YANG TERPANCANG DAN YANG KOKOH

Jangan-jangan aku telah munafiq? Tiba-tiba tadi sore aku jadi berfikir apa iya jangan-jangan aku sudah munafiq?

Aku ingat, dalam cerita sejarah yang masyhur, kita kenal hanzhalah. Hidup sejaman dengan sang nabi, disebut-sebut dalam ceritra keteladanan. Namun suatu kali pernah kita dengar cerita bahwa sahabat yang mulia itu berkata dia telah munafiq, katanya pada abu bakar.

Cerita berikutnya kita sudah sama-sama hapal. Abu bakar kaget, lalu menanyakan apa maksud Hanzhalah mengatakan dia munafiq?  Lalu dua-dua sahabat nabi itu menangis sesenggukan setelah hanzhalah menuturkan kegelisahannya. Katanya saat di dekat nabi, ia merasa luar biasa teguh dan ingat akan akhirat, tapi setelah di rumah dan bertemu keluarga lalu tersibukkanlah dia dan menurun kekhusyukannya.

Dua-dua sahabat itu lalu ditenangkan oleh nabi dengan penjelasan bahwa hal itu bawaan manusia by nature. Sesaat-sesaat dan memang tantangannya adalah harus selalu diperbarui, keyakinan itu.

Hanzhalah dan Abu bakar; nyata-nyata cerita keluarbiasaan mereka sudah tertulis dalam buku-buku. Dalam ceritra-ceritra. Nah kalau aku, kalau kita, jangan-jangan benar-benar bermasalah, bukan kontemplasi?

Pasalnya begini, akhir-akhir ini hati ini seperti sesak oleh ketakutan-ketakutan. oleh praduga-praduga. Tentang rizki, tentang keluarga, tentang pekerjaan, tentang banyak hal. Padahal secara keilmuan harusnya sudah mengerti, bahwa Tuhan semesta alam ini sudah menjamin segala-segala. Tempat bergantung tentang segala. Tapi kok rasanya belum plong, belum pasrah. Khawatir terus.

Sampai aku ingat lagi, dulu sekali, seorang guru pernah mengatakan begini. Keyakinan kita, jika belum sampai pada tataran mentalitas, maka dia belum teruji.

Katakanlah aku sendiri sebagai tersangkanya. Secara konsep sudah paham bahwa yang menjamin rizki itu Tuhan yang maha kaya, yang meski satu dunia ini kita ambil-ambil serakus-rakusnya maka kekayaannya tidak akan kurang setetes jua. Konsepnya sudah tahu begitu. Tapi secara mentalitas, keyakinan itu belum berurat akar, belum menghunjam-hunjam, cengkeramannya belum kokoh. Maka aku khawatir terus tentang rizki. Cemas, takut. Macam-macamlah.

Apa pasal? Mentalitas! ilmu yang aku tahu itu mungkin memenuhi logika otak saja, tidak mengisi ruang kosong di hati. Benar sekali guru itu.

Padahal ya, kalau diingat-ingat. Semenjak sebegitu banyak masalah –atau baiknya tidak kita katakan sebagai masalah-. Semenjak fase hidup berubah, aku menyadari satu keharusan yang pokok, yaitu keilmuan semestinyalah bertambah juga.

Okelah. Macam-macam buku aku baca, macam-macam petuah aku catat. Macam-macam. tapi rasanya semakin banyak konsep, makin tahu tentang bagaimana-bagaimananya tidak selalu lurus perbandingannya dengan makin yakin dan makin tenang.

Apa ini?? Lha jangan-jangan aku sudah munafiq? Lain di kepala lain di hati. Sampai ada  yang tiba-tiba berdentang lagi di telinga. Sebuah doa yang diajarkan dari dulu sekali waktu kita masih kecil. Doa sebelum belajar. Doa itu adalah meminta dengan sangat, agar  Tuhan anugerahkan pada kita ilmu yang bermanfaat, dan menambahkan kepada kita kepahaman.

Ilmu, kalau tidak bermanfaat, kata orang bijak, rasanya memenuhi kapasitas otak kita saja. Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai segalanya, yang ilmunya jika ditulis dengan tinta sebanyak lautan di dunia, dan dengan pena semelimpah seluruh pepohonan, tidak juga akan usai. Semoga terhindar kita dari ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat.

Tapi kata  para guru kita lagi, ilmu bermanfaat saja tak cukup, jika tidak menambah kefahaman. Mungkin kepahaman inilah mentalitas itu. Sesuatu yang dicerna otak kita, lalu dengan berkah dari langit dia akan diizinkan mengalir sejuk lewat pembuluh-pembuluh. Lalu berkelindan di saraf-saraf hati kita. Lalu masuk kedalam jiwa dan memberi tenang. Memberi yakin. Memberi kokoh. Memberi kepasrahan. Bahwa tidak mungkin Tuhan itu abai. Tidak mungkin Tuhan itu tidak urus. Tidak mungkin Tuhan itu tidak tahu. Lalu kita dianugerahi tenang. Tenang yang betulan. Yang bukan tipu. Yang genap. Yang pancarannya betul-betul dari dalam. Tenang…tenang. Yang mengatakan kepada dunia bahwa Tuhan tempat kita bergantung itu lebih luar biasa dari segala-gala.

Amin…amin….semoga Hanzhalah dianugerahi pahala. Sejarahnya yang mempertanyakan diri sendiri, jadi pelajaran buat kita. Bahwa ‘yakin’ kita pun seperti ombak yang turun naik. Sesaat-sesaat.

Tapi Hanzhalah beruntung, menemukan sang nabi sebagai tempat menimba ilmu dan memperteguh jiwanya.

Tapi kita juga beruntung, diajarkan doa yang mensejukkan jiwa. Tuhan, anugerahkan kami ilmu yang bermanfaat, dan tambahkan pada kami kepahaman.

Aku percaya, bahwa Tuhan tidak tidur, kalau Hanzhalah dan Abu bakar berguru pada nabi, maka nanti akan dipertemukanNya kita, pada ilmu-ilmu yang bertebaran: di buku-buku, di potongan-potongan sajak, di petuah-petuah orang-orang bijak dulu, di mutiara laku kawan-kawan kita, atau kesadaran yang tiba-tiba tumbuh tak terasa dari perenungan-perenungan yang jujur. Dan Dia juga yang nanti menyimpulkannya pada hati kita. Pada kepahaman yang terpancang, dalam, kokoh, tidak goyah.

Lalu kata peribahasa cina dulu, barang siapa yang sungguh-sungguh merasa membutuhkan bimbingan, maka saat itu ia akan bertemu “guru”.

Ah…Tuhan. Anugerahkan pada kami ilmu yang bermanfaat, dan tambahkan kepada kami kepahaman.

 

 

(image taken from here)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s