SELAMAT JALAN PAK GURU

Manusia lebih peka terhadap nada, tinimbang kata. Kita sering lupa pada lirik lagu, tapi jarang melupakan nadanya. Kita sering sekali bernyanyi na..na..na….. lupa liriknya, tapi tidak nadanya.

Begitulah, nada selalu mencecap dalam di benak kita, dan memang beliau punya nada yang khas, cara bicara yang unik.

Aku sering, dulu sepulang sekolah waktu hari sudah lepas ashar, duduk ditepian sebuah kolam belakang rumah, membuat PR, membaca atau menulis serampangan pada sebuah kertas. Itu sekedar pembuka, karena acara inti pada tiap-tiap sore di masa lalu itu adalah mendengarkan ceramah. Ceramah luar biasa dari beliau. Suaranya akan melecat dari toa masjid ujung rawa-rawa sana, lalu juga meliuk-liuk dari surau di sebalik pelepah-pelepah pisang. Menjadi gema-gema yang indah, eksotis, khas menjelang maghrib. Ah… betapa aku mengagumi beliau.

Begitulah setiap sore. Nada-nada suaranya menjadi akrab di telinga. Sebagian isi ceramahnya melekat dalam kepala, sebagian lagi karna fitrah manusia lalu terlupa. Tapi karena itu juga, aku menjadi tiada bosan. Meskipun aku tahu betul bahwa ceramah itu telah diputar ulang oleh radio, dipancarkan serentak lewat toa dua kadang tiga masjid dan surau bersamaan, lalu melesat-lesat dan berkelahi di udara menjadi gema-gema yang sahut menyahut, tapi tiada pernah aku bosan.

Sore selalu menjadi indah. Ada suara yang khas pada seraput jingga merah menjelang maghrib, pada angin yang berhenti bertiup dan beralih arah ke lautan, pada setiap denting-denting masa lalu yang kukenang, ada suara itu, suara itu. Beliau.

Memang, kadang-kadang tidak menunggu maghrib juga, sekali dua aku temukan rekaman ceramahnya diputar. Pada sebuah angkot di perjalanan pulang sekolah, atau pada warung-warung pinggir jalan. Isinya mungkin sama, aku seringkali lupa, tapi biarlah aku tak pernah bosan, ada yang indah pada nada-nadanya, dan manusia lebih peka pada nada tinimbang kata.

Kapan terakhir kali aku mendengar suaramu ya, Pak Ustadz? Tiba-tiba aku sudah besar, dan seperti kebanyakan orang dewasa yang kehilangan momen ceria kanak-kanak, tiba-tiba aku kehilangan juga pada ceramahmu.

Suatu kali, waktu aku pulang kampung, kubayarkan zakat fitrah sepuluh canting beras pada masjid besar di rumahku, masjid yang biasa memutar ceramahmu. Aku dengarkan selintas orang-orang berkata “lihatlah, ustad itu, semenjak dia terjun ke politik jatuh wibawa dia, tak lagi orang mau dengar”.

Butuh lama aku waktu, sampai bisa kucerna bahwa mereka membicarakan engkau. Ingin kubantah bapak-bapak itu, tapi bagaimana bisa pak ustadz? Aku masih anak bau kencur kala itu, sedang mereka-mereka sudah sepuh, mereka juga yang dulu-dulu sekali memutar-mutar ulang rekaman ceramahmu pada masjid dan surau-surau, jadi secara tidak langsung aku berhutang budi pula pada mereka. Jadi, sebetapapun aku ingin membelamu aku tidak bisa. Ingin kukatakan bahwa menampil diri agar terberdayakan potensi kebaikan kita pada jalan kebaikan adalah bukan sombong, tapi aku tak bisa. Maaf guru.

Tapi rasanya pernah sekali waktu aku terbawa suasana. Di masa kuliah, setelah kutinggalkan kampung halamanku, dan maghrib-maghrib agak sepi tanpa semburat suaramu, aku didaulat kawan-kawan untuk menjadi juri pada sebuah lomba Pidato.

Betapa pandai seorang peserta itu, dia membawakan sebuah tata logika yang bagus, isi yang menawan, penyampaian yang runut dan canda yang menggelorakan. Hampir didaulat dia menjadi juara satu, tapi kemudian aku mendebat seorang juri lainnya.

Tidak bisa….tidak bisa…kataku. Bagaimana mungkin anak itu aku menangkan menjadi juara, jika sepanjang ceramahnya dia hanya mengkopi nada-nada suaramu? Isi bisa berbeda, bahkan dia bisa membuat isi yang serupa? Tapi nadamu sudah terlampau khas, tak bisa mereka mengkopinya tanpa didaulat sebagai peniru.

Tapi mereka tak jua paham bahwa manusia sangat peka dengan nada. Lebih daripada manusia awas terhadap kata. Maka dengan susah payah akhirnya kami daulat anak itu menjadi juara dua. Semata karena pertimbangan cinta kami, padanya dan padamu.

Lalu kurasa itulah persentuhan aku yang terakhir, secara emosional, dengan segala sesuatu tentangmu. Sampai pagi ini aku dengar berita, engkau telah berpulang ke sisiNya.

Aku sedih, tapi tidak bisa menangis. Mungkin kalau orang bisa menyampaikan berita itu dengan intonasi penuh haru, aku pasti menangis. Jangankan aku, semua akan menangis. Aku tahu ada sesuatu yang hilang pada dunia ini, sebagaimana setiap orang berilmu itu pergi, maka bersamanya pergi pula kearifan, kebijakan, mutiara-mutiara hidup yang mungkin kami belum pernah serap, mungkin kami belum pernah cecap.

Karna memanglah kami terlalu lemah, oleh kecenderungan kami sendiri. senang pada yang mendenting bagus ditelinga, lupa pada makna bagus yang tepatri pada kata.

Lalu kami teriak-teriak dengan nada yang keras dan tak menyenangkan. Ustadz tak boleh berpolitik!! Ustadz tak boleh tampil!! Ustadz hanya menyanyi, lalu kami meniru nada-nada.

Lupa kami pada ceritamu bahwa Nabi Yusuf pun menawarkan dirinya menjadi bendahara kerajaan. Bahwa semisal negri ini tak dikelola oleh orang-orang baik maka akan jadi apa?

Tapi sudahlah, engkau juga sudah pergi, Tuhan sudah siapkan tempat di dekatnya, yang jauh dari hingar bingar kami. Inilah kami yang belum sempat berterimakasih, belum sempat pula membela. Belum pula menyampaikan yang berbeda.

Tapi kami belajar satu hal, dari surau-surau yang menggemakan ceramahmu pada setiap maghrib-maghrib yang memerah itu, pak, bahwa semuanya mestilah disampaikan dengan ‘nada-nada’ yang indah. Jika nada telah indah, orang akan mencerap isinya dengan suka rela. Sebagaimana akal takluk oleh kekata, maka hati takluk dengan “nada”.

Selamat jalan, guru. Kami dari sini berdoa, dengan doa sendu yang indah. Mengantarmu pulang.

Pada rembulan selalulah ada sisi gelap, tapi kami berpuas hati memandang pada terangnya saja.

Aku rasa, maghrib-maghrib sore nanti, kami pasti rindu.

Selamat jalan KH ZAINUDDIN MZ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s