MELUKIS WARNA

Tak ada cerita yang lebih saya ingat, dibanding cerita klasik ini. Sebuah gelas, yang setengahnya terisi air, dan setengahnya lagi dibiarkan kosong, dihadapkan pada dua orang. Orang pertama mengatakan dengan pesimis bahwa gelas itu setengahnya kosong, orang kedua memandang positif dengan mengatakan sudah setengah gelas terisi. Cerita klasik, faktanya sama, hasilnya berbeda. Tergantung kita memandangnya.

Pada setiap episode hidup, apa saja, saya yakin selalu ada pembelajaran. Ini selalu saya tekankan pada diri sendiri. Pandanglah dengan positif! Seperti belakangan ini, saya selalu kesusahan untuk bercerita dan berbagi dengan istri saya. Apa pasal? Karena mungkin pertama saya bekerja pada sebuah dunia yang sama sekali berbeda dengan dia. Saya engineer di sebuah perusahaan service migas, istri saya seorang PNS. Dunia kami berbeda.

Saya tiap hari bergelut dengan minyak, dunia lapangan yang keras dan tidak umum. Istri saya bergaul dengan birokrasi, arsip-arsip dan tumpukan kata-kata. Bagaimanapun saya ingin mencoba menjelaskan dunia saya kepada istri saya, saya menemukan kesulitan.

Terlebih lagi, istri saya suatu kali pernah mengatakan bahwa saya seorang yang lebih ekspresif dalam tulisan dibanding lisan. Saya tertawa, mungkin saja istri saya benar. Dan tampaknya pula, istri mengalami kesulitan untuk bercerita, tentang dunia yang digelutinya. Mungkin karna pertama saya tak banyak tahu tentang segala tetek-bengek birokrasi, kedua mungkin istri saya bukan pencerita yang ulung.

Sering saya berfikir. Bagaimana menemukan titik tengahnya? Ini bukan perkara saya ingin tahu urusan kantor istri saya, atau dia harus tahu urusan pengeboran minyak, bukan. Tapi bagaimana dengan sarana apapun itu kami bisa menemukan jalan untuk berbagi dan lebih meletup-letup di dalam sharing, chating, obrolan di rumah, telepon, atau apapun kita menyebutnya.

Sampai berapa waktu lalu, saya melihat passion terpendam yang ada pada istri saya, marketing.  Ini bukan perdagangan bombastis dengan omset ratusan juta tentu, tapi hanya kegiatan pengisi waktu luang yang ia posting lewat jejaring facebook. Mungkin disitu saya bisa ikut bergabung.

Lalu di akhir minggu, saya habiskan waktu dengan mengutak-atik sebuah program content management system untuk pemula yang tak pernah belajar bahasa pemrograman. Saya buat sebuah situs sederhana, dengan domain sendiri, untuk mengakomodir passionnya, istri saya.

Dan ternyata obrolan menjadi menarik. Pada chat dan telepon, kami berbincang tentang suatu yang kami sama-sama tahu dan sama-sama minat. Ada passion disana, sesuatu yang menjadikan warna-warna lebih cerah.

Teringat saya, pada sebuah tulisan yang mengatakan bahwa kecocokan itu bisa banyak versinya. Anda dan pasangan anda memiliki kesamaan yang luar biasa, semisal dua anak sungai yang lalu bertemu di muara, anda bisa cocok. Permisalan berikutnya adalah anda dan pasangan anda berbeda luar biasa, seperti panas dan dingin, tapi kalau disatukan bisa harmoni dan menimbulkan hangat-hangat kuku yang pas, anda cocok. Yang terakhir adalah anda semisal hujan deras bertemu tanah subur yang lalu menumbuhkan macam-macam tetanaman, anda cocok juga, paling baik bahkan.

Yang baru saya pahami akhir-akhir ini adalah kenyataan bahwa kecocokan itu sebenarnya bisa banyak jalannya. Dan kalau kita tidak temukan di satu bentuk, bisa kita cari bentuk kecocokan lainnya.

