DEBU, DAUN, DAN KUPU-KUPU

Berapa lama, hikmah dari suatu kejadian baru bisa kita fahami? Sebagian orang -dan saya termasuk dalam bagian ini- membutuhkan rentang waktu yang panjang, penantian yang lama. Barulah, pada akhirnya nanti, saya mengerti hikmah kejadian yang saya alami. Ada orang-orang yang lebih ‘berilmu’ lagi, disingkapkan kepada mereka oleh Tuhan, hikmah dari sebuah kejadian, lebih cepat dari orang-orang awam seperti kita.

Mulanya saya tergerak lagi menulis ini karena ada sebuah teori yang saya sedikit sekali bisa jelaskan. “The Butterfly Effect”, nama teori itu kata para ilmuwan nan pintar.

Saya teringat dengan wacana ini, karena tiba-tiba saya berfikir kembali tentang hikmah-hikmah suatu perkara. Mudah-mudahan saya bisa menguraikannya. Beginilah singkatnya teori ini berkata:

Ilmuwan yang pintar-pintar, telah melakukan sebuah perhitungan nan rumit, persamaan diferensial non linear (saya tidak paham maksudnya apa), yang panjang dan berjalin-jalin, yang mengerucut pada suatu simpulan mengagumkan, bahwa misalnya sebuah perhitungan dimulai dengan angka “dua”. Dilewatkanlah angka itu pada berentet-rentet mekanisme perhitungan yang akhir dari persamaan yang sedemikian panjangnya itu menghasilkan suatu nilai.

Lalu kita mulai lagi perhitungan itu dari awal dengan nilai yang kecil sekali perbedaannya, misalnya “2.0000001” dan dimasukkan nilai itu dalam ratusan rentet perhitungan, maka hasil akhirnya sama sekali berbeda dengan hitungan sebelumnya. Betapapun akal sehat kita menyatakan apatah artinya nilai nol koma nol nol nol nol nol satu? Tapi ternyata berpengaruh. Dalam perhitungan panjang dan implikasi yang berjejaring tak karuan, sangat berpengaruh.

Sampai disini, saya tertegun. Tapi yang lebih membuat kaget lagi adalah penyederhanaan hitungan ini dalam sebuah kalimat yang lebih mudah dicerna oleh kita, begini kata para ahli tadi; kesimpulan dari perhitungan itu, bila dibahasakan dalam sebuah kalimat yang lebih renyah adalah: ‘kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil misalnya, merupakan sebuah variabel penting  tak bisa diabaikan yang turut pula menentukan apakah berapa bulan kemudian di Texas akan terjadi tornado atau tidak?’

Mengagumkan memang. Sebegitukah? tanya saya pada diri sendiri.

Saya lalu berandai-andai. Dalam kasus saya, tepat berapa bulan setelah kelulusan sekitar lima tahun lalu, saya diterima bekerja pada sebuah perusahaan Service Migas yang sampai sekarang saya geluti. Kenapa bisa begitu? karena pembukaan lowongan pekerjaan perusahaan ini Bertepatan berapa hari setelah kelulusan saya.

Seandainya saja dosen pembimbing saya memundurkan bimbingan satu hari saja, mungkin saya tidak dapat lulus pada waktu itu, maka mungkin saya tidak akan bekerja di sini.

Saya melanjutkan dramatisasi ini, kenapa dosen pembimbing yang sedianya selalu telat tapi hari itu tiba-tiba datang lebih cepat? mungkin tadi pagi setelah berjalan dari rumah, dia sakit perut tak tertahan, lalu memaksa supirnya untuk tiba di kampus lebih cepat dari biasa.

Bagaimana dia bisa sakit perut? Mungkin saja malam hari sebelumnya dia makan tahu goreng isi yang begitu menggoda, buatan istrinya, dilambari pula dengan cabe rawit yang demikian pedas, diambil dari belakang rumahnya.

Darimana cabe rawit itu? mungkin dari biji cabe yang dengan sembarangan dilempar oleh pembantunya ke belakan rumah, lalu Tuhan perkenankan tumbuh dan kemudian dia makan.

Kalau begini ceritanya, sebiji cabe saja memengaruhi hidup seorang mahasiswa.

Memang cerita ini dramatisasi, saya tahu betul itu. Tapi dengan mengarang beginilah maka saya semakin yakin, bahwa sekecil apapun perbuatan kita, semua akan memiliki implikasi yang panjang.

Dalam ranah pengetahuan maka kepak sayap kupu-kupu saja menjadi salah satu variable yang penting tak bisa diabaikan dalam perkiraan kedatangan tornado, maka dalam alam khayal saya, biji cabe pun menjadi penentu jua kelulusan saya, hidup saya kedepannya, dan lain-lain yang ilmu kita tak mungkin sampai.

Orang boleh saja, mendebat teori efek kupu-kupu itu, tapi saya lebih memilih memaknainya begini. Susah-senang, Sembuh-Luka, Sempit-Lapang, sebenarnya bergilir-gilir saja dalam kehidupan kita. Karena kita berada dalam jejaring aksi reaksi yang demikian kompleks dan memengaruhi satu sama lainnya.

