SANDARAN

 

“Bersama kesulitan ada kemudahan” kataku suatu kali pada seorang teman. Dia memprotes, atau katakan saja dia menanyakan apa maksudnya bersama kesulitan ada kemudahan?

Kata kawan tadi, bukankah selama ini yang kita faham adalah “habis gelap terbitlah terang?” Yang artinya adalah terang datang setelah gelap. Maka kesimpulan logis yang bisa kita ambil adalah Kemudahan pastilah sebuah hadiah setelah berpayah-payah menempuh kesulitan, yang artinya juga kemudahan datangnya SETELAH kesulitan, bukan BERSAMA kesulitan.

Sebelum aku bercerita tentang percakapan kami lebih lanjut, aku ingin membagi rasa bahwa sekarang ini aku sedang dilanda kesulitan, katakanlah begitu.

***

Akhir-akhir ini, hati sedang gelisah. Satu persatu kawan-kawan yang bekerja pada perusahaan tempatku mengumpulkan remah-remah rezeki sekarang ini, mulai bepergian. Sebagian mendapatkan tawaran untuk bekerja pada perusahaan lain yang menjanjikan bayaran lebih tinggi. Sebagian pindah dan bekerja pada perusahaan yang meski bayaran kurang lebih sama, tetapi menawarkan kemungkinan percepatan karir yang lebih baik dan jabatan yang lebih prestisius.

Sebenarnya tidak ada yang terlalu mengancam. Pekerjaanku masih tetap, gaji setiap bulan diterima dengan baik, Alhamdulillah mencukupi, dan masih juga menyisakan sedikit uang untuk ditabung dan disisihkan sebagai hak orangtua dan saudara yang butuh.

Tetapi semakin hari sensasi yang dirasakan akibat kepergian kawan-kawan menuju perusahaan lain adalah semacam sensasi ketertinggalan. Dan tak ada yang lebih buruk dibandingkan kawan seperjalanan meninggalkan kita lebih dulu. Seperti perasaan sewaktu kawan-kawan sudah diwisuda masa kuliah dulu, dan aku masih berkutat menghadapi setumpuk skripsi. Susah, berbelit, tak ada kawan tempat berbagi, cemas, dan segala rasa yang membebat membuat ketakutan itu bertambah, sekalipun kalau dipikir secara logis, tak ada yang benar-benar menyusahkanku saat ini. Ketakutan itu ada dalam fikiran dan kekhawatiranku akan masa depan.

Lalu tak lama datanglah lagi kabar yang lebih menghantu seram. Kebijakan kantor semakin ketat, segala posisi dirombak, termasuk  posisi yang aku tempati sekarang akan dengan segera digantikan oleh seorang yang lebih senior dalam masa bakti kerja, dan tentu lebih senior dalam pengalaman dan ilmu. Aku tersingkir dalam ketidak jelasan.

Aku menghela nafas, menghembuskan nafas yang mungkin pekat. Di sebelahku istriku tertidur dengan tenang. Seharian dia sudah menghabiskan sedikit tenaganya untuk menjaga tubuhnya berjalan seimbang, dengan membawa berat badan yang bertambah pada perutnya.

Aku merasa lucu dan haru, melihat perkembangan istriku, dia bertambah tembem pada pipinya, dan perutnya membesar, ada yang setiap sore dan malam hari bergerak pelan dan menendang-nendang pada rahimnya. Ada bayi kami. Ada yang sebentar lagi keluar dan dengan segala kerapuhannya mengharapkan perlindungan kami sebagai orang tuanya. Astaga… sebentar lagi aku menjadi ayah.

Ternyata itu pangkal segala kekwatiranku. Ketakutan akan beban yang kutanggung sekarang, seorang istri, dan anak yang sebentar lagi akan hadir. Bisakah aku menjadi tempat mereka bersandar?

Paham…aku sekarang sangat paham segala beban dan kesusahan yang diusung orangtuaku pada pundaknya. Pada keras dan tegasnya. Aku juga menjadi paham kerut muka bapak yang kadang-kadang diam dan menghabiskan separuh malamnya merenung sendiri di teras depan rumah, tanpa bicara, hanya ditemani secangkir kopi dan gurat-gurat cahaya bulan pada ubin. Dia sedang merenung, sedang berfikir, sedang menguatkan diri, dan sedang menjadi tonggak tempat bersandarnya kami.

Saat-saat seperti inilah maka aku merindukan kehadiran Bapak. Kehadiran seorang dengan karakter luar biasa keras, akan tetapi selalu siap menjadi tempat kami menyandarkan diri dan berlindung pada setiap bahaya yang mengancam. Orang yang benar-benar mewakili segala sisi ketegasan dan kejantanan pemimpin rumah tangga.

