TULISAN-TULISAN HATI

Ada yang pelan-pelan lindap di dada saya. Sebuah keharuan saat merenungkan sudah berapa lama blog ini terbentang di dunia maya. Sudah berapa orang yang meskipun tak banyak, ikut membaca dan memberikan sepatah-dua kata-kata dalam kolom komentar. Sebagian lainnya meninggalkan statistik yang terbaca pada grafik pengunjung.

Kenapa saya menulis? Suatu hari saya bertanya pada diri saya sendiri. Pertanyaan ini sering saya tanyakan, kadang dia muncul dalam semburat-semburat yang redup, tapi saya tahu ada sesuatu itu yang selalu muncul dan tenggelam. Pertanyaan.

Dulu, saya menulis karna saya ingin bercerita. Mungkin hasrat terbesar dalam hidup saya adalah bercerita. Bagi saya, membagikan apa yang saya tahu kepada orang lain, itu menyenangkan. Meskipun aneh, keluarga mengenal saya sebagai seorang yang pendiam, pun berapa orang kawan menilai saya sebagai orang yang irit bicara. Tapi beberapa kawan yang cukup sering bersinggungan dengan saya tahu bahwa saya suka mengganggu mereka dengan kata-kata.

Belakangan saya mengerti, tidak setiap orang bisa berada dalam kondisi yang prima lahir batin untuk mendengarkan ocehan kita. Maka kemudian saya temukan bahwa menulis punya keasyikannya sendiri. Kita bisa menuliskan apa yang kita fikirkan, orang boleh memutuskan untuk kemudian mendengar atau meninggalkan. Sederhana sekali.

Tapi…semakin hari berjalan, saya menyadari satu hal. Ada yang muncul kembali, seperti sebuah jawaban yang belum usai, tak lama lalu ada yang pelan-pelan lagi mengetuk pintu hati saya. kadang ketukannya terdengar cukup nyaring, kadang bias dan tak terdengar. Sampai kala saya menulis ini, saya akhirnya sadar, sebelum saya menemukan jawaban itu maka hati saya akan selamanya resah. Saya cobakan jujur sejujurnya pada diri, bahwa lebih dari sekedar berbagi cerita, saya ingin menjadi orang yang biar sedikit ada manfaatnya.

Pernah sekali waktu, saya bertanya kepada teman. Retorik sekali pertanyaan saya waktu itu. “Apa yang lebih menyedihkan, dibanding ‘ada atau tiadanya kita tak berarti apa-apa’?”.

Teman saya kala itu tidak menjawab. Dia diam saja. Memang sayapun tak menghajatkan jawaban darinya, atau mungkin dia juga sudah tahu bahwa pertanyaan saya itu retorik belaka. Entah.

Tapi itulah. Ada keinginan dalam hati, agar setidaknya dalam rentang duapuluh tujuh tahun hidup saya di dunia ini, ada sedikit manfaat yang bisa saya torehkan. Ada sedikit guna yang saya bisa bagikan.

Apalagi kalau ingat-ingat perjalanan hidup ke belakang. Rasanya tak kurang-kurang kebodohan, atau kata para ulama ‘kezaliman pada diri sendiri’ yang saya lakukan. Sedih. Ingin berbuat sesuatu yang luar biasa untuk menebusnya, tapi apa daya kemampuan diri ini tak memadai.

Lalu tiap kali bertemu dengan orang-orang baik, dengan orang-orang pintar, ada iri yang terbit dalam hati. Ada cemburu yang menyala-nyala. Betapa luas manfaat yang terhampar dari keilmuan dan kebijakan orang- orang itu? Sedang saya, semisal ombak yang membentur-bentur karang. Bergolak, tak stabil, pecah, membuih.

