JEBAKAN-JEBAKAN KERUGIAN

Saya pernah; merasa begitu dekat dengan kematian. Waktu itu sekitar tahun 2000 atau 2001. Malam menjelang dini hari terjadi gempa. Gempa yang besar dan kuat.

Saya sudah pernah merasakan gempa sebelumnya, tapi tidak sebesar itu. Yang saya ingat waktu itu kami seperti dihentak-hentak dan dilempar ke udara, lalu suara gemuruh yang asing. Entah resonansi atap-atap rumah, dinding yang bergetar, bata-bata yang ambruk, atau kerikil-kerakal dan pasir yang ikut terhempas-hempas, yang jelas itu mengerikan.

Kami sekeluarga panik dan berhamburan keluar rumah. Dua kali getaran gempa yang sangat kuat. Gelombang pertama tak berikan kami kesempatan membuka pintu. Saya yang memegang kunci pintu kalau tidak salah ingat. Lubang kunci pada gagang pintu tak kutemukan, getaran gempa menggeser-geser posisi lubang kunci, dan mendistorsi kesadaran kami tentang keseimbangan, walhasil kami terkunci di rumah.

Barulah, setelah gelombang pertama gempa usai, pintu kami buka dan kami menangis berlarian ke lapangan depan rumah. Saat itulah gempa gelombang kedua datang, dan dengan kesadaran penuh kami merasakan kembali ketakutan itu.

Gempa susulan berhenti. Tapi tangis kami masih.

Kami sesenggukan, semua orang mengucap takbir, tasbih, atau merapal doa apapun saja yang mereka bisa. Lalu kami menanti di luar. Tetap di luar rumah sampai matahari pelan-pelan tiba seperti hari-hari yang biasa.

Dalam penantian akan matahari pagi itu, saya ingat, saya duduk pada sebuah puing dinding pagar beton tetangga depan rumah, dan memandang ke arah timur sambil was-was. Kiamatkah ini? Fikir saya waktu itu. Lalu saya baru berhenti ketakutan setelah ternyata pagi itu matahari masih terbit dari timur.

Nah…. Dunia belum kiamat, saya lega.

***

Belakangan ini, saya banyak merenung tentang ilmu. Mulanya adalah istri saya yang protes. Tumpukan buku di dalam rumah sudah semakin mengganggu pemandangan, sedangkan rumah kami kecil dan tak tahu dimana harus diletakkan lagi rak-rak buku.

Saya tersenyum waktu itu, tapi entah kenapa saya tiba-tiba terfikirkan bahwa apakah gunanya tumpukan kata-kata pada buku itu untuk saya?  Memang dari membaca kita menjadi tahu sesuatu, tapi tidak selalu sebanding dengan arti bahwa hal itu “bermanfaat” untuk kita. Sekiranya itu ilmu, bermanfaatkah ilmu itu? Tapi sebenarnya pertanyaan yang lebih tepat lagi ialah sudahkah saya jadikan ilmu itu bermanfaat?

Mungkin ilustrasi ini bisa menjelaskan. Berapa tahun lalu setelah kejadian gempa itu,  ketika saya dan seorang teman kuliah melakukan penelitian di pedalaman Banten, disana terjadi gempa. Maka getaran sedikit saja sudah menyalakan alarm di kesadaran saya; ini gempa, dan membuat saya lebih dulu berlari keluar rumah mencari tanah lapang. Kawan saya ini tadi masih bertanya, apa gerangan yang terjadi barusan?

Kesadaran tentang gempa, telah membuat saya memiliki respon yang lebih cepat dibanding kawan saya itu. Saya menyadarinya lebih dulu berkat “ilmu” dari sesuatu yang dulu pernah saya “baca”.

Mungkin saja, selepas kejadian hari itu, kawan saya itu pula memiliki ‘pengetahuan’ tentang sensasi gempa, dan di kemudian hari itu akan membuatnya lebih awas.

“ilmu” membuat kita menjadi lebih sadar akan sesuatu.

Semestinyalah ilmu berperan begitu; mencahayai kesadaran di dalam diri kita yang tadinya mungkin masih remang-remang. Ilmu itu, semestinyalah bermanfaat!