Kalau segala hal kecil saja, kepak sayap serangga, dedaunan jatuh, memiliki guna, dalam jejaring implikasi-implikasi yang luas. Maka apakah saya layak memvonis ‘tidak baik’ untuk sesuatu yang saya alami sekarang? lalu memaksa Tuhan untuk merubah seperti yang saya mau. Padahal apatah baik itu? baik sekarang dimata kita, apa implikasinya bertahun-tahun kedepan? masihkah baik? Padahal pula dunia ini tidak berpusat di saya saja. Ada rekan-rekan yang lain. Ada orang-orang di belahan dunia sana. Ada alam semesta. Dan setiap apapun ada implikasi. Dan tidak sekecil apapun hal dalam jejaring implikasi yang rumit itu, yang Tuhan abaikan. Tidak…Tidak sama sekali.

Tapi itulah sisi lemah kita sebagai manusia. Di situlah kita harus bersangka yang baik. Hikmah….hikmah…. semua sudah tertata, sudah rapih, ada implikasi-implikasi kebaikan yang kita tidak tahu.

seperti cerita ini, saya baca pertama kali dari sebuah buku cerita SD, sayang saya tak bisa kutipkan judulnya, tak sama tepat perbincangan mereka, tapi maknanya kurang lebih serupa. Adalah sunan Bonang -mudah-mudahan benar- bersama muridnya usai makan siang. Ada sebutir nasi menempel pada bibir sang murid, ditegurlah oleh sang sunan. Murid tadi kemudian membuang nasi itu ke tanah.

“Apa yang kau lakukan, itu mubazir” kata sang guru.

“Bagaimana mungkin mubazir, guru?” jawab murid, “nasi itu cuma sebutir, kelak nasi itu akan berguna untuk semut, ulat, dan sebagainya”.

Sang guru menjawab, “Bukan itu maksudku, apakah tadi kau membuang nasi itu dengan niat?”

Sang murid tertegun. Cerita berikutnya adalah sang guru menekankan betapa pentingnya niat, penanaman kesadaran dalam setiap perilaku kita, apa saja. Karena kita tak pernah paham implikasi perbuatan kita apa, maka melambarinya dengan niat adalah demikian utama.

Dulu sekali, saya bingung memikirkan dimana letaknya usaha kita? Bila sekecil apapun bahkan batuk saja ada implikasinya, dan kita tak pernah tahu implikasi itu dalam rentang aksi reaksi yang pusing dan lama, apakah baik untuk kita apakah buruk nantinya? Baru sekarang-sekarang saya agak-agak memahaminya.

itulah Ikhlas yang diajarkan para guru-guru kita. Menanamkan sekeping kesadaran dalam otak kita, bahwa semua yang kita lakukan itu semata murni mencari ridhoNya. Tidak ada yang lain.

Karna usaha kita bila dilemparkan pada hasil-hasil kasat mata di dunia saja, belum tentu baik. Kaya sekarang belum tentu baik, bagaimana puluhan tahun kedepan? apa implikasi dari berlimpahnya uang kita? miskin sekarang pun belum tentu baik, apa implikasi kemiskinan kita? Tapi bila kita sudah menjuduli segalanya dengan penghibaan akan ridho Tuhan, mudah-mudahan segala rasa yang ada di dunia hanya kulitnya saja. Baik semata.

Di sebaliknya, ada hikmah. Hikmah inilah yang nantinya membuat kita lebih tenang. Mungkin kita mesti berusaha memendekkan, mesti mempercepat hikmah itu masuk dalam kesadaran kita. Kalau dulu, suatu kejadian baru bisa kita syukuri, atau kita ketahui kebaikan di sebaliknya setelah bertahun-tahun waktu terlewat, mudah-mudahan sekarang dalam hitungan bulan kita bisa paham.

Dan dalam perjalanan mencari hikmah itu, moga-moga tidak ketelikung pula kita di jalanan panjang pencarian. Bahwa hikmah pula adalah fadhilah, adalah bonus-bonus dari upaya kita, bukan yang dituju.

Maka, tak mengerti maksud di sebalik sebuah kejadian pada saat ini, bukanlah suatu cela. Selama di hati kita terpancang satu keyakinan yang kokoh bahwa tidak sebutir debu diangkat angin, tidak sehelai daun jatuh gugur ke tanah, tidak satu kepak sayap serangga, berjalan tanpa guna, dan kita percaya di sebalik semua itu ada hikmah yang pasti luar biasa.

 

*) gambar diambil dari google images di sini
*) cerita sunan, saya ingat pernah baca di buku dongeng SD. boleh jadi tidak akurat, kalau ada yang ingat, tolong tambahi, ya
Iklan

TUJUH PULUH RIBU PINTA

Tak dibayarkan uang 70 ribu itu, maka anaknya tak bisa lanjut sekolah. Sedihlah seorang ayah itu. Terbayang nasib anaknya yang belum dibayarkan uang sekolahnya, apa mungkin memang sudah takdirnya begitu? Anak seorang tukang asongan, tak akan jauh dari orangtuanya. Mengingat bayangan-bayangan itu, dia hampir saja putus asa, kalaulah istrinya tidak tiba-tiba saja menyeletuk.

“Jangan menyerah dulu Pak, minta saja sama Tuhan, nanti ada jalannya.” Kata istrinya waktu itu.

Tiba-tiba, kata-kata ringkas dari istrinya itu seperti sangat benar. Mungkin istrinya menyampaikan pada suatu kala yang betul-betul diri suaminya itu menerima segala bentuk masukan. Mungkin seperti sedikit tambahan tenaga harapan waktu dia merasa segalanya sudah suram dan kusut masai. Ah…masih ada harapan, masih ada.

Lalu dia kembali lagi bertekad. Ambil wudhu, lalu sholat. Di dalam sholatnya itu dia berdoa khusyuk kepada Tuhan, meminta tujuh puluh ribu rupiah, itu saja, tak ada yang lain.

