang siap-siap meminta air zam-zam.

Kawan-kawan Hasan senang, Wak Haji Ruslan pulang berarti ada lagi pengajian sore. Meskipun Wak Haji Ruslan kadang-kadang kejam, tapi mereka rindu pengajian sore. Tak ada pengajian manalah boleh mereka main di masjid, tak disuruh orang tua.

Ngomong-ngomong Hasan, kenapa kau diam sekali sekarang? Tanya kawan-kawan. Hasan Cuma menggeleng tak menjawab. Kenapa kau teriak-teriak  waktu Wak Kifli ditangkap? Tanya kawan-kawannya. Hasan tak menjawab.

***

Lalu tibalah pula waktu itu. Wak Haji Ruslan tiba, dan pengajian sore kembali digelar. Orang-orang kembali berkumpul.

“Sekarang bolehlah kalian panggil aku haji, cuma yang sudah ke Makkah boleh dipanggil haji!” Wak Haji Ruslan memulai.

“Nah… ini aku bagikan kalian air zam-zam, mustajabnya ini air, beruntung kalian mencicipinya.” Kata Wak Haji. Hassan belum jua terlihat ada di masjid.

Orang-orang berkerumun dan meminum air zam-zam.

Panjang kata Wak Haji Ruslan bercerita, lalu tak lama menyerempet itu-itu juga. “Aku Dengar soal Kifli, nah…terbukti sudah, kubilang juga apa, doa di Makkah itu dikabul Tuhan. Dia bukakan semua topeng, mana yang baik mana yang buruk!” Wak Haji Ruslan berapi-api.

“Tak tahukah kalian? Aku doakan waktu di depan Ka’bah, biar penduduk desa ini terbuka mata batinnya, bisa melihat dibalik segala sesuatunya!” orang-orang mengangguk-angguk.

Lalu masuklah Hasan dengan tergesa, mungkin dia berlari-lari karena terlambat. Sial sekali nasib Hasan, baru hari pertama mengaji sudah akan mendapat hukuman karna terlambat.

“Assalamualaikum” Sapa Hasan.

“Nah.. dari mana saja kau Hasan? Masuklah!” Ujar Wak Haji Ruslan.

Tiba-tiba saja Hasan berteriak seperti kesetanan lagi, lari dia terbirit-birit, meninggalkan sandalnya terpelecat ke beranda masjid dan menghilang di balik pintu pagar. Kawan-kawannya terkaget-kaget.

“Kenapa anak itu?” Tanya Wak Haji Ruslan. Orang-orang menggeleng.

Hasan menangis terus sambil berlari-lari ketakutan. Sudah dua kali dia melihat orang berganti mukanya dengan rupa binatang. Pertama Wak Haji Kifli, lalu tiba-tiba sekarang Wak Haji Ruslan.

Sementara dari Toa masjid masih terdengar sayup-sayup ceramah Wak Haji Ruslan, dia berceloteh tentang doa di Makkah, mata batin dan topeng-topeng. Hasan terus berlari ketakutan.

*cerpen ditulis sekira dua bulan lalu

* ilustrasi gambar, secara random gw ambil dari  google images (http://tolahtoleh.com/?p=477)

3 thoughts on “YANG DIPERTUAN HAJI (cerpen)

  1. pernah nonton serial film di tv gt, ttg org yg pnya ‘kemampuan’ melihat seperti hasan, ksatria piningit apa, ya, namanya? tp ceritanya beda, ga cuma ama wak2 haji dink, jd kebanyakan manusia di kotanya, muka mereka dilihat sbg bmacam2 binatang.. tentu mengerikan. uhum..nafsu dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s