AGAR MEREKA TAHU SEPERTI APA KITA

Aku menyadari, bahwa akhir-akhir ini aku mengalami stagnasi yang serius. Saat kehidupan berputar dengan frame gambar-gambar keseharian yang sama hari ke harinya, dengan babak-babak yang berulang dan tanpa sebuah letupan-letupan semangat, aku sadar ada yang harus ditafakuri sejenak. Rasanya ini stagnasi.

Saat sebuah puncak jalanan menanjak sudah kita jejakkan kaki, lalu biasanya setelah itu hamparan jalan adalah menurun, atau katakanlah paling tidak dia akan datar-datar saja.

Sewaktu sekolah, mimpiku adalah merantau dan kuliah, saat kuliah mimpiku adalah bekerja dan berkeluarga. Sekarang sampailah sudah pada fase bekerja dan berkeluarga, maka aku tiba-tiba menjalani rutinitas dengan otomatis. Setiap hari selalu sama, tertebak dan begitu-begitu lagi.

Apa yang salah?

Lama-lama aku sadar ini perkara mimpi. Ada tujuan yang membuat kita bergelora dan meletup-letup. Saat ada sesuatu yang ingin kita capai, kita akan berlari dengan lebih kencang, arahnyapun kita sudah terka kemana, katakanlah suatu kali kita melenceng, tapi akan gampang kita kembali ke tujuan. Katakanlah suatu kali kita jatuh terjerembab, kita akan gampang bangun lagi, meski sakit kita tetap berlari. Karna ada sesuatu itu yang akan kita raih. Ada mimpi.

Kalau begitu kenapa tidak bermimpi lagi saja?

Perkaranya tidak segampang itu, ternyata.  Setelah kurenungkan sejenak, begini mungkin halnya. Saat kita masih sendiri, gampang sekali untuk menentukan target,  berjuang dan berjibaku dengan cita-cita kita sendiri, tapi setelah kita menjadi bagian dari sebuah keluarga, kita tahu ada seseorang yang mau tidak mau akan terlibat dengan segala keputusan yang kita ambil, dengan  segala cita-cita dan mimpi-mimpi. Mereka juga akan terkena resiko dari segala pilihan dan langkah-langkah kita. Kebijakan dan ketajaman insting kita harus meloncat pada level yang lebih tinggi lagi. Dan inilah seninya.

Rasanya, dalam segala tatarannya, mimpi-mimpi kita itu akan berkembang lebih berisi dan penuh tantangan, seiring juga dengan fase kehidupan kita.

Saat kita masih kecil, mimpi kita mungkin sebatas hal-hal remeh. Saat kita sudah beranjak besar, mungkin benturan mimpi kita adalah bagaimana mensinkronkan visi pribadi dengan realita lingkungan yang sering tidak sejalan. Makin besar lagi kita, makin besar pula masalahnya. Tantangannya mungkin tidak semata membuat pribadi kita  layak untuk mimpi itu, tapi juga bagaimana mengikut sertakan gerbong besar keluarga dalam mimpi yang kita bangun.

Dulu mungkin mimpi kita adalah terbang ke langit dan memetik bintang, maka setelah berkeluarga aku jadi sadar bahwa mimpi kita haruslah juga terbang ke langit dan memetik bintang, tapi dengan membawa sederet gerbong keluarga ini untuk sama-sama melihat bintang yang itu, langit yang itu, terbang ke arah situ, dan itu seninya.

Dulu, aku pernah dikecam keras oleh salah seorang guru pembimbing skripsiku. Ceritanya waktu itu, agar sedikit mempermudah jalannya skripsi, aku menceritakan juga latar keluarga dan ekonomi, serta harapan besar orang tua agar aku menyelesaikan studiku dengan cepat. Fikiranku waktu itu simpel saja, bahwa dengan menceritakan sedikit sisi emosional, mudah-mudahan bisa menyentuh kemanusiaan beliau yang waktu itu beliau terkenal dosen paling galak seantero kampus.

Boro-boro tersentuh, waktu itulah aku dikecam. “orang tua itu, lebih banyak pengalaman hidupnya daripada kamu, mereka lebih siap menghadapi banyak cobaan hidup, mau takdir baik, mau takdir buruk. Yang tidak siap itu kamu!”

