MENYULAM HARMONI

Beberapa malam lalu. Aku terlibat dengan perbincangan seru. Seorang tetangga  -yang ternyata juga seorang pekerja lapangan minyak sepertiku-, menceritakan tawaran kerja yang dia terima. Bayaran luar biasa tinggi, tetapi jadwal kerja yang luar biasa ngeri. Enam atau delapan bulan bekerja tanpa pulang ke rumah. Ini Gila.

Tapi tetanggaku itu bersemangat sekali menceritakan tawaran pekerjaan itu. Dan dia haqul yakin akan dia ambil pekerjaan itu, meski pada akhirnya takdir berkata lain dan dia urung bekerja di sana.

Aku bertanya-tanya, apa makna keluarga bagi orang ini? Bagi tetanggaku itu. Bukankah keluarga adalah tujuan dari segala kerja kita? Bukankah membahagiakan keluarga adalah muara akhir dari babak belur peras keringat kita? Bukankah rumah adalah surga? Kenapa orang ini tidak sama sekali merasa berat? Malam itu aku simpulkan, ada yang salah dengan pola pikir orang itu.

Sampai sekarang aku sangat yakin bahwa rumah adalah surga, yang seharunya membuat kita merasa nyaman dan betah di dalamnya. Tapi sepertinya kok masih ada yang mengganjal. Aku bertanya-tanya.

Tiba-tiba aku teringat seorang kawan yang selalu bertanya-tanya. Tak kurang dari tujuh tahun yang lalu dia bertanya, “apakah wajar, dalam usia kita yang sebegini kita masih mencari-cari jati diri?” tanyanya padaku.

Aku tidak langsung jawab saat itu. Karena aku sebenarnya, banyak bercermin dengan kawanku satu itu. Dia pandai sekali bertutur kata, dia memikirkan banyak hal diluar kebiasaan, dan dia merenung-merenung yang mungkin jarang orang lain mau bersusah-susah memikirkannya. Dia bertanya dan dia menemukan jawaban-jawaban. Dari benaknya sendiri atau dari kebetulan-kebetulan yang aku yakin sebenarnya bukan kebetulan.

Aku percaya, maksud kawanku tadi sebenarnya bukanlah mencari jati diri, -karna aku sama sekali tidak merasa dia sebagai seseorang yang labil dan belum selesai dengan dirinya sendiri-, tapi aku sangat yakin dia rupanya sedang berfikir dan bergejolak untuk menemukan keseimbangan. Menemukan harmoni dalam dirinya. Itulah kenapa dia bertanya.

“Selamat”…aku katakan pada dia.

Cobalah, darimana asalnya jawaban-jawaban jika tidak dipantik oleh pertanyaan-pertanyaan? Dan untuk orang yang bertanya sefilosofis itu, maka tidak lain tidak bukan aku harus ucapkan selamat. Pertanyaan yang bagus, memancing keluarnya jawaban yang bagus, mudah-mudahan. Entah dari diri kita sendiri, atau alam dengan caranya sendiri akan memberikan jawaban.

Selama berapa tahun, setelah pertanyaan kawan sekolahku dulu itu. Aku menemukan dalam setiap fase perjalanan hidup, aku menjadi seperti dia, bertanya-tanya terus. Tentang banyak hal. Dan seringkali, pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang menggiring pada sebuah pemaknaan yang lebih baru.

Pertanyaan tentang batas-batas keseimbangan. Mencari Harmoni tentang banyak hal. Mana sabar mana pasrah, mana syukur mana enggan berjuang, mana marah mana tegas, mana pemaaf mana pengecut, mana irit mana bakhil, mana dermawan mana tak punya perhitungan.

Banyak macam-macamnya lagi. Dan setiap adegan-adegan dalam hidup pastilah harus menimbulkan pertanyaan, dan pertanyaan itu mestinya menggiring pada kerja keras jiwa untuk menemukan harmoninya sendiri.

Sampai berapa hari lalu. Tiket penerbangan ke luar kota sudah di tangan. Sudah jadwalnya aku –sebagai pekerja lapangan- harus bekerja dan meninggalkan keluarga untuk beberapa minggu.

Perkaranya akan gampang, seandainya hal itu terjadi pada moment yang biasa, dan keluarga –dalam hal ini istriku- dalam kondisi yang prima juga. Tapi ini bulan puasa, sebentar lagi lebaran, dan istriku hamil. Lengkap. Aku merasa kepergian kerja belum pernah seberat ini. Mungkin begitu, ya. Aku sedang berupaya menemukan harmoni. Sebuah tao antara pekerjaan dan keluarga.