Keesokan harinya, sang Ayah tadi, dia berdagang lagi. Kalau tidak salah ingat, dia berdagang asongan di seputaran Setasiun Gambir, Jakarta. Subuh sebelum berangkat, dia berdoa khusyuk. Doanya masih sama, dia minta tujuh puluh ribu rupiah.

Tapi hari itu rupanya tidak terlalu ramah kepada dia. Jangankan tujuh puluh ribu, dia belum mendapatkan satu orang jua pembeli. Tak ada pembeli.

Rupanya, saking pilunya hatinya mengingat anak di rumah, Ayah sang anak yang berhajat uang tuk membayar sekolah ini tadi, kecewa. Sakit hatinya. Lalu terucaplah di dalam batinnya, kalau sampai Zuhur ini nanti tak juga dia dapatkan pembeli, untuk apa dia sholat? Selama ini tidak rajin sholat saja mendapat pembeli, sekarang sholat lebih rajin malah sepi pembeli.

Terbawalah dia, akan hati yang sedang sempit. Dia berujar, kalau begitu dia tidak akan lagi sholat lima kali sehari. Cukup dua kali saja, seperti dia selama ini. Pagi sekali dan malam hari sekali.

Lalu matahari panas siang menunjukkan waktu zuhur. Siang-siang membakar itu, di sela-sela letih dan pilunya, di tengah hiruk pikuk suasana stasiun, azan Zuhur menggema. Entah bagaimana, tiba-tiba hatinya terasa sendu dan tersentuh. Tak jadi dia membangkang, tak jadi dia merajuk.

Lalu dia pergi berwudhu dan sholat, di dalam sholat itu dia berdoa dengan mata yang sembab. Doa yang berbeda dari doa-doa sebelumnya. Katanya di dalam doa “ya Tuhan,  masalah tujuh puluh ribu yang tadi, lupakan saja…. Tapi ini dari tadi tak satu jua ada pembeli” Isaknya, serak. Begitu polos doanya. Begitu bening air matanya.

Selepas ashar, dia berjualan lagi. Dihampirilah dia oleh seorang pemuda. Pemuda itu membeli permen. Tetapi uang yang diberikan terlalu besar, seratus ribu.

“Wah… saya ga punya kembalinya, mas.” Kata pedagang asongan itu tadi. Dari pagi dia memang tak mendapat apa-apa.

“Ya sudah pak, uangnya untuk Bapak saja lah.” Kata pemuda itu.

Selanjutnya pedagang asongan tadi sontak menangis. Entah apa yang dia fikirkan kala itu. Keajaiban doa? anak dirumah?Tapi yang jelas saya juga ikut menyeka air mata sewaktu pertama kali saya dengar cerita ini.

Pada sudut-sudut kelopak mata ini, ada yang basah. Bukan karena pada akhirnya sang Ayah ini tadi mendapatkan lebih dari apa yang dia doakan. Bukan tersebab ajaibnya cara kerja pengabulan doa oleh Tuhan. Tapi saya terharu pada potongan doanya di ashar itu. “Tuhan,  mengenai yang tujuh puluh ribu tadi, lupakan saja.” Betapa jujur, betapa menghamba. Saya tak kuasa menahan haru.

Seandainya saja -seandainya- kisah ini tidak diakhiri dengan sebuah kenyataan bahwa beliau mendapatkan lebih dari apa yang dia hajatkan, misalnya saja doanya tetap tak terkabul. Saya merasa kisah ini tetap happy ending, dengan kala di sebuah sore yang hiruk pikuk, dia menyimpuhkan diri dalam sebuah pengakuan yang polos, jujur dan jernih. Lupakan saja mengenai nominal uang yang dia pinta itu, Tuhan, katanya.

Mungkin, kala itu, dia sudah mendapatkan sebuah kesadaran yang bersih. Bahwa meminta dan mendoa itu adalah sebenarnya berbincang-bincang santun kepada Tuhan. Dan Yang Maha Mendengar itu lebih paham dari segala narasi kita, yang sopan atau tak sopan tentang apa yang sebenar-benarnya kita butuhkan.

Dan mengingat, sebuah kesadaran indah seperti itu, didapatkan oleh seorang pedagang asongan yang baru berapa menit lalu kesal dan merasa Tuhan tak adil, lalu tiba-tiba luruh dan tunduk kala azan ashar berkumandang, saya semakin haru. Betapa jauh kita dari orang-orang seperti mereka.

Pemahaman hati yang seperti itu sungguh langka, mungkin anugerah tak terkira-kira. Dia bisa datang lewat jalur ilmu, dia bisa datang lewat perkara sehari-hari, bisa juga datang dengan serta merta saja sekehendak Tuhan. Tapi di atas segala sebab, kitaharus memohon rahmatNya yang maha luas.

Kita bisa saja berseloroh bahwa kita paham sekali mengenai ‘Doa itu sebenarnya adalah menyeru’, adalah tidak semata-mata mengajukan list proposal yang mesti di ACC  Tuhan. Tapi dalam tataran mentalitas, bisakah kitabenar-benar merasakan suatu yang sejuk di dalam sini, di dada ini, meski masalah dunia membebat-bebat kita, merajam-rajam diri? Bisakah kita tetap syahdu dan santun menghamba dalam kesabaran dan pinta? Betapa sulit.