Tapi, setelah saya fikir-fikir, rupanya ada yang terlepas dari pemahaman yang saya ambil lewat bencana gempa berapa tahun lalu. Yaitu ilmu tentang kematian. Kesadaran akan dekatnya kematian.

Padahal ilmu itu sudah datang, tapi sayalah yang tak bisa menuai manfaatnya.

Saya menjadi begitu awas dengan kegempaan, tapi tidak lagi awas dengan sensasi ketakutan akan kematian.

Padahal saya ingat sekali waktu dulu itu, bagaimana kami semua bertakbir dan lalu menyebut-nyebut Tuhan pada setiap harinya. Sampai kira-kira seminggu lebih usai gempa itu. Rumah-rumah rubuh –alhamdulillah rumah saya tidak begitu parah-. Pada sebagian daerah; jalanan terbelah oleh patahan-patahan yang menganga dan bisa dilihat dalamnya. Rumah sakit penuh. Dan setiap berita simpang siur akan gempa susulan seakan mengingatkan kami lagi akan kepastian kematian.

Herannya sekarang begitu mudah terlupa? Bahkan seingatku bertahun-tahun setelah itu keseharianku seperti menyentuh titik nadir kealpaan pada Tuhan. Kenapa “ilmu” setelah datang menjadi tak bermanfaat? atau ilmu setelah datang gagal saya tuai manfaatnya?

Cerita seorang teman ini, menarik untuk disimak. Perhatikan bagaimana saya melakukan kesalahan dalam “menterjemahkan” makna cerita ini.

Dua buah desa dibelah oleh sebuah sungai nan lebar lagi deras. Satu-satunya penghubung dua desa itu ialah jembatan kayu. Suatu malam; hujan deras menyapu jembatan itu dengan banjir. Paginya orang-orang berkumpul di tepi sungai, tak dapat menyeberang.

Seorang ahli Geology lalu mengkritik pembangun jembatan yang begitu bodoh menempatkan pondasi pada batuan yang rapuh. Ada pula ahli konstruksi yang mengkritik struktur bangunan yang tak kokoh. Seorang politikus lalu ikut bicara dengan memaki petinggi desa yang diduga korup dan menyelewengkan dana pembangunan jembatan yang mestinya bisa jadi lebih kuat. Semua lalu berceloteh dan memaki. 

Di belakang kerumunan ada seorang tukang kayu, tak paham dia akan apa yang orang-orang ributkan. Lalu dia mengambil kampak dari ranselnya, dan menebang sebuah kayu besar di pinggir sungai. Tanpa banyak bicara dia melintangkannya sebagai jembatan darurat. Lalu semua orang bisa menyeberang.

Cerita yang indah. Bertahun-tahun saya menikmati cerita ini sebagai pengajar budi pekerti bahwa tak usahlah banyak celoteh, bekerja saja! Tapi baru pagi ini tiba-tiba saya terhenyak.

Tidak…ternyata cerita ini tak semata itu. Cerita ini mengajarkan kita akan perlambang ilmu-ilmu yang ada pada kepala-kepala manusia, tapi ilmu itu tak berguna. Atau mereka gagal menjadikannya berguna! Lihatlah…lihat!!

Bertahun-tahun saya menggeluti Geology pada perkuliahan, dan paham benar akan tumbukan dua lempeng di pesisir barat sumatera yang rawan memicu gempa-gempa tektonik….tapi tak memicu ketundukan saya pada Tuhan?

Macam-macam artikel pengeboran saya baca dan menjadi tahu tentang dunia perminyakan, tapi lalu tak diterapkan, tak diajarkan?

Bertumpuk buku-buku agama dan fikih kita baca lalu kita tumbuh dan berkembang alih-alih toleran tapi menjadi orang yang merasa tahu segalanya?

Ada yang salah pada diri saya. Ilmu-ilmu yang tak bermanfaat, adalah semisal kata-kata yang memenuhi kepala saja. Lalu hilang bersama dengan hilangnya usia kita.