Tiba-tiba saja aku teringat cerita tentang Asaduddin Syirkuh. Seorang pemuda pembenci perang. Hidup dalam gelimang istana, dan kenyamanan taman-taman kerajaan. Sampai suatu ketika pamannya memaksa dia untuk ikut ke medan tempur. Mulanya dia bergidik ngeri dan ketakutan, darah muncrat dimana-mana, tragedi, kematian, tapi juga ironi besar bahwa kedurjanaan yang kuat harus dihancurkan dengan kekuatan juga.

Lambat laun hal itu memantik nyala pada jiwa ksatrianya. Dia menemukan harmoni. Dia tumbuh dan besar menjadi orang yang disegani lawan dan dicintai kawan. Kelak sejarah lebih mengenal dia sebagai Salahuddin Al Ayubi. Jendral besar yang menyejarah.

Akhirnya dia bisa menguatkan jiwanya dan menyadari bahwa berada di dalam istana yang nyaman itu penting sebagai rehat dan mengumpulkan semangat, tapi berlaga di medan juga penting.

Antara kedamaian rumah yang menjelma syurga, tetapi juga tidak mengkerdilkan jiwa. Rumah yang mengistirahatkan tapi juga membangunkan.

Harmoni antara berdiam diri di rumah, membagi ceria dengan keluarga, menyusun visi dan rencana masa depan, bertukar cerita, berteduh dari panas dunia yang terik; tapi juga mengumpulkan amunisi untuk pada akhirnya suatu ketika keluar dan berjuang dalam kapasitas kita masing-masing. Pekerja minyak, guru, dosen, dokter, mahasiswa,  apapun.

Tentu pilihan selalu ada. Memulai kehidupan yang baru yang memberikan lebih banyak waktu untuk keluarga, adalah ideal. Tapi itu adalah perkara harmoni yang lain lagi. Yang jawabannya harus dimunculkan dari rangkaian set-set pertanyaan yang lain pula.

Kalau tidak karna pertanyaan temanku tujuh tahun silam. Mungkin aku sekarang akan berada di salah satu dari dua extrim. Mungkin pada kutub yang mendewakan pekerjaan dan uang tanpa memedulikan keluarga. Atau mungkin pada yang bersembunyi di sebalik kehangatan dan teduh rumah yang disebut-sebut surga.

Padahal pada segalanya harus ada harmoni. Dan harmoni adalah jawaban yang tak akan tumbuh begitu saja jika kita tidak bertanya-tanya.

first image taken from here

Iklan

YANG TERPANCANG DAN YANG KOKOH

Jangan-jangan aku telah munafiq? Tiba-tiba tadi sore aku jadi berfikir apa iya jangan-jangan aku sudah munafiq?

Aku ingat, dalam cerita sejarah yang masyhur, kita kenal hanzhalah. Hidup sejaman dengan sang nabi, disebut-sebut dalam ceritra keteladanan. Namun suatu kali pernah kita dengar cerita bahwa sahabat yang mulia itu berkata dia telah munafiq, katanya pada abu bakar.

Cerita berikutnya kita sudah sama-sama hapal. Abu bakar kaget, lalu menanyakan apa maksud Hanzhalah mengatakan dia munafiq?  Lalu dua-dua sahabat nabi itu menangis sesenggukan setelah hanzhalah menuturkan kegelisahannya. Katanya saat di dekat nabi, ia merasa luar biasa teguh dan ingat akan akhirat, tapi setelah di rumah dan bertemu keluarga lalu tersibukkanlah dia dan menurun kekhusyukannya.

Dua-dua sahabat itu lalu ditenangkan oleh nabi dengan penjelasan bahwa hal itu bawaan manusia by nature. Sesaat-sesaat dan memang tantangannya adalah harus selalu diperbarui, keyakinan itu.

Hanzhalah dan Abu bakar; nyata-nyata cerita keluarbiasaan mereka sudah tertulis dalam buku-buku. Dalam ceritra-ceritra. Nah kalau aku, kalau kita, jangan-jangan benar-benar bermasalah, bukan kontemplasi?

Pasalnya begini, akhir-akhir ini hati ini seperti sesak oleh ketakutan-ketakutan. oleh praduga-praduga. Tentang rizki, tentang keluarga, tentang pekerjaan, tentang banyak hal. Padahal secara keilmuan harusnya sudah mengerti, bahwa Tuhan semesta alam ini sudah menjamin segala-segala. Tempat bergantung tentang segala. Tapi kok rasanya belum plong, belum pasrah. Khawatir terus.

