TUJUH PULUH RIBU PINTA

Tak dibayarkan uang 70 ribu itu, maka anaknya tak bisa lanjut sekolah. Sedihlah seorang ayah itu. Terbayang nasib anaknya yang belum dibayarkan uang sekolahnya, apa mungkin memang sudah takdirnya begitu? Anak seorang tukang asongan, tak akan jauh dari orangtuanya. Mengingat bayangan-bayangan itu, dia hampir saja putus asa, kalaulah istrinya tidak tiba-tiba saja menyeletuk.

“Jangan menyerah dulu Pak, minta saja sama Tuhan, nanti ada jalannya.” Kata istrinya waktu itu.

Tiba-tiba, kata-kata ringkas dari istrinya itu seperti sangat benar. Mungkin istrinya menyampaikan pada suatu kala yang betul-betul diri suaminya itu menerima segala bentuk masukan. Mungkin seperti sedikit tambahan tenaga harapan waktu dia merasa segalanya sudah suram dan kusut masai. Ah…masih ada harapan, masih ada.

Lalu dia kembali lagi bertekad. Ambil wudhu, lalu sholat. Di dalam sholatnya itu dia berdoa khusyuk kepada Tuhan, meminta tujuh puluh ribu rupiah, itu saja, tak ada yang lain.

Keesokan harinya, sang Ayah tadi, dia berdagang lagi. Kalau tidak salah ingat, dia berdagang asongan di seputaran Setasiun Gambir, Jakarta. Subuh sebelum berangkat, dia berdoa khusyuk. Doanya masih sama, dia minta tujuh puluh ribu rupiah.

Tapi hari itu rupanya tidak terlalu ramah kepada dia. Jangankan tujuh puluh ribu, dia belum mendapatkan satu orang jua pembeli. Tak ada pembeli.

Rupanya, saking pilunya hatinya mengingat anak di rumah, Ayah sang anak yang berhajat uang tuk membayar sekolah ini tadi, kecewa. Sakit hatinya. Lalu terucaplah di dalam batinnya, kalau sampai Zuhur ini nanti tak juga dia dapatkan pembeli, untuk apa dia sholat? Selama ini tidak rajin sholat saja mendapat pembeli, sekarang sholat lebih rajin malah sepi pembeli.

Terbawalah dia, akan hati yang sedang sempit. Dia berujar, kalau begitu dia tidak akan lagi sholat lima kali sehari. Cukup dua kali saja, seperti dia selama ini. Pagi sekali dan malam hari sekali.

Lalu matahari panas siang menunjukkan waktu zuhur. Siang-siang membakar itu, di sela-sela letih dan pilunya, di tengah hiruk pikuk suasana stasiun, azan Zuhur menggema. Entah bagaimana, tiba-tiba hatinya terasa sendu dan tersentuh. Tak jadi dia membangkang, tak jadi dia merajuk.

Lalu dia pergi berwudhu dan sholat, di dalam sholat itu dia berdoa dengan mata yang sembab. Doa yang berbeda dari doa-doa sebelumnya. Katanya di dalam doa “ya Tuhan,  masalah tujuh puluh ribu yang tadi, lupakan saja…. Tapi ini dari tadi tak satu jua ada pembeli” Isaknya, serak. Begitu polos doanya. Begitu bening air matanya.

Selepas ashar, dia berjualan lagi. Dihampirilah dia oleh seorang pemuda. Pemuda itu membeli permen. Tetapi uang yang diberikan terlalu besar, seratus ribu.

“Wah… saya ga punya kembalinya, mas.” Kata pedagang asongan itu tadi. Dari pagi dia memang tak mendapat apa-apa.

“Ya sudah pak, uangnya untuk Bapak saja lah.” Kata pemuda itu.

Selanjutnya pedagang asongan tadi sontak menangis. Entah apa yang dia fikirkan kala itu. Keajaiban doa? anak dirumah?Tapi yang jelas saya juga ikut menyeka air mata sewaktu pertama kali saya dengar cerita ini.

Pada sudut-sudut kelopak mata ini, ada yang basah. Bukan karena pada akhirnya sang Ayah ini tadi mendapatkan lebih dari apa yang dia doakan. Bukan tersebab ajaibnya cara kerja pengabulan doa oleh Tuhan. Tapi saya terharu pada potongan doanya di ashar itu. “Tuhan,  mengenai yang tujuh puluh ribu tadi, lupakan saja.” Betapa jujur, betapa menghamba. Saya tak kuasa menahan haru.