Berulang kali saya tuliskan untuk diri saya sendiri, pada kertas dan benak saya.  Menerima pasangan kita apa adanya, sungguh hanya merupakan tangga pertama. Tidak pernah, menerima pasangan apa adanya itu, menjadi semacam gembok yang lalu mengunci kita untuk tidak mengoreksi dan memperbaiki apa-apa yang salah pada diri pasangan kita.

Menerima apa adanya adalah prasyarat, kemudian perjuangan panjang di depan sana bernama sama-sama belajar jadi lebih baik.

Belajar untuk membentuk kecocokan itu! Belajar untuk menemukan kecocokan itu! Kecocokan antara kita dan pasangan kita, terlebih lagi kecocokan kita pada diri sendiri, menemukan diri sendiri.

Mengenai hal ini, sudah tak karu-karuan banyaknya tulisan dan buku yang menceritakan. Taruhlah bill gates, atau steve jobs, atau mark zuckerberg, atau pengusaha muda indonesiaseperti kang rendy, ceritanya klasik sekali.

Mereka kuliah, lalu tak menemukan kecocokan disana, tak menemukan passion disana, lalu mereka drop out, susah payah membangun bisnis mereka sendiri, lalu sukses besar di bidang yang baru dan sesuai passion mereka.

Itu cerita yang jamak kita dengar. Tapi apa menemukan kecocokan itu, menemukan passion itu, harus dengan alur cerita yang seperti itu? Banting setir dari tempat kita sekarang, menemukan tempat yang baru, lalu sukses besar dan dikenang, dikutip-kutip namanya dalam banyak pelatihan-pelatihan motivasi dan buku chicken soup for the soul?

Saya rasa tidak. Menemukan kecocokan, bagi saya adalah perkara jujur pada diri sendiri. urusan apakah setelah tindakan yang kita ambil untuk jujur pada diri sendiri itu menghasilkan harta yang berlimpah, atau tidak, tak jadi soal utama. Yang soal utama adalah kejujuran untuk mengoptimalkan apa yang kita punya, lalu jujur untuk tiap hari bersyukur dengan pilihan yang kita ambil, karna kita enjoy. Tak harus selalu sama kisah penemuan jati diri kita dengan orang-orang dalam buku.

Dan mengenai penemuan kecocokan inilah saya belajar terseok-seok. Adalah istri saya, yang dengan jujur menilai dan menyampaikan kepada saya apa adanya saya. Saat orang lain mungkin mengapresiasi saya dengan mengatakan tulisanmu bagus, cobalah kamu tulis lalu kirim ke penerbit! Istri saya mengatakan dengan jujur bahwa tulisan saya masih berkutat seputar apa yang saya pernah alami saja, bukan sesuatu tentang imaji-imaji. Saya terbakar, dan lalu saya menulis cerpen. Enam, atau tujuh, atau sepuluh saya lupa. Sporadis, dan semua-muanya saya kirimkan ke penerbit. Tak satupun yang diterima, haha.

Tapi saya bersemangat, saya menemukan pelajaran. bahwa dengan mimpi-mimpi dan imaji-imaji, gelora kitabisa lebih nyala! istri saya memancing saya untuk menemukan diri saya. Saya dan dia, lalu bersama-sama berusaha menemukan harmoni yang membuat kami lebih bisa menemukan diri kami.

Dan PR besar untuk saya sekarang ini adalah, mengajarkan makna-makna kehidupan ini kepada anak saya, anak kami. Pencarian diri, penemuan akan kecocokan diri dengan hidup, dengan pasangan, atau dengan apa saja adalah perkara belajar. Demi Tuhan itu perkara belajar.

Dan pada pembelajaran yang baik, harus ada pula porsi mengajar. Saya percaya itu. Dalam sekian ratus buku dan pelajaran yang kita baca, saya percaya harus ada yang kita tuliskan. Sebagai bentuk syukur atas pemahaman. Sebagai sumbangsih kita untuk orang lain. Apatah lagi kepada anak, itu adalah kewajiban.