Sampai aku ingat lagi, dulu sekali, seorang guru pernah mengatakan begini. Keyakinan kita, jika belum sampai pada tataran mentalitas, maka dia belum teruji.

Katakanlah aku sendiri sebagai tersangkanya. Secara konsep sudah paham bahwa yang menjamin rizki itu Tuhan yang maha kaya, yang meski satu dunia ini kita ambil-ambil serakus-rakusnya maka kekayaannya tidak akan kurang setetes jua. Konsepnya sudah tahu begitu. Tapi secara mentalitas, keyakinan itu belum berurat akar, belum menghunjam-hunjam, cengkeramannya belum kokoh. Maka aku khawatir terus tentang rizki. Cemas, takut. Macam-macamlah.

Apa pasal? Mentalitas! ilmu yang aku tahu itu mungkin memenuhi logika otak saja, tidak mengisi ruang kosong di hati. Benar sekali guru itu.

Padahal ya, kalau diingat-ingat. Semenjak sebegitu banyak masalah –atau baiknya tidak kita katakan sebagai masalah-. Semenjak fase hidup berubah, aku menyadari satu keharusan yang pokok, yaitu keilmuan semestinyalah bertambah juga.

Okelah. Macam-macam buku aku baca, macam-macam petuah aku catat. Macam-macam. tapi rasanya semakin banyak konsep, makin tahu tentang bagaimana-bagaimananya tidak selalu lurus perbandingannya dengan makin yakin dan makin tenang.

Apa ini?? Lha jangan-jangan aku sudah munafiq? Lain di kepala lain di hati. Sampai ada  yang tiba-tiba berdentang lagi di telinga. Sebuah doa yang diajarkan dari dulu sekali waktu kita masih kecil. Doa sebelum belajar. Doa itu adalah meminta dengan sangat, agar  Tuhan anugerahkan pada kita ilmu yang bermanfaat, dan menambahkan kepada kita kepahaman.

Ilmu, kalau tidak bermanfaat, kata orang bijak, rasanya memenuhi kapasitas otak kita saja. Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai segalanya, yang ilmunya jika ditulis dengan tinta sebanyak lautan di dunia, dan dengan pena semelimpah seluruh pepohonan, tidak juga akan usai. Semoga terhindar kita dari ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat.

Tapi kata  para guru kita lagi, ilmu bermanfaat saja tak cukup, jika tidak menambah kefahaman. Mungkin kepahaman inilah mentalitas itu. Sesuatu yang dicerna otak kita, lalu dengan berkah dari langit dia akan diizinkan mengalir sejuk lewat pembuluh-pembuluh. Lalu berkelindan di saraf-saraf hati kita. Lalu masuk kedalam jiwa dan memberi tenang. Memberi yakin. Memberi kokoh. Memberi kepasrahan. Bahwa tidak mungkin Tuhan itu abai. Tidak mungkin Tuhan itu tidak urus. Tidak mungkin Tuhan itu tidak tahu. Lalu kita dianugerahi tenang. Tenang yang betulan. Yang bukan tipu. Yang genap. Yang pancarannya betul-betul dari dalam. Tenang…tenang. Yang mengatakan kepada dunia bahwa Tuhan tempat kita bergantung itu lebih luar biasa dari segala-gala.

Amin…amin….semoga Hanzhalah dianugerahi pahala. Sejarahnya yang mempertanyakan diri sendiri, jadi pelajaran buat kita. Bahwa ‘yakin’ kita pun seperti ombak yang turun naik. Sesaat-sesaat.

Tapi Hanzhalah beruntung, menemukan sang nabi sebagai tempat menimba ilmu dan memperteguh jiwanya.

Tapi kita juga beruntung, diajarkan doa yang mensejukkan jiwa. Tuhan, anugerahkan kami ilmu yang bermanfaat, dan tambahkan pada kami kepahaman.

Aku percaya, bahwa Tuhan tidak tidur, kalau Hanzhalah dan Abu bakar berguru pada nabi, maka nanti akan dipertemukanNya kita, pada ilmu-ilmu yang bertebaran: di buku-buku, di potongan-potongan sajak, di petuah-petuah orang-orang bijak dulu, di mutiara laku kawan-kawan kita, atau kesadaran yang tiba-tiba tumbuh tak terasa dari perenungan-perenungan yang jujur. Dan Dia juga yang nanti menyimpulkannya pada hati kita. Pada kepahaman yang terpancang, dalam, kokoh, tidak goyah.