Sudahlah kita belajar segala hal yang tidak aplikatif dalam kehidupan sehari-hari, lalu tidak pula kita ajarkan kepada orang lain. Semisal hardisk, otak kita full. Dan di penghujung hari tidak bernilai. Bangkrut sekali.

Saya lihat lagi buku-buku di rak itu. Jebakan-jebakan kerugian ada di sana. Pada tumpukan kata-kata yang tak bermanfaat. Atau pada kata-kata yang kita sudah “baca” lalu tak kita sebarkan sebagai manfaat.

Saya gelisah pagi ini, karna tiba-tiba sadar bahwa membaca yang tak bermanfaat, atau gagal menuai manfaat, sama-sama celakanya.

 

 

*) gambar saya pinjam dari sini

YANG BERISI PASTI MENUNDUK

Alkisah suatu hari dalam majelis ilmu, ibnu sina melontar pertanyaan pada gurunya. Pertanyaan itu sangatlah tinggi, memang beliau dikenal cerdas dan luas wawasannya. Tapi rupanya pertanyaan itu mengandung arogansi.

Seorang murid senior dalam majelis itu lalu berkata pada ibnu sina, “diamlah kau wahai putra Sina, perbaiki dulu adabmu! Nanti aku yang akan menjawab pertanyaanmu, tidak perlu guru.”

Jawaban murid senior tadi menohok kesadaran ibnu sina. Adalah adab, yang harus dibawa serta menyertai pengembaraan kitaakan ilmu-ilmu. Adab sebelum ilmu. Adab sebelum ilmu. Mungkin adablah pula, yang membuat padi merunduk setelah dia memiliki isi.

Kejadian ini, pernah juga saya dengar berulang pada masa kini. Di sebuah pelataran masjid dibandung, rerumputan hijau dinaungi besar dan rindang pohon beringin, sekelompok orang sedang mengkaji ilmu beladiri. Kungfu muslim thifan po khan.

Seorang murid nan terkenal karna ketekunannya berlatih; datang dari jauh tempat lalu menantang sang guru yang mengajar di pelataran masjid.

Dengan sopan sang guru menampik tantangan itu. Tapi murid nan pongah itu tak puas, tetap dia memaksa sampai guru tersebut melayaninya dalam sebuah sparing yang ringan. Berapa menit saja sparing itu berlangsung, lalu sang guru menghentikan karna dirasa cukup.

Tampaknya murid tadi belum merasa puas sampai tersebut gelar; menang-kalah. Maka dia menantang perkelahian serius.

Dengan sopan sang guru mengatakan tak usahlah bertanding, sang murid tak mungkin menang. Lalu murid tadi terbakar emosinya, dan perkelahian tak terelakkan.

Hasil akhirnya persis seperti hikayat dalam cerita-cerita jaman dulu. Murid itu kalah dengan kepongahannya sendiri, dan berakhir dalam berapa detik saja tergeletak di tanah dengan kesadaran yang hilang akibat sebuah hantaman nan secepat kilat bersarang di pelipis matanya. Hari itu sang guru menyadarkan kitasemua tentang adab.

Murid itu “merunduk”, tapi tak ibarat padi yang penuh isi, dia kosong dengan tangkai yang patah.

Adab sebelum ilmu. Adab sebelum ilmu.

Saya pula, pernah mengalami masa-masa itu. Di SMA dulu, pernah suatu ketika saya panjang kata berdebat menentang Bapak. Di rumah menjadi arena pertarungan kata-kata. Sepotong ilmu yang saya dapat membuat saya merasa superior dibanding wawasan orang tua yang saya rasa tertinggal.

Di sekolah juga begitu, berbekal satu buah buku harun yahya tentang keruntuhan teori evolusi,  kami mendebat panjang guru biologi nan lemah lembut. Sampai guru itu mengajarkan sebuah pemahaman yang saya ingat persis. “Jika kalian tak setuju sebuah pendapat, jangan bersikeras tak mempelajarinya. Pelajarilah sebagai sebuah wacana, yang memperluas wawasan kita, meski kitaberseberangan dengannya”.

