MENEMBUS BATAS

Laptopnya hilang. Dini hari, adik saya yang tertua, laki-laki, menemukan kabel charger laptopnya sudah menjuntai-juntai di sisi jendela yang terbuka paksa. Lalu dia kaget dan kantuknya buyar. Saya menebak, kala itu yang pertama ada di fikirannya bukan bagaimana nasib perkuliahan dia dengan laptop yang sudah raib, tetapi apa yang nantinya akan dia katakan kepada Bapak.

Awalnya, Bapak sudah mewanti-wanti. Begitu mendengar rencana adik saya ingin pindah kosan, Bapak dan Ibu saya mempertanyakan. Apakah tempat baru lebih aman? Apakah aksesibilitas ke kampus lebih dekat? Seberapa urgent untuk pindah? Dan semisal-misal pertanyaan yang lain. Yang begitu terbaca bahwa Bapak tidak setuju dengan ide kepindahan itu.

Waktu itu, saya hanya sesekali saja mendengar kabar burung, dari telepon singkat ke adik atau Bapak, atau dari sekali-sekali SMS. Respon spontan saya, hampir mirip dengan adik saya yang kini merantau di Bandung itu, kok pindah kosan saja dibuat sebegitu ribetnya? Tapi belakangan orangtua saya benar, ada yang tak beres dengan kosan baru itu. Belum seminggu, laptop adik pertama saya sudah raib. Dan kala itu pula adik saya harus lagi-lagi mengakui kalau orang tua kami benar.

Begitulah sampai sekarang saya mengenali Bapak. Mungkin karena doa orang tua itu maqbul, maka firasatnya juga tajam. Apa yang beliau khawatirkan sering sekali menjelma kenyataan.

Saya katakan sering, karna beberapa kali pula yang beliau khawatirkan ternyata tak terjadi. Tapi dari segala kekhawatiran yang terjadi atau tak terjadi itu, yang saya saluti adalah ke-tak goyah-an pribadi Bapak. Keteguhan prinsipnya. Determinasinya yang kokoh.

Agak sulit saya menceritakan ini, mengingat besar sekali hambatan psikologis untuk menceritakan Bapak. Beliau adalah orang yang saya hormati, orang tua sekaligus guru dalam hal-hal yang saya setujui dan tak setujui, untuk mata pelajaran yang tak pernah saya temui di kelas, bahkan buku-buku.

Tapi sekarang ini, dalam dunia pekerjaan pengeboran minyak ini, saya menemukan mitra kerja yang dalam keseluruhan tutur pintuturnya, lakunya, dan yang paling penting ialah keteguhan prinsipnya, mirip sekali dengan Bapak.

Dia adalah mitra saya, rekan sejajar saya meski usianya berapa puluh tahun di atas saya. Hampir seperti orang tua saya.

Dagelannya, tiap kali beliau bertemu sebuah masalah dan harus berkonflik dengan manajemen kantor, maka dia akan mengucapkan kekata ini, “kita ini laki-laki, kalau yakin pendapat kita benar, pertahankan!”

Pada detik itulah saya yakin dia serupa tapi tak sama dengan Bapak saya. Lalu saya kembali terpantik untuk menelusur, mencari-cari tahu, bagaimana seseorang bisa memiliki determinasi yang begitu kukuh? Memiliki pendapat yang tidak goyah? Tetap bertahan pada pendapatnya, meski sebegitu banyak kejadian seperti menunjukkan perlawanan atas pilihan sadar yang telah dibuatnya?

Memilih keputusan, adalah satu hal yang lumrah, tapi memilih diantara dua hal yang sama-sama baik atau memilih diantara dua hal yang buruk dan lebih buruk, atau memilih kebaikan terselubung dengan konsekuensi-konsekuensi adalah hal yang lebih hebat lagi.

Dan harus saya akui, betapa saya lemah di situ.

Teringat saya dengan kisah sewaktu adik saya yang lain lagi, yang nomor dua, sedang getol-getolnya mengumpulkan uang untuk menabung. Dia ini, ceritanya diberikan uang secukupnya sebagai jatah ongkos pulang pergi ke sekolah (yang harus ditempuh dua kali perjalanan angkutan umum), dan uang jajan yang tak seberapa. Di luar itu, keluarga kami sudah sama sekali tak ada budget untuk keperluan lain. Sedang adik saya ini ingin sekali sepatu baru. Maka dia membulatkan tekad, dia putuskan hanya menempuh satu kali perjalanan angkutan umum ke sekolah, lalu satu kali perjalanan berikutnya dia tempuh berjalan kaki. Begitu setiap hari, berminggu-minggu.