Lalu kata peribahasa cina dulu, barang siapa yang sungguh-sungguh merasa membutuhkan bimbingan, maka saat itu ia akan bertemu “guru”.

Ah…Tuhan. Anugerahkan pada kami ilmu yang bermanfaat, dan tambahkan kepada kami kepahaman.

 

 

(image taken from here)

AGAR MEREKA TAHU SEPERTI APA KITA

Aku menyadari, bahwa akhir-akhir ini aku mengalami stagnasi yang serius. Saat kehidupan berputar dengan frame gambar-gambar keseharian yang sama hari ke harinya, dengan babak-babak yang berulang dan tanpa sebuah letupan-letupan semangat, aku sadar ada yang harus ditafakuri sejenak. Rasanya ini stagnasi.

Saat sebuah puncak jalanan menanjak sudah kita jejakkan kaki, lalu biasanya setelah itu hamparan jalan adalah menurun, atau katakanlah paling tidak dia akan datar-datar saja.

Sewaktu sekolah, mimpiku adalah merantau dan kuliah, saat kuliah mimpiku adalah bekerja dan berkeluarga. Sekarang sampailah sudah pada fase bekerja dan berkeluarga, maka aku tiba-tiba menjalani rutinitas dengan otomatis. Setiap hari selalu sama, tertebak dan begitu-begitu lagi.

Apa yang salah?

Lama-lama aku sadar ini perkara mimpi. Ada tujuan yang membuat kita bergelora dan meletup-letup. Saat ada sesuatu yang ingin kita capai, kita akan berlari dengan lebih kencang, arahnyapun kita sudah terka kemana, katakanlah suatu kali kita melenceng, tapi akan gampang kita kembali ke tujuan. Katakanlah suatu kali kita jatuh terjerembab, kita akan gampang bangun lagi, meski sakit kita tetap berlari. Karna ada sesuatu itu yang akan kita raih. Ada mimpi.

Kalau begitu kenapa tidak bermimpi lagi saja?

Perkaranya tidak segampang itu, ternyata.  Setelah kurenungkan sejenak, begini mungkin halnya. Saat kita masih sendiri, gampang sekali untuk menentukan target,  berjuang dan berjibaku dengan cita-cita kita sendiri, tapi setelah kita menjadi bagian dari sebuah keluarga, kita tahu ada seseorang yang mau tidak mau akan terlibat dengan segala keputusan yang kita ambil, dengan  segala cita-cita dan mimpi-mimpi. Mereka juga akan terkena resiko dari segala pilihan dan langkah-langkah kita. Kebijakan dan ketajaman insting kita harus meloncat pada level yang lebih tinggi lagi. Dan inilah seninya.

Rasanya, dalam segala tatarannya, mimpi-mimpi kita itu akan berkembang lebih berisi dan penuh tantangan, seiring juga dengan fase kehidupan kita.

Saat kita masih kecil, mimpi kita mungkin sebatas hal-hal remeh. Saat kita sudah beranjak besar, mungkin benturan mimpi kita adalah bagaimana mensinkronkan visi pribadi dengan realita lingkungan yang sering tidak sejalan. Makin besar lagi kita, makin besar pula masalahnya. Tantangannya mungkin tidak semata membuat pribadi kita  layak untuk mimpi itu, tapi juga bagaimana mengikut sertakan gerbong besar keluarga dalam mimpi yang kita bangun.

Dulu mungkin mimpi kita adalah terbang ke langit dan memetik bintang, maka setelah berkeluarga aku jadi sadar bahwa mimpi kita haruslah juga terbang ke langit dan memetik bintang, tapi dengan membawa sederet gerbong keluarga ini untuk sama-sama melihat bintang yang itu, langit yang itu, terbang ke arah situ, dan itu seninya.

Dulu, aku pernah dikecam keras oleh salah seorang guru pembimbing skripsiku. Ceritanya waktu itu, agar sedikit mempermudah jalannya skripsi, aku menceritakan juga latar keluarga dan ekonomi, serta harapan besar orang tua agar aku menyelesaikan studiku dengan cepat. Fikiranku waktu itu simpel saja, bahwa dengan menceritakan sedikit sisi emosional, mudah-mudahan bisa menyentuh kemanusiaan beliau yang waktu itu beliau terkenal dosen paling galak seantero kampus.

Boro-boro tersentuh, waktu itulah aku dikecam. “orang tua itu, lebih banyak pengalaman hidupnya daripada kamu, mereka lebih siap menghadapi banyak cobaan hidup, mau takdir baik, mau takdir buruk. Yang tidak siap itu kamu!”