Teringat saya dengan anak di rumah, dengan istri di rumah. Dengan orang tua dan adik-adik. Betapa ingin dalam lingkaran kehidupan kita penuh dengan aura kesadaran dan kedekatan kepada Tuhan. Cukuplah itu rasanya. Tapi apalah daya kita menghantarkan segala kebaikan-kebaikan? Sedang betapa hidup kita dipenuhi dengan segala macam variabel yang lebih banyak yang tak terukur dibanding yang terukur. Lebih banyak yang di luar kuasa kita ketimbang yang bisa kita usahakan. Sedang kebersamaan kita dengan mereka tak setiap waktu. Sedang kemampuan kita menyusun kata-kata dan mengolah kalimat-kalimat tidak seberapa mumpuni. Sedang halusnya hati kita menampilkan adab-adab perilaku; tidak pula bisa diandalkan. Maka tinggal memohon rahmat Tuhan saja yang bisa kita pinta, setelah usaha-usaha.

Dan di atas segala usaha, ada kehendak Dia yang bisa menggenapkan segalanya. Jangankan membawa gerbong keluarga, kita sendiri pula masih terseok-seok menuju Dia. Masih berbalut-balut dosa.

Mungkin kita harus seperti pedagang asongan tadi, barangkali. Tunduk pasrah setelah segala kesal dan ketidak sabaran kita waktu pagi dan siang hari. Lalu berdoa mumpung senja belum jadi gulita.

“Tuhan… tentang segala pinta dunia kami tadi, lupakan saja. Engkau Ridho saja sudah lebih dari cukup.”

Dan di titik itu kita mestinya sedang menangis…. pasti menangis.

*) cerita ini saya dengar pertama kali dari rekaman ceramah ust. Yusuf Mansur.  (judul rekaman ceramahnya ‘yang menentramkan hati’. Download di sini)
*) gambar saya pinjam dari google images. di sini

MUSAFIR-MUSAFIR DAHAGA

Orangnya sudah sangat tua. Tidak ada yang mengira bahwa dia adalah seorang guru besar Hidro Geologi. Dalam setiap bulannya dia bepergian ke macam-macam negara, tapi pada malam-malam tertentu dalam satu bulan itu, dia akan menyambangi sebuah ruang kelas di tengah hiruk pikuk jalanan Dago Bandung, dan mengajarkan ilmunya kepada kami, para mahasiswa.

Memang, saya dan sebagian besar rekan-rekan di Geology kampus saya, pada akhirnya tidak belajar penuh atau mengambil bimbingan skripsi kepada beliau, karna satu-dua pertimbangan. Keilmuan GeoHidro-pun saya pribadi nyaris tak ada yang ingat. Yang saya ingat dari pertemuan itu malah cerita ini.

Sang ‘Abah’ –begitu kami memanggilnya- pernah berkata pada kami, beliau ingin melanjutkan kuliah lagi.

Kami semua kaget waktu itu. Kuliah lagi? Beliau sudah sepuh! Untuk apa?

“Mau ambil mata kuliah apa, Bah?” tanya kami waktu itu melanjutkan keheranan.

“Hukum”, jawabnya singkat. Kami semakin kaget, maha guru Hydro Geology mengambil S1 hukum dalam umurnya yang sudah se-senior itu?

“Lho, kenapa?” tanyanya mengernyitkan dahi melihat kami melongo, “Abah tidak mengerti hukum, makanya Abah harus kuliah hukum”. Katanya mantap.

Sebagian kami waktu itu menggeleng-geleng kepala saja, mengingat beliau memang orang yang eksentrik. Tapi saya tidak bisa untuk tidak setuju dengan perkataan beliau berikutnya ini.

“Kita mencari ilmu, karena memang kita ingin belajar, ingin tahu. Kalian ini kan sekarang mencari ilmu karna ingin dapat kerja, kan? Nanti, kalau kalian sudah mengerti rasanya menuntut ilmu, kalian akan tahu maksud Abah”.

Waktu itu kami diam saja. Saya waktu itu pura-pura mencatat, padahal fikiran melayang kemana-mana dan berharap semoga kuliah cepat selesai.

Bertahun-tahun kemudian, setelah lulus. Saat menghadiri perkuliahan tinggal jadi kenangan saja. Saat buku-buku sudah tinggal arsip saja. Saya bisa lebih jernih untuk menilai kata-kata beliau dulu. Lalu saya membatin, apakah saya menuntut ilmu bukan karna ingin tercerahkan? Apakah latar pencarian ilmu saya selama ini terlalu “sederhana”? Apakah tidak ada semacam ketergugahan diri, semacam ketertarikan kuat, semacam daya lontar yang betul-betul ingin mengeluarkan saya dari gelapnya keterbelakangan wawasan?

Mungkin, sebuah gejolak hati, sebuah dahaga yang hebat dari para pecandu ilmu, itulah yang mengantarkan Imam Syafii berguru pada Imam Malik, setelah sekian puluh guru sebelumnya dia sambangi dan borong ilmunya. Dan mungkin kitatidak usah lagi bertanya tentang darimana mereka dapat semangat untuk menulis ratusan buku-buku tebal, dengan pena, pada kertas-kertas bekas, pada belulang-belulang, pada malam-malam hari tanpa penerangan lampu pijar atau neon, hanya kerlap-kerlip api pada ceruk dinding.