Sekarang aku memainkan peranan itu. Cuma mungkin bedanya aku belum cukup ilmu. Kalau setiap kali Bapak merenung malam hari tanpa terganggu, dan bangkit lagi keesokan harinya dengan semangat yang lebih, dengan keceriaan yang baru, dengan ketegasan yang tak tergoyahkan, dan lalu menenangkan kami bahwa tenang saja, situasi tak seburuk yang kita kira. Aku juga merenung, tapi bangun keesokan harinya dengan ketakutan dan kecemasan yang sama. Aku belum sampai pada kebijaksanaan semodel itu.

Sampai aku teringat lagi perkataan seorang bijak, bahwa fase dalam hidup kita ini berputar cepat, berganti-ganti dari waktu ke waktu. Belum cukup rasanya aku menuntaskan laku sebagai kakak, menunai bakti sebagai anak, tiba-tiba aku sudah menjadi suami. Belum cukup pandai memahami perbedaan karakteristik komunikasi antar laki dan wanita, belum lagi pandai membaca isyarat-isyarat bahasa yang tersirat dari tutur kata istri, aku sudah menjadi seorang calon ayah. Dan dalam waktu yang berputar cepat itu, jika tidak diimbangi dengan percepatan ilmu, maka kita akan selalulah menjadi orang yang kalah. Orang yang mensikapi fase baru kemodernan masalah kehidupan dengan sikap yang purba dan tertinggal. Itulah pokok kecemasan.

Maka terburu-buru aku berlari ke toko buku, membeli segala buku tentang parenting, tentang anak, tentang jalan menuju Tuhan, tentang rizki, tentang macam-macam. Mendownload segala ceramah dan motivasi tentang berbagai-bagai hal.

Dalam hati aku berdoa, Tuhan semoga aku belum terlambat, dan meyakinkan diri bahwa tidak…aku tidak terlambat.

Dan dalam buku itulah aku temukan pesan yang menusuk, sangat dalam, dari seorang ulama yang mengatakan jangan pernah takut untuk tidak kebagian rizki, tapi takutlah akan kehilangan kepercayaan kepada Allah yang Maha Membagikan rizki.

Jangan pernah bersandar pada manusia, bersandarlah selalu kepada Tuhan. Betapapun, menjadi seorang anak membuat rapuh dan lemahnya kita membuat kita selalu berlindung dibalik keperkasaan orang tua, tapi hati janganlah lupa bahwa hakikatnya kita berlindung pada keMaha perkasaan Tuhan. Dan aku harus mengerahkan segenap psikologis gerbong rumah tanggaku ini pada kepasrahan bahwa tugas kita hanyalah meng-HADAP-I masalah, biarkan Tuhan yang meng-ATAS-I masalah.

Itulah yang aku masuk-masukkan dalam kepala. Sewaktu menulis ini, aku mencoba mereka-reka ulang segala kejadian yang telah mengantarkan aku sampai pada takdir kehidupan yang sekarang. Usia SMA, lalu awal kuliah, akhir-akhir kuliah ,awal dunia kerja, dan awal pernikahan adalah serangkaian kejadian yang membuatku tersentak pagi ini. Semua fase itu aku lewati dengan keberuntungan-keberuntungan. Dengan segala kemudahan yang tidak habis dituliskan dalam sepuluh lembar halaman sekalipun. Tak sedikitpun dari segala fase kehidupan masa laluku yang terjadi tanpa keajaiban pertolongan Tuhan. Dalam hal yang paling musykil sekalipun. Jadi kenapa sekarang aku harus cemas?

Ah…. Tuhan, seperti kata para ulama, aku datang pagi ini dengan mengetuk pintu rahmatmu saja. Bahwa hanya Engkau tempat bersandar, hanya Engkau tempat meminta. Engkau penjamin rizki. Engkau maha segala.

***

Jadi, rekan-rekan yang baik hati. Percakapanku kala itu dengan seorang teman, nyatanya lebih tepat untuk direkam dan dituliskan lagi sebagai bahan perenunganku. Sepertinya aku menjelma kembali ke masa lalu dan menemukan diriku sedang berbicara dengan diriku yang lain.

“bukankah habis gelap terbitlah terang?” Tanya diriku yang kebingungan.

“ya.. benar”

“jadi kemudahan datang SETELAH kesulitan?”

“itu hanya jika kau menganggap ‘pagi’ sebagai satu-satunya bentuk kemudahan. Sedang kau sering lupa bersama malam ada bebintang, bersama malam ada rembulan. Bersama hujan ada dingin sejuk dan bau harum rerumputan. Satu kesulitan diapit dua kemudahan.”

“Seperti kesusahan skripsi membuat kita jauh lebih dekat kepada orang tua karna selalu meminta doa dan petuahnya?”

“ya”

“seperti reshuffle posisi pekerjaan ternyata malah membuat kita memiliki waktu lebih banyak bersama keluarga dan siaga menanti kelahiran bayi tanpa terganggu hingar bingar tugas?”

“ya”

“dan seperti kesulitan dan kecemasan membuat doa-doa menjadi lebih khusyuk? Dan merasa lebih dekat dengan Tuhan?”

“ya, dan itulah rahmat yang paling indah.”

 

3 thoughts on “SANDARAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s