Saya lalu sering, membaca ulang tulisan-tulisan sendiri. Ada kalanya juga saya menangis membaca ulang tulisan-tulisan itu. Bukan, sama sekali bukan karna haru pada apiknya kata-kata, saya rasa berantakan dan banyak yang harus dibenahi. Cuma saya seringkali haru bahwa dalam perjalanan hidup saya ke belakang, ternyata ada juga jenak-jenak dimana saya begitu kontemplatif, begitu haru memaknai hidup, atau begitu dekat dan syahdu dalam meminta pada Tuhan. Tulisan ini telah menjadi semacam recorder, yang mengoreksi sendiri pemikiran saya yang lugu pada masa lalu, dan atau mengingatkan diri sendiri bahwa suatu kala saya pernah berada pada titik yang tak serendah sekarang.

Saya haru, terlebih untuk jujur, bahwa setiap kali membaca, saya jadi malu karna seringkali tulisan itu muncul dari desakan-desakan yang besar dalam fikiran dan memaksa tangan untuk cepat menuliskannya pada tuts keyboard. Lalu setelah dituliskan dan jeda berapa saat, saya rasa saya tak seperti yang saya tuliskan. Atau mungkin tangan ini sudah menjadi semacam corong, untuk meneruskan kata-kata nurani, yang direkam oleh huruf-huruf, mungkin mengingatkan saya sendiri.

Betapa hati sering terbolak-balik. Mungkin seketika saya menemukan jawabannya kali ini maka harus pula saya tuliskan. Dan inilah harapan penuh saya, agar tulisan-tulisan ini menjadi semacam doa, yang dikala saya khilaf di masa depan nanti, dia akan meluruskannya.

Saya sadar, sebegitu banyaknya orang-orang pandai dan berilmu di belantara maya ini, maka orang-orang yang sudah bersedia menyempatkan waktunya membaca tulisan inilah yang sesungguhnya harus diucapkan terimakasih. Saya berharap, seandainya nanti ada yang terilhami, dan merasakan manfaat dari kumpulan kata-kata ini, semoga dia tahu bahwa cerita-cerita ini berangkat dari niat berbagi, agar saya bertambah ilmu, agar ada yang mengoreksi, agar orang-orang yang terilhami menjadi catatan pahala untuk menebus dosa-dosa yang sudah berkarat-karat, agar dengan tiap kali menulis saya diberikan hati yang lebih padu pada kebaikan, dan diselamatkan dari hingar bingar dunia yang menaik-turunkan hati kita dari kekhusyukan.

Ah….Tuhan, aku berlindung kepadamu dari hati yang tidak khusyuk dan doa yang tak didengar.

TEBUSAN MASA LALU

Seandainya masa lalu bisa diputar ulang. Seandainya kita bisa kembali ke masa lalu. Begitu kata orang-orang.

Pengandaian serupa itu, dulu, waktu aku masih kecil sempat begitu mengemuka dan memenuhi imaji hari-hariku. Bisakah kita kembali ke masa lalu?

Tanpa sengaja aku menemukan dan membaca banyak tulisan yang sebagian besarnya aku tidak paham. Dengan bahasa ilmiah yang luar biasa tidak aku mengerti, dan segala teorema einstein yang katanya-katanya itu, orang pandai mengatakan bahwa dalam ruang teori, kembali ke masa lalu itu mungkin. Mungkin saja.

Sayang, waktu itu aku masih kecil, aku tidak dalam kapasitas bisa menjelaskan ulang kenapa itu mungkin.

Kemudian lagi, orang-orang pandai yang lain lalu membantah, dengan sekelumit teorema yang sama aku tidak mengertinya, mengatakan kembali ke masa lalu itu tidak mungkin.

Banyak bahasa ilmiah mereka aku tidak paham, tapi ada sebuah permisalan lucu yang sampai sekarang aku ingat-ingat betul, tentang kenapa kita tidak mungkin kembali ke masa lalu. Baiklah aku ceritakan sedikit.