Gelisah semacam inilah yang saya agak-agak mengerti sekarang. Betapa belajar tok, belajar saja tanpa sebuah tujuan yang besar, tidak cukup. Betapa pemahaman yang dalam dan wawasan yang luas, tidak bisa didapat dengan berpuas-puas diri pada satu sumber saja, tidak cukup. Betapa pula sebuah perjalanan panjang dan sunyi pencarian ilmu tidak akan sampai tanpa didorong oleh kemurnian niat, dan gelisah yang menggeletar-geletar melecut kita untuk lari sekencang dan sejauh mungkin dari kegelapan pemikiran, sempit wawasan, dan dangkalnya ilmu.

Mungkin inilah maksud para bijak. Memang ilmu itu dekat sekali dengan kelelahan. Mencarinya letih, jalannya panjang, bekal kita sedikit, teman seperjalanan boleh dihitung jari. Dan orang lebih sering berhenti sebelum sampai.

Apakah saya berhenti sebelum sampai, ya? Apakah saya teralihkan tujuan pada tengah-tengah perjalanan? Saya mengingat-ingat.

Perangkat-perangkat untuk membaikkan pemahaman memang beragam. Dan keluasan wawasan yang diperoleh dari beragamnya perjalanan, bisa jadi, pada satu titik yang tepat akan memperjelas pemahaman. Tapi tanpa peletakkan prioritas yang benar, bisa jadi malah memburamkan.

Ada cerita menarik, ini tentang kebijakan dari cerita-ceritabeladiri. Saya kutip ini dari sumber yang sebenarnya tidak sahih, sebuah komik. Tersebutlah seorang murid suatu perguruan kung fu ‘tang-lang (belalang sembah)’ -kalau tak salah-, berbadan tinggi besar dan berbakat. Tapi dia tidak pernah puas, terburu-buru. Merasa pengajaran gurunya kurang mumpuni maka dia berpindah perguruan. Macam-macam beladiri dia tekuni, dari yang tradisionil hingga yang modern. Tersiar pula kabar bahwa setelah cukup lama, akhirnya dia disegani dimana-mana.

Suatu hari dia kembali ke perguruan yang lama, dan diperlakukan baik disana oleh para juniornya. Sampai pada sesi latihan, dia tak sabar rasanya untuk mengoreksi ini itu kesalahan para juniornya, dia menantang tanding siapa saja. Setelah mengalahkan berapa orang, dia lalu sesumbar. Sang guru, mantan gurunya, lalu turun tangan dan mengajak dia bertanding. Hasil akhirnya, persis seperti yang kita harapkan dari kisah-kisah komik. Sang murid yang congkak kalah dalam satu pukulan oleh sang guru yang memiliki chi dalam pukulannya.

Benar tidaknya cerita ini, tidak penting. Tapi ada kebenaran dalam petikan kata-kata tokoh guru di komik itu. Katanya, “karena kau tak pernah mempelajari sesuatu sampai dalam, maka kau tak akan pernah menemukan intinya.”

Saya fikir, benar sekali isi komik ini. Saat pencarian ilmu sudah berangkat dari desakan kegelisahan, dari seraknya dahaga, kita tak lama sampai pada kondisi dimana kita menghajatkan segala wacana, segala berita, segala info, segala pelajaran. Lalu rakus sekali memakan apa saja, semua yang terhidang di depan kita. Tanpa tahu kemana sebenarnya kita menuju. Padahal luasnya wawasan tidak selalu sebanding dengan cerahnya fikiran, tetapi pada kesalahan yang kronis bisa memburamkan.

Benarlah seorang teman pernah berkata mengenai konsistensi dan ketekunan, “ibarat tanaman, semakin sering kita pindahkan dari tempatnya, maka akarnya takkan pernah tertancap dalam.”

Tapi benar pula kata-kata yang lain, seperti bonsai, selama kita tak meluaskan diri dan wadah kita, maka selamanya pula kita akan kerdil.

Setelah kegelisahan dan dahaga ilmu, mungkin rasanya memang kita harus belajar ‘dalam’, fokus, dan konsisten. Barulah setelah itu kekayaan wawasan bisa berpengaruh baik untuk kita. Dalam kisah random, yang tak terlalu jauh dari masa kita, sang legenda Bruce Lee patut menjadi contoh. Setelah matang menekuni wing-chun dari maha guru Ip Man, maka dia menambah wawasannya dengan ilmu-ilmu lainnya hingga melegenda. Lepas dari ketangguhan skill-nya, yang menggugah bertahun-tahun adalah wawasannya, fikirannya.

Atau dalam rentang waktu yang lebih jauh lagi, secara random pula kita sangat patut terilhami oleh cerdik pandai ulama-ulama besar jaman dulu yang menguasai bukan main banyaknya cabang ilmu dan bukan main dalamnya.

Dan saat semua perenungan ini menemukan harmoninya, saya rasa kita boleh juga mengucapkan kata-kata dengan mantap, seperti yang diucapkan Abah dulu. “Saya ingin belajar lagi.”

Tinggal kita lihat nanti, siapa yang mengernyitkan dahi.

 *) gambar diambil dari google images, di sini

SUARA-SUARA HIDUP

“Jangan biarkan hidup bergulir terlalu cepat, Dek”, kata seorang tua itu pada rekan saya, “nanti tahu-tahu kita sudah tua lalu mati”.

Kata-kata itu, saya dengar pertama kali dari rekan saya sesama engineer di pengeboran minyak. Seorang Bapak-bapak tua kru pengeboran darat yang berseloroh pada dia.

Awalnya adalah cerita basa-basi saja. Kami, para pekerja lapangan minyak, baik para engineer, kru pengeboran, atau siapa saja yang bertemu muka disana haruslah beramah tamah dan saling mengenalkan diri, kalaulah tidak ingin menghabiskan hitungan hari ke depan dalam selimut sepi. Dan dalam segala macam bentuk perkenalan, pastilah ada kekata klise yang kita lontarkan dengan refleks.

