NENEK TAK BISA BICARA (cerpen)


“Nenek tak bisa bicara!” kataku di telepon pada paman. Aku panik.

“HAH?, segera kasih kabar yang lain, paman juga telepon sodara-sodara!” Paman memberi perintah.

Gagang telepon aku kembalikan. Aku terduduk lemas, bersandar pada dinding dingin yang pucat. Keringat masih mengalir dari kening, bajuku serasa gerah. Bagaimana mungkin nenek tak bisa bicara? Mengingat itu lagi aku semakin pias. Teringat kata paman tadi, semua, ya…semua harus kutelepon.

***

Cuma aku satu-satunya di rumah ini, selain nenek. Rumah panggung terlalu besar buat nenek, padahal nenek sepanjang hari hanya berdiam diri di sudut sofa, dekat dengan jendela kusam coklat kehitaman, jendela yang disainnya mirip teralis penjara, hanya saja semua dari kayu. Memang semua pada rumah itu dari kayu, itu kenapa nenek sering melarang aku lari-lari dalam rumah. Tak baik. Rumah sudah tua semakin berderak saja jika aku lari-lari, kata nenek.

Tapi nenek tak pernah marah. Sepeninggal kakek, praktis hanya aku satu-satunya teman nenek di rumah itu, maka itu meski kadang-kadang nakalku kumat aku hanya ditegur saja, jangan lari-lari di rumah, kata nenek sambil geleng-geleng. Aku tergelak.

“Biar ramai, Nek!” kataku. Nenek geleng-geleng kepala lagi.

Baik sedang ramai atau tidak, pastilah nenek sering aku jumpai pada sudut  sofa itu, di dekat jendela yang sama, memandang ke arah pohon nangka di sebelah rumah, begitulah aku percaya. Tapi semenjak pohon nangka sudah tak lagi ada, aku masih juga sering melihat nenek memandang pada luar jendela. Belakangan aku baru tahu, rupanya nenek bukan memandang pohon nangka, tapi jauh dibalik nangka.

Jauh sekali, sekitar dua kali jarak rumah tuju sungai tempat aku dan kawan-kawan sering mandi, di sana ada ujung jalan aspal. Satu-satunya jalan yang menghubungkan desa kami dengan dunia luar. Aspalnya berhenti tepat disana. Dan dari sanalah bisa kita lihat, siapa saja yang datang ke kampung ini.

Dan kemarin sore, seperti biasa, aku dengan bodohnya lupa lagi pada pesan nenek, bahwa jangan bermain lari-lari pada rumah dengan lantai  kayu yang sudah tua. Grabak grubuk aku berlari sepulang sekolah, lalu tak lama aku berhenti, tapi bukan karena teguran nenek, malah aku bingung kenapa  nenek tak menegur? Dimana nenek?

Pelan-pelan dari ruang tengah aku tuju jendela tua, dan kulihat nenek diam mematung di sofa yang sama.

“Maaf ya Nek, aku lupa.” Kataku sambil menunduk. Aneh…nenek tak berbicara. Nek…nek… nenek marah? Pertanyaan bodoh, aku tahu nenek tak  pernah marah. Tapi setidaknya nenek bicara dong! Nek…nek…

Nenek tak bicara!!

Aku panik, panik setengah mati. Tak tahu apa yang harus aku lakukan, lalu aku segera berlari dan mengangkat gagang telepon. Aku pencet nomor telepon paman, kulihat pada buku di atas meja.

“Nenek tak bisa bicara!” Teriakku setengah menangis. Aku panik. Dan sesaat kemudian aku tahu, aku sudah menularkan panikku pada paman di kota, dan saudara-saudaraku yang lain.

***

Aku cucu nenek yang ke berapa aku lupa. Yang jelas, ibu adalah anak nenek yang ke tiga. Anak nenek lima bersaudara.

