MUSAFIR-MUSAFIR DAHAGA

Orangnya sudah sangat tua. Tidak ada yang mengira bahwa dia adalah seorang guru besar Hidro Geologi. Dalam setiap bulannya dia bepergian ke macam-macam negara, tapi pada malam-malam tertentu dalam satu bulan itu, dia akan menyambangi sebuah ruang kelas di tengah hiruk pikuk jalanan Dago Bandung, dan mengajarkan ilmunya kepada kami, para mahasiswa.

Memang, saya dan sebagian besar rekan-rekan di Geology kampus saya, pada akhirnya tidak belajar penuh atau mengambil bimbingan skripsi kepada beliau, karna satu-dua pertimbangan. Keilmuan GeoHidro-pun saya pribadi nyaris tak ada yang ingat. Yang saya ingat dari pertemuan itu malah cerita ini.

Sang ‘Abah’ –begitu kami memanggilnya- pernah berkata pada kami, beliau ingin melanjutkan kuliah lagi.

Kami semua kaget waktu itu. Kuliah lagi? Beliau sudah sepuh! Untuk apa?

“Mau ambil mata kuliah apa, Bah?” tanya kami waktu itu melanjutkan keheranan.

“Hukum”, jawabnya singkat. Kami semakin kaget, maha guru Hydro Geology mengambil S1 hukum dalam umurnya yang sudah se-senior itu?

“Lho, kenapa?” tanyanya mengernyitkan dahi melihat kami melongo, “Abah tidak mengerti hukum, makanya Abah harus kuliah hukum”. Katanya mantap.

Sebagian kami waktu itu menggeleng-geleng kepala saja, mengingat beliau memang orang yang eksentrik. Tapi saya tidak bisa untuk tidak setuju dengan perkataan beliau berikutnya ini.

“Kita mencari ilmu, karena memang kita ingin belajar, ingin tahu. Kalian ini kan sekarang mencari ilmu karna ingin dapat kerja, kan? Nanti, kalau kalian sudah mengerti rasanya menuntut ilmu, kalian akan tahu maksud Abah”.

Waktu itu kami diam saja. Saya waktu itu pura-pura mencatat, padahal fikiran melayang kemana-mana dan berharap semoga kuliah cepat selesai.

Bertahun-tahun kemudian, setelah lulus. Saat menghadiri perkuliahan tinggal jadi kenangan saja. Saat buku-buku sudah tinggal arsip saja. Saya bisa lebih jernih untuk menilai kata-kata beliau dulu. Lalu saya membatin, apakah saya menuntut ilmu bukan karna ingin tercerahkan? Apakah latar pencarian ilmu saya selama ini terlalu “sederhana”? Apakah tidak ada semacam ketergugahan diri, semacam ketertarikan kuat, semacam daya lontar yang betul-betul ingin mengeluarkan saya dari gelapnya keterbelakangan wawasan?

Mungkin, sebuah gejolak hati, sebuah dahaga yang hebat dari para pecandu ilmu, itulah yang mengantarkan Imam Syafii berguru pada Imam Malik, setelah sekian puluh guru sebelumnya dia sambangi dan borong ilmunya. Dan mungkin kitatidak usah lagi bertanya tentang darimana mereka dapat semangat untuk menulis ratusan buku-buku tebal, dengan pena, pada kertas-kertas bekas, pada belulang-belulang, pada malam-malam hari tanpa penerangan lampu pijar atau neon, hanya kerlap-kerlip api pada ceruk dinding.

Gelisah semacam inilah yang saya agak-agak mengerti sekarang. Betapa belajar tok, belajar saja tanpa sebuah tujuan yang besar, tidak cukup. Betapa pemahaman yang dalam dan wawasan yang luas, tidak bisa didapat dengan berpuas-puas diri pada satu sumber saja, tidak cukup. Betapa pula sebuah perjalanan panjang dan sunyi pencarian ilmu tidak akan sampai tanpa didorong oleh kemurnian niat, dan gelisah yang menggeletar-geletar melecut kita untuk lari sekencang dan sejauh mungkin dari kegelapan pemikiran, sempit wawasan, dan dangkalnya ilmu.

Mungkin inilah maksud para bijak. Memang ilmu itu dekat sekali dengan kelelahan. Mencarinya letih, jalannya panjang, bekal kita sedikit, teman seperjalanan boleh dihitung jari. Dan orang lebih sering berhenti sebelum sampai.

