TEBUSAN MASA LALU

Seandainya masa lalu bisa diputar ulang. Seandainya kita bisa kembali ke masa lalu. Begitu kata orang-orang.

Pengandaian serupa itu, dulu, waktu aku masih kecil sempat begitu mengemuka dan memenuhi imaji hari-hariku. Bisakah kita kembali ke masa lalu?

Tanpa sengaja aku menemukan dan membaca banyak tulisan yang sebagian besarnya aku tidak paham. Dengan bahasa ilmiah yang luar biasa tidak aku mengerti, dan segala teorema einstein yang katanya-katanya itu, orang pandai mengatakan bahwa dalam ruang teori, kembali ke masa lalu itu mungkin. Mungkin saja.

Sayang, waktu itu aku masih kecil, aku tidak dalam kapasitas bisa menjelaskan ulang kenapa itu mungkin.

Kemudian lagi, orang-orang pandai yang lain lalu membantah, dengan sekelumit teorema yang sama aku tidak mengertinya, mengatakan kembali ke masa lalu itu tidak mungkin.

Banyak bahasa ilmiah mereka aku tidak paham, tapi ada sebuah permisalan lucu yang sampai sekarang aku ingat-ingat betul, tentang kenapa kita tidak mungkin kembali ke masa lalu. Baiklah aku ceritakan sedikit.

Taruhlah, dalam suatu masa manusia sudah bisa menciptakan mesin waktu, kata artikel yang aku baca berpuluh tahun lalu, lalu dengan sebuah mekanisme yang kita tidak paham, maka manusia dilontarkan ke masa lalu.

Sampailah seseorang yang jadi bahan percobaan itu di masa lalu. Di masa lalu itu, ia lalu mencari sang penemu mesin waktu, lalu dengan tiba-tiba dibunuhnyalah penemu mesin waktu itu. Penemu mesin waktu itu mati! Karna penemu mesin waktu itu mati, artinya, mesin waktu itu tak pernah diciptakan! Lebih jauh lagi, karna mesin waktu tak pernah diciptakan, berarti sang pembunuh dari masa depan itu tak pernah terbang ke masa lalu, kan? Lebih jauh lagi, karna dia tak pernah pergi ke masa lalu, berarti dia tak pernah membunuh penemu mesin waktu? Karna penemu mesin waktu tak dibunuh, berarti mesin waktu berhasil diciptakan? Lalu artinya…..?

***

Kita sudahi saja logika yang berputar-putar tentang mesin waktu. Itu Cuma impian bodoh seorang anak kecil. Tapi kalau mau jujur, meski sudah dewasa, kadang-kadang pertanyaan itu muncul kembali.

Kalau dulu semasa aku kecil, yang aku pertanyakan adalah ruang kemungkinan, bisakah orang kembali ke masa lalu? Maka setelah dewasa semua itu hanyalah pengandaian-pengandaian. Pengandaian untuk merubah kesalahan atau tindakan yang kurang tepat di masa lalu. Ah…. Seandainya saja waktu bisa diputar ulang, seandainya saja.

Banyak, fragmen-fragmen masa lalu, yang rasa-rasanya kalau diberikan kesempatan ingin sekali aku ulang menjadi lebih baik. Sepotong adegan sewaktu aku menghilangkan uang sekolah, kelas lima SD dulu kalau tak salah. Atau adegan waktu aku dimarahi habis-habisan oleh Bapak karena  tak bisa mengerjakan PR sepotong soal essay matematika, waktu malam mati lampu, entah kelas berapa.

Atau fragmen-fragmen dimana bercak-bercak kotor dosa yang rasanya malu kalau aku tulis-tulis disini. Atau kesempatan-kesempatan berbuat kebaikan yang terlepas. Banyak sekali, banyak.

“Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya istriku. Dia sering memergoki aku tersenyum dan seperti membayangkan sesuatu.

“ah… tidak apa-apa” jawabku. Padahal aku sedang membayangkan seandainya waktu bisa diputar ulang, dan aku diberikan kesempatan untuk menebus lalu menjadi pribadi yang saat ini harusnya lebih baik. Lebih berwawasan, lebih dalam. Aku mengalihkan pandangan pada perut istriku yang membesar.

Ada calon kehidupan baru disana, di dalam perut istriku. Lemah, mungil, dan tak terlihat jelas. Siluetnya cuma sekali-kali bisa aku lihat dari pindaian USG tiap kali aku menemani istriku kontrol di RS pinggir jalan raya bogor itu.

Mungkin, calon bayi kami itu menjadi alasan, yang kembali menguatkan keinginanku menebus masa lalu.

Aku ingin, menjadi seorang pribadi yang nantinya bisa menjadi sahabat, ayah, sekaligus idola bagi anak kami.

Membayangkan sebentar lagi menjadi seorang ayah, melahirkan sensasi yang luar biasa tak bisa diceritakan. Seperti menanti sesuatu yang baru. Sesuatu yang boleh jadi menjadi titik balik kehidupan. Kita semua punya titik balik, bukan?

Mungkin titik balik pertama dalam kehidupanku adalah saat aku memutuskan kuliah di Jawa dan berpisah dari orang tua. Pilihan itu mengantarkan aku menuju sebuah kehidupan dengan lingkaran sosial budaya yang sama sekali berbeda. Aku menjadi orang baru.

Titik balik kedua mungkin sewaktu aku menikah. Perubahan status dari seorang anak, menjadi seorang kepala keluarga, yang berkuasa penuh membawa gerbong rumah tangga, dan menjadi sebuah entitas baru dari kehidupan sosial kemasyarakatan. Namaku ditulis pada undangan rapat RT, pada sertifikat rumah, pada kartu listrik, pada tagihan kredit kendaraan, rasanya luar biasa.

Dalam semua titik balik kehidupan itu, aku rasa-rasanya sudah berusaha untuk memulai lembar baru yang lebih putih. Dengan tulisan yang lebih rapih. Dengan deretan makna-makna yang lebih bernas. Meski setelah direnungi, kadang-kadang kalau mau jujur kok ya lebih banyak kotornya. Lebih banyak semrawutnya. Makna pun sekenanya.

Ah….. kita selalu ditinggal oleh waktu, ya Nak? Engkau belum lahir, tapi Ayah katakan satu hal padamu bahwa sungguh waktu itu tak bisa diputar ulang. Tak bisa kita kembali dan merubah yang telah terpahat.

Tapi kesempatan menebus itu masih ada. Dengan sebenar-benarnya menjalani masa kini. Dengan mengambil pelajaran masa lalu, dengan menyusun rencana-rencana baru masa depan. Dengan mempersiapkan kelahiranmu sebaik-baiknya. Menitipkanmu sebuah nama yang do’a. Lalu menceritakan segala hal yang pernah menjatuh-jerembabkan orangtuamu ini, dan mengajari engkau mana-mana jalan benar yang mengantarkan kau jadi lebih baik.

Semoga nanti kita bisa berkah, ya Nak. Kehidupan terbaik seperti kata orang-orang bijak itu. Bertambahnya kebaikan dalam setiap apa saja fragmen kehidupan yang kita jalani. Kemelimpahan yang membuat syukur, kesempitan yang mengantar sabar. Dan pelajaran yang mendewasakan.

Kapan engkau lahir, nak? Kita akan bercerita banyak hal. Denganmu, aku tebus masa lalu.

5 thoughts on “TEBUSAN MASA LALU

  1. Tulisan anda membuat saya mnitihkan air mata , membuat saya berfikir untuk menjadi jati diri yang baik🙂 you’re insipre me. thanks.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s