“Jadwal kerjanya berapa-berapa, Pak?”, tanya temanku tadi pada Bapak tua itu.

Pertanyaan jadwal kerja adalah pembuka percakapan yang sangat biasa dan lumrah, untuk para pekerja lapangan migas. Kami bekerja dalam pola yang tidak umum. Sekian minggu terasing di area terpencil, hutan, lautan, teluk, pepasir gurun, lalu sekian minggu libur menikmati kebersamaan dengan keluarga.

“Saya sebulan-sebulan”, jawab Bapak tua itu.

Rekan saya menyahut, betapa enaknya waktu libur jika jadwal sebulan-sebulan tapi betapa lamanya terasa jika di anjungan pengeboran, sedangkan dirinya saja, yang memiliki jadwal dua minggu-dua minggu merasakan betapa libur dirumah begitu tak terasa dan kala kerja begitu panjang menyiksa.

Dan disitulah Bapak tua itu menyampaikan petuahnya. “Jangan biarkan hidup bergulir terlalu cepat, Dek”, kata Bapak tadi, “sudahlah waktu libur kita terasa begitu cepat…lalu waktu kerja pula ingin kita percepat, hidup kita bergulir sudah terlalu melaju, lalu tiba-tiba kita sudah tua dan mati”.

Rekan saya yang bercerita ini, terdiam kala itu. Saya pula sempat terdiam berapa jenak waktu dia menceritakan ulang kisah itu pada saya.

Tapi sebagaimana fithrah manusia, maka tak lama kemudian saya melupakan kisah berhikmah itu. Saya masuk kedalam rutinitas pergi bekerja sekian minggu, libur sekian minggu, kerja lagi sekian minggu. Dalam sela kesibukan itu, saya menelepon rekan saya tadi, “dimana, Bung?”, tanya saya basa-basi.

“Ah…sedang mensetop percepatan hidup”, katanya.

Maka kembali ingatlah saya dengan cerita itu. “Selamat berlibur”, kata saya waktu itu, kepada rekan saya yang sedang membawa tamasya keluarganya di KaliurangJogjakarta.

Hidup memang melaju, ya? Dan rutinitas yang konstan memang bisa “membunuh”. Membunuh kepekaan kita akan keindahan, akan anugerah hidup itu sendiri, akan sebuah makna besar yang dititipkan pada kita, akan kenyataan bahwa seberharga-berharganya manusia adalah yang paling bermanfaat kepada orang lain, yang dengan hati menjalankan apa-apa, yang bukan robot.

Kali yang lain, masih dalam suasana kerja. Saya dan seorang rekan yang jauh lebih muda dari saya, sedang berbincang. Sore itu seperti biasa, senja makin merah, kami ada di sebuah teluk, berapa menit perjalanan dari tepian Balikpapan. Laut berkecipak, dan di dalam speedboat yang sedikit berisik oleh dengung baling-baling kami bertukar cerita.

Rekan saya yang lebih muda tadi menceritakan kisah ini pada saya. Ini kisah nyata, katanya.

Di sebuah negri, tersebutlah seorang pemain biola nan sangat ulung, begitu diagung-agungkan orang akan permainan biolanya yang brilian. Suatu kali dia mengadakan konser besar. Konser yang memenuhi halaman-halaman surat kabar, ditingkahi tepuk-tangan dan riuh rendah orang-orang. Mewah, bercitarasa tinggi, gemerlap.

Seusai konser -atau hari berikutnya saya tidak begitu ingat-, sang pemain biola ini tadi pergilah ke sebuah subway. Tanpa jas-nya, pakaian seadanya, menenteng biola, dan berdiri menyudut pada sebuah jalan yang ramai dilalui lalang orang-orang.

Pelan-pelan dia menggesek biolanya. Suara-suara keluar dan melayang-layang. Permainan yang sama bagusnya dengan yang dia tampilkan di konser. Kesyahduan yang sama mengirisnya. Semuanya sama. Tapi tak ada yang memperhatikan.

Semua orang berlari cepat, berjalan cepat mengejar kereta. Tergopoh-gopoh. Seperti semua membawa beban tak tampak mata pada tiap-tiap pundak mereka. Tapi tak ada yang memperhatikan gesekan biola itu.

Sekali-kali ada pula satu dua orang yang berhenti menyeksamai, lalu pergi lagi setelah meninggalkan kepingan receh pada seorang pemain biola legendaris yang mereka kira pengamen tadi.

Benarlah, fikir violinist itu, rutinitas telah memalingkan orang-orang dari keindahan yang sering mereka temui. Akhir cerita ini adalah satu-satunya yang mengenal permainan biolanya dan dirinya ialah anak kecil, seorang anak kecil yang bersih hatinya.

Dua orang rekan saya, yang menceritakan ulang kisah mereka itu membuat saya tercenung, apakah hidup saya pun sudah sebegitu melajunya? Sedang ahli hikmah berkata bahwa hidup yang terlampau cepat dan membuat kita tak sempat tafakur dan menilai ulang diri, memberi makna hari-hari, adalah kehidupan yang tinggal menunggu waktu saja untuk menjadi sia-sia.