Taruhlah, dalam suatu masa manusia sudah bisa menciptakan mesin waktu, kata artikel yang aku baca berpuluh tahun lalu, lalu dengan sebuah mekanisme yang kita tidak paham, maka manusia dilontarkan ke masa lalu.

Sampailah seseorang yang jadi bahan percobaan itu di masa lalu. Di masa lalu itu, ia lalu mencari sang penemu mesin waktu, lalu dengan tiba-tiba dibunuhnyalah penemu mesin waktu itu. Penemu mesin waktu itu mati! Karna penemu mesin waktu itu mati, artinya, mesin waktu itu tak pernah diciptakan! Lebih jauh lagi, karna mesin waktu tak pernah diciptakan, berarti sang pembunuh dari masa depan itu tak pernah terbang ke masa lalu, kan? Lebih jauh lagi, karna dia tak pernah pergi ke masa lalu, berarti dia tak pernah membunuh penemu mesin waktu? Karna penemu mesin waktu tak dibunuh, berarti mesin waktu berhasil diciptakan? Lalu artinya…..?

***

Kita sudahi saja logika yang berputar-putar tentang mesin waktu. Itu Cuma impian bodoh seorang anak kecil. Tapi kalau mau jujur, meski sudah dewasa, kadang-kadang pertanyaan itu muncul kembali.

Kalau dulu semasa aku kecil, yang aku pertanyakan adalah ruang kemungkinan, bisakah orang kembali ke masa lalu? Maka setelah dewasa semua itu hanyalah pengandaian-pengandaian. Pengandaian untuk merubah kesalahan atau tindakan yang kurang tepat di masa lalu. Ah…. Seandainya saja waktu bisa diputar ulang, seandainya saja.

Banyak, fragmen-fragmen masa lalu, yang rasa-rasanya kalau diberikan kesempatan ingin sekali aku ulang menjadi lebih baik. Sepotong adegan sewaktu aku menghilangkan uang sekolah, kelas lima SD dulu kalau tak salah. Atau adegan waktu aku dimarahi habis-habisan oleh Bapak karena  tak bisa mengerjakan PR sepotong soal essay matematika, waktu malam mati lampu, entah kelas berapa.

Atau fragmen-fragmen dimana bercak-bercak kotor dosa yang rasanya malu kalau aku tulis-tulis disini. Atau kesempatan-kesempatan berbuat kebaikan yang terlepas. Banyak sekali, banyak.

“Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya istriku. Dia sering memergoki aku tersenyum dan seperti membayangkan sesuatu.

“ah… tidak apa-apa” jawabku. Padahal aku sedang membayangkan seandainya waktu bisa diputar ulang, dan aku diberikan kesempatan untuk menebus lalu menjadi pribadi yang saat ini harusnya lebih baik. Lebih berwawasan, lebih dalam. Aku mengalihkan pandangan pada perut istriku yang membesar.

Ada calon kehidupan baru disana, di dalam perut istriku. Lemah, mungil, dan tak terlihat jelas. Siluetnya cuma sekali-kali bisa aku lihat dari pindaian USG tiap kali aku menemani istriku kontrol di RS pinggir jalan raya bogor itu.

Mungkin, calon bayi kami itu menjadi alasan, yang kembali menguatkan keinginanku menebus masa lalu.

Aku ingin, menjadi seorang pribadi yang nantinya bisa menjadi sahabat, ayah, sekaligus idola bagi anak kami.

Membayangkan sebentar lagi menjadi seorang ayah, melahirkan sensasi yang luar biasa tak bisa diceritakan. Seperti menanti sesuatu yang baru. Sesuatu yang boleh jadi menjadi titik balik kehidupan. Kita semua punya titik balik, bukan?

Mungkin titik balik pertama dalam kehidupanku adalah saat aku memutuskan kuliah di Jawa dan berpisah dari orang tua. Pilihan itu mengantarkan aku menuju sebuah kehidupan dengan lingkaran sosial budaya yang sama sekali berbeda. Aku menjadi orang baru.