Maka itu saya sekarang sedang keras-kerasnya pula berfikir, bagaimana cara mengajarkan kepada anak saya, ilmu-ilmu yang tak hanya memenuhi rongga fikirnya, tapi pula menumbuhkan jiwanya. Menguatkan pribadinya. Sebuah ilmu yang tak hanya mengajarkannya bagaimana-bagaimananya, tapi juga memahamkan dia akan mengapa-mengapanya. Agar dia solid dan kokoh menghadapi hidup ini. Mengetahui hakikat-hakikat dibalik sesuatunya.

Teringat saya, akan pertanyaan saya sejak SMA dulu. Apa gunanya belajar differensial integral di matematika? Apa pula itu limit mendekati nol? Lintang pukang saya cari jawabnya. Tak satupun -bahkan kawan-kawan yang pandai berhitung-,  mampu menjelaskan.

Syukur saya, pada masa kerja ini, saya bertemu dengan seorang rekan yang begitu fasih menjelaskan guna hitungan-hitungan abstrak itu dalam kehidupan. Integral itu adalah sebuah teknik brilian menghitung luasan benda dengan bentuk tak beraturan, sedang limit mendekati nol dapat diaplikasikan untuk menghitung penurunan speed pesawat pada saat landing. Koreksi saya kalau saya salah.

Luar biasa, saya ingin menjadi pembelajar seperti dia, sekaligus pengajar sederhana saja tapi yang bisa memahamkan.

Akan tetapi… yang paling saya ingat sampai sekarang, bukanlah seorang kawan yang menjelaskan dengan lancar dua perhitungan abstrak itu tadi, melainkan guyonan teman masa SMA dulu.

“Kau tahu, apa gunanya kita belajar differensial integral?” katanya dengan lantang.

“Apa?” saya menyahut penasaran sungguh.

“Gunanya adalah….agar suatu ketika kalau kau menjadi guru matematika, kau bisa ajarkan anak muridmu bagaimana menghitung diferensial integral”. Dan setelah itu ingatan saya adalah saya tertawa sambil memegang-megang perut.

Semoga…dalam hidup ini saya bisa membuat dan menemukan harmoni yang apik.  Antara saya dan pekerjaan saya. Saya dan keluarga. Saya dan diri saya sendiri. Semoga pula terhindar dari mengetahui banyak ilmu-ilmu yang tidak saya paham gunanya, tak bisa pula mengajarkannya. Semoga nantinya semua pembelajaran itu bisa dengan baik saya ajarkan kepada anak saya, sampai mereka paham-sepaham-pahamnya.

Lalu sebagai kepala keluarga, rasanya masih relevan untuk mengutip pribahasa jawa tentang para pemimpin. Bahwa pemimpin itu jika didepan mereka menjadi teladan, jika ditengah mereka menyemangati, jika dibelakang mereka mendorong ke arah kemajuan. Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tutwuri handayani

Belajar dan mengajar itu sudah kepastian dalam hidup, tinggal bagaimana kita menemukan passion yang pas agar warna-warna tulisan yang kita buat bisa lebih cerah, lebih cerah.

image taken from here

Iklan

EKSODUS

Ditinggalkan, apalagi oleh teman seperjalanan, tak pernah menyenangkan.

Aku pernah, mengalami fase itu, ketika SMA dan Kuliah dulu. Sewaktu satu persatu rekan “pergi”, menyelesaikan lebih dulu tanggung jawab mereka dan beralih ke dunia baru. Lulus lebih dulu, bekerja lebih dulu.

Perasaan tak menyenangkan itu, setelah aku timbang dan lihat-lihat betul-betul, rasanya bukan karna sebersit rasa iri, bukan pula perasaan tak enak hati jika rekan mendapatkan tempat yang baik, jika rekan tiba lebih dulu pada stasiun di depan. Bukan.

Perasaan tak menyenangkan itu, adalah warna yang natural saja, dari suasana yang terlampau kontras, antara riuh yang ramai dikelilingi teman-teman, dengan sepi yang hening berkawan sendiri. Dan perubahan yang kontras itu tak pernah menyenangkan, aku rasa pada cara pandang seperti ini kau pun setuju.

