YANG BERISI PASTI MENUNDUK

Alkisah suatu hari dalam majelis ilmu, ibnu sina melontar pertanyaan pada gurunya. Pertanyaan itu sangatlah tinggi, memang beliau dikenal cerdas dan luas wawasannya. Tapi rupanya pertanyaan itu mengandung arogansi.

Seorang murid senior dalam majelis itu lalu berkata pada ibnu sina, “diamlah kau wahai putra Sina, perbaiki dulu adabmu! Nanti aku yang akan menjawab pertanyaanmu, tidak perlu guru.”

Jawaban murid senior tadi menohok kesadaran ibnu sina. Adalah adab, yang harus dibawa serta menyertai pengembaraan kitaakan ilmu-ilmu. Adab sebelum ilmu. Adab sebelum ilmu. Mungkin adablah pula, yang membuat padi merunduk setelah dia memiliki isi.

Kejadian ini, pernah juga saya dengar berulang pada masa kini. Di sebuah pelataran masjid dibandung, rerumputan hijau dinaungi besar dan rindang pohon beringin, sekelompok orang sedang mengkaji ilmu beladiri. Kungfu muslim thifan po khan.

Seorang murid nan terkenal karna ketekunannya berlatih; datang dari jauh tempat lalu menantang sang guru yang mengajar di pelataran masjid.

Dengan sopan sang guru menampik tantangan itu. Tapi murid nan pongah itu tak puas, tetap dia memaksa sampai guru tersebut melayaninya dalam sebuah sparing yang ringan. Berapa menit saja sparing itu berlangsung, lalu sang guru menghentikan karna dirasa cukup.

Tampaknya murid tadi belum merasa puas sampai tersebut gelar; menang-kalah. Maka dia menantang perkelahian serius.

Dengan sopan sang guru mengatakan tak usahlah bertanding, sang murid tak mungkin menang. Lalu murid tadi terbakar emosinya, dan perkelahian tak terelakkan.

Hasil akhirnya persis seperti hikayat dalam cerita-cerita jaman dulu. Murid itu kalah dengan kepongahannya sendiri, dan berakhir dalam berapa detik saja tergeletak di tanah dengan kesadaran yang hilang akibat sebuah hantaman nan secepat kilat bersarang di pelipis matanya. Hari itu sang guru menyadarkan kitasemua tentang adab.

Murid itu “merunduk”, tapi tak ibarat padi yang penuh isi, dia kosong dengan tangkai yang patah.

Adab sebelum ilmu. Adab sebelum ilmu.

Saya pula, pernah mengalami masa-masa itu. Di SMA dulu, pernah suatu ketika saya panjang kata berdebat menentang Bapak. Di rumah menjadi arena pertarungan kata-kata. Sepotong ilmu yang saya dapat membuat saya merasa superior dibanding wawasan orang tua yang saya rasa tertinggal.

Di sekolah juga begitu, berbekal satu buah buku harun yahya tentang keruntuhan teori evolusi,  kami mendebat panjang guru biologi nan lemah lembut. Sampai guru itu mengajarkan sebuah pemahaman yang saya ingat persis. “Jika kalian tak setuju sebuah pendapat, jangan bersikeras tak mempelajarinya. Pelajarilah sebagai sebuah wacana, yang memperluas wawasan kita, meski kitaberseberangan dengannya”.

Tak ada yang memenangkan pertarungan-pertarungan semacam itu, tapi ada yang terluka. Adab di diri saya. Dan baru sekarang-sekarang ini saya menyadari betapa pentingnya adab.

Dalam dunia pengeboran minyak, dunia yang saya geluti sekarang pun kejadian seperti ini lumrah.

Suatu kali, seorang junior juara kelas pada masa pelatihan diberangkatkan pada sebuah anjungan pengeboran. Disana dia menimba ilmu dari seorang senior yang memang bukan juara kelas setingkat dia.

Seperti tabiat orang-orang cerdas pada umumnya, dia skeptis. Dia mempertanyakan segala sesuatunya, membantah segala sesuatunya. Seperti sebuah thesis ilmiah, kebanyakan dimulakan dengan hipotesa yang skeptis. Begitu selalu.

Sang senior rupanya tak lama kemudian memahami arogansi juniornya. Lalu dia berkata, sebuah perkataan yang saya ingat juga sampai sekarang.

“Saya,” katanya “boleh jadi kalah pintar dibanding kamu, tapi saya lebih bisa bekerja daripada kamu.”

Singkat dan menohok.  Lagi-lagi adab. Padahal dalam dunia ini segalanya tak lepas dari adab.

Interaksi kita pada orang tua sebenarnyalah perkara adab-adab. Interaksi kita dengan istri atau suami kita adalah adab-adab. Interaksi pada sesama, jua perkara adab. Interaksi kita dengan guru, pun perkara adab.

Ilmu yang banyak yang tidak membuat kita runduk tapi semakin dongak, ialah kecelakaan yang pada gilirannya nanti akan memaksa kitarunduk juga. Kerundukan yang bukan disebabkan kebernasan isi, tapi kerundukan paksa yang disebabkan patahnya tangkai-tangkai adab kita. Dan percayalah itu menyakitkan.

Berapa orang guru kita anggap tersesat jalannya karna berseberangan dengan pemikiran kita yang baru membaca satu dua buku? Berapa kali kita mendebat guru kita yang menurut kita tidak efektif caranya, tidak efisien pengajarannya?

Dan saya termasuk orang yang telat menyadari, bahwa keberkahan suatu ilmu bukan semata perkara kita semakin mengerti saja. Ilmu adalah air yang mengisi ceruk-ceruk di kepala kita. Sedangkan adab adalah air yang mengisi ceruk batin kita. Ilmu tanpa adab akan membuat kita arogan. Kita timpang.

Lihatlah orang tua kita. Kita yang seringkali mendebat dia, seringkali pula lalu harus terdiam. Karna betapapun benar argumen kita, “semesta” lebih berpihak pada mereka. Atas keutamaan mereka sebagai orang tua, dan atas kesembronoan kita melupakan adab.

Maka apa yang mereka wanti-wanti sering menjelma kenyataan. Apa yang mereka khawatirkan sering menjelma kejadian. Betapapun tidak argumentatifnya pendapat mereka. Itulah yang saya sekarang sadari harus benar-benar hati-hati. Adab. Adab.

Orang tua kita. Guru kita. Berada pada posisi yang lebih makbul doanya daripada kita. Luka hati mereka mungkin menghilangkan berkah dari hidup kita. Saat menulis tulisan ini, saya mendoakan mereka dan meminta maaf atas setiap kata-kata yang tajam dan menorehkan luka.

Pula untuk istri saya, untuk sahabat-sahabat saya, untuk para guru saya, dan untuk orang tua saya. Maafkan.

Dan sekali lagi saya ingin mengetuk pintu ilmu dengan ketukan adab yang santun. Sebagai murid semestinyalah kita berkhidmat dengan sebaik-baik penghormatan. Dan bila suatu kali nanti kita menjadi “guru”, maka kitapula harus berkhidmat, agar dalam setiap kata yang terlontar dari ridho atau tidak ridhonya kita; ialah kebaikan saja.

Kata orang-orang dulu, jika padi itu berisi; dia pasti merunduk.

 

 

*) cerita ibnu sina saya dapat dari ceramah Salim A Fillah
*) kisah lainnya saya dengar dari kawan sesama engineer
*) gambar dipinjam dari sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s