Apakah saya berhenti sebelum sampai, ya? Apakah saya teralihkan tujuan pada tengah-tengah perjalanan? Saya mengingat-ingat.

Perangkat-perangkat untuk membaikkan pemahaman memang beragam. Dan keluasan wawasan yang diperoleh dari beragamnya perjalanan, bisa jadi, pada satu titik yang tepat akan memperjelas pemahaman. Tapi tanpa peletakkan prioritas yang benar, bisa jadi malah memburamkan.

Ada cerita menarik, ini tentang kebijakan dari cerita-ceritabeladiri. Saya kutip ini dari sumber yang sebenarnya tidak sahih, sebuah komik. Tersebutlah seorang murid suatu perguruan kung fu ‘tang-lang (belalang sembah)’ -kalau tak salah-, berbadan tinggi besar dan berbakat. Tapi dia tidak pernah puas, terburu-buru. Merasa pengajaran gurunya kurang mumpuni maka dia berpindah perguruan. Macam-macam beladiri dia tekuni, dari yang tradisionil hingga yang modern. Tersiar pula kabar bahwa setelah cukup lama, akhirnya dia disegani dimana-mana.

Suatu hari dia kembali ke perguruan yang lama, dan diperlakukan baik disana oleh para juniornya. Sampai pada sesi latihan, dia tak sabar rasanya untuk mengoreksi ini itu kesalahan para juniornya, dia menantang tanding siapa saja. Setelah mengalahkan berapa orang, dia lalu sesumbar. Sang guru, mantan gurunya, lalu turun tangan dan mengajak dia bertanding. Hasil akhirnya, persis seperti yang kita harapkan dari kisah-kisah komik. Sang murid yang congkak kalah dalam satu pukulan oleh sang guru yang memiliki chi dalam pukulannya.

Benar tidaknya cerita ini, tidak penting. Tapi ada kebenaran dalam petikan kata-kata tokoh guru di komik itu. Katanya, “karena kau tak pernah mempelajari sesuatu sampai dalam, maka kau tak akan pernah menemukan intinya.”

Saya fikir, benar sekali isi komik ini. Saat pencarian ilmu sudah berangkat dari desakan kegelisahan, dari seraknya dahaga, kita tak lama sampai pada kondisi dimana kita menghajatkan segala wacana, segala berita, segala info, segala pelajaran. Lalu rakus sekali memakan apa saja, semua yang terhidang di depan kita. Tanpa tahu kemana sebenarnya kita menuju. Padahal luasnya wawasan tidak selalu sebanding dengan cerahnya fikiran, tetapi pada kesalahan yang kronis bisa memburamkan.

Benarlah seorang teman pernah berkata mengenai konsistensi dan ketekunan, “ibarat tanaman, semakin sering kita pindahkan dari tempatnya, maka akarnya takkan pernah tertancap dalam.”

Tapi benar pula kata-kata yang lain, seperti bonsai, selama kita tak meluaskan diri dan wadah kita, maka selamanya pula kita akan kerdil.

Setelah kegelisahan dan dahaga ilmu, mungkin rasanya memang kita harus belajar ‘dalam’, fokus, dan konsisten. Barulah setelah itu kekayaan wawasan bisa berpengaruh baik untuk kita. Dalam kisah random, yang tak terlalu jauh dari masa kita, sang legenda Bruce Lee patut menjadi contoh. Setelah matang menekuni wing-chun dari maha guru Ip Man, maka dia menambah wawasannya dengan ilmu-ilmu lainnya hingga melegenda. Lepas dari ketangguhan skill-nya, yang menggugah bertahun-tahun adalah wawasannya, fikirannya.

Atau dalam rentang waktu yang lebih jauh lagi, secara random pula kita sangat patut terilhami oleh cerdik pandai ulama-ulama besar jaman dulu yang menguasai bukan main banyaknya cabang ilmu dan bukan main dalamnya.

Dan saat semua perenungan ini menemukan harmoninya, saya rasa kita boleh juga mengucapkan kata-kata dengan mantap, seperti yang diucapkan Abah dulu. “Saya ingin belajar lagi.”

Tinggal kita lihat nanti, siapa yang mengernyitkan dahi.

 *) gambar diambil dari google images, di sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s