Tak dinyana. Sekarang, setelah aku bekerja, rupanya fase dimana rekan-rekan satu persatu pergi itu, muncul kembali. Dan sejarah berulang.

Tapi bukankah memang begitu? sejarah selalu berulang, ide cerita yang sama, hanya tempat, waktu dan orang yang berbeda. Tapi kebodohan kita selalu sama, tak pernah belajar.

Awalnya, satu dua orang kawan, yang merasa tidak puas dengan kebijakan kantor, lalu mundur teratur, menghaturkan selembar kertas pengunduran diri di meja pimpinan.

Kami agak acuh, pada mulanya. Sampai tahun berjalan, hari berganti, lalu gelombang kepergian kawan-kawan itu seperti eksodus burung-burung pada musim dingin. Berkelompok, ke lain benua, dengan suara riuh-rendah dan memikat di langit-langit.

Dan aku masih pada sebuah sudut yang sama, melihat mereka dan menimbang-nimbang. Apakah harus mengambil keputusan serupa, lalu terbang pula ke lain benua dalam euforia migrasi besar-besaran, atau bertahan pada tempatku sekarang dan menyaman-nyamankan diri bahwa fase ramai dan sepi sebenarnya bergilir-gilir saja dalam kehidupan manusia.

***

Adalah keluarga,  yang menjadi pertimbangan terbesar. Beberapa orang kawan mengirimkan link-link pada email. Kerja di lain benua, petualangan yang baru, bayaran yang fantastis, adalah sesuatu yang sangat menjanjikan pada tawaran pekerjaan itu.

Tapi masa kerja yang mengharuskan berpuluh hari tinggalkan keluarga untuk terasing di desing bingar pengeboran minyak, selalu menjadi sesuatu yang menyurutkan langkahku. Bagaimana dengan anak istri yang dibiarkan menghadapi hari-hari, sendiri saja tanpa figur ayah dan suami?

Ada, kali yang lain, aku bertanya sendiri pada diriku. Apakah ini memang karena keluarga, atau sebentuk kepengecutan diri yang ditutup-tutupi? Terulang dibenakku, ucapan seorang teman. “Kau bisa bayarkan supir, kau bisa bayarkan pembantu dan baby sitter, kau belikan rumah terbaik, buat mereka nyaman saat kau harus tinggalkan!”.  Aku merenung.

Kurasa dia benar pada sebagiannya, tapi salah besar pada sebagian yang lain. Bisakah kebersamaan dengan keluarga digantikan dengan setumpuk pekerja yang kita bayar-bayar keringatnya? Bisakah, sebagai misal, moment dimana anak menangis malam hari, dan istri dalam kantuk yang berat menggantung, panik dan sendiri tak ada tempat berbagi, kita tebus dukanya? bisakah?

Memang, tidak setiap keluarga dapat kita pandang dengan kacamata diri kita sendiri. Setiap keluarga memiliki harmoninya sendiri. Dan harmoni itu memang hanya akan terjawab setelah pergulatan batin yang lama dan sepi, tapi riuh dan gempita di dalam diri kita sendiri, dalam diri kita sendiri.

Perkara menjemput rizki, memang tak pernah simpel. Dia berkelindan dengan harga diri seorang laki-laki, dengan hasrat-hasrat petualangan, dengan mimpi-mimpi akan kedigdayaan strata, dengan gerbong panjang keluarga. Dan dengan sebegitu banyaknya variabel ini, bisakah kita nilai orang dari kacamata kita sendiri? bisakah?

Dan kurasa, setelah tadi pagi, aku menemukan sejumput artikel yang menjawab semua tanya, kuputuskan aku akan menempuh jalan yang lain.