Titik balik kedua mungkin sewaktu aku menikah. Perubahan status dari seorang anak, menjadi seorang kepala keluarga, yang berkuasa penuh membawa gerbong rumah tangga, dan menjadi sebuah entitas baru dari kehidupan sosial kemasyarakatan. Namaku ditulis pada undangan rapat RT, pada sertifikat rumah, pada kartu listrik, pada tagihan kredit kendaraan, rasanya luar biasa.

Dalam semua titik balik kehidupan itu, aku rasa-rasanya sudah berusaha untuk memulai lembar baru yang lebih putih. Dengan tulisan yang lebih rapih. Dengan deretan makna-makna yang lebih bernas. Meski setelah direnungi, kadang-kadang kalau mau jujur kok ya lebih banyak kotornya. Lebih banyak semrawutnya. Makna pun sekenanya.

Ah….. kita selalu ditinggal oleh waktu, ya Nak? Engkau belum lahir, tapi Ayah katakan satu hal padamu bahwa sungguh waktu itu tak bisa diputar ulang. Tak bisa kita kembali dan merubah yang telah terpahat.

Tapi kesempatan menebus itu masih ada. Dengan sebenar-benarnya menjalani masa kini. Dengan mengambil pelajaran masa lalu, dengan menyusun rencana-rencana baru masa depan. Dengan mempersiapkan kelahiranmu sebaik-baiknya. Menitipkanmu sebuah nama yang do’a. Lalu menceritakan segala hal yang pernah menjatuh-jerembabkan orangtuamu ini, dan mengajari engkau mana-mana jalan benar yang mengantarkan kau jadi lebih baik.

Semoga nanti kita bisa berkah, ya Nak. Kehidupan terbaik seperti kata orang-orang bijak itu. Bertambahnya kebaikan dalam setiap apa saja fragmen kehidupan yang kita jalani. Kemelimpahan yang membuat syukur, kesempitan yang mengantar sabar. Dan pelajaran yang mendewasakan.

Kapan engkau lahir, nak? Kita akan bercerita banyak hal. Denganmu, aku tebus masa lalu.

SANDARAN

 

“Bersama kesulitan ada kemudahan” kataku suatu kali pada seorang teman. Dia memprotes, atau katakan saja dia menanyakan apa maksudnya bersama kesulitan ada kemudahan?

Kata kawan tadi, bukankah selama ini yang kita faham adalah “habis gelap terbitlah terang?” Yang artinya adalah terang datang setelah gelap. Maka kesimpulan logis yang bisa kita ambil adalah Kemudahan pastilah sebuah hadiah setelah berpayah-payah menempuh kesulitan, yang artinya juga kemudahan datangnya SETELAH kesulitan, bukan BERSAMA kesulitan.

Sebelum aku bercerita tentang percakapan kami lebih lanjut, aku ingin membagi rasa bahwa sekarang ini aku sedang dilanda kesulitan, katakanlah begitu.

***

Akhir-akhir ini, hati sedang gelisah. Satu persatu kawan-kawan yang bekerja pada perusahaan tempatku mengumpulkan remah-remah rezeki sekarang ini, mulai bepergian. Sebagian mendapatkan tawaran untuk bekerja pada perusahaan lain yang menjanjikan bayaran lebih tinggi. Sebagian pindah dan bekerja pada perusahaan yang meski bayaran kurang lebih sama, tetapi menawarkan kemungkinan percepatan karir yang lebih baik dan jabatan yang lebih prestisius.

Sebenarnya tidak ada yang terlalu mengancam. Pekerjaanku masih tetap, gaji setiap bulan diterima dengan baik, Alhamdulillah mencukupi, dan masih juga menyisakan sedikit uang untuk ditabung dan disisihkan sebagai hak orangtua dan saudara yang butuh.