Ibu cantik sekali, rambutnya sebahu, dengan baju kurung panjang. Ada lesung pipit kecil pada pipinya. Ibu suka baju hijau dan sepatu hitam. Tak pernah memakai bando, hanya ada pita lucu pada rambutnya, mungkin itu ikat rambut. Ibu senang berdiri di bawah pohon nyiur yang belum lagi besar.

Detil sekali? Pernah guruku bertanya padaku waktu aku menceritakan tentang ibu.

Tentu saja, aku tahu ibu hanya dari melihat fotonya. Setiap hari nenek berkata padaku, itu foto ibumu, yang di dinding, dekat kalender. Aku melihatnya setiap hari. Lalu aku menjadi hafal.

Ibu meninggal waktu aku masih kecil. Waktu aku baru bisa mengeja satu kata, mama, mama, begitu kata nenek. Lalu aku dititipkan tinggal pada nenek.

Tapi paman dan bibi terkadang mengatakan aku tidak dititipkan, aku diambil oleh nenek. Apa maksudnya aku tidak mengerti. Tapi waktu aku bertanya dimana ayahku? Semua lalu memasang muka tak suka dan tidak menjelaskan apa-apa. Jadi aku harus menyiapkan sebuah cerita agar jika ada teman bertanya aku bisa menjawabnya.

Ayah pergi ke suatu tempat, lalu tak tahu jalan pulang, mungkin ayah tersesat, lalu aku diasuh nenek. Begitu  aku mengarang cerita.

Aku senang sekali dengan cerita karangan itu. Pernah aku ceritakan pada seorang teman, waktu dia bertanya tentang ibu dan ayahku. Aku tuturkan dengan lancar kisah rekaan itu, tapi bukannya mengerti dia malah bertanya lagi dan bertanya lagi. Aku menjadi pusing. Cukup! Kataku marah.

Baiklah, mulai sekarang aku tak mau lagi bercerita tentang ibu dan ayahku. Jangan tanya-tanya mereka lagi, aku Cuma punya nenek. Aku tinggal bersama nenek, dan itu sudah cukup!

Jadi di rumah hanya ada nenek? Tanya mereka lagi. Iya, jawabku. Jadi kamu hanya punya nenek? Iya, jawabku. Jadi nenekmu hanya punya kamu? Iya, jawabku.

Berapa detik kemudian aku bilang, tidak juga! Nenek masih punya paman dan bibi, anak-anak nenek, dan cucu-cucu lainnya. Tapi dimana mereka? Tanya kawan-kawan. Aku tidak tahu.

***

Sering aku merindukan ibu dan ayahku. Ah…tapi sebenarnya aku tak terlalu tahu apa itu rindu. Aku cuma mengerti dua rasa, ramai dan sepi.

Sesuatu bernama sepi, sering sekali datang saat aku hanya berdua dengan nenek. Paman-paman tinggal di kota, bibi tinggal di kota juga. Ada sih, saudara yang tinggal di kampung ini, tapi itupun jaraknya jauh, melewati dua sungai, dan aku ragu mereka akan bertandang kemari, sekarang lagi musim panen, sawah-sawah sedang menguning, petani-petani sedang menuai. Dan saat semua orang sedang berkumpul lalu memanen, lalu  bercerita dan menikmati sesuatu yang bernama ramai, saat itulah aku merasa sepi.

Nek, tidakkah engkau merasa sepi? Tanyaku suatu kali. Nenek Cuma tersenyum lalu  mengusap kepalaku. “Tidak, kan ada kamu, cu!” kata nenek.

Tapi aku tahu nenek bohong, aku sering lihat nenek melamun di sofa, lalu memandang keluar jendela. Nenek diam saja. Lalu aku takut dan merasa semakin sepi.

Tak hilang akal, lalu aku berlari-lari di rumah panggung kayu itu, suara lantai berderak-derak, paku-paku berdecit-decit. Ada yang bergoyang-goyang di dinding, pigura-pigura, kalender besar, lalu suara-suara menjadi ramai. Aku senang.