Ah…harus ada yang kita reka ulang dalam keseharian kita. Harus ada yang kita baluri makna-makna. Jika hidup dan keseharian kita ialah bekerja, maka bagaimana bekerja itu memiliki makna yang menembus batas-batas rutinitas. Mungkin dimulai dengan mata yang bening menangkap keindahan sekitar kita. Telinga yang jujur. Ketertarikan menangkap pelajaran-pelajaran seperti anak kecil. Perenungan yang menghadirkan; dalam setiap harinya kebersyukuran diri, kemanfaatan diri.

Mungkin, hanya dengan cara berfikir seperti itu maka hidup kita tidak melaju cepat tak terkendali tanpa arti. Dan bisa memunculkan tunas-tunas kebaikan dalam keadaan bagaimanapun kita.

Kebersamaan dengan keluarga kala di rumah menjelmakan cinta dan kehangatan, menguatkan, lalu kesendirian kala kerja menjadi “pertapaan” membijakkan. Seperti Ibnu Taimiyah yang menuntaskan Majmu’ Fatawa kala di penjara, atau Fi Zhilalil Qur’an yang dituliskan kala di tahanan, atau Tafsir Al Misbah yang diselesaikan Quraisy shihab kala “pengasingan” kerja di mesir, dan semacam itu.

Mudah-mudahan juga, nanti dalam keseharian kita, kita bisa mendengar “gesek biola” indah di sudut-sudut jalan yang lama tak dihiraukan orang, juga bisa memaknai dan mengatakan hal ini dengan penuh kesadaran berbagi kepada orang lain yang membutuhkan… “Jangan biarkan hidupmu bergulir terlalu cepat, Nak”.

 

*) gambar saya ambil dari google images, di sini

MENEMBUS BATAS

Laptopnya hilang. Dini hari, adik saya yang tertua, laki-laki, menemukan kabel charger laptopnya sudah menjuntai-juntai di sisi jendela yang terbuka paksa. Lalu dia kaget dan kantuknya buyar. Saya menebak, kala itu yang pertama ada di fikirannya bukan bagaimana nasib perkuliahan dia dengan laptop yang sudah raib, tetapi apa yang nantinya akan dia katakan kepada Bapak.

Awalnya, Bapak sudah mewanti-wanti. Begitu mendengar rencana adik saya ingin pindah kosan, Bapak dan Ibu saya mempertanyakan. Apakah tempat baru lebih aman? Apakah aksesibilitas ke kampus lebih dekat? Seberapa urgent untuk pindah? Dan semisal-misal pertanyaan yang lain. Yang begitu terbaca bahwa Bapak tidak setuju dengan ide kepindahan itu.

Waktu itu, saya hanya sesekali saja mendengar kabar burung, dari telepon singkat ke adik atau Bapak, atau dari sekali-sekali SMS. Respon spontan saya, hampir mirip dengan adik saya yang kini merantau di Bandung itu, kok pindah kosan saja dibuat sebegitu ribetnya? Tapi belakangan orangtua saya benar, ada yang tak beres dengan kosan baru itu. Belum seminggu, laptop adik pertama saya sudah raib. Dan kala itu pula adik saya harus lagi-lagi mengakui kalau orang tua kami benar.

Begitulah sampai sekarang saya mengenali Bapak. Mungkin karena doa orang tua itu maqbul, maka firasatnya juga tajam. Apa yang beliau khawatirkan sering sekali menjelma kenyataan.

Saya katakan sering, karna beberapa kali pula yang beliau khawatirkan ternyata tak terjadi. Tapi dari segala kekhawatiran yang terjadi atau tak terjadi itu, yang saya saluti adalah ke-tak goyah-an pribadi Bapak. Keteguhan prinsipnya. Determinasinya yang kokoh.

Agak sulit saya menceritakan ini, mengingat besar sekali hambatan psikologis untuk menceritakan Bapak. Beliau adalah orang yang saya hormati, orang tua sekaligus guru dalam hal-hal yang saya setujui dan tak setujui, untuk mata pelajaran yang tak pernah saya temui di kelas, bahkan buku-buku.

Tapi sekarang ini, dalam dunia pekerjaan pengeboran minyak ini, saya menemukan mitra kerja yang dalam keseluruhan tutur pintuturnya, lakunya, dan yang paling penting ialah keteguhan prinsipnya, mirip sekali dengan Bapak.

Dia adalah mitra saya, rekan sejajar saya meski usianya berapa puluh tahun di atas saya. Hampir seperti orang tua saya.

Dagelannya, tiap kali beliau bertemu sebuah masalah dan harus berkonflik dengan manajemen kantor, maka dia akan mengucapkan kekata ini, “kita ini laki-laki, kalau yakin pendapat kita benar, pertahankan!”

Pada detik itulah saya yakin dia serupa tapi tak sama dengan Bapak saya. Lalu saya kembali terpantik untuk menelusur, mencari-cari tahu, bagaimana seseorang bisa memiliki determinasi yang begitu kukuh? Memiliki pendapat yang tidak goyah? Tetap bertahan pada pendapatnya, meski sebegitu banyak kejadian seperti menunjukkan perlawanan atas pilihan sadar yang telah dibuatnya?

Memilih keputusan, adalah satu hal yang lumrah, tapi memilih diantara dua hal yang sama-sama baik atau memilih diantara dua hal yang buruk dan lebih buruk, atau memilih kebaikan terselubung dengan konsekuensi-konsekuensi adalah hal yang lebih hebat lagi.

Dan harus saya akui, betapa saya lemah di situ.