Tetapi semakin hari sensasi yang dirasakan akibat kepergian kawan-kawan menuju perusahaan lain adalah semacam sensasi ketertinggalan. Dan tak ada yang lebih buruk dibandingkan kawan seperjalanan meninggalkan kita lebih dulu. Seperti perasaan sewaktu kawan-kawan sudah diwisuda masa kuliah dulu, dan aku masih berkutat menghadapi setumpuk skripsi. Susah, berbelit, tak ada kawan tempat berbagi, cemas, dan segala rasa yang membebat membuat ketakutan itu bertambah, sekalipun kalau dipikir secara logis, tak ada yang benar-benar menyusahkanku saat ini. Ketakutan itu ada dalam fikiran dan kekhawatiranku akan masa depan.

Lalu tak lama datanglah lagi kabar yang lebih menghantu seram. Kebijakan kantor semakin ketat, segala posisi dirombak, termasuk  posisi yang aku tempati sekarang akan dengan segera digantikan oleh seorang yang lebih senior dalam masa bakti kerja, dan tentu lebih senior dalam pengalaman dan ilmu. Aku tersingkir dalam ketidak jelasan.

Aku menghela nafas, menghembuskan nafas yang mungkin pekat. Di sebelahku istriku tertidur dengan tenang. Seharian dia sudah menghabiskan sedikit tenaganya untuk menjaga tubuhnya berjalan seimbang, dengan membawa berat badan yang bertambah pada perutnya.

Aku merasa lucu dan haru, melihat perkembangan istriku, dia bertambah tembem pada pipinya, dan perutnya membesar, ada yang setiap sore dan malam hari bergerak pelan dan menendang-nendang pada rahimnya. Ada bayi kami. Ada yang sebentar lagi keluar dan dengan segala kerapuhannya mengharapkan perlindungan kami sebagai orang tuanya. Astaga… sebentar lagi aku menjadi ayah.

Ternyata itu pangkal segala kekwatiranku. Ketakutan akan beban yang kutanggung sekarang, seorang istri, dan anak yang sebentar lagi akan hadir. Bisakah aku menjadi tempat mereka bersandar?

Paham…aku sekarang sangat paham segala beban dan kesusahan yang diusung orangtuaku pada pundaknya. Pada keras dan tegasnya. Aku juga menjadi paham kerut muka bapak yang kadang-kadang diam dan menghabiskan separuh malamnya merenung sendiri di teras depan rumah, tanpa bicara, hanya ditemani secangkir kopi dan gurat-gurat cahaya bulan pada ubin. Dia sedang merenung, sedang berfikir, sedang menguatkan diri, dan sedang menjadi tonggak tempat bersandarnya kami.

Saat-saat seperti inilah maka aku merindukan kehadiran Bapak. Kehadiran seorang dengan karakter luar biasa keras, akan tetapi selalu siap menjadi tempat kami menyandarkan diri dan berlindung pada setiap bahaya yang mengancam. Orang yang benar-benar mewakili segala sisi ketegasan dan kejantanan pemimpin rumah tangga.

Sekarang aku memainkan peranan itu. Cuma mungkin bedanya aku belum cukup ilmu. Kalau setiap kali Bapak merenung malam hari tanpa terganggu, dan bangkit lagi keesokan harinya dengan semangat yang lebih, dengan keceriaan yang baru, dengan ketegasan yang tak tergoyahkan, dan lalu menenangkan kami bahwa tenang saja, situasi tak seburuk yang kita kira. Aku juga merenung, tapi bangun keesokan harinya dengan ketakutan dan kecemasan yang sama. Aku belum sampai pada kebijaksanaan semodel itu.