Mendengar aku lari-lari nenek biasanya terkejut. Terkejut lalu lamunannya buyar, sebentar kemudian nenek tersenyum, lalu sebentar kemudian akan meneriakiku jangan lari-lari di rumah!

Itulah awalnya kenapa aku senang berlari. Tapi sejak kemarin nenek tak lagi berteriak, nenek melongo terus keluar jendela, lalu tak bicara-bicara.

Kriiiinggggg!

Telepon berbunyi lagi, aku berlari menyambarnya. Dari paman.

Iya paman, iya. Aku mengangguk-angguk sambil mendengarkan nasihat paman, tentang apa yang harus aku lakukan. Aku mengingatnya dengan baik. Diujung telepon paman bertanya lagi, “Apa nenek sudah bicara sekarang?”

Tidak, jawabku. Tidak paman. Lalu telepon terputus.

Aku mengambil air panas, menyeduhkan teh seperti pesan paman, lalu dari dapur aku lari menaiki tangga menghampiri nenek dengan segelas cangkir teh. Minum nek! Tapi nenek tidak bergeming.

Kulihat nenek masih menatap pada luar jendela, mungkin nenek menanti sesuatu.

Kriinggggggg!

Telepon berbunyi lagi, aku berlari menyambarnya. Dari bibi.

Iya bibi, iya. Aku mengangguk-angguk. “Apa nenek sudah bicara sekarang?” tanya bibi. Belum! Jawabku. Lalu di telepon kudengar bibi menangis. Huuuu huuu huu begitu suaranya. Kita harus bacakan nenek yasin, kata bibi. Huuuu huuu… lalu telepon terputus.

Keesokan harinya paman datang, dengan tergopoh-gopoh paman menaiki tangga depan lalu berlari ke ruang tamu. Aku bertemu paman. Aku pucat, pamanpun pucat. “Dimana nenek?” paman bertanya.

“Di dekat jendela!” kataku.

Paman berlari tuju jendela. Aku lega. Ada yang datang, aku tidak seberapa takut lagi.

Tak lama dari jauh aku lihat titik hitam datang dari ujung jalan aspal, dan membesar, ada mobil kijang menghampiri rumah ini, dari dalamnya turun seorang lagi paman dan bibiku, menenteng-nenteng banyak buku-buku kecil Surat Yasin. Bibiku menangis, menangis sesenggukan.

“Hu..hu..huuu…..” suaranya begitu, sambil tiba-tiba menubrukku dan memelukku.

“Jangan sedih ya!” katanya sambil mengusap-usap kepalaku.  Sedih? Aku tidak sedih bi, aku cuma takut.

Ya sudah tidak apa-apa, kata bibi. Aku diberikannya buku tipis yasin tadi. Ada bahasa indonesianya, kata bibi. Kita harus bacakan yasin untuk nenek. Huuu huu huuu dia menangis lagi.

Sebentar saja semua orang sudah di ruang tengah, mengelilingi nenek yang duduk pada sofa dekat jendela, mematung, diam, tak bicara, menatap hampa. Bibi menangis membaca yasin, paman menunduk memegang kepalanya, sedih, pamanku satu lagi mengusap-usap kepalaku, lalu suara-suara menjadi bising, tangis-tangis dan riuh-riuh bercampur-campur jadi satu.

“Ramai sekali” tiba-tiba nenek bersuara.

HAH?? Nenek bersuara…nenek bersuara! Kagetlah semua orang. Nenek berpaling dari memandang ujung jalan seberang jendela. Nenek melihat kami semua.

“Ramai sekali!” kata nenek.

Horeeeeee! Teriakku tiba-tiba, dan semua orang menjadi kaget bercampur senang. Bibi berhenti membaca yasin, paman tak lagi mengusap-usap muka, orang tak lagi sedu sedan. Semua gembira. Ramai sekali. Ramai sekali. Nenek tak apa-apa.