Seandainya saja -seandainya- kisah ini tidak diakhiri dengan sebuah kenyataan bahwa beliau mendapatkan lebih dari apa yang dia hajatkan, misalnya saja doanya tetap tak terkabul. Saya merasa kisah ini tetap happy ending, dengan kala di sebuah sore yang hiruk pikuk, dia menyimpuhkan diri dalam sebuah pengakuan yang polos, jujur dan jernih. Lupakan saja mengenai nominal uang yang dia pinta itu, Tuhan, katanya.

Mungkin, kala itu, dia sudah mendapatkan sebuah kesadaran yang bersih. Bahwa meminta dan mendoa itu adalah sebenarnya berbincang-bincang santun kepada Tuhan. Dan Yang Maha Mendengar itu lebih paham dari segala narasi kita, yang sopan atau tak sopan tentang apa yang sebenar-benarnya kita butuhkan.

Dan mengingat, sebuah kesadaran indah seperti itu, didapatkan oleh seorang pedagang asongan yang baru berapa menit lalu kesal dan merasa Tuhan tak adil, lalu tiba-tiba luruh dan tunduk kala azan ashar berkumandang, saya semakin haru. Betapa jauh kita dari orang-orang seperti mereka.

Pemahaman hati yang seperti itu sungguh langka, mungkin anugerah tak terkira-kira. Dia bisa datang lewat jalur ilmu, dia bisa datang lewat perkara sehari-hari, bisa juga datang dengan serta merta saja sekehendak Tuhan. Tapi di atas segala sebab, kitaharus memohon rahmatNya yang maha luas.

Kita bisa saja berseloroh bahwa kita paham sekali mengenai ‘Doa itu sebenarnya adalah menyeru’, adalah tidak semata-mata mengajukan list proposal yang mesti di ACC  Tuhan. Tapi dalam tataran mentalitas, bisakah kitabenar-benar merasakan suatu yang sejuk di dalam sini, di dada ini, meski masalah dunia membebat-bebat kita, merajam-rajam diri? Bisakah kita tetap syahdu dan santun menghamba dalam kesabaran dan pinta? Betapa sulit.

Teringat saya dengan anak di rumah, dengan istri di rumah. Dengan orang tua dan adik-adik. Betapa ingin dalam lingkaran kehidupan kita penuh dengan aura kesadaran dan kedekatan kepada Tuhan. Cukuplah itu rasanya. Tapi apalah daya kita menghantarkan segala kebaikan-kebaikan? Sedang betapa hidup kita dipenuhi dengan segala macam variabel yang lebih banyak yang tak terukur dibanding yang terukur. Lebih banyak yang di luar kuasa kita ketimbang yang bisa kita usahakan. Sedang kebersamaan kita dengan mereka tak setiap waktu. Sedang kemampuan kita menyusun kata-kata dan mengolah kalimat-kalimat tidak seberapa mumpuni. Sedang halusnya hati kita menampilkan adab-adab perilaku; tidak pula bisa diandalkan. Maka tinggal memohon rahmat Tuhan saja yang bisa kita pinta, setelah usaha-usaha.

Dan di atas segala usaha, ada kehendak Dia yang bisa menggenapkan segalanya. Jangankan membawa gerbong keluarga, kita sendiri pula masih terseok-seok menuju Dia. Masih berbalut-balut dosa.

Mungkin kita harus seperti pedagang asongan tadi, barangkali. Tunduk pasrah setelah segala kesal dan ketidak sabaran kita waktu pagi dan siang hari. Lalu berdoa mumpung senja belum jadi gulita.

“Tuhan… tentang segala pinta dunia kami tadi, lupakan saja. Engkau Ridho saja sudah lebih dari cukup.”

Dan di titik itu kita mestinya sedang menangis…. pasti menangis.

*) cerita ini saya dengar pertama kali dari rekaman ceramah ust. Yusuf Mansur.  (judul rekaman ceramahnya ‘yang menentramkan hati’. Download di sini)
*) gambar saya pinjam dari google images. di sini

17 thoughts on “TUJUH PULUH RIBU PINTA

  1. cerita dari ust yusuf mansyur ini kisah nyata atau fiktif ya?
    (cuma penasaran, jd ingat topik yg sedang rame d bahas d milis ttg kisah fiktif)
    terimakasih utk responnya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s