JEDA

Tulisan terakhir, sebelum tulisan ini,  tercatat diposting pada 20 agustus lalu.  Hampir tiga bulan sudah, hiatus kepenulisan membuat blog yang memang sudah minim isi ini, menjadi seperti mati suri. Seperti Koma.

Andai saja, dengan perumpamaan yang memaksa, blog ini kita kategorikan sebagai orkestra, maka sekali-kali hiatus, hening, diam sejenak itu perlu. Tengoklah orkestra, setelah musik yang cepat dan bingar, ada diam sejenak, hening yang memancing orang tuk menarik nafas dan siap pada denting pertama bunyi-bunyi apa saja yang kan muncul. Jika benar dan tepat timingnya, maka tepuk tangan akan riuh dan menggema.

Tapi jeda kepenulisan yang panjang, rasanya bukan lagi proporsional. Dalam sebuah rentetan pembelajaran, tiap anak tangga hari-hari haruslah diisi dengan membaca dan belajar tentang sesuatu, lalu menulis tentang sesuatu. Agaknya…tiga bulan yang sepi ini telah terlewat dengan tidak menulis sesuatu, pun tidak belajar banyak tentang sesuatu. Ini menyedihkan.

Mungkin, kejadian tepat pada tanggal 31 agustus lalu, seperti momen perubahan. titik balik yang menandai fase baru hidup sudah dimulai. Akan dibawa kemana hari-hari kedepan? Akan dibawa kemana gerbong keluarga ini? Akan dibawa kemana juga cerita-cerita di tulisan ini?

Dan dalam tempo tiga bulan saja, anakku sudah membesar dengan begitu cepat. Matanya yang seingatku dulu sayu dan tak pernah fokus, kini tiap kali kita bergerak maka ia sudah menatap awas dan mengikuti. Berat badannya cepat bertambah. Dan lisannya sudah mulai mengeluarkan suara-suara yang entah apa artinya. Sungguh lucu.

Padahal, baru sekitar tiga bulan lalu. Akhir agustus itu, dia lahir. Dengan berat yang sedikit dibawah rata-rata. Pada sebuah kesempatan yang luar biasa meleset dari perkiraan. Pada kekhawatiran yang gemerisik mengganggu fikiran berhari-hari berminggu-minggu. Lalu idul Fitri yang berkah itu dia datang.

Aku terharu. Babak baru pembelajaran sudah dimulai. Dan seperti petarung di ring yang merasa belum terlalu usai menikmati kursi istirahat, dentang bel sudah berbunyi. Ronde baru dimulai. Dan tantangan baru terhampar di depan.

Begini rasanya menjadi Bapak. Ruang hati yang ada ini lalu disusupi cinta yang perlahan-lahan semakin mekar dan bertunas-tunas banyak. Tapi pundak juga lalu digelayuti beban dan tanggungg jawab yang meringkihkan dan tak ringan.

Dan lalu pada setiap jeda yang sebentar atau lama, semoga saja ada pelajaran baru yang terpetik, bara baru yang menyala-nyala, nafas baru yang terhirup, dan kekuatan baru yang menegakkan badan dan menjejakkan kaki. Tuk pribadi, dan keluarga ini.

Nak…dengarkan bapak bercerita.

2 thoughts on “JEDA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s