Mata Memandang, Pundak Memikul

“Seberat-berat mata memandang, lebih berat pundak memikul.” 

Kekata itu, terekam dalam ingatanku, kukuh, dalam, dan mewarnai persepsiku tentang macam-macam masalah. Bertahun-tahun.

Ibulah, yang pertamakali mengenalkanku dengan peribahasa itu. Kata ibu “Berapapun beratnya masalah orang lain dimata kita, satu-satunya yang benar-benar tahu takaran beratnya, rasanya, menusuk tidaknya, atau malah suka bahagianya, adalah orang yang mengalami. Jadi jangan pernah paksakan keinginanmu pada orang lain, berapapun kamu yakin bahwa pilihanmu itu akan membuatnya bahagia”

Dan pandangan itu, dalam keseluruhan tindak laku Ibu dan Bapak dirumah, mereka terapkan betul-betul.

Diberinyalah kita-kita nasihat begini dan begitu, lalu penghujung ceramah panjang wanti-wanti mereka itu pastilah peribahasa tadi,  seberat-berat mata memandang, lebih berat pundak memikul. 

Kami-kami ini, anaknya, yang akan menanggung di pundak kami, segala beban dan berat resiko dari keputusan apapun yang kami pilih. Mereka berdua, Bapak dan Ibu, sepenuhnyalah hanya memberikan rambu-rambu, petunjuk-petunjuk, kilas balik dari pengalaman kejadian mereka, dari berhasil dan gagalnya mereka, dari jatuh terjerembab dan bangunnya mereka, untuk kami ambil pelajaran. Tapi tak sekalipun kami dipaksa untuk mengikuti atau hidup dalam versi kebahagiaan yang mereka tetapkan. Mereka sadar kebahagiaan itu personal, dan sekarang aku baru memahaminya.

Terlalu sering, rasanya aku memandang sebuah masalah atau kehidupan seseorang dari kacamataku sendiri. Setelah larut dalam persepsiku tentang orang itu, aku baru sadar bahwa dulu sudah pernah diwanti-wanti tentang hal ini.

Sebuah cerita apik sekali menggambarkan itu. Tersebutlah dua orang bertetangga, berdampingan rumah. Dari balik kaca rumah mereka sepasang suami istri dapat mengamati jemuran di rumah sebelah. Berbulan-bulan mereka selalu berkomentar betapa cucian tetangga mereka itu tidak pernah bersih, selalu kotor.  Sampai suatu ketika sang istri kaget, dari balik kaca dia lihat tetangganya menyampirkan jemuran nan berkilau. “Tumben pak, cucian tetangga sebelah bersih” kata sang istri. Suaminya lalu dengan pelan menyahut, bahwa baru saja tadi pagi, dia membersihkan kaca rumah. Ternyata berbulan-bulan mereka memandang jemuran tetangga lewat kaca yang buram.

Dan persis seperti itu ceritaku. Seorang teman karib kami SMA dulu, adalah seorang yang dalam keseluruhan lakon hidupnya aku cemburui. Brilian, supel, religius, tutur katanya santun dan memukau. Diantara kami dia itu permata.

Tapi tak cuma di film saja kejadian seperti ini ternyata. Karibku itu dengan ekonomi keluarganya yang ringkih tak dapat melanjutkan kuliah. Aku dan rekan-rekan yang lain sempat putus komunikasi, kami-kami sibuk dalam gegap gempita urusan kami masing-masing, sampai kemudian terhenyak karna teringat, dimana permata berkilau itu? Sobat kami itu?

Sebuah momen yang tepat, lalu mempertemukan kami dengannya. Dia kerja pada sebuah pabrik, menjadi karyawan yang pergi pagi, lalu pulang jelang malam hari. Ketika malam telah larut dia baru terpejam setelah letih mengurus ini-itu pada usaha kecilnya. Lalu esok harinya dia terbangun lagi waktu uap pagi baru mulai mengembun dan ayam saja baru mulai menggeliat hendak bangun.

Sedih hati ini rasanya. Kawanku itu tetap memikat kami dengan segala pesonanya. Membayangkan dia payah diri payah hati, tiap hari menghadapi rutinitas dan segala keletihan itu, kami sedih. Ingin rasanya kami membuat dia lebih bahagia.

Tetapi aku salah. Kehidupannya dimataku boleh jadi nelongso. Tapi kehidupannya di matanya sendiri adalah pahatan-pahatan heroisme. Ukiran-ukiran kehormatan lelaki. Adalah cerita epik yang dilakoninya dengan semangat berkobar-kobar, menyala-nyala, terang dan tetap terang sebagaimana dia dulu.

Dia bertahan di keras kota jakarta tanpa perlu menyusahkan orang lain. Mendapat pekerjaan yang meski letih tapi memberikan dia rizki untuk bertahan dan menabung demi sebuah mimpi raksasa yaitu meng-umrohkan ibunya. Dan lain-lain judul cerita yang kesemuanya tak sekali-kali bernada memelas, tembang sedih, drama meraung-raung atau kenestapaan lainnya.

Lalu aku seperti ditinju oleh memori jaman dulu. “seberat-berat mata memandang, lebih berat pundak memikul.”

Kita yang melihat, selalu saja menilai dari kacamata kita. Padahal, kehidupan seseorang itu sangat personal. Dan kebahagiaan itu luarbiasanya hanya bisa muncul dari dalam diri sendiri, bukan dari luar diri. Tidak bahagia dalam pandangan kita, boleh jadi heroik dan suka cita dalam bingkai kacamata orang lain.

Dan untuk sekali lagi, Bapak dan Ibuku benar. Tentu saja, meski kebahagiaan itu personal, tak berarti kita tak bisa memberikan bantuan kepada orang lain, sama sekali bukan. Tapi sebentuk pemahaman harus ada dalam uluran tangan kita. Bahwa kita memberikan bantuan justru semata-mata sebagai sumbangsih nurani yang pada akhirnya akan membahagiakan diri kita sendiri. Bahwa kita sama sekali tidak boleh memvonis kehidupan orang lain tidak bahagia, betapapun dimata kita terlihat nestapa. Bahwa kita haruslah mengerti benar bahwa kebahagiaan itu tumbuh dan lalu menyebar dari dalam jiwa kita sendiri, dari dalam jiwa orang itu sendiri, dan uluran tangan kita apapun bentuknya sama sekali tidak mempengaruhi. Bahwa kita sama sekali tidak boleh memaksa.

Maka benarlah juga orang-orang bijak berkata, setiap orang yang mencoba menemukan kebahagiaan dari luar dirinya, akan selalu mendapati bahwa kebahagiaan itu milik orang lain. Kebahagiaan itu dari dalam diri, bukan dari luar diri, bukan dari uluran tangan, bukan pula dipaksakan.

gambar diambil dari sini

4 thoughts on “Mata Memandang, Pundak Memikul

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s