Sampai aku teringat lagi perkataan seorang bijak, bahwa fase dalam hidup kita ini berputar cepat, berganti-ganti dari waktu ke waktu. Belum cukup rasanya aku menuntaskan laku sebagai kakak, menunai bakti sebagai anak, tiba-tiba aku sudah menjadi suami. Belum cukup pandai memahami perbedaan karakteristik komunikasi antar laki dan wanita, belum lagi pandai membaca isyarat-isyarat bahasa yang tersirat dari tutur kata istri, aku sudah menjadi seorang calon ayah. Dan dalam waktu yang berputar cepat itu, jika tidak diimbangi dengan percepatan ilmu, maka kita akan selalulah menjadi orang yang kalah. Orang yang mensikapi fase baru kemodernan masalah kehidupan dengan sikap yang purba dan tertinggal. Itulah pokok kecemasan.

Maka terburu-buru aku berlari ke toko buku, membeli segala buku tentang parenting, tentang anak, tentang jalan menuju Tuhan, tentang rizki, tentang macam-macam. Mendownload segala ceramah dan motivasi tentang berbagai-bagai hal.

Dalam hati aku berdoa, Tuhan semoga aku belum terlambat, dan meyakinkan diri bahwa tidak…aku tidak terlambat.

Dan dalam buku itulah aku temukan pesan yang menusuk, sangat dalam, dari seorang ulama yang mengatakan jangan pernah takut untuk tidak kebagian rizki, tapi takutlah akan kehilangan kepercayaan kepada Allah yang Maha Membagikan rizki.

Jangan pernah bersandar pada manusia, bersandarlah selalu kepada Tuhan. Betapapun, menjadi seorang anak membuat rapuh dan lemahnya kita membuat kita selalu berlindung dibalik keperkasaan orang tua, tapi hati janganlah lupa bahwa hakikatnya kita berlindung pada keMaha perkasaan Tuhan. Dan aku harus mengerahkan segenap psikologis gerbong rumah tanggaku ini pada kepasrahan bahwa tugas kita hanyalah meng-HADAP-I masalah, biarkan Tuhan yang meng-ATAS-I masalah.

Itulah yang aku masuk-masukkan dalam kepala. Sewaktu menulis ini, aku mencoba mereka-reka ulang segala kejadian yang telah mengantarkan aku sampai pada takdir kehidupan yang sekarang. Usia SMA, lalu awal kuliah, akhir-akhir kuliah ,awal dunia kerja, dan awal pernikahan adalah serangkaian kejadian yang membuatku tersentak pagi ini. Semua fase itu aku lewati dengan keberuntungan-keberuntungan. Dengan segala kemudahan yang tidak habis dituliskan dalam sepuluh lembar halaman sekalipun. Tak sedikitpun dari segala fase kehidupan masa laluku yang terjadi tanpa keajaiban pertolongan Tuhan. Dalam hal yang paling musykil sekalipun. Jadi kenapa sekarang aku harus cemas?

Ah…. Tuhan, seperti kata para ulama, aku datang pagi ini dengan mengetuk pintu rahmatmu saja. Bahwa hanya Engkau tempat bersandar, hanya Engkau tempat meminta. Engkau penjamin rizki. Engkau maha segala.

***

Jadi, rekan-rekan yang baik hati. Percakapanku kala itu dengan seorang teman, nyatanya lebih tepat untuk direkam dan dituliskan lagi sebagai bahan perenunganku. Sepertinya aku menjelma kembali ke masa lalu dan menemukan diriku sedang berbicara dengan diriku yang lain.

“bukankah habis gelap terbitlah terang?” Tanya diriku yang kebingungan.

“ya.. benar”

“jadi kemudahan datang SETELAH kesulitan?”

“itu hanya jika kau menganggap ‘pagi’ sebagai satu-satunya bentuk kemudahan. Sedang kau sering lupa bersama malam ada bebintang, bersama malam ada rembulan. Bersama hujan ada dingin sejuk dan bau harum rerumputan. Satu kesulitan diapit dua kemudahan.”

“Seperti kesusahan skripsi membuat kita jauh lebih dekat kepada orang tua karna selalu meminta doa dan petuahnya?”