Tiba-tiba rumah panggung ramai. Aku tak perlu berlari-lari, tapi sepi sudah hilang. Nenek tak apa-apa, nenek tak apa-apa, ternyata.

Tiba-tiba aku digamit ke pinggir, dibisikkan pesan oleh paman dan bibi.

“Lain kali, kalau menelepon ngasih kabar, jangan bikin orang panik! Nenek tak apa-apa begitu kok!” kata mereka.

Aku menunduk, ada sesuatu yang membuatku ingin menangis, tapi genang dimata hilang karena perasaan ramai. Iya paman. Iya bibi, maaf kataku. Lalu aku tersenyum, sudahlah yang penting ramai.

***

Nenek lalu beranjak dari kursi, kata nenek dia ingin ke dapur, membuatkan teh untuk orang-orang. Apa nenek sudah kuat? Kata paman dan bibi. Kata nenek tidak apa-apa. Lalu nenek bangun. Aku mengikuti nenek.

Yang lain sudah gembira, ah…nenek sehat-sehat saja, kata mereka. Lalu orang-orang mulai bercengkrama.

Sayup-sayup kudengar suara paman dan bibi, sebaiknya kita besok segera pulang, kata mereka. Telingaku masih peka, telinga nenek sudah agak pudar. Nenek tak dengar, jadi aku bertanya-tanya sendiri. Kenapa mereka malah pulang?

Nenek membuyarkan lamunanku dengan memberikan nampan. Isinya cangkir-cangkir minuman dan kue-kue kering pada toples. Antarkan ke depan! kata nenek. Nenek mau mandi dan sholat, hari sudah sore. Aku mengangguk lalu beranjak. Nenek mandi, lalu sholat.

Orang-orang meminum teh, sambil tertawa-tawa ramai. Aku menunggu nenek di ruang tengah.

Bosan menunggu nenek tak datang kuhampiri dia di kamarnya. Nenek sedang sholat, aku bersimpuh saja menunggu di belakangnya.

Tiba-tiba aku teringat, teringat berapa hari lalu telepon berdering. Ada berita, kata paman dan bibi mereka tak bisa pulang lebaran ini. Anak-anaknya minta diajak liburan ke dufan, bilang pada nenek ya! katanya. Aku mengangguk.

Aku sampaikan pada nenek, nenek bengong menatap jendela. Nek, paman dan bibi tak datang lebaran ini, kataku. Nenek tersenyum lalu mengusap kepalaku. “Tak apa, cu!” kata nenek.

Tapi kan sepi? Kataku. Nenek menggeleng, kan ada kamu. Kata nenek.

“Apa kamu sepi?” tanya nenek padaku. aku menggeleng. Sedikit, tapi kan ada nenek kataku.

Tapi nenek tak akan pergi, bukan? kalau nenek pergi aku sepi. Aku menatapnya lalu memegang tangannya.

Tidak, kata nenek. Nenek tak akan pergi saat kamu sepi. Mungkin nanti, jika rumah sudah ramai.

Aku tak mengerti maksudnya apa? Sebelum lupa ada baiknya kutanyakan sekarang saja. Nek…nek… kataku menggamit-gamit tubuhnya. Nenek sujud pada sajadah, sudah lama, lalu diam tak bicara-bicara. Nek…nek… kataku.

Tak ada jawaban.

Nenek tak bicara… aku takut. Aku pucat. Ingin aku berteriak dan lari ke ruang  tengah, tapi nanti paman dan bibi marah. ‘Menyampaikan berita jangan sembarangan’, kata mereka, nenek kan tidak apa-apa.

Diluar orang-orang ramai tertawa-tawa. Di kamar hanya aku dan nenek.

Nek…nek…. Disini masih sepi, nenek tidak pergi kan?

Nenek diam, nenek tidak bicara.

TMII 17 maret 2011

2 thoughts on “NENEK TAK BISA BICARA (cerpen)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s