Tak ada yang memenangkan pertarungan-pertarungan semacam itu, tapi ada yang terluka. Adab di diri saya. Dan baru sekarang-sekarang ini saya menyadari betapa pentingnya adab.

Dalam dunia pengeboran minyak, dunia yang saya geluti sekarang pun kejadian seperti ini lumrah.

Suatu kali, seorang junior juara kelas pada masa pelatihan diberangkatkan pada sebuah anjungan pengeboran. Disana dia menimba ilmu dari seorang senior yang memang bukan juara kelas setingkat dia.

Seperti tabiat orang-orang cerdas pada umumnya, dia skeptis. Dia mempertanyakan segala sesuatunya, membantah segala sesuatunya. Seperti sebuah thesis ilmiah, kebanyakan dimulakan dengan hipotesa yang skeptis. Begitu selalu.

Sang senior rupanya tak lama kemudian memahami arogansi juniornya. Lalu dia berkata, sebuah perkataan yang saya ingat juga sampai sekarang.

“Saya,” katanya “boleh jadi kalah pintar dibanding kamu, tapi saya lebih bisa bekerja daripada kamu.”

Singkat dan menohok.  Lagi-lagi adab. Padahal dalam dunia ini segalanya tak lepas dari adab.

Interaksi kita pada orang tua sebenarnyalah perkara adab-adab. Interaksi kita dengan istri atau suami kita adalah adab-adab. Interaksi pada sesama, jua perkara adab. Interaksi kita dengan guru, pun perkara adab.

Ilmu yang banyak yang tidak membuat kita runduk tapi semakin dongak, ialah kecelakaan yang pada gilirannya nanti akan memaksa kitarunduk juga. Kerundukan yang bukan disebabkan kebernasan isi, tapi kerundukan paksa yang disebabkan patahnya tangkai-tangkai adab kita. Dan percayalah itu menyakitkan.

Berapa orang guru kita anggap tersesat jalannya karna berseberangan dengan pemikiran kita yang baru membaca satu dua buku? Berapa kali kita mendebat guru kita yang menurut kita tidak efektif caranya, tidak efisien pengajarannya?

Dan saya termasuk orang yang telat menyadari, bahwa keberkahan suatu ilmu bukan semata perkara kita semakin mengerti saja. Ilmu adalah air yang mengisi ceruk-ceruk di kepala kita. Sedangkan adab adalah air yang mengisi ceruk batin kita. Ilmu tanpa adab akan membuat kita arogan. Kita timpang.

Lihatlah orang tua kita. Kita yang seringkali mendebat dia, seringkali pula lalu harus terdiam. Karna betapapun benar argumen kita, “semesta” lebih berpihak pada mereka. Atas keutamaan mereka sebagai orang tua, dan atas kesembronoan kita melupakan adab.

Maka apa yang mereka wanti-wanti sering menjelma kenyataan. Apa yang mereka khawatirkan sering menjelma kejadian. Betapapun tidak argumentatifnya pendapat mereka. Itulah yang saya sekarang sadari harus benar-benar hati-hati. Adab. Adab.

Orang tua kita. Guru kita. Berada pada posisi yang lebih makbul doanya daripada kita. Luka hati mereka mungkin menghilangkan berkah dari hidup kita. Saat menulis tulisan ini, saya mendoakan mereka dan meminta maaf atas setiap kata-kata yang tajam dan menorehkan luka.

Pula untuk istri saya, untuk sahabat-sahabat saya, untuk para guru saya, dan untuk orang tua saya. Maafkan.

Dan sekali lagi saya ingin mengetuk pintu ilmu dengan ketukan adab yang santun. Sebagai murid semestinyalah kita berkhidmat dengan sebaik-baik penghormatan. Dan bila suatu kali nanti kita menjadi “guru”, maka kitapula harus berkhidmat, agar dalam setiap kata yang terlontar dari ridho atau tidak ridhonya kita; ialah kebaikan saja.

Kata orang-orang dulu, jika padi itu berisi; dia pasti merunduk.

 

 

*) cerita ibnu sina saya dapat dari ceramah Salim A Fillah
*) kisah lainnya saya dengar dari kawan sesama engineer
*) gambar dipinjam dari sini