“ya”

“seperti reshuffle posisi pekerjaan ternyata malah membuat kita memiliki waktu lebih banyak bersama keluarga dan siaga menanti kelahiran bayi tanpa terganggu hingar bingar tugas?”

“ya”

“dan seperti kesulitan dan kecemasan membuat doa-doa menjadi lebih khusyuk? Dan merasa lebih dekat dengan Tuhan?”

“ya, dan itulah rahmat yang paling indah.”

 

SELAMAT JALAN PAK GURU

Manusia lebih peka terhadap nada, tinimbang kata. Kita sering lupa pada lirik lagu, tapi jarang melupakan nadanya. Kita sering sekali bernyanyi na..na..na….. lupa liriknya, tapi tidak nadanya.

Begitulah, nada selalu mencecap dalam di benak kita, dan memang beliau punya nada yang khas, cara bicara yang unik.

Aku sering, dulu sepulang sekolah waktu hari sudah lepas ashar, duduk ditepian sebuah kolam belakang rumah, membuat PR, membaca atau menulis serampangan pada sebuah kertas. Itu sekedar pembuka, karena acara inti pada tiap-tiap sore di masa lalu itu adalah mendengarkan ceramah. Ceramah luar biasa dari beliau. Suaranya akan melecat dari toa masjid ujung rawa-rawa sana, lalu juga meliuk-liuk dari surau di sebalik pelepah-pelepah pisang. Menjadi gema-gema yang indah, eksotis, khas menjelang maghrib. Ah… betapa aku mengagumi beliau.

Begitulah setiap sore. Nada-nada suaranya menjadi akrab di telinga. Sebagian isi ceramahnya melekat dalam kepala, sebagian lagi karna fitrah manusia lalu terlupa. Tapi karena itu juga, aku menjadi tiada bosan. Meskipun aku tahu betul bahwa ceramah itu telah diputar ulang oleh radio, dipancarkan serentak lewat toa dua kadang tiga masjid dan surau bersamaan, lalu melesat-lesat dan berkelahi di udara menjadi gema-gema yang sahut menyahut, tapi tiada pernah aku bosan.

Sore selalu menjadi indah. Ada suara yang khas pada seraput jingga merah menjelang maghrib, pada angin yang berhenti bertiup dan beralih arah ke lautan, pada setiap denting-denting masa lalu yang kukenang, ada suara itu, suara itu. Beliau.

Memang, kadang-kadang tidak menunggu maghrib juga, sekali dua aku temukan rekaman ceramahnya diputar. Pada sebuah angkot di perjalanan pulang sekolah, atau pada warung-warung pinggir jalan. Isinya mungkin sama, aku seringkali lupa, tapi biarlah aku tak pernah bosan, ada yang indah pada nada-nadanya, dan manusia lebih peka pada nada tinimbang kata.

Kapan terakhir kali aku mendengar suaramu ya, Pak Ustadz? Tiba-tiba aku sudah besar, dan seperti kebanyakan orang dewasa yang kehilangan momen ceria kanak-kanak, tiba-tiba aku kehilangan juga pada ceramahmu.

Suatu kali, waktu aku pulang kampung, kubayarkan zakat fitrah sepuluh canting beras pada masjid besar di rumahku, masjid yang biasa memutar ceramahmu. Aku dengarkan selintas orang-orang berkata “lihatlah, ustad itu, semenjak dia terjun ke politik jatuh wibawa dia, tak lagi orang mau dengar”.

Butuh lama aku waktu, sampai bisa kucerna bahwa mereka membicarakan engkau. Ingin kubantah bapak-bapak itu, tapi bagaimana bisa pak ustadz? Aku masih anak bau kencur kala itu, sedang mereka-mereka sudah sepuh, mereka juga yang dulu-dulu sekali memutar-mutar ulang rekaman ceramahmu pada masjid dan surau-surau, jadi secara tidak langsung aku berhutang budi pula pada mereka. Jadi, sebetapapun aku ingin membelamu aku tidak bisa. Ingin kukatakan bahwa menampil diri agar terberdayakan potensi kebaikan kita pada jalan kebaikan adalah bukan sombong, tapi aku tak bisa. Maaf guru.