Pedas…tak ada ampun. Tapi aku bersyukur sekali. Sampai sekarang kalimat itu aku ingat persis detil-detilnya, seperti baru kemarin ditumpahkan ke telingaku. Cobalah tengok orang tua kita! Mereka itu prototype pemimpi sejati, tak usah jauh-jauh. Geletar mimpi mereka itu masih mengaliri denyut-denyut kehidupan kita.

Kalau mimpi kita waktu kecil adalah hidup layak dan berpendidikan layak, maka mimpi mereka adalah bagaimana membawa sekian orang dalam gerbong itu menjadi lebih baik, sama sekali bukan gelora-gelora pribadi semacam kita dulu.

Itu yang aku baru sadar sekarang. Bahwa mimpi memang harus diperbarui tiap fase hidup kita, tapi merekonstruksi pemahaman kita tentang mimpi adalah juga penting. Bahwa kalau dulu kita terbang ke langit sendirian, sekarang haruslah terbang bersama-sama. Dan ada kalanya memang bercermin pada orang tua kita merupakan contoh terbaik. Bagaimana menjadi orang yang digelayuti beban. Bagaimana menjadi orang yang me-nameng-I, yang harus kokoh sekaligus meniup-niup semangat orang satu gerbong, ayooo bangun. Jalan kita masih panjang.

Tidak punya mimpi mungkin membuat hidup menjadi stagnan, lesu dan mati. Tapi salah membuat mimpi, seringkali juga membuat kita semakin jauh dengan keluarga.

Rasanya, tidak perlu dicontohkan. Betapa banyak misalnya kepala keluarga yang melesat ke awan-awan ilmu, yang berjibaku dalam lompatan-lompatan karir yang makin prestisius, tapi meninggalkan istri dan keluarganya dalam level pemikiran yang itu-itu saja. Dia terbang tinggi ke langit, tapi keluarganya tertinggal. Lama-lama mereka makin tidak nyambung. Ini petaka rasanya.

Baru-baru ini, aku temukan dalam sebuah tulisan, penjelasan tentang hakikat kecocokan. Ambil contoh, kecocokan versi pertama adalah kesamaan. Dua orang memiliki hobi yang sama, misalnya. Bisa menjadi cocok tersebab obrolan mereka nyambung. Ini kecocokan karna kesamaan. Contoh berikutnya adalah dua orang yang sama sekali berbeda, tapi saling melengkapi, bisa cocok juga. Contoh terakhir adalah dua orang dengan dua kehidupan yang bisa saling menumbuhkan, ini kecocokan yang paling baik.

Tapi semua versi kecocokan itu akan menjadi benar reaksinya hanya jika ada kesamaan visi, kesamaan cara pandang. Dan cara pandang ini panjang panjang panjang panjang sangat perjalanannya.

Aku ingat sekali lagi sebuah fragmen, dimana aku menyelesaikan studi untuk skripsi, pada sebuah area pemboran minyak. Disitu aku bertemu dengan seorang tua yang bijak, suka berbagi ilmu, dan kemana-mana selalu saja membawa buku. Begitu banyak koleksi bukunya.

Sekali waktu, bapak itu kemudian kutanya. Kenapa gerangan beliau suka sekali membaca dan mengoleksi buku. Jawabnya simpel saja “agar anak saya tahu seperti apa bapaknya.”

Waktu itu aku merasa aneh dengan jawaban itu. Seperti einstein, yang pemikirannya telat dipahami orang-orang hingga butuh seratus tahun sesudahnya, seperti itulah bapak itu telat dipahami olehku. Untunglah aku tidak selama itu memahami maksud bapak baik tadi.

Bapak tadi mengajarkan aku, kita semua, untuk membuat mimpi yang bisa kita jelaskan kepada keluarga kita. Untuk tumbuh dan berkembang bersama-sama. Untuk terbang kelangit dan memetik bintang, tapi tangan-tangan kita tergenggam dan sayap kita mengepak bersama-sama. Untuk tidak menjadi celaka karna berilmu tapi tak menebarkannya pada keluarga kita. Untuk tidak menjadi saling tak nyambung karna kita melesat semakin pintar tapi tak memintarkan keluarga kita. Untuk menjadi sukses bersama. Agar anak, istri, keluarga, tahu seperti apa kita.

Karna kecocokan itu mungkin tumbuh dari kesamaan pemahaman dan pandangan-pandangan. Dan dalam naik turun kelak-kelok hidup yang panjang, menjaganya adalah sebuah seni. Kalau tidak maka stagnasi. Ah…

 

8 thoughts on “AGAR MEREKA TAHU SEPERTI APA KITA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s