Pedas…tak ada ampun. Tapi aku bersyukur sekali. Sampai sekarang kalimat itu aku ingat persis detil-detilnya, seperti baru kemarin ditumpahkan ke telingaku. Cobalah tengok orang tua kita! Mereka itu prototype pemimpi sejati, tak usah jauh-jauh. Geletar mimpi mereka itu masih mengaliri denyut-denyut kehidupan kita.

Kalau mimpi kita waktu kecil adalah hidup layak dan berpendidikan layak, maka mimpi mereka adalah bagaimana membawa sekian orang dalam gerbong itu menjadi lebih baik, sama sekali bukan gelora-gelora pribadi semacam kita dulu.

Itu yang aku baru sadar sekarang. Bahwa mimpi memang harus diperbarui tiap fase hidup kita, tapi merekonstruksi pemahaman kita tentang mimpi adalah juga penting. Bahwa kalau dulu kita terbang ke langit sendirian, sekarang haruslah terbang bersama-sama. Dan ada kalanya memang bercermin pada orang tua kita merupakan contoh terbaik. Bagaimana menjadi orang yang digelayuti beban. Bagaimana menjadi orang yang me-nameng-I, yang harus kokoh sekaligus meniup-niup semangat orang satu gerbong, ayooo bangun. Jalan kita masih panjang.

Tidak punya mimpi mungkin membuat hidup menjadi stagnan, lesu dan mati. Tapi salah membuat mimpi, seringkali juga membuat kita semakin jauh dengan keluarga.

Rasanya, tidak perlu dicontohkan. Betapa banyak misalnya kepala keluarga yang melesat ke awan-awan ilmu, yang berjibaku dalam lompatan-lompatan karir yang makin prestisius, tapi meninggalkan istri dan keluarganya dalam level pemikiran yang itu-itu saja. Dia terbang tinggi ke langit, tapi keluarganya tertinggal. Lama-lama mereka makin tidak nyambung. Ini petaka rasanya.

Baru-baru ini, aku temukan dalam sebuah tulisan, penjelasan tentang hakikat kecocokan. Ambil contoh, kecocokan versi pertama adalah kesamaan. Dua orang memiliki hobi yang sama, misalnya. Bisa menjadi cocok tersebab obrolan mereka nyambung. Ini kecocokan karna kesamaan. Contoh berikutnya adalah dua orang yang sama sekali berbeda, tapi saling melengkapi, bisa cocok juga. Contoh terakhir adalah dua orang dengan dua kehidupan yang bisa saling menumbuhkan, ini kecocokan yang paling baik.

Tapi semua versi kecocokan itu akan menjadi benar reaksinya hanya jika ada kesamaan visi, kesamaan cara pandang. Dan cara pandang ini panjang panjang panjang panjang sangat perjalanannya.

Aku ingat sekali lagi sebuah fragmen, dimana aku menyelesaikan studi untuk skripsi, pada sebuah area pemboran minyak. Disitu aku bertemu dengan seorang tua yang bijak, suka berbagi ilmu, dan kemana-mana selalu saja membawa buku. Begitu banyak koleksi bukunya.

Sekali waktu, bapak itu kemudian kutanya. Kenapa gerangan beliau suka sekali membaca dan mengoleksi buku. Jawabnya simpel saja “agar anak saya tahu seperti apa bapaknya.”

Waktu itu aku merasa aneh dengan jawaban itu. Seperti einstein, yang pemikirannya telat dipahami orang-orang hingga butuh seratus tahun sesudahnya, seperti itulah bapak itu telat dipahami olehku. Untunglah aku tidak selama itu memahami maksud bapak baik tadi.

Bapak tadi mengajarkan aku, kita semua, untuk membuat mimpi yang bisa kita jelaskan kepada keluarga kita. Untuk tumbuh dan berkembang bersama-sama. Untuk terbang kelangit dan memetik bintang, tapi tangan-tangan kita tergenggam dan sayap kita mengepak bersama-sama. Untuk tidak menjadi celaka karna berilmu tapi tak menebarkannya pada keluarga kita. Untuk tidak menjadi saling tak nyambung karna kita melesat semakin pintar tapi tak memintarkan keluarga kita. Untuk menjadi sukses bersama. Agar anak, istri, keluarga, tahu seperti apa kita.

Karna kecocokan itu mungkin tumbuh dari kesamaan pemahaman dan pandangan-pandangan. Dan dalam naik turun kelak-kelok hidup yang panjang, menjaganya adalah sebuah seni. Kalau tidak maka stagnasi. Ah…