Tapi rasanya pernah sekali waktu aku terbawa suasana. Di masa kuliah, setelah kutinggalkan kampung halamanku, dan maghrib-maghrib agak sepi tanpa semburat suaramu, aku didaulat kawan-kawan untuk menjadi juri pada sebuah lomba Pidato.

Betapa pandai seorang peserta itu, dia membawakan sebuah tata logika yang bagus, isi yang menawan, penyampaian yang runut dan canda yang menggelorakan. Hampir didaulat dia menjadi juara satu, tapi kemudian aku mendebat seorang juri lainnya.

Tidak bisa….tidak bisa…kataku. Bagaimana mungkin anak itu aku menangkan menjadi juara, jika sepanjang ceramahnya dia hanya mengkopi nada-nada suaramu? Isi bisa berbeda, bahkan dia bisa membuat isi yang serupa? Tapi nadamu sudah terlampau khas, tak bisa mereka mengkopinya tanpa didaulat sebagai peniru.

Tapi mereka tak jua paham bahwa manusia sangat peka dengan nada. Lebih daripada manusia awas terhadap kata. Maka dengan susah payah akhirnya kami daulat anak itu menjadi juara dua. Semata karena pertimbangan cinta kami, padanya dan padamu.

Lalu kurasa itulah persentuhan aku yang terakhir, secara emosional, dengan segala sesuatu tentangmu. Sampai pagi ini aku dengar berita, engkau telah berpulang ke sisiNya.

Aku sedih, tapi tidak bisa menangis. Mungkin kalau orang bisa menyampaikan berita itu dengan intonasi penuh haru, aku pasti menangis. Jangankan aku, semua akan menangis. Aku tahu ada sesuatu yang hilang pada dunia ini, sebagaimana setiap orang berilmu itu pergi, maka bersamanya pergi pula kearifan, kebijakan, mutiara-mutiara hidup yang mungkin kami belum pernah serap, mungkin kami belum pernah cecap.

Karna memanglah kami terlalu lemah, oleh kecenderungan kami sendiri. senang pada yang mendenting bagus ditelinga, lupa pada makna bagus yang tepatri pada kata.

Lalu kami teriak-teriak dengan nada yang keras dan tak menyenangkan. Ustadz tak boleh berpolitik!! Ustadz tak boleh tampil!! Ustadz hanya menyanyi, lalu kami meniru nada-nada.

Lupa kami pada ceritamu bahwa Nabi Yusuf pun menawarkan dirinya menjadi bendahara kerajaan. Bahwa semisal negri ini tak dikelola oleh orang-orang baik maka akan jadi apa?

Tapi sudahlah, engkau juga sudah pergi, Tuhan sudah siapkan tempat di dekatnya, yang jauh dari hingar bingar kami. Inilah kami yang belum sempat berterimakasih, belum sempat pula membela. Belum pula menyampaikan yang berbeda.

Tapi kami belajar satu hal, dari surau-surau yang menggemakan ceramahmu pada setiap maghrib-maghrib yang memerah itu, pak, bahwa semuanya mestilah disampaikan dengan ‘nada-nada’ yang indah. Jika nada telah indah, orang akan mencerap isinya dengan suka rela. Sebagaimana akal takluk oleh kekata, maka hati takluk dengan “nada”.

Selamat jalan, guru. Kami dari sini berdoa, dengan doa sendu yang indah. Mengantarmu pulang.

Pada rembulan selalulah ada sisi gelap, tapi kami berpuas hati memandang pada terangnya saja.

Aku rasa, maghrib-maghrib sore nanti, kami pasti rindu.

Selamat jalan KH ZAINUDDIN MZ