Harta bukan segala-gala, ianya adalah pengakuan atas nama kita saja. Belum pula pasti kita nikmati. Suatu kali Baginda Nabi berkata, rizki itu ada tiga, yang kita makan sampai kenyang, yang kita pakai sampai usang, dan yang kita sedekahkan.   Maka bertumpuk harta yang tak termakan, belum tentu rizki kita. Bertumpuk harta yang tak terpakai usang, belum tentu rizki kita. Bertumpuk harta yang tak terdistribusi pada yang berhak, bukan pula rizki kita.

Maka aku juga akan migrasi, eksodus ke tempat yang lebih baik, tapi juga memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk menyertai keluarga dalam perjalanan panjang menjadi pribadi yang lebih baik.

Dan harta? ah…… rasanya bukan harta yang kita kejar, kan? tapi rizki…dan rizki itu sesuatu yang benar-benar kita nikmati, dan nikmat itu ada di dalam diri. Di dalam sini.

 

JEDA

Tulisan terakhir, sebelum tulisan ini,  tercatat diposting pada 20 agustus lalu.  Hampir tiga bulan sudah, hiatus kepenulisan membuat blog yang memang sudah minim isi ini, menjadi seperti mati suri. Seperti Koma.

Andai saja, dengan perumpamaan yang memaksa, blog ini kita kategorikan sebagai orkestra, maka sekali-kali hiatus, hening, diam sejenak itu perlu. Tengoklah orkestra, setelah musik yang cepat dan bingar, ada diam sejenak, hening yang memancing orang tuk menarik nafas dan siap pada denting pertama bunyi-bunyi apa saja yang kan muncul. Jika benar dan tepat timingnya, maka tepuk tangan akan riuh dan menggema.

Tapi jeda kepenulisan yang panjang, rasanya bukan lagi proporsional. Dalam sebuah rentetan pembelajaran, tiap anak tangga hari-hari haruslah diisi dengan membaca dan belajar tentang sesuatu, lalu menulis tentang sesuatu. Agaknya…tiga bulan yang sepi ini telah terlewat dengan tidak menulis sesuatu, pun tidak belajar banyak tentang sesuatu. Ini menyedihkan.

Mungkin, kejadian tepat pada tanggal 31 agustus lalu, seperti momen perubahan. titik balik yang menandai fase baru hidup sudah dimulai. Akan dibawa kemana hari-hari kedepan? Akan dibawa kemana gerbong keluarga ini? Akan dibawa kemana juga cerita-cerita di tulisan ini?

Dan dalam tempo tiga bulan saja, anakku sudah membesar dengan begitu cepat. Matanya yang seingatku dulu sayu dan tak pernah fokus, kini tiap kali kita bergerak maka ia sudah menatap awas dan mengikuti. Berat badannya cepat bertambah. Dan lisannya sudah mulai mengeluarkan suara-suara yang entah apa artinya. Sungguh lucu.

Padahal, baru sekitar tiga bulan lalu. Akhir agustus itu, dia lahir. Dengan berat yang sedikit dibawah rata-rata. Pada sebuah kesempatan yang luar biasa meleset dari perkiraan. Pada kekhawatiran yang gemerisik mengganggu fikiran berhari-hari berminggu-minggu. Lalu idul Fitri yang berkah itu dia datang.

Aku terharu. Babak baru pembelajaran sudah dimulai. Dan seperti petarung di ring yang merasa belum terlalu usai menikmati kursi istirahat, dentang bel sudah berbunyi. Ronde baru dimulai. Dan tantangan baru terhampar di depan.

Begini rasanya menjadi Bapak. Ruang hati yang ada ini lalu disusupi cinta yang perlahan-lahan semakin mekar dan bertunas-tunas banyak. Tapi pundak juga lalu digelayuti beban dan tanggungg jawab yang meringkihkan dan tak ringan.

Dan lalu pada setiap jeda yang sebentar atau lama, semoga saja ada pelajaran baru yang terpetik, bara baru yang menyala-nyala, nafas baru yang terhirup, dan kekuatan baru yang menegakkan badan dan menjejakkan kaki. Tuk pribadi, dan keluarga ini.

Nak…dengarkan bapak bercerita.