EKSODUS

Ditinggalkan, apalagi oleh teman seperjalanan, tak pernah menyenangkan.

Aku pernah, mengalami fase itu, ketika SMA dan Kuliah dulu. Sewaktu satu persatu rekan “pergi”, menyelesaikan lebih dulu tanggung jawab mereka dan beralih ke dunia baru. Lulus lebih dulu, bekerja lebih dulu.

Perasaan tak menyenangkan itu, setelah aku timbang dan lihat-lihat betul-betul, rasanya bukan karna sebersit rasa iri, bukan pula perasaan tak enak hati jika rekan mendapatkan tempat yang baik, jika rekan tiba lebih dulu pada stasiun di depan. Bukan.

Perasaan tak menyenangkan itu, adalah warna yang natural saja, dari suasana yang terlampau kontras, antara riuh yang ramai dikelilingi teman-teman, dengan sepi yang hening berkawan sendiri. Dan perubahan yang kontras itu tak pernah menyenangkan, aku rasa pada cara pandang seperti ini kau pun setuju.

Tak dinyana. Sekarang, setelah aku bekerja, rupanya fase dimana rekan-rekan satu persatu pergi itu, muncul kembali. Dan sejarah berulang.

Tapi bukankah memang begitu? sejarah selalu berulang, ide cerita yang sama, hanya tempat, waktu dan orang yang berbeda. Tapi kebodohan kita selalu sama, tak pernah belajar.

Awalnya, satu dua orang kawan, yang merasa tidak puas dengan kebijakan kantor, lalu mundur teratur, menghaturkan selembar kertas pengunduran diri di meja pimpinan.

Kami agak acuh, pada mulanya. Sampai tahun berjalan, hari berganti, lalu gelombang kepergian kawan-kawan itu seperti eksodus burung-burung pada musim dingin. Berkelompok, ke lain benua, dengan suara riuh-rendah dan memikat di langit-langit.

Dan aku masih pada sebuah sudut yang sama, melihat mereka dan menimbang-nimbang. Apakah harus mengambil keputusan serupa, lalu terbang pula ke lain benua dalam euforia migrasi besar-besaran, atau bertahan pada tempatku sekarang dan menyaman-nyamankan diri bahwa fase ramai dan sepi sebenarnya bergilir-gilir saja dalam kehidupan manusia.

***

Adalah keluarga,  yang menjadi pertimbangan terbesar. Beberapa orang kawan mengirimkan link-link pada email. Kerja di lain benua, petualangan yang baru, bayaran yang fantastis, adalah sesuatu yang sangat menjanjikan pada tawaran pekerjaan itu.

Tapi masa kerja yang mengharuskan berpuluh hari tinggalkan keluarga untuk terasing di desing bingar pengeboran minyak, selalu menjadi sesuatu yang menyurutkan langkahku. Bagaimana dengan anak istri yang dibiarkan menghadapi hari-hari, sendiri saja tanpa figur ayah dan suami?

Ada, kali yang lain, aku bertanya sendiri pada diriku. Apakah ini memang karena keluarga, atau sebentuk kepengecutan diri yang ditutup-tutupi? Terulang dibenakku, ucapan seorang teman. “Kau bisa bayarkan supir, kau bisa bayarkan pembantu dan baby sitter, kau belikan rumah terbaik, buat mereka nyaman saat kau harus tinggalkan!”.  Aku merenung.

Kurasa dia benar pada sebagiannya, tapi salah besar pada sebagian yang lain. Bisakah kebersamaan dengan keluarga digantikan dengan setumpuk pekerja yang kita bayar-bayar keringatnya? Bisakah, sebagai misal, moment dimana anak menangis malam hari, dan istri dalam kantuk yang berat menggantung, panik dan sendiri tak ada tempat berbagi, kita tebus dukanya? bisakah?

Memang, tidak setiap keluarga dapat kita pandang dengan kacamata diri kita sendiri. Setiap keluarga memiliki harmoninya sendiri. Dan harmoni itu memang hanya akan terjawab setelah pergulatan batin yang lama dan sepi, tapi riuh dan gempita di dalam diri kita sendiri, dalam diri kita sendiri.

Perkara menjemput rizki, memang tak pernah simpel. Dia berkelindan dengan harga diri seorang laki-laki, dengan hasrat-hasrat petualangan, dengan mimpi-mimpi akan kedigdayaan strata, dengan gerbong panjang keluarga. Dan dengan sebegitu banyaknya variabel ini, bisakah kita nilai orang dari kacamata kita sendiri? bisakah?

Dan kurasa, setelah tadi pagi, aku menemukan sejumput artikel yang menjawab semua tanya, kuputuskan aku akan menempuh jalan yang lain.

Harta bukan segala-gala, ianya adalah pengakuan atas nama kita saja. Belum pula pasti kita nikmati. Suatu kali Baginda Nabi berkata, rizki itu ada tiga, yang kita makan sampai kenyang, yang kita pakai sampai usang, dan yang kita sedekahkan.   Maka bertumpuk harta yang tak termakan, belum tentu rizki kita. Bertumpuk harta yang tak terpakai usang, belum tentu rizki kita. Bertumpuk harta yang tak terdistribusi pada yang berhak, bukan pula rizki kita.

Maka aku juga akan migrasi, eksodus ke tempat yang lebih baik, tapi juga memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk menyertai keluarga dalam perjalanan panjang menjadi pribadi yang lebih baik.

Dan harta? ah…… rasanya bukan harta yang kita kejar, kan? tapi rizki…dan rizki itu sesuatu yang benar-benar kita nikmati, dan nikmat itu ada di dalam diri. Di dalam sini.

 

2 thoughts on “EKSODUS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s