Teringat saya dengan kisah sewaktu adik saya yang lain lagi, yang nomor dua, sedang getol-getolnya mengumpulkan uang untuk menabung. Dia ini, ceritanya diberikan uang secukupnya sebagai jatah ongkos pulang pergi ke sekolah (yang harus ditempuh dua kali perjalanan angkutan umum), dan uang jajan yang tak seberapa. Di luar itu, keluarga kami sudah sama sekali tak ada budget untuk keperluan lain. Sedang adik saya ini ingin sekali sepatu baru. Maka dia membulatkan tekad, dia putuskan hanya menempuh satu kali perjalanan angkutan umum ke sekolah, lalu satu kali perjalanan berikutnya dia tempuh berjalan kaki. Begitu setiap hari, berminggu-minggu.

Saya tahu cerita itu sewaktu saya pulang kampung, waktu itu saya sudah bekerja, dan secara keuangan saya bisa membantu adik saya itu. Sangat bisa. Tetapi saya tahu bahwa orang tua saya pun tahu adik saya melakukan itu, tapi kenapa mereka membiarkan? Tidak misalnya menyuruh adik saya berhenti jalan kaki, lalu membelikan saja sepatu meski keuangan harus semakin ketat?

Ternyata orang tua ingin mendidik adik saya itu untuk menjadi orang yang kukuh, yang punya determinasi yang mantap, tidak goyah.

Saya belajar dari situ, lalu saya biarkan pula adik saya itu melakukan perjuangannya, berjalan kaki pada separuh perjalanan ke sekolahnya, lalu menabung. Saya tahu pasti, hari ke hari adik saya semakin kukuh hatinya, tapi saya justru yang semakin rapuh.

Bagaimana tidak, setiap hari melihat adik saya berkeringat peluh pulang sekolah, sedang di kantong saya ada uang untuk membelikannya sepatu dengan ces pleng saja? saya iba dan ingin membantu, tapi sekaligus itulah kelemahan saya.

Inilah yang susah payah saya ingin ceritakan tentang kekukuhan determinasi, tentang pendirian yang teguh, tentang mata yang menembus batas-batas fisik. Sesuatu yang kitaputuskan untuk tetap kita lakukan, meski kadang-kadang secara kasat mata seperti tega, seperti tidak punya perasaan, seperti kejam, seperti melawan, seperti keras, tapi bukan…bukan itu.

Kita kukuh karena kita tahu bahwa ada sesuatu yang kitaperjuangkan di balik itu, ada maksud di balik itu. Dan lagi-lagi betapa saya harus belajar tentang hal semacam itu. Kalau saya di posisi Bapak, maka saya akan belikan saja adik saya itu sepatu baru. Tapi mungkin puluhan tahun kedepan dia akan tumbuh sebagai orang yang kerdil jiwanya, yang tak kukuh semangatnya. Dan yang lebih nyata lagi, saya pula telah menjadi eksekutor keputusan yang tak selesai, kebimbangan yang memilukan tersebab tak sanggup menahan rasa payah dan iba atas kesengsaraan kasat mata yang padahal demi kemuliaan niat mengukuhkan hati anak.

Kalah atas rasa iba. Atau bila ditarik ke dalam kehidupan dunia pekerjaan sekarang,  bisa pula menjelma menjadi keputusan yang tak selesai tersebab kalah oleh ketakutan akan konflik-konflik.

Ahh… itulah, betapa kemantapan hati, keteguhan niat itu, semakin menemukan maknanya setelah kita melewati proses gonjang-ganjing hati seperti itu tadi

Seorang diktator misalnya, di sebuah negara. Memutuskan sesuatu dengan tangan besi, lalu dia menjalankan terus keputusannya tanpa peduli kritikan orang lain. Ini memang pada luarnya terlihat pula sebagai kekukuhan determinasi, kemantapan pribadi. Tapi bukan yang seperti ini yang saya saluti. Bukan orang yang memang tidak punya pertimbangan diri, tidak punya rasa welas asih, tidak punya semacam empati, lalu melaksanakan segala semau dia, itu bebal namanya. Tapi justru disinilah akhirnya saya menemukan simpul dari segala kebingungan saya.

Yang membedakan antara bebal dan teguh hati ialah kenyataan bahwa orang-orang yang mantap dirinya itu mulia tujuannya. Mendengarkan sekelilingnya. Tapi mereka memahami prioritas-prioritas. Paham mana yang lebih utama dibanding yang utama. Yang lebih buruk dibanding yang buruk. Yang mana yang didulukan yang mana yang diakhirkan. Yang mana kebahagiaan yang panjang dibanding yang sebentar. Mana yang kulit mana yang isi. Dan orang-orang semacam ini langka, lebih sering disalahpahami dibanding disaluti.

Dalam aplikasinya mereka bisa betapa lembut bisa pula tegas. Bisa mulus jalannya dan bisa pula berhalang-rintang. Bisa terbukti firasatnya bisa pula tidak. Tapi yang jelas satu hal ada pada mereka, yaitu kemuliaan niat, yaitu kepahaman diri bahwa harmoni dalam kehidupan itu memang penting tapi betapa kebenaran itu lebih penting, yaitu mereka memutuskan dan menjalankan keputusannya dengan mantap, apapun kekata orang di luar mereka.

Tapi jangan kira hati mereka tak bergejolak. Mereka kadang haru kadang syahdu, tapi pandangan mereka menembus batas-batas. Dan tak selamanya mereka punya kemampuan memaparkannya dengan kata-kata pada kita.

*) tadinya tulisan ini ingin saya namai dengan “truth over harmony”
*) gambar saya pinjam dari sini