Saya tahu cerita itu sewaktu saya pulang kampung, waktu itu saya sudah bekerja, dan secara keuangan saya bisa membantu adik saya itu. Sangat bisa. Tetapi saya tahu bahwa orang tua saya pun tahu adik saya melakukan itu, tapi kenapa mereka membiarkan? Tidak misalnya menyuruh adik saya berhenti jalan kaki, lalu membelikan saja sepatu meski keuangan harus semakin ketat?

Ternyata orang tua ingin mendidik adik saya itu untuk menjadi orang yang kukuh, yang punya determinasi yang mantap, tidak goyah.

Saya belajar dari situ, lalu saya biarkan pula adik saya itu melakukan perjuangannya, berjalan kaki pada separuh perjalanan ke sekolahnya, lalu menabung. Saya tahu pasti, hari ke hari adik saya semakin kukuh hatinya, tapi saya justru yang semakin rapuh.

Bagaimana tidak, setiap hari melihat adik saya berkeringat peluh pulang sekolah, sedang di kantong saya ada uang untuk membelikannya sepatu dengan ces pleng saja? saya iba dan ingin membantu, tapi sekaligus itulah kelemahan saya.

Inilah yang susah payah saya ingin ceritakan tentang kekukuhan determinasi, tentang pendirian yang teguh, tentang mata yang menembus batas-batas fisik. Sesuatu yang kitaputuskan untuk tetap kita lakukan, meski kadang-kadang secara kasat mata seperti tega, seperti tidak punya perasaan, seperti kejam, seperti melawan, seperti keras, tapi bukan…bukan itu.

Kita kukuh karena kita tahu bahwa ada sesuatu yang kitaperjuangkan di balik itu, ada maksud di balik itu. Dan lagi-lagi betapa saya harus belajar tentang hal semacam itu. Kalau saya di posisi Bapak, maka saya akan belikan saja adik saya itu sepatu baru. Tapi mungkin puluhan tahun kedepan dia akan tumbuh sebagai orang yang kerdil jiwanya, yang tak kukuh semangatnya. Dan yang lebih nyata lagi, saya pula telah menjadi eksekutor keputusan yang tak selesai, kebimbangan yang memilukan tersebab tak sanggup menahan rasa payah dan iba atas kesengsaraan kasat mata yang padahal demi kemuliaan niat mengukuhkan hati anak.

Kalah atas rasa iba. Atau bila ditarik ke dalam kehidupan dunia pekerjaan sekarang,  bisa pula menjelma menjadi keputusan yang tak selesai tersebab kalah oleh ketakutan akan konflik-konflik.

Ahh… itulah, betapa kemantapan hati, keteguhan niat itu, semakin menemukan maknanya setelah kita melewati proses gonjang-ganjing hati seperti itu tadi

Seorang diktator misalnya, di sebuah negara. Memutuskan sesuatu dengan tangan besi, lalu dia menjalankan terus keputusannya tanpa peduli kritikan orang lain. Ini memang pada luarnya terlihat pula sebagai kekukuhan determinasi, kemantapan pribadi. Tapi bukan yang seperti ini yang saya saluti. Bukan orang yang memang tidak punya pertimbangan diri, tidak punya rasa welas asih, tidak punya semacam empati, lalu melaksanakan segala semau dia, itu bebal namanya. Tapi justru disinilah akhirnya saya menemukan simpul dari segala kebingungan saya.

Yang membedakan antara bebal dan teguh hati ialah kenyataan bahwa orang-orang yang mantap dirinya itu mulia tujuannya. Mendengarkan sekelilingnya. Tapi mereka memahami prioritas-prioritas. Paham mana yang lebih utama dibanding yang utama. Yang lebih buruk dibanding yang buruk. Yang mana yang didulukan yang mana yang diakhirkan. Yang mana kebahagiaan yang panjang dibanding yang sebentar. Mana yang kulit mana yang isi. Dan orang-orang semacam ini langka, lebih sering disalahpahami dibanding disaluti.

Dalam aplikasinya mereka bisa betapa lembut bisa pula tegas. Bisa mulus jalannya dan bisa pula berhalang-rintang. Bisa terbukti firasatnya bisa pula tidak. Tapi yang jelas satu hal ada pada mereka, yaitu kemuliaan niat, yaitu kepahaman diri bahwa harmoni dalam kehidupan itu memang penting tapi betapa kebenaran itu lebih penting, yaitu mereka memutuskan dan menjalankan keputusannya dengan mantap, apapun kekata orang di luar mereka.

Tapi jangan kira hati mereka tak bergejolak. Mereka kadang haru kadang syahdu, tapi pandangan mereka menembus batas-batas. Dan tak selamanya mereka punya kemampuan memaparkannya dengan kata-kata pada kita.

*) tadinya tulisan ini ingin saya namai dengan “truth over harmony”
*) gambar saya pinjam dari sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s