TULISAN-TULISAN HATI

Ada yang pelan-pelan lindap di dada saya. Sebuah keharuan saat merenungkan sudah berapa lama blog ini terbentang di dunia maya. Sudah berapa orang yang meskipun tak banyak, ikut membaca dan memberikan sepatah-dua kata-kata dalam kolom komentar. Sebagian lainnya meninggalkan statistik yang terbaca pada grafik pengunjung.

Kenapa saya menulis? Suatu hari saya bertanya pada diri saya sendiri. Pertanyaan ini sering saya tanyakan, kadang dia muncul dalam semburat-semburat yang redup, tapi saya tahu ada sesuatu itu yang selalu muncul dan tenggelam. Pertanyaan.

Dulu, saya menulis karna saya ingin bercerita. Mungkin hasrat terbesar dalam hidup saya adalah bercerita. Bagi saya, membagikan apa yang saya tahu kepada orang lain, itu menyenangkan. Meskipun aneh, keluarga mengenal saya sebagai seorang yang pendiam, pun berapa orang kawan menilai saya sebagai orang yang irit bicara. Tapi beberapa kawan yang cukup sering bersinggungan dengan saya tahu bahwa saya suka mengganggu mereka dengan kata-kata.

Belakangan saya mengerti, tidak setiap orang bisa berada dalam kondisi yang prima lahir batin untuk mendengarkan ocehan kita. Maka kemudian saya temukan bahwa menulis punya keasyikannya sendiri. Kita bisa menuliskan apa yang kita fikirkan, orang boleh memutuskan untuk kemudian mendengar atau meninggalkan. Sederhana sekali.

Tapi…semakin hari berjalan, saya menyadari satu hal. Ada yang muncul kembali, seperti sebuah jawaban yang belum usai, tak lama lalu ada yang pelan-pelan lagi mengetuk pintu hati saya. kadang ketukannya terdengar cukup nyaring, kadang bias dan tak terdengar. Sampai kala saya menulis ini, saya akhirnya sadar, sebelum saya menemukan jawaban itu maka hati saya akan selamanya resah. Saya cobakan jujur sejujurnya pada diri, bahwa lebih dari sekedar berbagi cerita, saya ingin menjadi orang yang biar sedikit ada manfaatnya.

Pernah sekali waktu, saya bertanya kepada teman. Retorik sekali pertanyaan saya waktu itu. “Apa yang lebih menyedihkan, dibanding ‘ada atau tiadanya kita tak berarti apa-apa’?”.

Teman saya kala itu tidak menjawab. Dia diam saja. Memang sayapun tak menghajatkan jawaban darinya, atau mungkin dia juga sudah tahu bahwa pertanyaan saya itu retorik belaka. Entah.

Tapi itulah. Ada keinginan dalam hati, agar setidaknya dalam rentang duapuluh tujuh tahun hidup saya di dunia ini, ada sedikit manfaat yang bisa saya torehkan. Ada sedikit guna yang saya bisa bagikan.

Apalagi kalau ingat-ingat perjalanan hidup ke belakang. Rasanya tak kurang-kurang kebodohan, atau kata para ulama ‘kezaliman pada diri sendiri’ yang saya lakukan. Sedih. Ingin berbuat sesuatu yang luar biasa untuk menebusnya, tapi apa daya kemampuan diri ini tak memadai.

Lalu tiap kali bertemu dengan orang-orang baik, dengan orang-orang pintar, ada iri yang terbit dalam hati. Ada cemburu yang menyala-nyala. Betapa luas manfaat yang terhampar dari keilmuan dan kebijakan orang- orang itu? Sedang saya, semisal ombak yang membentur-bentur karang. Bergolak, tak stabil, pecah, membuih.

Saya lalu sering, membaca ulang tulisan-tulisan sendiri. Ada kalanya juga saya menangis membaca ulang tulisan-tulisan itu. Bukan, sama sekali bukan karna haru pada apiknya kata-kata, saya rasa berantakan dan banyak yang harus dibenahi. Cuma saya seringkali haru bahwa dalam perjalanan hidup saya ke belakang, ternyata ada juga jenak-jenak dimana saya begitu kontemplatif, begitu haru memaknai hidup, atau begitu dekat dan syahdu dalam meminta pada Tuhan. Tulisan ini telah menjadi semacam recorder, yang mengoreksi sendiri pemikiran saya yang lugu pada masa lalu, dan atau mengingatkan diri sendiri bahwa suatu kala saya pernah berada pada titik yang tak serendah sekarang.

Saya haru, terlebih untuk jujur, bahwa setiap kali membaca, saya jadi malu karna seringkali tulisan itu muncul dari desakan-desakan yang besar dalam fikiran dan memaksa tangan untuk cepat menuliskannya pada tuts keyboard. Lalu setelah dituliskan dan jeda berapa saat, saya rasa saya tak seperti yang saya tuliskan. Atau mungkin tangan ini sudah menjadi semacam corong, untuk meneruskan kata-kata nurani, yang direkam oleh huruf-huruf, mungkin mengingatkan saya sendiri.

Betapa hati sering terbolak-balik. Mungkin seketika saya menemukan jawabannya kali ini maka harus pula saya tuliskan. Dan inilah harapan penuh saya, agar tulisan-tulisan ini menjadi semacam doa, yang dikala saya khilaf di masa depan nanti, dia akan meluruskannya.

Saya sadar, sebegitu banyaknya orang-orang pandai dan berilmu di belantara maya ini, maka orang-orang yang sudah bersedia menyempatkan waktunya membaca tulisan inilah yang sesungguhnya harus diucapkan terimakasih. Saya berharap, seandainya nanti ada yang terilhami, dan merasakan manfaat dari kumpulan kata-kata ini, semoga dia tahu bahwa cerita-cerita ini berangkat dari niat berbagi, agar saya bertambah ilmu, agar ada yang mengoreksi, agar orang-orang yang terilhami menjadi catatan pahala untuk menebus dosa-dosa yang sudah berkarat-karat, agar dengan tiap kali menulis saya diberikan hati yang lebih padu pada kebaikan, dan diselamatkan dari hingar bingar dunia yang menaik-turunkan hati kita dari kekhusyukan.

Ah….Tuhan, aku berlindung kepadamu dari hati yang tidak khusyuk dan doa yang tak didengar.

One thought on “TULISAN-TULISAN HATI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s